Halo!

Sepasang Pendekar Kembar Chapter 14

Memuat...

Ternyata Cin Lie Eng sangat suka bergaul dengan Ouwyang-hengte hingga tiap hari mereka bertiga tampak selalu bersama-sama. Hal ini tidak menjadikan keberatan bagi ayahnya karena bagi panglima ini memang lebih suka melihat puterinya bergaul dengan kedua keponakan kembar itu yang tampaknya lebih sopan daripada bergaul dengan anak buahnya yang kasar-kasar. Mereka bertiga sering berlatih bersama-sama karena memang tidak berbeda. Sering pula mereka pergi berburu binatang bersama-sama.

Hubungan yang akrab ini membuat sakit hati Gui Li Sun, panglima muda yang tinggi besar itu. Hati panglima ini merasa cemburu sekali, tapi apa yang dapat ia lakukan? Kedua anak muda itu hebat sekali dan memiliki kepandaian tinggi, pula Ouwyang-hengte ternyata memperlihatkan sikap yang baik terhadapnya. Buktinya kedua pemuda yang terang-terang telah mengalahkannya dan lebih tinggi kepandaiannya, tidak mau merebut kedudukannya, bahkan kedua pemuda itu mengajukan permohonan kepada Cin- ciangkun untuk tetap saja dengan pakaian biasa dan tidak diharuskan memakai pakaian tentara, walaupun mereka bersedia membantu dalam pertempuran. Demikianpun ketiga orang tua aneh itu. Hingga di dalam markas besar itu, yang tidak mengenakan pakaian tentara ada enam orang, yakni Lie Eng sendiri, Ouwyang-hengte, dan ketiga orang tua itu. Biarpun Lie Eng suka bergaul dengan Ouwyang-hengte, namun ia berlaku seperti adik perempuan hingga hubungan mereka erat dan tidak canggung-canggung.

Pada suatu hari mereka pergi berburu bertiga. Seperti janji Lie Eng dulu ketika mereka bertemu pada pertama kalinya, kedua saudara kembar itu akan mendapat kuda yang bagus-bagus dan besar. Mereka bertiga berburu sambil naik kuda dan di sepanjang jalan mereka bercakap-cakap gembira.

"Kalau aku sedang berburu begini, seakan-akan di sekelilingku tidak ada perang, tidak ada pertempuran- pertempuran, yang ada hanya kesenangan belaka. Aah........ alangkah senangnya kalau keadaan damai dan tenteram hingga orang boleh hidup sesukanya tanpa rasa takut."

Ouwyang-hengte tersenyum mendengar kata-kata nona ini yang sebetulnya kurang tepat keluar dari mulut seorang puteri panglima besar. Tapi memang Lie Eng mempunyai watak yang jujur dan terbuka.

"Seringkali aku merasa heran dan menyesal mengapa kita harus bertempur dan membasmi bangsa sendiri, seakan-akan keluarga besar saling bunuh-membunuh," gadis itu berkata lagi.

Ouwyang Bu yang melarikan kuda di sebelah kirinya menjawab,

"Biarpun bangsa sendiri, mereka itu pemberontak, pengkhianat dan perampok-perampok jahat. Dan orang- orang jahat harus dibasmi habis agar negara tidak menjadi kacau dan rakyat tidak hidup ketakutan." Nona itu menghela nafas, tapi bibirnya yang indah bentuknya itu tersenyum manis ketika ia memandang kepada Ouwyang Bu. "Kau betul," demikian katanya.

Mendengar percakapan antara adiknya dan gadis itu, Ouwyang Bun yang melarikan kuda di sebelah kanan nona itu, mendapat pikiran yang membingungkan hatinya. Benar-benarkah pemberontak-pemberontak itu perampok- perampok jahat? Selama ia turun dari gunung, baru sekali ia bertemu muka dengan anggauta pemberontak, yakni Lui Kok Pauw dan kawan-kawannya yang dulu mengeroyoknya di pinggir sungai. Mereka itu memang pemberontak-pemberontak seperti yang mereka akui sendiri, tapi apakah mereka itu perampok? Hal ini belum ia, ketahui benar karena belum ada buktinya.

Tiba-tiba Lie Eng yang melihat dia termenung di atas kudanya menegur,

"Eh, twa-suheng, kau sedang memikirkan apa?"

Ouwyang Bun terkejut dan menoleh lalu menjawab, "Aku sedang memikirkan apakah pemberontak itu sama

dengan pengkhianat."

Lie Eng dan Ouwyang Bu memandang heran. Ouwyang Bu sendiri tidak tahu akan perbedaannya dan tak dapat menjawab, tapi Lie Eng segera menjawab dengan suara tetap,

"Tentu saja sama. Pemberontak-pemberontak itu menyerang dan memusuhi pemerintah sendiri, merampok bangsa sendiri, maka mereka dapat juga disebut pengkhianat."

Tapi Ouwyang Bun tidak puas mendengar jawaban gadis itu. Tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi pada meringkik ketakutan dan mengangkat kaki depan mereka ke atas sambil mendengus-dengus. Dan terdengarlah aum harimau yang menggetarkan hati.

"Bagus, agaknya nasib kita baik hari ini," kata Lie Eng yang berhati tabah itu. Cepat ketiganya meloncat turun dari kuda, mengikatkan kendali kuda mereka pada sebatang pohon dan lalu mereka meloncat ke atas pohon untuk mengintai. Kuda-kuda itu mereka gunakan sebagai umpan untuk memancing binatang buas itu. Kasihan kuda-kuda itu yang meringkik-ringkik ketakutan dan berusaha memberontak untuk melepaskan tali dan kabur.

Tak lama kemudian, seekor harimau jantan yang besar dan buas keluar dari semak-semak. Matanya yang lebar memandang liar dan tajam ke arah tiga ekor kuda yang meronta-ronta. Karena bau manusia yang berada di atas pohon tak dapat tercium olehnya, maka ia sama sekali tidak tahu bahwa tiga pasang mata mengintainya dari atas dengan perasaan gembira dan tegang.

Sekali lagi harimau itu mengaum dan mendekam, siap untuk meloncat menubruk korbannya, yakni seekor di antara tiga kuda itu. Ia enjot kaki belakangnya dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas. Lie Eng dan dua saudara kembar telah siap untuk meloncat turun sambil menyambit- kan piauw mereka, tapi mereka tahan gerakan mereka dengan kaget karena pada saat itu dari belakang sebatang pohon besar meloncat keluar tubuh seorang kanak-kanak berusia paling banyak empatbelas. Anak ini memegang sebatang tongkat panjang yang dipegangnya seperti orang pegang toya. Ia meloncat tepat di depan harimau yang sedang melompat dan menggunakan tongkatnya menyodok perut harimau yang sedang melayang itu. Tapi harimau itu cukup gesit dan cerdik. Melihat datangnya serangan tongkat ke arah perutnya, ia gunakan kaki depan mencakar tongkat itu sambil membuang diri ke samping.

Kini binatang yang besar dan buas itu berdiri di atas tanah menggereng-gereng, menghadapi anak kecil itu. Tapi anak itu dengan wajah tenang dan tabah segera siap dalam bhesi (kuda-kuda) yang teguh sambil menyilangkan tongkat di depan dada. Sikapnya yang gagah berani itu membuat Lie Eng dan Ouwyang-hengte kagum sekali, tapi mereka siap untuk membantu anak itu bila sampai terdesak oleh harimau.

Sementara itu, setelah menggereng-gereng, harimau itu meloncat lagi menubruk dengan lompatan tinggi. Tapi anak itu sungguh tabah dan cerdik karena sementara tubuh harimau masih di atas, ia bahkan lari mendekat hingga berada di bawah perut harimau lalu menusuk lambung binatang itu dengan tongkatnya lagi.

Kali ini tusukannya tepat dan keras hingga harimau itu terpental dan jatuh dengan keempat kakinya di atas. Anak itu cepat menambahi dua kali tusukan pada perut harimau yang sedang telentang itu. Tapi harimau itu kuat sekali dan dengan cepat meloncat membalik. Kali ini ia menubruk dari depan lurus ke muka, tidak meloncat tinggi. Keadaan anak itu berbahaya, dan tiga orang yang berada di atas sudah siap membantu. Tapi anak itu cepat sekali meloncat ke pinggir dan pada saat harimau itu lewat cepat di sampingnya, ia memukul dengan tongkatnya yang tepat mengenai pantat binatang itu. Agaknya pukulan kali ini mengenai tempat yang lunak hingga binatang itu meraung kesakitan lalu lari secepatnya menghilang ke dalam semak belukar.

"Bagus, Ahim. Kali ini kau dapat mengusirnya. Lain kali kau harus dapat membunuhnya." tiba-tiba terdengar suara orang dan tiba-tiba di situ muncul dua orang muda dan seorang kakek. Dua anak muda itu cakap sekali wajahnya, pipinya kemerah-merahan dan bibirnya merah segar hingga patut kiranya kalau menjadi anak perempuan. Kakek itu berpakaian petani sederhana, tapi gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli lweekeh yang memiliki kepandaian tinggi.

"Engkong, binatang tadi buas sekali. Kulihat mukanya seakan-akan mengilar sekali dan ingin segera merasai daging dan darahku. Matanya buas dan mulutnya meringis. Kong-kong, ganas manakah harimau itu dibandingkan dengan panglima she Cin?"

Kakek itu tertawa besar mendengar pertanyaan ini, sementara itu ketiga anak muda yang berada di pohon mendengarkan dengan penuh perhatian sedang Lie Eng memandang tajam mendengar ayahnya di sebut-sebut. "Ahim, kau ini aneh, binatang buas dibandingkan dengan manusia," kata seorang di antara kedua pemuda itu, dan setelah ia mengeluarkan kata-kata, barulah Lie Eng dan Ouwyang-hengte maklum bahwa mereka itu benar-benar dua orang gadis yang berpakaian laki-laki. Suara gadis yang bicara tadi sangat nyaring dan merdu dan ke tawanya manis sekali.

"Enci Cui Sian jangan berkata begitu, bukankah panglima she Cin itu kudengar ganas dan kejam sekali dan tak pernah memberi ampun kepada kawan-kawan pejuang yang tertawan? Kong-kong, jawablah pertanyaanku tadi."

"Ahim, kalau kau tanya mana yang lebih buas, kurasa dua-duanya sama buas dan sama kejam."

"Mana yang lebih jahat, kong-kong?" tanya Ahim lagi. "Tidak ada yang jahat, cucuku," jawaban ini tidak saja

membuat anak itu keheranan, tapi juga kedua dara yang berpakaian laki-laki itu memandang heran.

Empek tua itu maklum akan keheranan mereka maka lalu melanjutkan kata-katanya, "Harimau itu disebut kejam karena suka makan manusia, sedangkan Cin-ciang-kun disebut kejam suka membunuh kawan-kawan kita. Tapi harimau itu hanya menurut perintah, yakni perintah perutnya yang lapar dan membutuhkan isi. Sedangkan Cin- ciangkun melakukan pembasmian dan pembunuhan besar- besaran juga hanya melakukan tugas kewajibannya belaka, untuk mentaati perintah kaisar."

"Kalau begitu, yang jahat adalah perut harimau dan kaisar itu, kong-kong?" tanya Ahim yang ternyata cerdik sekali.

Kembali kakek itu tertawa. "Perut harimau tidak jahat, karena kalau tidak diisi daging mentah, akan menderita kelaparan. Kaisar juga tidak jahat, tapi bodoh dan lalim, tidak memperdulikan nasib rakyatnya hingga rakyat hidup sengsara tertindas dan kelaparan tidak diketahuinya, tahunya hanya pelesir dan bersenang-senang belaka."

"Kaisar macam ini harus dibasmi dan diganti, kong- kong." kata Ahim bersemangat.

"Hush, Ahim, kau bicara seperti di sini tidak ada orang lain saja." kakek itu berkata lagi.

"Siapa lagi selain kita berempat yang berada di sini, kong-kong?"

"Kau lupa kepada pemilik ketiga ekor kuda itu?" kata empek tua sambil menunjuk ke arah tiga ekor kuda yang ditambatkan di batang pohon. Lalu kakek itu memandang ke atas pohon dan berkata,

"Sam-wi silakan turun."

Ouwyang-hengte dan Lie Eng merasa terkejut dan malu karena orang telah mengetahui tempat persembunyian mereka. Lie Eng yang merasa marah mendengar percakapan mereka tadi, lalu memperlihatkan kepandaiannya. Ia meloncat turun dengan gerakan Koai- liong-hoan-sin (Siluman Naga Berjumpalitan) dan tubuhnya melayang dan berpoksai (bersalto) di udara hingga terpelanting ke arah di mana kudanya berdiri dan dengan ringan sekali ia turunkan dirinya di punggung kuda.

"Bagus, bagus." Ahim bertepuk-tepuk tangan dan suaranya memuji.

Sementara itu, Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu juga meloncat turun dari atas pohon. Ouwyang Bu yang juga merasa tak senang kepada orang-orang yang ternyata adalah anggauta-anggauta pemberontak, hanya mengerling sekilas kepada empat orang asing itu. Tapi Ouwyang Bun tersenyum kepada Ahim dan kepada kakek itu ia menjura lalu menyusul adiknya yang telah pergi ke kudanya.

"Mari kita tangkap mereka dan serahkan kepada susiok." kata Ouwyang Bu kepada kakaknya, tapi Lie Eng berkata cepat.

"Jangan". Kalau mereka tidak mengganggu kita, untuk apa kita mencari musuh?"

Post a Comment