"perempuan cabul, perempuan bangsat pergi kau menggelindinglah dari hadapanku ..."
Dimaki sedemikian rerdah dan kotor keruan terketuk sanubari Li Hoag seolah-olah ditusuk sembilu, giginya berkereot dengan gemasnya, teriaknya beringas.
"Siapa yang kau maki ?"
Berbareng bayangan merah berkelebat sebat sekali ia melejit maju sambil menampar dengan bernafsu kearah muka Giok-liong, Giok-liong mandah tertawa ejek, sekali berkelebat mudah saja ia menyingkir disusul terdengar dua kali srara "plak, plok"
Yang nyaring diselingi pekik kesakitan suara perempuan. Tahu-tahu kedua belah pipi Li Hong sudah bengap membengkak besar, mulutnya melelehkan darah segar, dengan terlongong-longong ia memandangi Giok-Iiong. Giok-liong tersenyum sinis, jengeknya.
"perempuan rendah, segera menggelinding dari ngarai ini, kelak jangan sekali-kali kebentur ditanganku lagi, kalau tidak jangan kau sesalkan perbuatan tuan mudamu yang tidak kenal kasihan !"
Sepasang mata Li Hong segera memancarkan sorot kebencian yang menyala-nyala, Bukan karena pukulan atau tamparan Giok-liong tadi, adalah karena makian yang kotor dan hina itu telah melukai harga dirinya.
Sebab, Giok-liong telah menghancurkan impian muluk dari seorang gadis remaja, sehingga sanubari yang sudah terluka itu semakin parah lagi.
Sekejap ia menatap kcarah Giok-liong dengan pandangan bengis dan kebencian yang tak bertara terus membalik tubuh melesat turun ngarai dengan pesatnya.
Setelah bayangan Li Hong hilang dari penglihatannya baru Giok-liong dapat menghela napas panjang, selintas pandangnya merayapi mayat-mayat yang bergelimpangan disekeIilingnya, tiba-tiba timbul perasaan hampa dan masgul dalam hati kecilnya.
"Haruskah aku menghantamnya tadi ? Bukankah dia telah menolong jiwaku tadi ? Apalagi sewaktu aku memakinya sebagai perempuan cabul, sedemikian galak reaksinya, apakah aku salah lihat orang ?"
Sekarang setelah rasa gusarnya hilang dan dapat berpikir secara tenang dan sabar diam-diam baru ia sadar dan mengeluh dalam hati.
"Celaka! "
Dimana badannya berkelebat pesat sekali laksana meteor ia terus berlari turun gunung, sepanjang jalan pengejaran ini ia berpikir "Pandangannya yang penuh kebencian dan sayu itu mirip benar dengan sorot mata ibu.
Tentu dia seorang yang pernah merasakan pahit getirnya hidup dan merana.
Tidak seharusnya aku melukai hatinya tidak seharusnya aku begitu kejam memakinya."
Semakin dipikir hatinya semakin gundah dan tidak tentram, tanpa merasa sekuat tenaga ia kembangkan gerak tubuh Leng-hun-toh, dengan kecepatan maximum lari mengejar kedepan. Dia tengah berpikir.
"Bilamana dapat mengejarnya, cara bagaimana aku harus minta maaf kepadanya..."
Batu-batu gunung serta hutan dikedua sampingnya laksana kilat saja mundur kebelakang, Tapi sedemikian jauh masih belum terlihat bayangan Ang-i-moli.
Matahari sudah semakin doyong kearah barat, haripun sudah mulai sore, dengan lari kencangnya dalam pengejaran ini, mungkin sudah ratusan li lebih ia tempuh.
Tengah ia celingukan kian kemari keadaan bingung kemana pula ia harus mengejar, tiba-tiba dihutan kejauhan sana terlihat sesosok bayangan merah yang langsung berkelebat terus menghilang.
Betapa tajam pandangan Giok-liong sekarang, begitu menjejakkan kaki badannya terus melesat kearah hutan didepan sana secepat meteor terbang.
Waktu Giak-liong sampai dihutan yang dituju, bayangan merah itu sudah menghilang tanpa jejak, keadaan hutan ini sedemikian lebat dan keadaan didalam sana sangat gelap pekat serta sunyi lagi.
Diam diam Giok-liong bimbang dan berpikir "Apakah dia sudah memasuki rimba ini."
"Tanpa banyak pikir lagi badannya segera melenting menerjang masuk kedalam rimba. Tidak lama setelah Giok-liong masuk, sebuah sososok bayangan kecil langsung melesat keluar dari dalam rimba terus berlari kencang menuju kearah timur. Baru saja Giok liong menginjakkan kakinya didalam rimba hidungnya lantas dirangsang bau apek yang menyesakkan dada. Selepas pandang terlibat keadaan dalam rimba ini gelap gulita, tapi pohon pohon tumbuh begitu subur sekali. Tanah sekitarnya tebal bertumpuk tumpuk daun-daun kering yang basah, bau apek yang memualkan itu justru teruar dari timbunan daun-daun kering yang sudah membusuk itu. Tatkala itu sudah musim kemarau, tapi tetumbuhan dalam hutan ini masih sedemikian suburnya berkembang baik, sampai daunnya tumbuh begitu lebat hingga menutupi sinar mata hari. Ketajaman sepasang mata Giok liong bagai kilat menjelajah keadaan dalam rimba itu, dilihatnya sekiur tubuhnya tiada jejak atau bayangan manusia, tanpa merasa ia mengguman sendiri.
"Apakah dia sudah memasuki rimba sebelah dalam sana ?"
Sambil berpikir ia angkat langkah maju semakin dalam. Kiranya hutan ini adalah sebuah rimba belantara yang besar sekali.
"semakin jauh dan dalam Giok-liong maju, keadaannya semakin gelap, jikalau Lwekangnya sudah sempurna serta ketajaman kedua matanya yang luar biasa, mungkin dia takkan dapat melihat situasi sekelilingnya. Lama kelamaan hatinya menjadi heran.
"Untuk apakah Ang i-mo li memasuki hutan ini? Atau mungkin juga dia tidak memasuki hutan ini ?"
Karena pikirannya ini, lantas timbul niatnya hendak mengundurkan diri.
Bertepatan dengan saat ia memutar tubuh hendak balik, tiba-tiba pandangan matanya meajadi terang mendadak muncul diatas sebuah dahan besar yang terkuras licin memutih dimana tertuliskan huruf huruf yang berbunyi.
"daerah kramat hutan mati, siapa masuk dia mati."
Kedelapan huruf huruf besar itu berkilau-kilau terang dikegelapan yang pekat ini, membuat orang merasa mengkirik dan takut.
"Hutan... mati."
Kedua huruf ini secepat kilat berputar dalam otak Giok-liong.
selamanya belum pernah ia dengar nama angker ini, Dilihat dari nada kedua buruf huruf yang bernada angkuh dan congkak ini, dapatlah diperkirakan tokoh lihay macam apa yang tengah bermukim didalam rimba belantara ini.
Teringat olehnya betapa sengsara riwayat hidupnya sebatang kara ini, keselamatan ayah bundanya belum jelas serta dimanakah jejaknya juga tidak diketahui, dan yang terpenting nama-nama beliau juga dirinya tidak tahu, Di tambah pengalaman yang berat serta dikejar-kejar hendak dibunuh oleh musuh, Untuk apa sekarang dirinya mencari kesukaran lain menambahkan beban saja.
Tapi setelah dipikir kembali, seumpama Li Hong benarbenar memasuki hutan ini, sedang dia tidak melihat akan kedelapan huruf huruf larangan ini, bukankah jiwanya bakal terancam bahaya kematian ? Terpikir sampai disint tak tahu dia bagaimana ia harus bersikap, Akhirnya ia berkata dalam hati.
"Baikah, tiada halangannya aku coba masuk melihat-lihat, betapapun aku tidak bisa membiarkan Li Hong mati konyol dalam rimba ini, sebab aku masih berhutang budi kepadanya !"
Keheningan dalam rimba ini demikian aneh tanpa sedikit suatapun.
Keadaaa sekeliling yang gelap ini jaga rada janggal tanpa sepercik sinar terang, Hanya delapan huruf berkilauan itulah yang memancarkan cahayanya yang kelap kelip serta menyeramkan Sekonyong-konyong terasa dingin membeku perasaan hati Giok-liong badan juga mengkirik dan berdiri bulu romanya, suatu perasaan takut yang mencekam hati seketika menyelubungi seluruh badannya, keadaan semacam itu belum pernah terjadi selama hidup.
Terasa kegelapan dan ketenangan dalam rimba ini mengandung suatu kejanggalan yang seram dan menakutkan.
Siapa menempatkan diri ditempat semacam ini pasti selalu dibayangi bahwa kematian selalu menimpa dirinya.
Sedikit ragu-ragu lantas ia unjuk tawa tawar, pikirnya.
"Kenapa hari ini aku menjadi begitu penakut ? jangan kata dialam semesta ini tiada setan, seandainya memang ada aku juga tidak perlu takut,"
Seketika timbul keberaniannya sedikit menyedot hawa lantas dengan membusungkan dada ia beranjak terus memasuki rimba kematian ini.
Baru saja ia melintas batas batas rimba kematian tiba-tiba terdengar suara helaan napas sedih yang memilukan.
Terperanjat hati Giok-liong, kepandaian siapa begitu tinggi sampai datang dekat dibelakangnya masih belum diketahui oleh dirinya.
Secepat kilat ia membalik tubuh, hutan sedemikian lebatnya pohon berdiri dengan tegak dan tenang, keadaan disekitarnya kosong melompong mana ada bayangan manusia.
Sedikit bimbang lantas ia berlaku nekad, segera badannya meluncur sebat sekali menuju kehutan yang lebih dalam.
Tidak lama kemudian terasa olehnya keadaan didalam mana semakin menjadi terang, remang-remang sinar cahaya menembus masuk diantara celah-celah dedaunan yang lebat.
Sekonyong konyong sebuah dengusan hidung yang keras terdengar tidak jauh didepannya, seiiring dengan suara dengusan itu, berkelebat sesosok bayangan besar yang terus hinggap menghadang didepannya.
Selintas waktu bayangan besar ini muncuI, lantas Giok liong dapat melihat tegas sipendatang ini adalah seorang yang tinggi besar berbadan tegap gagah, rambutnya awut-awutan demikian juga godek dan cambang bauknya, berpakaian kasar sederhana berusia lanjut.
Sorot pandangan orang tua sedemikian tajam laksana ujung golok yang dingin menatap tajam kearah Giok liong, katanya dengan nada dingin.
"Buyung, ini bukan tempat dimana kau harus datang, lekaslah pergi, kalau tidak jiwa kecilmu itu susah diselamatkan."
Dari kilatan tajam sinar mata si orang tua lantas Giok-Iiong dapat mengukur betapa lihay kepandaian orang tua ini, sedikitnya tidak dibawah kemampuannya sendiri.
Munculnya sedemikian mendadak, tapi nada perkataannya tidak mengandung ancaman yang serius, maka segera Gsok- Iiong angkat tangan memberi hormat serta katanya.
"Wanpwe Ma Giok-liong, karena mengejar seorang sahabat sehingga memasoki tempat tuan ini"
"Hutan kematian ini mana boleh kau sembarangan trobosan? sebelum jejakmu ini konangan oleh mereka, lebih baik kau lekas meninggalkan tempat ini. Kulihat usiamu masih sangat muda masa depanmu sangat gemilang, maka sedikit kulepas bantuanku. Kalau kau tidak mau dengar nasehatku, kematianmu sudah didepan mata."
"Harap tanya Cianpwe apakah melihat seorang gadis berbaju merah memasuki rimba ini"
"Sudah tak perlu banyak bacot lagi, lekas tinggal kan tempat ini, Kalau tidak jangan salahkan Lohu berlaku keras..."
Bicara sampai disini mendadak ia merandek, matanya menunjuk rasa heran dan penuh kecurigaan menatap wajah Giok liong, tanyanya rada gugup.
"Buyung, katamu kau she Ma ?"
Giok-liong mengiakan.
"Siapakah nama ayahmu?"
Sejenak Giok-liong tercengang, tapi lantas tertawa, sahutnya.
"Sebelum ini kita belum pernah bertemu, maaf wanpwe tidak bisa menjawab pertanyaan ini."
Seketika si orang tua ini lantas mengunjuk rasa gelisah dan gusar, sikapnya yang garang membuat rambutnya yang ubanan melambai-lambai tanpa terhembus angin, mungkin hatinya geram sekali.
Tapi akhirnya tenang kembali serta katanya dengan nada yang ditekan.
"Buyung......"
Sekonyong-konyong dari hutan yang lebih dalam sana terdengar sebuah lengking jeritan setan yang mengerikan sedemikian panjang dan tinggi jeritan ini membuat merinding dan berdiri bulu roma pendengarannya.
Air maka si orang tua lantas mengunjuk rasa gugup dan gelisah, katanya dengan suara lirih.