"Apa yang kau katakan tentang aku ini?"
"Perempuan jalang."
"Plok!"
Kontan Giok liong merasakan pipi kanannya pedas dan panas sakit sekali, tahu-tahu dia sudah terkena sebuah tamparan.
"Hayo coba berani katakan tidak ?"
"Perempuan jalang !"
Bayangan merah berkelebat lagi, sejalur angin keras langsung menerjang kearah dadanya, Bercekat hati Giok-liong, dalam gugup tangannya diangkat untuk menangkis.
Tapi dia sendiri sudah terluka dalam yang sangat parah, faktanya tiada kekuatan untuk membela diri, seketika itu juga ia menjerit nyaring, mulut Giok-liong menyemburkan darah segar, badannya terpental terbang delapan kaki jauhnya terus terbanting keras diatas tanah bersalju.
Gadis baju merah itu berkecek mulut lalu mendekati, ujarnya.
"Ternyata hanya sebegitu saja kemampuanmu ...
"
Memang Giok-liong sudah terluka parah kini terpukul dan terbanting begitu keras lagu seketika mata berkunang- kunang kepala terasa pusing tujuh keliling, sungguh pedih rasa hatinya, namun sambil menggertak gigi ia masih memaki.
"perempuan cabul, perempuan jalang, akan datang satu hari aku Ma Giok-liong pasti membunuh kau !"
Pada saat itulah tiba tiba terdengar berkesiurnya angin serta berkelebatnya sinar emas kekuningan, tahu-tahu diatas ngarai situ telah muncul tiga orang laki-laki pertengahan umur yang mengenakan pakaian seragam kuning emas.
Salah seorang yang berdiri ditengah berperawakan tinggi kekar berdada bidang, alisnya tebal bermata sempit sepetti mata tikus, dipipi sebelah kiri ada bekas luka terbacok berwarna merah menyolok.
Begitu mereka muncul, enam biji mata yang bersinar tajam lantas terpusatkan memandangi si gadis baju merah.
Terdengar salah seorang mereka berkata.
"He, kurang ajar, tidak nyana bocab itu mempunyai rejeki demikian besar, sebelum ajal masih ditemani oleh gadis cantik yang menggiurkan!"
"Hahahaha, Ong-tong-cu, justru aku berkata bahwa kau sendirilah yang bakal ketiban rejeki, Gadis cilik ini cukup cantik benar ?"
Orang yang dipanggil Ong-tong-cu itu segera melangkah maju berapa langkah, sekilas ia melirik kearari Ma Giok-Iiong yang rebah ditanah, katanya.
"Hm, memang dia adanya, ringkus dia dan mundur kesamping."
Baru lenyap suaranya, gadis baju merah itu segera tertawa genit dan maja menghampiri katanya.
"Oho, enak benar kau berkata, mau ringkus tinggal ringkus, kenapa tidak tanya dulu kepada aku!"
Sejenak Ong-tong-cu tertegun, tapi lantas tertawa terbahak-bahak, serunya.
"Dia ini apamu, sedemikian besar rasa prihatianmu ? Urusan kita dari kaum Kim-i-pang selamanya tidak suka diusik oleh orang luar.
"Aku tidak perduli, dihadapan aku Li Hong, tiada seorangpun yang dapat kubiarkan berlaku congkak dan bertingkah."
Li Hong! Begitu mendengar kedua nama ini disebut, Ongtong cu dan kedua temannya itu bercekat hatinya, sebentar mereka tercekat lalu dengan mata yang penuh kecurigaan mata mereka menyelidik dan menyelusuri seluruh badan gadis berbaju merah itu, tanyanya perlahan.
"Nona adalah ... adalan Ang-i-mo-li Li Hong?"
Li Hong mengekek dulu, sahutnya.
"Aku memang Ang-imo- li Li Hoog, kalian mau apa ?"
Pandangan Ong-tong-cu serasa gelap, otknya juga seperti dipukul godam, batinnya.
"Celaka, habis sudah, bagaimana bisa hari ini kita bisa berjumpa dengan wanita iblis yang terkenal sulit dilayani ini ..."
Dalam hati ia mengeluh namun lahirnya tetap berlaku hormat dan menyanjung, ujarnya sambil memberi hormat.
"Karni tidak tahu bahwa ternyata nona Li telah berkunjung kemari, harap nona suka memberi maaf se-besar-besarnya akan sikap kami yang kasar tadi, baiklah hamba beramai minta diri."
Sembari berkata ia mundur berulang-ulang. Iblis wanita baju merah terloroh-loroh semakin keras sekali melejit ia mendesak maju dihadapan Ong tong cu, katanya tertawa.
"Setelah melihat mukaku. mana boleh pulang tanpa membawa sedikit oleh-oleh dari aku,"
Habis kata-katanya terendus bau harum semerbak berkembang terus terdengar teriakan berulang-ulang.
Dalam sekejap itu enam buah kuping dari tiga antek-antek Kim i-pang telah dibetot putus dan tempatnya terus dibanting diatas tanah.Darah mengalir deras dikedua pipi mereka.
iblis wanita baju merah tertawa riang serunya.
"Sekarang kalian boleh pergi!"
Tanpa berani bercuit lagi Ong-tong-cu bertiga segera lari terbirit-birit turun ngarai.
Waktu Li Hong membalik tubuh lagi, saat mana Giok-liong sudah bangkit berdiri dengan tubuh masih limbung kerlingan tajam ia tatap iblis wanita baju merah, tanyanya.
"Kau, sebetulnya apa kemauanmu?"
"Orang yang sudah kupenujui, sudah tentu tidak boleh terjatuh ketangan orang lain."
Mendengar ocehan yang kurang ajar ini seketika naik hawa amarah Giok liong sampai kepala terasa berdenyut-denyut, semprotnya murka.
"Apa maksud kata katamu itu? Aku tidak mengerti"
"Nanti sebentar kau akan mengetahui."
Dengan gaya yang lemah lembut serta gesit sekali ia menghampiri kearah Giokliong, kedua matanya yang bersinar bening itu kini memancar sorot kejalangan yang panas membara menatap wajah Giok liong.
Tanpa merasa tergetar perasaan Giok-liong, cepat-cepat ia himpun semangat dirogohnya sebutir obat yang dibekal dari Lembah putus nyawa terus ditelannya suasana diatas ngarai menjadi sunyi, tegang.
Meskipun luka parah Giok-liong masih belum sembuh namun diam-diam ia sudah kerahkan seluruh kekuatan Ji-lo untuk melindungi tubuh, Kalau gerak gerik iblis wanita baju merah ada sedikit mencurigakan terhadap dirinya, segera ia akan turun tangan sekuatnya untuk merobohkan atau bila perlu membunuhnya.
Sebaliknya Ang i-mo-li masih berdiri di-tempatnya, kedua pipinya semakin merah, ke-dua bibirnya juga sedikit terpentang bergerak-gerak laaana delima merekah, dari badannya mengeluarkan bebauan harum yang memabukkan setindak demi setindak, sekarang ia maju mendesak kearah Giok liong.
Pada saat itulah mendadak terdengar sebuah suara tawa dingin yang rendah dan sember memecah suasana yang tegang menyekam sanubari ini.
Tahu-tahu diatas ngarai kini muncul sebarisan laki-laki yang semuanya mengenakan pakaian seragam kuning emas.
Pemimpin yang terdepan adalah seorang tua berambut uban dan berjenggot putih panjang, wajahnya tepos, kedua matanya memancarkan sorot berkilat-kilat, jengeknya dingin.
"Ang i-mo-li, selamanya perkumpulan kita tidak pernah saling melanggar dengan kamu. Hari ini kau berani turun tangan ikut mencampuri urusan dari kita, malah melukai anak buah kita lagi. Bagaimana kau hendak membereskan perhitungan ini?"
Sigap sekali mendadak Ang-i-mo-lt memutar tubuh, serunya terkekeh.
"Oho, tidak nyana tuan besar pelaksana hukum dari Kim-i-pang juga telah datang kemari !"
"Nona Li, bicara terus terang, kalau hari ini kau lepas tangan tidak turut campur, semua urusan yang telah terjadi bolehlah di hapus sama sekali."
"Boleh saja, tapi dengan satu syarat, kalian tidak boleh membawa pergi Ma Giok-liong."
"Apa maksudmu ini ?"
"Siapa berani menyentuh dia, pasti kubunuh !"
"Jadi kau sengaja ingin menjagoinya ?" "Bukan begitu maksudku, tapi siapapun kularang menyentuh dia."
"Sudah pasti kau hendak melindungi dia ?"
"Betul !"
"Hehehe ... nona Li, dengan baik tadi Lohu membujuk kau tidak mau dengar kata, janganlah nanti kau menyesal bahwa Lohu berlaku kejam terhadapmu !"
Tatkala itulah, tiba-tiba Giok-liong pelan-pelan maju ketengah gelanggang. Tertegun Ang i-mo li dibuatnya, teriaknya gugup.
"Ma-siauhiap, jangan kau sembarangan bergerak."
Giok-liong melotot sekali kearahnya, ejeknya.
"urusanku tidak perlu kau turut campur."
"Ma-siau-hiap, mereka sengaja hendak mencari perkara kepadamu .."
"seumpama aku sampai mati juga tidak sudi minta bantuan kepada perempuan jalang macammu ini !"
Pelaksana hukum Kim-i-pang itu tiba-tiba terkekeh dingin, ujarnya mengejek.
"Bagus, bagus, nona Li si dia, tidak mau terima kebaikanmu."
Sebaliknya Ang-i-mo-li Li Hong malah melirik penuh perhatian kearah Giok-liong, lalu serunya tersenyum.
"Apa betul ?"
Belum lenyap suaranya mendadak tubuhnya bergerak cepat sekali, dimana bayangan merah berkelebat membawa gulungan angin pukulan dahsyat terus merangsak maju langsung memukul kedada pelaksana hukum Kim-i-pang itu.
Kecepatan turun tangan serta tipu serangannya yang telengas ini betul-betul sangat mengejutkan Tapi pelaksana hukum Kim-i-pang ini agaknya juga bukan kaum lemah, sedikit tertegun kemudian, segera mendengus dingin, serunya.
"Diberi arak suguhan tidak mau, malah minta dihukum...
"
Tanpa ajal ia juga segera menggerakkan kedua tangannya maju menyambut serangan lawan berbareng berseru memberi aba-aba.
"Ringkus dulu bocah she Ma itu?"
Serentak kelima laki-laki berpakaian kuning emas itu berbareng mengiakan terus melejit maju mengepung disekeiiling Giok-liong. Ang-i mo-li terdengar terloroh loroh lagi, serunya.
"Tidak begitu gampang !"
Bertepatan dengan pukulan tangannya hampir saling bentur dengan tangkisan pelaksana hukum Kimi- pang itu, mendadak pergelangan tangannya dibalikkan, selicin belut pingangnya meliuk ringan sekali badannya lantas melayang menerjang kearah lima laki-laki yang mengepung Giok-liong itu.
Kontan terdengarlah jerit dan pekik saling susul disertai hujan darah berceceran, dua diantara lima laki-laki baju kuning emas itu sudah roboh terkapar karena terserang dadanya, dalam keadaan yang tak terduga dan tanpa siaga lagi mereka diserang keruan seketika mereka roboh bergulingan terus tak bergerak lagi, jiwanya melayang.
Sungguh gusar pelaksana hukum Kim i-pang bukan kepalang, teriaknya dengan murka.
"Maju semua !"
Sambil berteriak ia mendahului menubruk kearah Giok-liong sambil melancarkan pukulan dahsyat yang membawa angin menderu hebat.