Halo!

Seruling Samber Nyawa Chapter 12

Memuat...

Begitu kabut putih dengan hawa hitam itu saling bentrok terdengar lagi dentuman hebat yang menggetarkan bumi.

Para Hiangcu yang berdiri jauh menonton serta si jagal bermuka besi yang duduk bersila berobat diri agak jauh disebelah sana kontan merasa diri masing-masing diterpa hawa panas yang membakar kulit.

Begitu bayangan hitam dan putih saling bentrok seketika tubuh mereka terbungkus oleh bayangan pukulan tangan yang serabutan sehingga susah dibedakan lagi mana hitam dan mana putih.

Lambat laun kabut putih dan hawa hitam semakin tebal bergulung-gulung menjadi satu memenuhi alam sekeliling ngarai, ditengah gelombang kabut putih dan hawa hitam yang saling tumbuk dan bentok itu, terdengar juga angin pukulan yang menderu berat, kedua belah pihak sudah lancarkan ilmu pukulan masing masing yang paling dahsyat.

Tanpa mengenal kasihan sang waktu terus berjalan tanpa meninggalkan bekas.

Cuaca sudah mulai terang, dua orang yang bertempur diatas ngarai sekarang sudah kerahkan seluruh kekuatan hawa murni masing-masing, mereka berebut waktu untuk melancarkan serangannya lebih duIu, dalam bertempur gerak cepat macam ini, masing-masing harus berlaku gesit dan tangkas untuk menangkis atau menjaga diri serta melancarkan serangan yang paling ganas dan keji untuk secepatnya merobohkan lawan.

Sekejap saja dua ratus jurus telah berlalu, namun sedemikian jauh belum tampak tanda-tanda mana lebih kuat atau asor, sekonyong-konyong Giok-liong berteriak melengking keras sekali dimana terlihat bayangan putih berkelebat seringan asap.

Tenaga murni sudah terkerahkan sampai sepuluh bagian dengan jurus Hwat bwe, ia menyerang dengan sekuat tenaga.

Sungguh menakjubkan begitu jurus kedua dari Sam-ji-cuihun- chiu ini dilancarkan seketika terjadilah pemandangan yang sungguh indah, terlihat sinar kelap-kelip berbintang seumpama gumpalan salju berkembang meluncur turun dari tengah angkasa, entah lambat atau cepat semua memberondong kearah Thi-an siu-su cia.

Belum lagi jurus kedua ini memperlihatkan kewibawaannya, jurus ketiga yaitu Tiam-ceng juga sudah menyusul dilancarkan sebuah tangan kecil yang putih halus bak setan gentayangan saja layaknya tahu-tahu sudah melambai tiba didepan dada Thian-siu su-cia le Pang, tapi sebelum mengenai sasarannya ditengah jalan mendadak tangan itu membelok arah naik keatas tentu menepuk keatas batok kepalanya.

Saking kejut Thian siu-su cia menggembor keras, saking gusarnya kedua tangan ditarik terus didorong kedepan berbareng, kabut hitam segera bergulung-gulung melambung keluar.

Bersama itu dimana giginya menggigit kencang ujung lidahnya telah digigit sendiri sampai pecah berdarah.

"crat"

Segulung sinar merah berdarah langsung disemprotkan ketangan putih halus yang menyerang tiba.

Dentuman dahsyat menggelegar menggoyangkan gunung menggetarkan bumi, batu dan pasir beterbangan batu gunung dimana tempat mengadu pukulan juga sampai retak dan berbolong sebesar lima kaki bundar.

Berbareng pada saat pasir dan debu beterbangan itu, mendadak terdengar bentakan gusar.

Kelima Hiangcu dari Hiat hong-pang itu mendadak melejit berbareng berubah lima bayangan hitam diselingi angin pukulan yang membadai terus menubruk kearah Giok-liong.

"Blang". - sekali lagi terdengar dentuman yang bergemuruh, sebuah bayangan putih terjungkal sungsang sumbal terus terbanting keras diatas tanah bersalju, begitu pentang mulut kontan ia menyemburkan darah segar, pelanpelan dengan kedua sikutnya ia menyanggah tubuh terus bergegas bangun berdiri kedua kakinya terasa gemetar. Karena pengalamannya yang masih cetek dalam cara menghadapi musuh, sedikit meleng saja ia kena terbokong oleh gabungan pukulan yang dilancarkan oleh kelima Hiangcu itu. Sambil menyeringai iblis kelima Hiangcu maju lagi setindak demi setindak ... Sementara itu Thian siu-su-cia yang telah beradu pukulan melawan ilmu Sam-ji-cui- feua-chia yang dilancarkan Giokliong kini juga sudah merangkak bangun, dengan suaranya yang serak ia membentak gusar.

"Para Hiangcu..."

Tanpa berjanji serentak kelima Hiangcu menghentikan langkahnya berbareng menoleh kemari.

"Kemari!"

Sebagai komandan piket sekte utara kedudukan Thian-stu-su-cia ini sangat tinggi didalam Hiat-hong pang, kepandaiannya yang lihay merupakan salah satu jago yang paling dibanggakan dalam perkumpulan itu.

Sekarang mereka diperintahkan mendekat walaupun dalam hati ingin membangkang tapi mereka tidak berani melanggar perintah, berbareng mereka berkelebat maju kehadapannya, tanyanya.

"Bagaimana keadaan luka komandan ...

"

Thian-siu-su-cia mengulapkan tangan, setelah menenangkan semangatnya, sekuatnya ia buka mulut bicara.

"Urusan malam ini, selesai sampai disini saja !"

Saat mana Giok-liong sudah berengsot maju mendekap jubah luarnya yang putih sudah kotor berlepotan darah, jengeknya dingin.

"Memang tidak memalukan, nama Hiathong- pang memang serasi benar dengan perbuatan kalian..."

Belum habis ucapannya, Thian siu su-cia sudah bangkit berdiri sambil mengerut alis, serunya membungkuk diri.

"Atas pelanggaran yang telah dilakukan oleh para Hiang-cu kami, harap suka dimaafkan ! Hari ini jelas sudah kalah... urusan malam ini ... baiklah setelah sampai disini saja! Selewatnya hari ini ... kelak kita tentukan lagi siapa lebih unggul dan kalah !"

Habis berkata napasnya juga memburu, agaknya luka dalamnya juga tidak ringan.

Salah satu diantara para Hiangcu itu seorang diantaranya seorang berusia pertengahan umur berbadan kurus tinggi dengan air muka kecut segera angkat tangan kepada Thiansiu- su cia, katanya.

"Komandan, bocah ini sudah loyo kehabisan tenaga, lebih baik diringkus . ."

"Kentut !"

"plak, plok"

Saking gusar kontan Thian-siu su-cia persen dua tamparan para Hiangcu yang kurang ajar ini, Dia sendiri karena menggunakan tenaga sekali lagi memuntahkan darah segar. Dua orang Hiangcu yang lain segera maju memapak badannya, katanya.

"Komandan kau harus menjaga kesehatan badanmu !"

Thiansiu-su-cia mendengus geram, katanya kepada Giokliong. Ma-siauhiap, ada satu hal yang ingin Losiu tanyakan, entah dapatkah kau memberi keterangan?"

Sebenarnya keadaan luka Giok-Iiong juga tidak ringan, namun sekuatnya ia coba bertahan, sahutnya lirih.

"Tuan ini tanya soal apa ?"

"Apa hubungan tuan dengan Toji Pang Giok?"

"Beliau adalah guruku."

"Oh ... baik sampai jumpa lagi !"

Berubah sir muka Thiansiu su-cis, sambil mengulapkan tangannya ia memberi perintah.

"Mari kita pulang !"

Kedua Hiangcu yang lain segera memayang si jagal bermuka besi Ang It-hwi yang sedang berobat diri itu, terus pelahan-lahan turun gunung.

Giok-liong terlongong-longong memandangi punggung mereka menghilang dikejauhan, lalu ia menghela napas rendah, gumannya.

"Oh Tuhan, rata-rata sedemikian tinggi kepandaian mereka, kapan dendam kesumat ini bisa terbalas ..."

Air mata tak tertahan mengalir deras membasahi tubuhnya berlepotan darah itu.

"Apapun yang bakal terjadi,"

Demikian ia berpikir sambil menggertak gigi.

"Dendam kesumat ini harus kubalas berlipat ganda ! Bunuh, akan kutumpas mereka ! Aku harus memperoleh pelajaran ilmu silat sakti, untuk ibu dan membalaskan sakit hatinya !"

Sekonyong-konyong terdengar suara tawa cekikikan dibelakangnya, sebuah suara merdu berkata.

"sungguh tidak malu, hanya terkena sedikit luka saja lantas menangisi."

Hilang suaranya lagi-lagi ia tertawa genit berkakakan.

Tergetar hati Giok liong, seorang diri menangis ditempat sunyi ini, ternyata sekarang konangan oleh seseorang, bukankah ini sangat memalukan! Dalam gugupnya segera ia menyeka air matanya terus memutar tubuh.

Suara tawa genit yang terkekeh itu masih terdengar, lalu terdengar orang mengejek.

"Aku sudah melihat kau menangis, seeepat-cepat kau menyeka air matamu apa lagi gunanya ?"

Waktu Giok-liong memandang tegas, seketika matanya terbeliak, orang yang tertawa genit serta mengejek dan berdiri didepannya ini ternyata adalah seorang gadis remaja yang ayu jelita bsrpakaian serba merah.

Tawa genit yang menggila itu ternyata keluar dari bibir yang kecil mungil itu.

Memang begitu cantik wajahnya dengan mata yang jeli hidung yang mancung serta dadanya yang montok benar-benar potongan tubuh yang sangat memikat hati setiap laki-laki.

Demikianlah juga Giok-liong tanpa merasa ia berdiri terpesona mematung ditempatnya.

Setelah puas tertawa, tampak alis si gadis diangkat tinggi serta ujarnya aleman.

"Eh, apakah aku elok ?"

Tanpa sadar Giok-liong manggut-manggut.

"Apakah kau suka kepadaku ?"

Sungguh diluar dugaan Giok-liong orang bakal mengajukan pertanyaan seperti ini, sesaat ia tertegun tak tahu cara bagaimana ia harus menjawab.

"Hm, agaknya kau tidak tahu, jadi kau hendak ambil keuntungan dari aku ?"

Perasaan sebal dan benci seketika timbul dalam benak Giok liong, sambil mendengus ia terus putar tubuh tinggal pergi turun ngarai.

Belum lagi ia melangkah jauh terdengar pula suara tawa genit yang mengiblis itu semakin keras dan menggila, disusul sebuah bayangan merah berkelebat tahu tabu gadis baju merah yang cantik itu sudah menghadang didepannya, alisnya dikerutkan dalam mulutnya cemberut, tanyanya.

"Masa kati tidak ingin tahu siapakah aku ini ?"

Alis Giok-Jiong juga berjengkit tinggi, sahutnya dingin.

"selamanya aku belum pernah bertemu muka dengan nona, harap nona suka mengenal sopan sedikit."

Lagi-lagi si gadis baju merah ini terkekeh genit dan semakin jalang, serunya.

"Aduh, pura-pura malu kucing dengan istilah belum pernah jumpa apa segala. Justru sekarang aku minta kau segera menjawab pertanyaanku?"

"Hm, kalau nona tidak mau menyingkir jangan menyesal kalau aku sampai turun tangan."

"Aah garangnya, aku tidak mau minggir coba kau berani turun tangan."

Timbul amarah Giok-liong, sambil menahan sakit "Wut"

Langsung ia menampar ke depan. Bayangan merah berkelebat seketika ia rasakan sikut tangannya kesemutan seluruh lengannya itu lantas lemas semampai tak mampu bergerak lagi. Suara tawa jalang dari gadis merah itu terdengar pula.

"saudara kecil, tabiatmu itu sungguh sangat kasar ..."

"Cis, siapa menjadi saudaramu, hayo minggir ...

"

Dengan marahnya ia terus menerjang maju dengan langkah lebar.

"Kembali lah!"

Kontan ia merasa dirinya menumbuk sebuah dincing yang tidak kelihaian sampai badannya terpental balik dan terhuyung tiga langlah, darah dalam dadanya seketika bergolak, tenggorokan terasa panas darah segar terus menerjang naik kedalam mulut.

Namun ia mengertak gigi, muntah-muntah ia telan kembali darah yang sudah menyembur keluar itu.

Matanya mendelik mengawasi wajah gadis baju merah, semprotnya gusar.

"Apa keinginanmu?"

"Jawab pertanyaanku!"

"Kalau aku tidak mau jawab?"

"Hm, Takabur benar, jangan harap kau dapat pergi!"

"Hah, aku Ma Giok-liong seorang laki-laki tak sudi diperas dan ditekan oleh perempuan yang jalang kotor seperti kau."

Seketika berubah air muka gadis baju merah, meskipun memperlihatkan sikap tawanya tapi kini wajahnya itu sudah diliputi nafsu keji yang ingin membunuh, tawa jalangnya semakin keras, teriaknya.

Post a Comment