Selepas pandang, dilihatnya selokan setan masgul masih seperti sedia kala, kabut tebal masih meliputi seluruh alam sekitarnya angin pegunungan yang dingin juga ribut menghembus keras.
Tiba-tiba terkiaug pesan To ji yang wantiwanti.
"Anak Liong, jagalah dirimu baik-baik sepanjang jalan, segeralah berangkat gurumu hendak menutup seluruh jalan masuk lembah ini. Kelak kalau kau datang lagi, bilamana mulut lembah belum terbuka, itu tandanya bahwa Suhu belum kembali!"
Giok liong maklum bahwa gurunya meng gunakan ilmu Cian li thoan-im (mengirim suara ribuan li) untuk bicara dengan dirinya, maka segera menggunakan ilmu yang sama untuk menjawab "Tecu sudah tahu."
Selanjutnya ia bertanya lagi.
"Suhu, kapan kau orang tua kembali kedalam lembah?"
"Perjalanan ini sulit ditentukan, kapan aku pulang tidak pasti, Waktu mulut lembah terbuka, gurumu pasti ada didiami Sudah lekaslah berangkat, lekas berangkat."
"Tecu terima perintah."
Sahut Giok-liong sambil membungkuk lagi.
Begitu menyedot hawa dalam-dalam menghimpun hawa murni, kakinya terus menjejak tanah melesat kearah sebuah batu gunung yang menonjol keluar diieberang sebelah sana, jaraknya tidak kurang dua puing tombak lebih, namun dengan ringan sekali tubuhnya meluncur seperti snnk i anah, Sungguh diluar perhitungannya begitu pesat lurcuran tubuhnya ini seperti kilat saja melambung ditengah kabut, terpaksa ia harus menekuk tubuh dan meliukkan badan seperti seekor bangau saja tubuhnya segera meluncur turun tepat diatas ngarai sukma gentayangan.
"Oh, Tuhan,"
Hampir saja ia berteriak saking tak tahan menahan rasa girang yang meluap-Iuap.
Hanya sekali jejakan kakinya saja ternyata sekarang dirinya mampu melompati jurang yang lebarnya tiga puluhan tombak ini.
Benar-benar suatu hal yang mustahil bila dibayangkan masakah mungkin tenaga manusia dapat mencapainya ? Teringat waktu datang, betapa ia harus memeras keringat mengalirkan darah serta menghabiskan seluruh tenaganya baru dapat melampaui selokan setan masgul ini dan masuk kedalam Lembah putus nyawa.
Siapa akan menduga hanya beberapa hari saja sekarang dirinya sudah dapat melewati jurang yang berbahaya ini hanya sekali lompat saja.
Anugrah Suhu terhadap dirinya sungguh besar dan tak tenilai, sekian lama ia berdiri terpesona saking senang, hampir-hampir ia sendiri tidak percaya akan kenyataan ingin dia membuktikan apakah dirinya benar-benar sudah melampaui selokan setan masgul ini ! Tak kira begitu ia memutar tubuh seketika ia berdiri tertegun, Kabut masih tebal angin masih ribut tapi bekasbekas atau bayangan jalan pendek nyawa itu kini telah menghilang ? Demikian batu besar itu juga telah menghilang tanpa bekas, Ngarai disebrang sana juga sudah tidak kelihatan iagi, hanya tinggal lereng gunung yang menjulang tinggi keangkasa, tiada celah-celah yang merekah yang telah dilewati tempo hari.
Hanya dalam sekejap mata itu saja, seluruh jalan yang menuju ke Lembah putus nyawa sudah tertutup rapat.
Hati Giok liong serasa mencelos dan gegetun, Dengan bekal Lwekangnya sekarang, untuk malang melintang di Kangouw menuntut balas pasti bukan persoalan yang berat.
Tapi sebuah jalanan pendek nyawa yang besar itu, sekejap saja menghilang tanpa suara tanpa diketahui kapan jalanan itu lenyap.
Bangunan alat-alat rahasia semacam ini benar-benar sangat menakjubkan.
Tidak usah dibuat heran sedemikian banyak tokoh-tokoh Bulim yang terjungkal dan menemui ajalnya dalam lembah putus nyawa ini.
Untuk selanjutnya dirinya harus berlaku waspada dan hati hati berkelana didunia persilatan supaya tidak sampai kena terbokong.
Baru lenyap pikirannya, mendadak dipinggir telinga seperti ada orang berkata riang.
"Giok-liong, lekaslah turun gunung, gurumu juga segera akan berangkat !"
Giok liong tergagap, cepat ia berpaling kearah datangnya suara, terlihat ditengah keremangan kabut tebal samar-samar berkelebat sebuah bayangan putih terus hilang di telan kabut tebal, dari kejauhan sayup-sayup terdengar pula suara To-ji berkata.
"Hati-hatilah menjaga dirimu dalam perantauan !"
Habis suaranya orangnya juga sudah jauh beberapa li.
"Tecu tahu !"
Sahut Giok-liong hormat, dimana tubuhnya melenting berubah segulung bayangan putih terus meluncur kebawah dari ngarai sukma gentayangan ini.
setelah sampai dikaki gunung hatinya menjadi hampa dia celingukan kian kemari, tak tahu dia kemanakah dirinya harus menuju, pelanpelan kakinya melangkah tak terasa ia beranjak melalui jalan yang pernah dilalui tempo hari waktu datang.
Ditengah jalan ia berpikir.
"Baiklah, terlebih dulu aku harus kembali keruman gubuk yang telah terbakar menjadi puing itu,"
Teringat akan rumah, sakit hati yang sekian lama sudah terpendam dalam hatiaya mulai berkobar lagi. Tragedi berdarah akan masa yang lalu kembali terbayang dikelopak matanya, hatinya mengeluh dan berteriak.
"Bunuh, berantas habis semua iblis laknat yang jahat itu ..."
Wajahnya tidak menunjukkan sesuatu expresi yang luar biasa, namun gerak tubuhnya melesat semakin pesat susah diukur kecepatannya menuju kearah ngarai tempat tinggalnya dulu.
Tiba-tiba sebuah persoalan lain timbul dalam benaknya.
Ke-manakah ayah telah pergi? Bukankah Hwe-thian-khek Ma Hun dari laut utara itu juga she Ma? Dan lagi iblis nomor wahid paling kejam, membunuh orang tanpa berkedip Sip-hiat-leng Toan Bok-ki kemana pula dia pergi? Kesan semua orang dunia persilatan adalah bahwa mereka berdua sudah mampus didalam lembah putus nyawa.
Tapi suhunya, majikan lembah putus nyawa ini memberi tahu bahwa ketiga orang itu hakekatnya tidak atau belum pernah memasuki lembah yang bertuah ini.
Kemanakah mereka telah pergi? Tak tertahan hatinya berdenyut bertanya-tanya, Apakah mungkin menghilangnya ketiga tokoh kenamaan itu merupakan suatu muslihat yang keji dalam kalangan persilatan? jikalau dugaannya ini kenyataan, itu sungguh berbahaya dan menakutkan.
Tapi kalau diselami lebih lanjut dugaannya ini juga banyak kelemahannya dan tak mungkin bisa terjadi.
Sebab kepandaian silat dan kecerdikan ketiga tokoh-tokoh lihay itu sangat tinggi, betapapun juga mereka takkak semudah itu kena tertipu atau terjebak.
Pikir punya pikir badannya masih berlaju, terus berloncatan didaratan pegunungan yang tidak rata dengan tanah penuh ditaburi salju tebal, Tatkala itu tanpa merasa Giok-liong sudah kembangkan gerak tubuh Leng-hun-toh sampai sepuluh bagian tenaganya, sebuah bayangan putih laksana asap berkelebat seperti bayangan tanpa ujud saja melintas secepat kilat diatas pegunungan yang memutih sampai tak dapat dilihat tegas dengan pandangan mata biasa.
Tak lama kemudian jauh-jauh ngarai tempat tinggalnya itu sudah kelihatan.
Tanpa merasa darah bergejolak dalam rongga dadanya, semakin cepat kakinya bergerak luncuran tubuhnya semakin pesat terus melesat- keatas ngarai itu.
Tiba- tiba di dapatinya bahwa diatas ngarai itu ada bayangan orang tengah bergerak -gerak terus berkelebat menghilang.
Kontan timbul kewaspadaan dalam benak Giokliong, Besar kemungkinan pihak Kim i-pang atau Hiat-hongpang masih meninggalkan anak buahnya untuk menjaga diatas sana.
Dengan beberapa kali loncatan lagi, Giok-liong sudah sampai dibawah bukit terus sembunyi dibawah tebing ngarai itu.
Samar-samar terdengar sebuah percakapan tengah berkata.
"Lo-ong, araknya masih ada tidak?"
"Keparat, mana bisa ada arak? Tapi dalam dua hari ini komandan piket pasti akan lewat disini, mungkin beliau akan menghadiahi dua guci arak kepada kita."
"Ai, nenekmya kedudukan kita dikalangan Kangouw juga cukup disegani, tak nyana kita malah mendapat tugas untuk berjaga ditempat dingin semacam ini untuk menunggu orok kecil yang tak berguna."
"Hei, menurut pendapatku saudara Tan meskipun tugas ini agak menyiksa kita, tapi siapa tahu kalau kita bisa ketiban rejeki, benar-benar orok kecil itu muncul dan dapat kita ringkus, bukankah merupakan pahala besar, Saat mana bukankah pangkat kita akan naik beberapa tingkat paling rendah juga menjadi Tocu, saat itu apa yang kita inginkan pasti kesampaian bukankah sangat menyenangkan."
"Ai, memang gampang diucapkan, jangan jaga punya jaga yang datang malah malapetaka yang bakal menghabisi jiwa kita, jangan kata dapat makan enak, celakalah kalau jiwa sendiri melayang."
"Sudahlah, mengandal kebesaran Hiat-hong-pang kita, siapa yang berani mengusik kepada kita? Apalagi setan kecil itu sudah terjungkal kedalam jurang, meskipun jenazah-nya tidak ketemu, tapi betapa keras tulang tulangnya, seumpama dapat ditolong orang saat ini juga tengah menyembuhkan luka-lukanya itu, mana mungkin ada malapetaka pencabut jiwa apa segala."
"Itu juga belum tentu, siapa tahu..."
"Siapa tahu dewa elmaut sekarang telah datang! "demikianlah sebuah suara dingin mendadak menyentak pembicaraan mereka. Ketika anak buah Hiat hong pang sebetulnya tengah duduk mengobrol didepan pintu gubuk yang baru mereka bangun lagi, begitu mendengar suara ini bukan kepalang kejut mereka. Waktu angkat kepala, tampak terpaut lima kaki disamping mereka berdiri angker seorang pemuda berpakaian jubah putih panjang seperti seragam pelajar umumnya, matanya tajam beringas menatap kearah mereka. Meskipun suara pemuda ini dingin dan mengejutkan tapi wajahnya sedemikian halus dan ganteng, Demikian juga ketajaman kedua matanya bersinar terang seperti kilat, tapi tiada sorot kewibawaan yang menusuk hati sebagai orang yang pernah belajar silat. Kedua arak buah Hiat-hong-pang she Tan dan she Ong itu saling pandang sebentar, lantas tertawa gelak-gelak, sambil tertawa orang she Ong menunjuk si pemuda pelajar katanya.
"Hahahaha, mengandal kau ini ? Mengandal kau anak masih berbau bawang?"
Habis berkata mereka berkakakan lagi dengan temberang, Pemuda pelajar ini bukan lain adalah Ma Giok liong yang baru saja tiba dari Lembah putus nyawa, sikapnya tetap dingin memandangi kedua antek Hiat-hong pang tertawa mengejek sepuasnya.
Tiba-tiba ia membuka suara lagi.
"Sudah puas belum tertawa kalian ?"
Orang she Tan menyeringai ancamnya mendelik.
"Keparat, agaknya kau sudah bosan hidup berani datang kemari untuk dibelejeti oleh tuan-tuanmu ini. Lekas tinggalkan uang sangu dan seluruh perbekalan, biar tuan besarmu ini ampuni jiwa kecilmu."
Giok-liong menjengek dingin.
"Ibu keluarga Ma sekarang berada dimana ?"