"Saudaraku, kau boleh istirahat dulu!"
Seiring dengan suara ini sebuah bayangan laksana seekor burung besar mendadak muncul disampingnya, sekali jinjing sebat sekali kawannya dibawanya menyingkir delapan tombak jauhnya, suaranya tetap dingin.
"Kau istirahatlah disini !"
Setelah merebahkan si jagal berduka besi, gesit sekali bayangan itu sudah melayang tiba dihadapan Giok-liong lagi. Bercekat hati Giok-Iiong, batinnya.
"Ternyata banyak juga jago silat kelas tinggi didalam Hiat-hong-pang. Tak heran mereka berani malang melintang bsrsiinaharaja."
Sambil berpikir matanya memandang menyelidiki kearah bayangan hitam ini.
Tampak bentuk tubuh orang ini kurus kecil, kedua biji matanya cekung kedalam, tapi bersinar tajam.
Diatas kedua biji matanya yang memancarkan sinar kehijauan itu adalah alisnya yang tebal gompyok, hampir menutupi seluruh dahinya, Hidungnya besar bengkak seperti paruh elang, bibirnya tipis kering merekah, selayang pandang bentuk rupanya ini pasti akan menggiriskan orang yang melihatnya.
Giok-liong berdiri diam dan tenang, sikapnya dingin memandang, baru ini tanpa mengeluarkan suara.
Tapi hawa Ji-lo sudah terkerahkan untuk melindungi badan bersiap menghadapi setiap pertempuran.
Tatkala itulah dibelakangnya terdengar berkesiurnya angin dari lambaian baju, dengan seksama ia hitung pendatang baru dibelakangnya sebanyak lima orang, Dari gerak.
langkah serta lambaian baju mereka dapatlah diukur kepandaian mereka, paling banyak juga setingkat lebih rendah dibanding si jagal bermuka besi.
Tiba-tiba si kurus kecil berhidung bengkak itu membuka suara dingin.
"Bukankah tuan ini Ma Giok-liong? Pun-coh (aku) adalah Thian-siu-su cia Ie Pong"
Giok-liong insaf bahwa Thian-siusu cia Ie Pong didepannya ini benar-benar berkepandaian aneh dan tinggi, salah seorang iblis besar yang berwatak aneh pula. Sambil bersiaga ia menyahut.
"Sudah lama kudengar nama tuan, laksana geledek membisingkan telinga, Aku yang rendah memang Ma Giokliong!"
Sekian lama Thian-siu-su-cia le Pong mengamatinya, lalu katanya manggut-manggut "Benar-benar seorang gagah, sayang terlalu angkuh. Hm. tuan berani membakar gubuk dan melukai orang orangku, mungkin kau tidak akan terhindar dari kejaran keadilan."
Mendadak Giok-liong mendongak sambil perdengarkan tawa gelak-gelak, ujarnya.
"Tak terduga kata kata keadilan juga dapat tuan katakan, Hahahaha."
Air muka Thian siu-su-cia tetap membeku tanpa emosi, setelah suara tawa Giok-liong reda, baru ia berkata dingin.
"Memang tuan harus tertawa puas sebelum ajal"
Sikap Giok-liong tidak kalah dingin.
"Hari ini berapa anak buah yang tuan bawa kemari. Lebih baik suruh mereka maju berbareng supaya aku tidak membuang tenaga dan waktu."
Thian-siu-su-cia mendengus keras, mendadak ia berteriak kearah belakang Giok-liong.
"Para Hiang-cu diharap mundur kesamping, biar aku sendiri yang turun tangan, Kalau menang itulah baik, kalau kalah segera kita mundur. Anggaplah peristiwa malam ini belum pernah terjadi!"
Sekilas Giok-liong melirik kebelakang, terlihat dibelakangnya, berdiri jajar lima orang laki-laki yang mengenakan pakaian sangat perlente, semua bersikap garang, berbareng mereka melompat mundar kesamping.
Berkata pula Thian-siu-su-cia kepada Giok-liong.
"Tuan boleh kerahkan seluruh kemampuan untuk melawan aku, Kalau sejurus atau setengah jurus tuan dapat menangkan aku, urusan malam ini kita sudahi sampai disini. tapi setelah malam ini bila bertemu lagi itu menjadi persoalan lain."
Giok liong tersenyum.
"Tuan tidak usah kuatir tentang hal ini seandainya tuan tidak datang, aku yang rendah juga akan meluruk kemarkas besar Hiat-hong-pang kalian."
"Baiklah aku silakan tuan menyerang tiga jurus lebih duIu, supaya tidak menjadi buah tertawaan orang yang mengatakan aku le Pong menindas anak kecil"
"Baiklah aku juga tidak main sungkan-sungkan lagi."
Lenyap suara kakinya sedikit menggeser kesamping kiri sedang tangan kanannya bergerak perlahan dengan jurus Beng-houju- tong (harimau gilik keluar gua), gerakannya sedemikian lamban dan berat karena tanpa menggunakan tenaga murninya, Bersama itu mulutnya juga berseru keras.
"jurus pertama !"
Gerak gerik Giok-liong ini merupakan jurus serangan yang paling umum dilancarkan dengan sengaja tanpa mengerahkan hawa murninya lagi keruan Thian siu-su-cia menjadi tercengang, sedikit bergerak ia menyingkir setengah langkah.
Kini Giok- liong merubah gerakannya, tubuh sedikit mendak kedepan, kepelan tangan kanan tergantung, sedang telapak tangan kiri menyambar miring dari samping lagi-lagi ia lancarkan gerak tipu Hu-hou tio-yang (harimau mendekam menghadap matahari) jurus umum yang paling rendah tingkatnya.
Sekali ini baru Thian siu su cia paham bahwa Giok-liong sengaja tidak mau terima kemurahan akan serangan tiga jurus terdahulu ini, keruan bukan kepalang rasa hatinya, tapi ia segan pula membuka mulut.
Dalam pada itu, Giok liong sudah selesai melancarkan tiga jurus serangan pura-pura, lantas katanya.
"Tuan marilah jangan main sungkan-sungkan lagi !"
Ringan sekali tubuhnya melayang mundur lima kaki.
Kelima Hiang-cu yang berdiri membelakangi jurang diatas ngarai itu, melihat betapa congkak sikap Giok liong ini, diamdiam mereka membatin, bocah ini tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, hari ini terhitung dia pasti mampus.
Terdengar Thian-siau-su-cia mendengus hina, jengeknya.
"setelah kau tidak mau terima kemurahanku akan ketiga jurus serangan tadi, nanti jangan kau menyesal bahwa aku telah berlaku telengas dan keji kepada kau !" "Hahahahaha, legakan hatimu dan silakan turun tangan saja, Siapa bakal menang atau kalah masih sukar ditentukan."
Dimulut ia bersikap temberang, namun diam-diam ia bersiaga dengan mengerahkan hawa Ji-lo dalam tubuhnya untuk bersiap siaga menghadapi setiap perubahan.
Terhadap Hiat-nong-pang dan Kim-i-pang dia merasa dendam dan membenci sampai ke tulang sumsum.
Saat mana bara dendam kesumat sudah membakar dadanya.
Menghadapi salah satu tokoh dari Hiat-hong-pang yaitu Thian siu-su-cia le Pang timbul rasa simpatiknya, terasa olehnya bahwa orang ini tidak sejahat dan seburuk apa yang pernah dipikirkan, sedikitnya dia masih mempunyai sikap gagah sebagai kaum persilatan.
Sementara itu sedikit mengangkat tangan Thia l-siau-su-cia le Pang berkata.
"Tuan hati-hatilah !"
Membarengi ancamannya selicin belut tiba-tiba tubuhnya melejit kesamping kiri Giok-liong, kelima jarinya dirangkap terus membacok miring laksana sebilah pedang yang diarah adalah jalan darah King-bun hiat dibawah ketiaknya.
Giok-liong tersenyum geli, kaki kanan menggeser setengah langkah kebelakang, sedang tangan kanannya diulur mencengkeram pergelangan tangan kanan Thian-siu-su cia.
Thian-siu-sucia juga perdengarkan jengeknya, matanya memancarkan kilat hijau, dimana tangan kiri terayun seketika terbitlah angin lesus yang dibayangkan dengan pukulan tangan yang memenuhi udara sekitarnya.
Hampir dalam waktu yang bersamaan dengan gerakan kilat dilandasi tenaga ampuh serentak ia lancarkan empat belas kali pukulan serta delapan kali tendangan.
Baru sekarang benar benar Giok-liong terkejut, sedemikian cepat tahu-tahu angin pukulan musuh sudah hampir mengenai tubuhnya, dalam gugupnya tiba-tiba tubuhnya menjengkang kebelakang, disusul tumitnya sedikit menjangkit, tubuhnya lantas melenting miring kebelakang secepat anak panah meluncur.
Baru saja tubuhnya melenting mumbul, pinggangnya lantas ditekuk dan berjumpalitan ditengah udara serta menyedot hawa murni dalam-dalam, dengan gaya yang indah sekali tubuhnya melengkung turun, dimana kedua tangannya menari-nari dengan bayangan pukulan yang dahsyat ia meluncur turun mengeprok batok kepala Thian siu-su cia.
Thian-siu cu cia mengekeh panjang, kedua kakinya sedikit ditekuk dengan gaya berjongkok ini ia kerahkan dua belas tenaga murninya terus mengayunkan kedua lengannya.
Langsung menyambut kedatangan pukulan Giok-liong, sengaja ia hendak menjajal dengan latihan Lwekangnya selama puluhan tahun itu untuk menandingi kekuatan Giok-liong.
"Bum . ...byeerr ... ."
Ledakan yang lebih hebat dan dahsyat membuat alam sekitarnya gelap gulita angin badai membumbung tinggi sehingga batu dan pasir beterbangan seketika itu juga dua bayangan orang terpental berpisah kedua jurusan, sekarang Giok-liong dan Thian-siu su-cia berdiri berhadapan terpaut satu tombak.
Adu pukulan kali ini ternyata sama-sama kuat alias seri.
Adalah Thian-siu-su-cia sediri diam-diam bercekat hatinya, batinnya.
"sungguh tak nyana sedemikian kuat tenaga dalam bocah cilik ini, betapapun aku harus hati-hati"
Karena pikirannya ini ia kerahkan hawa murninya untuk melindungi badan, sorot matanya memancarkan sinar kehijauan, mendongak keatas ia bersuit panjang melengking menembus angkasa, Kedua tangan ditekuk bersilang mulailah ia kerahkan ilmu pukulannya yang dinamakan Thiau-siu-sacap- chit-ciang, seluruh tubuhnya bergetar hebat membawa gulungan hawa hitam seperti gugur gunung terus menerjang kearah Giok-liong.
Dalam adu kekuatan tadi Giok-liong sudah kerahkan tujuh bagian tenaga murninya, begitu saling sentuh, darah segar mengalir balik dalam rongga dadanya, jantungnya lantas berdetak keras, secara mentah-mentah tubuhnya terpental balik dan meluncur jatuh lima kaki jauhnya.
Sudah tentu bukan main kejut hatinya, sekarang melihat musuh menerjang dengan seluruh kekuatan seperti banteng ketaton, tanpa berani ajal lagi segera ia kerahkan Ji-Io sampai sepuluh bagian, jurus pertama dari Sam-ji-cui-hun-chit yaitu Cin-chiu segera dilancarkan, Dimana terlihat bunujj-imnnrrrniaT-rsgtetiiiifPn?a segera terbit kabut putih yang bergulung-gulung diselingi angin badai yang menderuderu.