Halo!

Seruling Samber Nyawa Chapter 09

Memuat...

Orang she Ong yang berdiri disamping mendadak menghentikan tawanya, hardiknya beringas.

"Bocah keparat, kaukah ini keturunan haram dari keluarga Ma itu?"

"Tuan mudamu ini berjalan tidak mengganti she, duduk tidak berganti nama, memang akulah yang bernama Ma Giokliong!"

Orang she 0ng menggeram gemas, ujarnya.

"Saudara Tan, keiajaroan mataku ini agak boleh diandalkan Malam itu memang aku berjaga dipinggir ngarai sebelah sana, sepintas saja aku melihat bocah dungu ini. Hm, ternyata dia masih hidup malah mengantar jiwanya kepada kita. Hahahaha bagus benar nasib kita!" -Ialu sambil melangkah setindak matanya mendelik dan berkata kepada Giok liong.

"Bocah jangan harap hari ini kau dapat pergi, menyerah saja biar kuringkus."

Giok liong menjengek dingin.

"Tuan kecil mu ini tidak suka main-main, maka kuanjurkan kalian sukalah tahu diri jawablah setiap pertanyaan tuan kecilmu ini."

Tanpa merasa orang she Ong dan she Tan saling pandang dan tertawa gelak-gelak lagi.

Dalam pandangan mereka pemuda seperti pelajar yang lemah ini, seumpama datang lagi sepuluh orang juga tidak menjadi soal lagi bagi mereka berdua.

Belum lenyap suara gelak tawa mereka, orang she Ong sudah membentak.

"Bocah hayo masuk rumah."

Sambil membentak dimana terlihat tangannya menjambret dan menarik pergelangan tangan Giok-liong tepat kena dicengkeramnya, sedikit menggunakan tenaga untuk menikung, seketika terdengar teriakan panjang yang kesakitan, Tahu-tahu tubuh orang she-Ong yang tinggi besar itu terpental tinggi seperti bola terus terbanting keras jatuh di atas tanah sejauh beberapa tombak, tubuhnya berkelejetan mulutnya mengerang kesakitan.

Kejadian ini terjadi begitu mendadak sesaat orang she Tan berdiri tertegun tiba-tiba tangannya membalik.

"Siut..."

Selar ik sinar merah melesat membumbung tinggi keangkasa, di lain saat dengan gerakan yang cekatan sebat sekali ia telah menghunus golok yang tersoreng dipinggangnya.

Dengan jurus Tok-bi-hoa-san (membelah gunung Hoa ) goloknya terus membacok keatas batok kepala Giok-liong, sedemikian besar nafsonya untuk membunuh musuh kecil ini sehingga ia mengerahkan seluruh tenaganya sampai sambaran goloknya berbunyi menderu.

Tidak ketinggalan mulutnya juga memaki kalang kabut.

"Bocah keparat, berani kau melukai orang ...."

Belum lenyap suara makiannya, mendadak terdengar Giokliong tertawa dlngin, jari tengah tangan kirinya diulurkan menyelentik ke arah golok musuh, sedang tangan kiri ringan sekali menampar.

Terdengar pekik kesakitan yang tersendat, hujan darah memenuhi udara dan bercecer kemana-mana.

"Plak"

"Aduh .., .

"

Dimana terlihat tubuh orang she Tan jungkir balik, tepat sekali tubuhnya jatuh menindih keatas tubuh orang she Ong, celakanya ujung goloknya itu justru menusuk tembus kedada kawan sendiri darah kontan menyemprot keluar seperti sumber air jiwa keduanya berbareng menghadap raja akhirat Giok-liong menyeringai dingin, gumamnya.

"Bala bantuan mereda segera akan datang, besar harapanku, Komandan piket sek-te utara mereka juga tiba hari ini. Mungkin dari mulut mereka aku bisa mendapat kabar tentang keadaan ibu !"

Lalu dengan langkah ringan perlahan lahan ia memasuki gubuk yang baru dibangun, keadaan didalam gubuk morat marit, berbau apek dan arak, kotornya luar biasa, Giok-liong mendengus dongkol, dicarinya bahan api terus disulut lalu dilemparkan kedalam gubuk, Tidak lama kemudian, asap membumbung tinggi ketengah angkasa membuat burungburung kaget ketakutan dan beterbangan kemana-mana, kembang api juga beterbangan keempat penjuru.

Giok-liong berdiri membelakangi gubuk yang tengah berkobar sambil menggendong tangan, sekarang baru ia merasa keriangan hati setelah melaksanakan pembalasan.

Hawa hangat dan panas dari kobaran api bergelombang menghembus kearah tubuhnya, membuat tekadnya menuntut balas semakin besar, semakin mendesak.

Bibit dendam kesumat semakin bersemi dan berkobar wajahnya yang putih halus semakin merah membara, tapi sikapnya dingin membesi tanpa emosi.

Mendadak dari bawah ngarai sana terdengar suara lirih dari melambainya pakaian orang yang tengah berlari mendatangi.

Tanpa merasa Giok-liong mendengus ejek.

"Yang mengantar nyawa telah tiba puIa."

Memang tidak salah dugaannya, dari lamping ngarai sebelah depan sana berbareng muncul tiga orang laki-laki yang mengenakan seragam ketat warna hitam.

Orang yang berdiri ditengah berjenggot kambing dan bergodek panjang, kedua matanya berkilat-kilat memandang kedua mayat orang she Tan dan she Ong bergantian, lalu memandang ke arah kobaran api yang tengah menelan gubuk baru itu.

Perlahan dengan tindakan mantap ia maju ketengah, setelah batuk sekali lantas ia buka suara bertanya kepada Giok liong.

"Tuan ini kawan dari aliran mana ?"

Dua Iaki-laki dikanan kirinya terus berendeng dibelakangnya.

Dilihat dari cara dandanan pakaiannya ini, agaknya dia salah seorang Tocu yang berkedudukan di suatu tempat.

Giok-liong tetap berdiri dengan tegap, sikapnya angkuh dan temberang sekali.

Setelah sampai ditengah ngarai baru ketiga orang itu menghentikan langkahnya, orang ditengah itu bertanya lagi lebih keras.

"Apakah nian ini dari aliran yang sama?"

Suasana yang tetap sunyi ini adalah jawabannya Orang yang berdiri disebelah kanan, kini sudah tidak sabaran lagi, jengeknya dingin.

"Tocu tak perlu banyak bacot lagi, biarlah hamba yang maju membekuk bocah kurang ajar ini !"

Orang yang dipanggil Tocu itu manggut-manggut, dengusnya.

"Kematian sudah di-depan mata masih berani bertingkah."

Sekali bergerak dengan sekali loncatan gaya harimau menubruk, laki-laki sebelah kanan itu melesat sampai dibelakang Giok-liong dimana tangan kanannya bergerak langsung ia mencengkram kepundak kanan Giok liong.

"Brak."

"Jatuh !"

Terdengar suara keras lalu disusul teriakan panjang yang kesakitan, tahu-tahu badan laki-laki itu terjungkal terbang menyemburkan hujan darah.

Dimana sebuah bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Giokliong sudah berdiri di-hadapan sang Tocu terpaut lima kaki, wajahnya membeku dingin pandangannya mengancam, tanyanya.

"Kalian mengapakan ibu keluarga Ma disini, dan dimana beliau sekarang !"

Sang Tocu dan seorang bawahannya hanya merasakan pandangannya kabur, tahu-tahu Giok-liong sudah berdiri begitu dekat didepannya, karuan kejut hatinya bukan main, setelah tercengang sebentar, baru mereka dapat bernapas lega dan menenangkas semangatnya, bentaknya gusar.

"Buyung, benar-benar kau sudah bosan hidup, berani kau mencari perkara dengan Hiat-hong-pang?"

"Aku bertanya dimana sekarang ibu keluarga Ma berada ?".

"Pergi kerumah gendaknya ..."

Bayangan putih berkelebat ,lantas terdengar pekik yang menyeramkan serta suara plakplok bergantian yang nyaring, sebuah tubuh manusia lagi-lagi terbang bergulingan tujuh delapan tombak terus rebah celentang tidak bergerak lagi.

Sementara itu sang Tocu tengah berlutut diatas tanah, mulutnya penuh berlepotan darah, sorot matanya mengandung minta ampun yang sangat memandang wajah si pemuda yang berdiri gusar mendelik dihadapannya, mohonnya gemetar.

"Ampun Siauhiap, ham ... hamba ... tidak tahu ..."

"Kalau kau ingin hidup, lekas katakan sebetulnya."

Demikian ancam Giok-liong. Tocu itu benar-benar sudah ketakutan, sahutnya lirih.

"Hamm ... hamba benar-benar tidak tahu, Hamba hanya tahu bahwa pangcu sendiri pernah datang kemari, malah telah dikeluarkar perintahnya untuk mencari jejak seorang pemuda tanggung, raut muka serta asal usulnya sudah ditulis dan digambar serta disebarkan ke berbagai cabang dimana-mana ..."

Sampai disini mendadak ia berhenti, dengan terbelalak dan ketakutan ia memandang wajah Giok-liong. Giok liong menyeringai dingin.

"Bagaimana? Apa yang kau lihat ? persis dengan gambar itu bukan ? Hehehehe, Tuan muda ini tak lain adalah Ma Giok-liong, akulah yang menjadi dewa elmaut bagi Hiat-hong-paag kalian. Kalau kau tidak bicara secara terus terang, kaupun jangan harap bisa kembali dengan masih hidup!"

Tocu ini terlongong memandangi wajah Giok-liong, sekian lama kemudian baru ia membuka mulut lirih.

"Ma-siau-hiap, dulu Ma-nio-cu juga bersikap baik sekali terhadap hamba terutama bodr terhadap beliau. Asal hamba tahu dimana sekarang beliau berada, masa hamba berani merahasiakan..."

Baru dia bicara sampai disini, dari kejauhan ditengah hutan sana, tiba-tiba melengking tinggi sebuah suitan panjang yang memecah angkasa terus meluncur tiba dengan pesatnya.

Wajah yang berlepotan darah dari sang Tocu itu seketika berubah pucat pasi dan mulutnya terdengar mengguman.

"Komandan Ang telah tiba, Komandan Ang telah tiba ..."

Mendadak ia menyembah berulang-ulang kepada Giok-liong serta memohon.

"siauhiap ampun !"

Melihat tingkah tengik orang ini, Giok-liong menjadi geli dalam hati, tanyanya menegas dengan nada berat.

"siapakah komandan Ang itu ?"

Tocu itu menyahut gemetar.

"Beliau adalah wakil komandan piket sekte utara. Thi-bin-to hu Ang k-hwi ....... Siau-hiap ampun ..."

Giok-liong mendengus hina, ujarnya.

"Baik, kau pergi lah!"

Bergegas Tocu itu bangkit berdiri sambil membungkukbungkuk dan berkata.

"Terima kasih akan budi pengampunan Siau-hiap"

Habis berkata terus berlari terbuit-birit kebawah ngarai. Mendadak alis Giok-Iiong tegak berdiri, bentaknya.

"tunggu sebentar!"

Tocu itu mengiakan dan segera menghentikan langkahnya,siapakah komandan piket sekte utara kalian ?"

"Thian~siu-su-cia le Pong !"

"Baik, kau boleh pergi !"

Sambil menyatakan terima kasih, kedua kaki Tocu menjejak tanah terus berlari pesat seperti anak panah melesat kebawah ngarai. Sekonyong-konyong.

"Hehehehe ..,."

Serangkaian suara tawa yang panjang terdengar dari pinggir ngarai sana, Sang Tocu yang baru saja berlari sampai dipinggir ngarai segera menghentikan langkahnya, teriaknya ketakutan.

"Wakil komandan piket ..."

"Hehene...

"

"Prak"

Suara tawa dingin itu melayang tiba, serangan angin lalu disusul jeritan yang mengerikan. Badan sang Tocu kelihatan melayang tinggi jungkir balik ditengah udara terus terbanting mampus, dari tujuh lobang indranya mengalirkan darah segar.

"Hehehe... kurcaci macam ini yang berlutut minta ampun. Heheheh ..."

Post a Comment