Halo!

Sepasang Pendekar Kembar Chapter 20

Memuat...

Mendengar ini, Lie Eng tak dapat mengendalikan kesabaran hatinya lagi. "Bangsat pemberontak." makinya dan pedangnya berkelebat menyambar. Tapi dengan gesit sekali Cui Sian dapat mengelakkan serangan itu sambil mencabut pedang.

"Kau hendak menguji kepandaian? Baik, baik, mari kita main-main sebentar, agar kau ketahui kehebatan It-to- bwee."

Maka bertempurlah Lie Eng dan Cui Sian. Keduanya sama gesit dan sama mahir mempermainkan pedang. Keduanya sama-sama murid tokoh persilatan yang tenar namanya. Sebagai puteri tunggal dari Cin Cun Ong, tentu saja Lie Eng memiliki kepandaian silat dan ilmu pedang yang luar biasa, karena sepasang pedang (siang-kiam) di tangannya itu dimainkan dengan ilmu silat pedang- berpasang ciptaan ayahnya sendiri yang disebut Im-yang Siang-kiam-hoat. Begitu ia putar kedua pedangnya, lenyaplah tubuhnya terbungkus sinar kedua pedangnya itu.

Tapi ia kini menghadapi Cui Sian, murid pertama dari Ciu Pek In yang terkenal sebagai Si Naga Sakti. Cui Sian atau yang dijuluki It-to-bwee (Setangkai Kembang Bwee) segera memutar pedangnya dalam gerakan ilmu silat Sin- liong Kiam-sut yang memiliki sinar panjang dan kuat. Gerakan pedangnya seperti gelombang samudera yang menelan sinar kedua pedang Lie Eng, tapi karena Lie Eng mempunyai ilmu pedang Im Yang yang gerakannya sangat bertentangan yang kiri dengan tenaga kekerasan, sebaliknya yang kanan digunakan dengan tenaga lembek, dan begitu sebaliknya hingga untuk beberapa puluh jurus mereka bertempur dengan hebat dalam keadaan berimbang.

Akan tetapi, setelah bertempur seratus jurus, diam-diam Lie Eng mengakui bahwa kepandaian lawan ini sungguh hebat dan luar biasa, dan mulailah ia terdesak. Tiba-tiba terdengar bentakan Ouwyang Bu yang tidak enak harus tinggal diam saja melihat Lie Eng terdesak. Ia menyerbu masuk ke dalam kalangan pertempuran dengan pedang di tangan. Tapi ia disambut oleh Siauw Leng, yakni adik dari Cui Sian. Seperti dulu, kedua anak muda ini bertanding lagi. Tapi kalau dulu mereka hanya bertanding tangan kosong, kini keduanya menggunakan pedang. Juga Ouwyang Bu begitu pedangnya terbentur dengan pedang Siauw Leng, harus mengakui bahwa gadis yang lincah ini memiliki tenaga lweekang dan gerakan pedang yang hebat dan merupakan lawan yang kuat.

Ouwyang Bun berdiri bingung. Haruskah ia turun tangan? Ia melihat bahwa selain Lui Kok Pauw, di situ masih ada tiga o-rang lagi yang agaknya memiliki kepandaian tinggi, maka andaikata ia maju pula turun tangan, belum tentu pihaknya akan mendapat kemenangan, dan hasil dari serbuan ini tentu hanya akan memperhebat permusuhan belaka. Oleh karena itu ia mencabut pedangnya dan meloncat memisah Cui Sian dan Lie Eng yang sedang bertempur sambil berkata,

"Sumoi, tahan."

Lie Eng melohcat mundur dan merasa girang karena menyangka bahwa Ouwyang Bun hendak menggantikannya, tapi ia kecewa melihat bahwa Ouwyang Bun hanya memisah saja, bahkan kini membentak adiknya supaya menghentikan pertempurannya. Ouwyang Bu dengan bersungut-sungut juga meloncat mundur dan pertempuran dihentikan. Orang-orang yang mengelilingi api unggun tetap di tempatnya tidak bergerak.

"It-to-bwee, kau memang gagah dan maafkan kami- kalau mengganggu. Biarlah lain kali kita bertemu pula." kata Lie Eng dengan hati gemas kepada Ouwyang Bun yang tak mau membantunya. "Nona Cin, kau juga hebat," jawab Cui Sian sambil tersenyum, "sayang kita dilahirkan di tempat yang berbeda, kalau tidak, aku akan senang sekali bersahabat dengan kau."

Tanpa menjawab dan dengan muka cemberut menandakan bahwa hatinya masih merasa dendam dan jengkel karena tak dapat mengalahkan lawannya, Lie Eng lalu meloncat pergi, diikuti oleh Ouwyang Bu. Sementara itu, Ouwyang Bun menjura kepada Cui Sian sambil berkata,

"Kulihat bahwa nona dan kawan-kawan nona adalah orang-orang perwira yang memiliki kepandaian tinggi dan orang baik-baik, tapi mengapa sampai menjadi anggauta pemberontak?"

Nona itu memandang wajah Ouwyang Bun dengan tajam dan tiba-tiba muka yang tadinya lemah lembut itu kini tampak berapi ketika ia berkata,

"Sudahlah. Kau yang dilahirkan di air laut tentu menganggap bahwa semua air rasanya asin dan tidak tahu bahwa air daratan adalah air tawar yang rasanya manis. Berkali-kali kami masih memberi kesempatan hidup kepada kau dan kawan-kawanmu tapi sekali lagi kita bertemu, hanya ujung pedanglah yang akan menentukan."

Ouwyang Bun merasa hatinya tertusuk sekali oleh ueapan ini dan ia makin bimbang dan ragu-ragu. Menghadapi dua pihak yang bermusuhan ini, ia merasa terjepit di tengah-tengah seakan-akan orang berdiri di antara dua api yang bernyala-nyala panas. Akhirnya dengan menghela napas dan menundukkan kepala ia pergi menyusul Lie Eng dan Ouwyang Bu.

Setelah mereka bertiga berkumpul kembali, Ouwyang Bu berkata, "Mereka masih berada di sana, mengapa kita tidak minta bantuan pembesar kota untuk mengerahkan barisan penjaga dan menawan mereka itu? Dengan bantuan kita bertiga, tentu mereka semua akan dapat dibekuk dan diserahkan kepada pengadilan."

Ouwyang Bun buru-buru mencela usul adiknya dan berkata, "Ah, apa perlunya hal itu kita lakukan? Kurang baik dan memalukan. Apakah untuk melawan beberapa orang saja kita harus mengerahkan barisan penjaga? Pula mereka telah berlaku lunak terhadap kita, apakah perlunya kita membalas dengan kekerasan. Ini akan memalukan dan menodai nama baik kita saja."

"Bun-ko. Mengapa akhir-akhir ini hatimu begitu lemah? Kau pikir sedang menghadapi siapa? Ingat, kita menghadapi pemberontak jahat. Mereka itu harus dibasmi. Sekarang kita bertemu dengan mereka dan mendapat kesempatan baik sekali, mau tunggu apa lagi?"

Ouwyang Bun menghela napas. Otaknya membenarkan kata-kata adiknya, tapi hatinya membantah. Ia lebih taat kepada suara hatinya, maka katanya, "Bu-te, sebenarnya mereka itu mempunyai kesalahan apakah terhadap kita? Apakah mereka pernah mengganggu kau atau aku, atau bahkan pernah mengganggu sumoi? Mengapa kita mau menawan mereka dan kemudian mereka dihukum mati seperti semua orang yang dianggap anggauta pemberontak? Bukankah itu terlalu kejam?"

Lie Eng memandang wajah Ouwyang Bun dengan tajam, lalu berkata,

"Untung sekali bahwa kau tidak mengucapkan kata-kata ini di depan ayah. Kata-katamu ini dapat dianggap mengkhianati negara. Ah, twa-suheng, kau tak dapat menjadi seorang perajurit yang baik. Kau bukan berdarah perajurit hingga kau terlalu menurutkan suara hati, dan tidak taat kepada perintah atasan serta tidak tahu akan tugas kewajiban sebagai seorang perajurit. Aku tidak dapat menyalahkan-mu, suheng, karena kau belum pernah mengalami pertempuran hebat. Kalau saja kau tahu dan pernah mengalami betapa para pemberontak itu menyembelih tentara kita dengan kejam, betapa mereka itu membasmi dan membinasakan seluruh keluarga para pembesar yang jatuh ke tangan mereka, betapa anggauta- anggauta mereka itu pada malam hari mendatangi gedung- gedung orang hartawan dan pembesar tinggi untuk merampok harta dan membunuh jiwa, betapa mereka bercita-cita untuk menggulingkan pemerintah dan untuk membunuh kaisar dan semua pembesar tinggi yang sekarang berkuasa, tentu kau takkan bicara seperti itu." Gadis ini bicara dengan bernapsu sekali. Dan aneh, tiba-tiba saja kedua matanya yang bening dan bagus itu mengalirkan air mata.

Melihat keadaan gadis itu dan mendengar kata-katanya, Ouwyang Bun duduk kebingungan, sedangkan Ouwyang Bu merasa terharu dan jengkel, la memang telah jatuh hati kepada sumoinya ini dan mencintainya tanpa disadarinya, maka mendengar kata-kata gadis itu, timbullah semangatnya. Serentak ia berdiri dan mengepal tinju.

"Kalau begitu, mengapa kita membuang-buang waktu di sini dengan mengobrol saja? Hayo kita lekas menjemput pengawal dan membasmi mereka itu."

Tapi biarpun Ouwyang Bun telah mendengar kata-kata. gadis itu dengan segala alasannya, namun ia tetap ragu-ragu dan1 tidak bergerak dari tempat duduknya. Mungkinkah seorang gadis secantik dan segagah Cui Sian itu dapat berlaku sekejam dan sejahat itu? Ketika Lie Eng melihat sikap Ouwyang Bu yang bersemangat, ia berkata, "Ji-suheng, takkan ada artinya kalau kita menyerbu ke sana. Sepanjang pengetahuanku, mereka itu bukanlah orang-orang bodoh, dan setelah tempat mereka kita ketahui, tentu mereka akan berpindah tempat secepatnya dan dapat kupastikan bahwa jika kita membawa barisan menyerbu ke sana, tentu mereka telah pergi dari situ. Kalau hal ini terjadi, maka kita hanya akan mereka tertawakan dan mendapat malu saja. Biarlah kali ini kita biarkan mereka, tapi lain kali kalau kita mendapat kesempatan] bertemu dengan anggauta pemberontak lagi, kita sekali-kali tidak boleh berlaku lemah." sambil berkata demikian, Lie Eng mengerling kepada Ouwyang Bun yang hanya menundukkan kepala.

Pada keesokan harinya, setelah meninggalkan pesan kepada tikwan agar jangan berlaku sewenang-wenang dengan ancaman bahwa hal itu akan diadukan kepada ayahnya, Lie Eng dan Ouwyang-hengte meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perantauan mereka.

Pada suatu hari mereka tiba di sebuah kampung yang tampak sunyi sekali. Di dalam kampung itu terdapat dua buah rumah penginapan sederhana, tapi anehnya, ketika ketiga anak muda itu hendak bermalam dan minta kamar, kedua rumah penginapan itu tidak mau menerima mereka dengan alasan kamar penuh.

Ouwyang Bu yang beradat keras segera berkata,

"Kamar penuh? Eh, louwko, kami datang dari tempat jauh dan sudah lelah sekali. Kau harus menerima kami."

Pengurus rumah penginapan itu dengan wajah muram menjawab, "Bagaimana kami dapat menerima kalian? Kamar sudah penuh, lebih baik sam-wi terus saja, Di sebelah barat kira-kira limabelas li dari sini terdapat sebuah kampung dan di situ juga ada rumah penginapan.”

"Kau gila?" Ouwyang Bu membentak. "Hari sudah malam dan kami sudah lelah, kau bilang harus melanjutkan perjalanan? Kaukatakan bahwa rumah penginapanmu penuh, tapi mana tamunya? Aku tidak melihat seorangpun di sini. Jangan kau menipu kami, apa kaukira kami takkan membayar sewa kamarnya?"

Melihat pemuda itu menjadi marah, pengurus rumah penginapan yang sudah tua itu cepat menjura dengan hormat. "Maaf kongcu, bukan saya menipu, tapi benar- benar semua kamar telah diborong oleh Lai-loya untuk digunakan malam ini dan besok hari. Saya tidak berani melanggar perintah dan pesannya."

"Lai-loyamu itu mengapa begitu serakah? Kamar begini banyak hendak disewanya semua? Sungguh gila." kata Ouwyang Bun yang juga merasa jengkel.

"Lai-loya hanya menggunakan dua kamar, tapi ia tidak mau terganggu oleh tamu-tamu lain, maka ia borong semua kamar. Dan siapakah yang berani membantah perintah Lai- loya?" kata pengurus itu dengan muka takut-takut dan melihat ke sana-sini karena ia khawatir kalau-kalau ada orang mendengar betapa Lai-loya dimaki-maki oleh Ouwyang Bun.

Mendengar jawaban ini, Ouwyang Bu marah sekali dan ia segera mengangkat tangan hendak memukul sambil berkata, "Kau harus memberi kamar kepada kami. Sedikitnya kau harus melihat bahwa di antara kami ada terdapat seorang siocia. Aku dan kakakku dapat tidur di luar atau di lantai, tapi untuk siocia ini kau harus memberi sebuah kamar." Ouwyang Bun melihat betapa adiknya hendak memukul tuan rumah, segera mencegahnya dan dengan suara halus lalu berkata, "Saudara, berlakulah baik hati dan berilah sebuah kamar untuk sumoiku ini. Nanti kalau Lai-loya itu marah, kami yang akan menghadapinya."

Post a Comment