Saat mana Giok-liong sudah ada kesempatan menelan obat serta mengerahkan Ji-lo berputar tiga putaran dalam tubuhnya luka luka dalam badannya sudah setengah sembuh melihat dirinya sekarang yang dijadikan sasaran, maka dengan tertawa dingin ia menjengek.
"Tambah selipat lagi juga tuan mudamu ini takkan gentar."
Pelan-pelan kedua tangannya bergerak mendorong maju, kekuatan tenaga murninya segera memberondong keluar, terdengar suara plak plok berulang-ulang disertai jeritan yang mengerikan, dua orang lagi kena terpukul terjungkir balik dan akhirnya rebah ditanah.
Bersamaan dengan hasil pukulannya itu, pelaksana hukum Kim-i-paag juga tengah melancarkan pukulannya yang lihay bagai gugur gunung menungkrup keatas kepalanya.
Giok-liong masih tertawa ejek saja, kemudian Ji-lo ia terkerahkan sampai delapan bagian tangannya terus disorong kedepan untuk menyambut pukulan musuh.
"Darrr .. , Byaar"
Sedemikian keras ledakan benturan dua tenaga yang saling beradu ini, pelaksana hukum Kim-i-pang terdengar menguak keras seperti babi hendak disembelih, badannya terpental terbang jauh sambil menyemburkan darah menyemprot keras sekali sampai beberapa meter, terang jiwa pelaksana hukum Kim-i-pang ini juga sulit diselamatkan kembali.
Sementara itu dalam gelanggang masih saling susul terdengar jeritan yang mengerikan darah sudah membanjir dimana-mana, saban-saban terdengar pula suara tawa jalang yang keras itu.
Ang-i-mo-li bergerak begitu lincah, cara turun tangannya juga cukup kejam, dalam sekejap mata itu dimana tangannya bergerak gampang sekali ia sudah merobohkan anak buah Kim-i pang.
Air muka Giok-liong semakin membeku, sebaliknya bara sakit hati semakin berkobar dalam rongga dadanya seolaholah gunung berapi yang hendak meletus, Dia sendiri tidak tahu, apakah pihak Kim-i-pang ini ada bermusuhan dengan dirinya.
tapi gerak gerik serta kata-kata mereka tadi ia menyimpulkan bahwa pasti mereka adalah musuh-musuhnya juga.
Karena anggapannya ini, gesit sekali bayangannya bergerak, Sam-ji-cui-hun chiu dilancarkan berulang kali.
Dalam gelanggang pertempuran segera kelihaian gelombang awan putih yang bertaburan menyelubungi bayangan putih yang terus mengembang keempat penjuru mengejar dan merobohkan para anak buah Kim-i-pang yang sudah ciut nyalinya dan sedang berusaha menyelamatkan diri.
Jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma, terdengar saling bergantian, darah segar yang nangat terbang memenuhi angkasa dan berceceran ditanah menjali aliran panjang.
Tatkala itu, Ang-i-mo-Ii sudah mundur dan berdiri menonton diluar gelanggang, melihat cara turun tangan Giok liong yang tengah melancarkan pembunuhan kejam besar besaran, tanpa merasa hati kecilnya menjadi li'jt dan jijik rasanya.
Sekejap saja anak buah Kim i-pang yang masih berada diatas ngarai tinggal tidak seberapa banyak lagi, mereka yang masih ketinggalan hidup berusaha lari memencarkan diri, saking takut seiasa arwah sudah melayang meninggalkan badan.
Meskipun mereka sudah berusaha lari sekencangkencangnya, tapi toh tak luput dari kejaran hantaman tangan dari bayangan putih yang diselubungi kabut pula, Akhirnya setelah jerit dan pekikan seram sebelum ajal itu sirap dan semua sudah roboh terkapar ke aiaan diatas ngarai itu menjadi sunyi pula.
Dengan tenang Giok-liong berdiri tegak diantara mayatmayat yang bergelimpangan serta darah yang mengalir tergenang disekitar kakinya, jubah panjang yang berwarna putih itu, sedikitpun tidak terkena noktah-nokcah darah.
Tapi wajah Giok-liong yang membesi, jubahnya yang melambai tertiup angin serta potongan tubuhnya yang tinggi lencir berdiri diantara tumpukan mayat dan genangan air darah, keadaan ini benar-benar sangat menyeramkan dipandang mata.
Ang-i-mo li sendiri juga seorang iblis wanita yang kejam membunuh orang tanpa mata berkedip, namanya sangat tenar dikalangan Ka-ngouw, setiap kali mengerahkan tangan membunuh musuh musuhnya selalu diiringi dengan tawa jalangnya yang menusuk kuping, Kini melihat keadaan dan pandangan didepan matanya ini tak urung merasa mengkilik dan ciut nyalinya.
Untuk berapa lamanya suasana diatas ngarai tenggelam dalam kesunyian.
Giok liong terlongong-longong melepaskan pandang kearah yang jauh dan jauh sekali, sorot matanya memancarkan perasaan hampa.
Mendadak ia berpaling muka, sinar matanya yang tajam bagai kilat menatap wajah Li Hong yang berseri bagai kuntum bunga dimusim semi.
Tiba-tiba timbul suatu perasaan aneh yang belum pernah terjadi dalam sanubari Li Hong, Memang lahirnya sifatnya kelihatan jalang dan genit sekali, namun dia sendiri sangat keras menjaga kesuciannya, Berapa banyak para mata keranjang di Kangouw yang terpincut dan tergila gila oleh kecantikannya ini, tapi mereka semua menjadi setan gentayangan korban keganasannya.
Tetapi waktu untuk pertama kali ia bersua dan melihat Giok-liong, hati kecilnya timblul suatu perasaan manis mesra, namun ia tidak terlalu besar menaruh perhatian akan hal ini, karena dia sudah kebiasaan dalam permainannya mengalah sifat laki-Iaki.
Siapa tahu setelah sebuah tragedi pembunuhan besarbesaran terjadi, perasaan dalam sanubarinya itu mendadak mengembang dan memperbesar sampai tiada batasnya dan susah dibendung lagi sehingga memenuhi rongga dadanya yang penuh padat itu.
Pandangan kasih mesra segera terlontar dari sorot matanya yang bening dan terbelalak bundar itu menatap sayu kewajah Giok-liong yang dingin membesi dan berdiri terpekur itu.
Tali asmara sudah terikat kencang diatas badan Giok-liong.
selintas itu terbayang olehnya gambaran indah dan impian muluk dalam otaknya.
Tanpa terasa mulutnya menyungging senyum manis mesra bak sekuntum kembang mekar dan segar di pagi hari.
Sekonyong-konyong dengusan rendah dan berat menyesakkan dia dari lamunannya.
Sorot mata Giok-liong yang memancarkan kilat dingin tengah berapi-api mengandung nafsu membunuh beranjak, mendekat ke arahnya setindak demi setindak.
Walaupun expesi wajahnya sangat menakutkan namun sepasang pipinya bersemu merah sangat elok dipandang mata.
Bercekat hatinya, diam diam ia kerahkan tenaga dan hawa murninya untuk siaga, lalu dengan lantang ia bertanya.
"Masiau- hiap, bukankah mereka adalah musuh-musuh besarmu?"
Giok-liong mandah menyeringai dingin tanpa membuka suara, kakinya tetap melangkah maju dengan mantap. Melihat gelagat ini, semakin ciut perasaan Ang-i-mo li, batinnya.
"mungkinkah ia sudah kerasukan setan laknat, sehingga dianggapnya aku juga kamprat-kamprat dari kaum Kim i-pang?"
Karena anggapannya ini segera ia menghardik keras.
"Stop, berdiri disitu! "
Giok-liong juga tercengang dibuatnya, betul juga ia menghentikan langkahnya. "Ma-siauhiap, aku adalah Li Hong, bukan antek dari Kim-ipang!"
"Hm, aku tahu kau Li Hong adanya, tapi kau harus rnampus!"
Habis berkata dengan langkah tetap ia maju mendesak lagi.
Mendengar ancaman Giok Lioag itu, seketika dingin perasaan Li Hong seumpama diguyur air dingin, pemuda pujaan hatinya ini ternyata bersikap kaku dan berkata demikian, sekuatnya ia menghimpun semangat dan menenangkan pikiran, ujarnya dengan lemah lembut.
"Masiau- hiap. apa , ..apakah sikapku tadi terlalu kasar terhadapmu? "
Aku harus membalas kedua tamparan dan sekali genjotan didadaku tadi."
Serasa pecah kepala Li Hong, tanpa terasa dua butir air mata kontan mengalir membasahi pipinya, Berapa tinggi kepandaian Giok liong tadi ia sudah menyaksikan sendi ri, bagaimana juga dirinya bukan tandingan orang, seumpama dirinya mau menggunakan senjata rahasia yang jahat yaitu Sia-hun-ciam (jarum penyedot sukma), mungkin dengan gampang dapat menundukkan dan meringkus dia, tapi bukankah impian muluknya tadi bakal buyar himpas.
Pengalaman yang dulu pernah membuat dia patah hati, dia tahu dan dapat merasakan betapa sukar membina cinta murni ini, taji dia juga tahu cara bagaimana untuk menghalang ikatan perasaan itu, Dalam saat-saat pendek laksana sepercik kilat itu, diam-diam ia sudah mengambil suatu keputusan yang penuh mengandung resiko.
Langkah Giok-liong sudah semakin dekat tinggal lima langkah lagi jaraknyj, tersipu penuh pandangan sayu dan hampa ia angkat kepala, tersapu bersih sifat-sifat jalangnya semula, katanya parau dengan pedih "Ma...
seumpama aku mandah menerima balasan dua tamparan dan pukulan dada tadi, maukah kau memaafkan kesalahanku tadi ?"
Melihat macam pandangan orang, tergetar hebat sanubari Giok-liong, oo Tuban, sikap dengan air muka serta pandangan semacam ini sungguh sudah sangat dikenalnya.
Malam itu, diwaktu ibunya terpekur merenungkan sesuatu bukankah pandangan mata serta mimiknya seperti itu.
Tapi suatu kesan lain segera mendorong dan melenyapkan pikiran serta keraguannya ini.
"Cis, perempuan cabul semacam dia, masa sejajar dibanding ibuku."
Sambil berpikir tangan kanannya sudah pelan-pelan terangkat tinggi, dengusnya.
"Kalau kau berkepandaian lancarkanlah seranganmu, supaya jangan dikatakan aku menindas orang yang tidak mampu melawan."
Betapa perih hati Li Hong mendengar ejekan Giok-liong ini, air mata semakin deras mengalir.
Tadi waktu dirinya memukul Giok-Iiong bukankah orang tengah terluka berat? Oleh karena itu pelan-pelan ia memejamkan kedua mata yang penuh mengembang air mata, serta mengangsurkan kedua belah pipinya yang halus dan bersemu merah itu, katanya sayu.
"pukullah ...
"
Giok-liong menjadi serba sulit, hatinya gundah dan bimbang, tangan kanan yang telah terangkat tinggi menjadi susah diturunkan.
Dia bukan seorang gagah yang mau begitu saja menurunkan tangannya memukul orang yang tidak mau melawan ! Akhirnya dia membentak dengan marahnya.
"Apa kau orang mati, apa kau tidak bisa berkelit?"
"Ai, memang aku rela kau pukul sampai mampus."
Semakin melonjak amarah Giok-iiong, tangan kanan yang sudah terangkat tinggi itu segera diayun dipukulkan kearah tanah.
"Blang,"
Saking keras pukulannya tanah sampai tergempur dan berlobang besar sambil berjingkrak gusar Giok
liong memaki.