"Tapi bukankah mereka pemberontak?" bantah Ouwyang Bu.
"Bu-te, kurasa benar kata-kata sumoi. Tak perlu mencari musuh, lagi pula kulihat empek tua itu bukan orang sembarangan."
Sementara itu, empek itu tertawa dan berkata,
"Nona, kepandaianmu hebat sekali dan kedua suhengmu juga tidak tercela. Kalau kau pulang, sampaikanlah salamku kepada ayahmu, bilang saja salam dari orang tua she Ciu.”
Ketiga anak muda itu terkejut sekali karena tak mereka sangka sama sekali bahwa dari percakapan mereka yang dilakukan perlahan itu, si kakek telah dapat mengetahui siapa mereka. Padahal jarak yang memisahkan mereka cukup jauh.
Karena kakek dan kawan-kawannya itu tidak mengganggu, maka Lie Eng lalu memacu kudanya diikuti oleh Ouwyang-hengte pulang ke markas besar panglima Cin.
Mereka langsung menghadap Cin Cun Ong dan Lie Eng melaporkan kepada ayahnya tentang kakek yang berada di pedalaman itu.
"Orang tua she Ciu? Bagaimana rupanya? Bertubuh tinggi kurus pakaian petani, bertopi lebar dan matanya tajam serta mulutnya selalu tertawa? Ah,... tak salah lagi, tentu Ciu Pek In. Kalau Naga Sakti ini pun telah menggabung menjadi pemberontak, kita harus segera mencari bala bantuan orang-orang pandai."
Melihat betapa ayahnya agak gentar mendengar nama orang tua itu, Lie Eng lalu bertanya kepada ayahnya,
"Sebenarnya kakek itu siapakah?"
Ayahnya menghela napas. "Dia' adalah seorang dari jago-jago nomor satu di dunia pada masa ini. Ia dijuluki Sin-liong atau Naga Sakti, sesuai dengan keahliannya, memainkan Ilmu Pedang Naga Sakti atau Sin-liong Kiam- sut. Ia tidak saja sangat terkenal sebagai seorang cianpwe (cabang atas) yang disegani, tapi juga pengaruhnya besar sekali, dan jika ia sampai merendahkan diri dengan menggabung pada pemberontak, maka tentu banyak orang- orang gagah yang akan meniru dan memihaknya."
"Sampai di mana ketinggian tingkat kepandaiannya, ayah? Bagaimana kalau dengan Khu-lo-enghiong?"
katanya sambil memandang muka Khu Ci Lok si Huncwe Maut yang juga berada di situ, karena kebetulan pada saat itu Cin Cun Ong sedang bercakap-cakap dengan si Huncwe Maut dan dua kawannya.
Mendengar pertanyaan gadis itu, Khu Ci Lok melepaskan huncwe dari mulutnya dan ia berkata dengan wajah bersungguh-sungguh, tidak seperti biasanya suka membanyol.
"Nona, kau tidak tahu tentang orang tua itu. Aku sendiri belum mengenalnya, tapi dari namanya saja aku sudah dapat mengukur sampai di mana ketinggian ilmu silatnya. Jangan bandingkan dia dengan aku, ah, aku masih jauh berada di bawah tingkatnya." Lie Eng terkejut. Si Huncwe Maut ini sudah memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan bahkan lebih tinggi daripada kedua suhengnya atau dia sendiri.
"Kalau begitu, apakah dapat disejajarkan dengan kepandaian ayah?"
Kini Cin Cun Ong berkata, "Biarpun aku belum pernah mengukur tenaganya, tapi kiraku dia tidak akan mudah mengalahkanku, biarpun menurut kabar, ilmu pedangnya belum pernah dikalahkan orang. Tapi bagaimanapun juga, datangnya orang tua ini tentu tidak sendiri dan akan disusul oleh yang lain-lain, maka kita harus siap sedia. Khu-sicu, harap kau dan Lee-sicu besok pagi-pagi pergi ke kota raja untuk memanggil beberapa orang pembantu yang pandai, dan Bi Kok suhu harap suka menyampaikan sebuah surat undangan kepada tiga orang kawan baikku di See-bun."
"Siapakah kawan-kawan baik itu, ciangkun?" tanya si hwesio gemuk.
"Mereka adalah See-bun Sam-lo-mo atau Tiga Iblis Tua Dari See-bun. Kalau mereka dapat diundang ke sini, maka segala Sin-liong dan komplot-komplotnya takkan mungkin membikin aku gentar."
Maka dibuatlah surat-surat untuk dibawa ke See-bun dan ke kota raja. Semua lalu mengundurkan diri. Sedang Ouwyang Bun dan adiknya duduk di dalam kamar mereka sendiri.
"Agaknya tak lama lagi tentu akan terjadi perang hebat antara kita dengan pihak pemberontak," kata Ouwyang Bun.
"Memang hal itulah yang kuharap-harapkan selama ini. Hatiku merasa tak senang disuruh menganggur saja tanpa ada pertempuran hingga seakan-akan kita hanya menumpang makan dan tidur. Bagi para tentara keadaan itu menyenangkan saja karena mereka selalu ada yang dikerjakan, berlatih, berbaris dan lain-lain. Tapi bagi kita?" Ouwyang Bu dengan bersungut-sungut menyatakan ketidakpuasannya.
Ouwyang Bun termenung sejenak lalu berkata, "Bagiku kalau bisa jangan sampai ada perang."
Adiknya memandang heran dan dengan pandang mata menyelidik. Kakaknya membalas pandangan matanya dan tersenyum. "Jangan salah sangka, aku bukannya takut, sungguhpun harus kuakui bahwa pihak pemberontak bukanlah orang-orang lemah. Dengarlah, Bu-te, melihat tampang kakek dan orang-orang tadi, aku menjadi ragu- ragu dan sangsi. Apakah orang tua gagah dan bersikap halus itu bisa menjadi penjahat? Dan pula, apakah anak kecil yang tabah dan berbakat seperti Ahim tadi juga dapat disebut penjahat yang harus dibasmi?"
"Bun-ko, biarpun mereka bukan penjahat, tapi karena mereka menggabungkan diri dengan pemberontak, maka mereka adalah pengkhianat yang berbahaya dan harus dibasmi. Coba kau ingat kata-kata anak. kecil tadi yang menganggap susiok dan kaisar sebagai binatang buas."
Ouwyang Bun tak menjawab,, hanya menghela napas dan termenung.
Pada saat itu, dari arah belakang rumah, mereka mendengar suara Gui-ciang-kun bercakap-cakap dengan keras. Mereka tertarik sekali dan mendekati jendela belakang agar dapat menangkap kata-kata yang mereka ucapkan.
"Memang para anjing pemberontak makin berani saja. Tadi kulihat beberapa o-rang berkeliaran di bawah tembok sebelah luar. Seakan-akan mereka itu menantang-nantang dan sama sekali tak pandang sebelah mata kepada kita. Sungguh celaka, dan tai-ciangkun (panglima besar) hanya bersabar saja. Apa gunanya mempunyai pembantu- pembantu seperti lima orang itu? Tiap hari kerjanya hanya makan tidur saja. Kalau aku jadi mereka, setidaknya, tentu keluar dan menyelidiki keadaan para pemberontak. Dengan pakaian preman mereka akan lebih mudah melakukan pekerjaan penyelidik. Tapi dasar jiwa pemalas dan tak tahu malu. Piara anjing masih ada gunanya."
Hampir saja Ouwyang Bu meloncat keluar dan menerjang orang she Gui yang diam-diam memaki-maki mereka itu. Pemuda yang keras hati ini merasa malu dan marah sekali. Tapi Ouwyang Bun cepat mencegahnya dan berkata,
"Adikku, sabarlah. Tak perlu kita bertindak terhadap orang rendah seperti dia itu Kalau kita mengadakan keributan, ma ka tentu kita akan mendapat teguran dari susiok. Dan lagi, kalau dipikir-pikir memang tidak ada salahnya kata-kata Gui-ciangkun tadi. Telah hampir sepekan kita berada di sini dan kebetulan sekali susiok menjalankan siasat bertahan dan menanti aksi gerakan lawan hingga kita terpaksa menganggur saja Bagaimana pikiranmu ka lau kita keluar dan melakukan penyelidikan? Siapa tahu kalau diam-diam mereka i-tu sedang mengatur siasat, bukankah kemarin susiok pernah mengatakan bahwa ia merasa lebih cemas melihat musuh diam-diam saja dan tidak melakukan penyerangan?"
Setelah diam sesaat, akhirnya Ouwyang Bu menyatakan setuju dengan buah pikiran kakaknya ini. Dengan diam- diam mereka bersiap untuk melakukan penyelidikan keluar tembok besar malam nanti.
0od-wo0 Setelah siang berganti malam yang gelap, kedua saudara itu mengenakan pakaian malam yang berwarna gelap, lalu keluar dari kamar. Tapi mereka menjadi bingung karena ternyata tembok besar itu penuh oleh barisan penjaga. Memang, Cin-ciangkun menaruh penjaga-penjaga di sepanjang tembok besar sampai lebih dari lima li panjangnya.
Biarpun semua penjaga telah tahu siapa mereka, tapi tanpa surat perintah dari Cin-ciangkun, mereka akan dicurigai kalau keluar dari tembok besar. Pada saat mereka merasa bingung, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan suara yang merdu nyaring menegur mereka.
"Ji-wi suheng (kedua kakak seperguruan) hendak ke manakah?"
Ouwyang-hengte terkejut karena yang menegur mereka itu tidak lain ialah Cin Lie Eng yang juga sutfah berpakaian malam serba gelap.
"Eh, sumoi malam-malam hendak ke mana?" tanya Ouwyang Bun.
Di bawah sinar bulan yang bercahaya terang, dara cantik itu tersenyum manis dan matanya bermain lincah. "Ditanya belum menjawab sudah balas bertanya. Agaknya ada apa- apa yang dirahasiakan kepadaku."
Ouwyang Bun tak dapat menjawab, ta-pi Ouwyang Bu dengan tabah berkata dengan tertawa, "Sumoi, memang ada rahasia, tapi bukan rahasia jahat."
"Kalau rahasia jahat, apakah kalian ma sih hidup di asrama ini? Suheng, ketahuilah, sumoimu ini diam-diam sudah tahu maksud kalian. Bukankah kalian hendak pergi menyelidik di tempat musuh?" Terkejutlah kedua saudara itu, tapi Lie Eng hanya tertawa manis.
"Akupun tak enak tinggal menganggur, maka aku sengaja menyusulmu. Mari kita menyelidiki bertiga."
"Jangan, sumoi. Perjalanan ini berbahaya, kalau sampai terjadi sesuatu padamu, kami akan mendapat marah dari susiok," kata Ouwyang Bu.
"Aku bukan anak kecil, pula, dengan adanya kalian berdua, apa yang harus kutakutkan?"
Terpaksa Ouwyang-hengte membawa gadis yang berani itu. Dengan adanya Cin Lie Eng, mudah saja bagi mereka untuk melewati penjaga di atas tembok. Mereka percaya penuh kepada gadis puteri Cin-ciangkun itu dan dengan mudah mereka melewati tembok besar dan turun melalui tali yang dilepas ke bawah.