Halo!

Sepasang Pendekar Kembar Chapter 13

Memuat...

Selain Bi Kok Hosiang, juga Lee Un si Kerbau Belang diterima oleh Cin-ciangkun hingga si baju biru itu berterima kasih sekali, walau terang bahwa ia sudah dikalahkan, tapi tetap diterima oleh panglima itu. Setelah kedua orang itu menduduki kursi yang disediakan, tiba-tiba dari bawah melayang naik ke atas panggung si penghisap huncwe tadi.

"Ha-ha-ha. Cin-ciangkun, orang-orangmu sungguh gagah dan kau sendiri benar-benar ulung. Kedua kawanku memang tepat bekerja di bawah perintahmu. Aku sendiri....

kalau memang ada orang-orang yang lebih pandai di sini, pasti dengan suka rela membantu." sambil berkata begini ia sedot huncwenya kuat-kuat dan dari mulutnya ia tiupkan asap huncwenya yang berwarna putih kebiru-biruan, dan heran. Asap itu bergulung-gulung tidak mau buyar dan terbentuklah bundaran menyerupai tengkorak. Semua orang merasa heran melihat ini dan sebagian besar menganggap bahwa si kurus ini sedang main sulap maka di sana-sini terdengar seruan memuji.

Tapi Cin Cun Ong terkejut melihat demonstrasi tenaga dalam ini dan ia lalu menjura sambil berkata, "Tidak kusangka aku berhadapan dengan si Huncwe Maut. Sungguh satu keberuntungan besar sekali hari ini kami mendapat kunjungan orang gagah yang telah tersohor dan terkenal kehebatannya. Lebih beruntung lagi jika sicu (tuan yang gagah) suka membantu usaha kami menumpas para pengkhianat dan pemberontak."

"Ucapanmu betul, ciangkun, karena memang aku telah datang ke sini, mau apalagi kalau tidak ikut membantu pekerjaanmu? Tapi, kawan-kawanku telah diuji, dan akupun perlu diuji, ciangkun."

"Ha-ha, siapa yang belum pernah mendengar nama Huncwe Maut? Tak perlu diuji, kami telah tahu kehebatanmu." kata Cin Cun Ong.

"Tapi aku belum tahu kehebatanmu, dan ini penting kuketahui, karena bukankah kau akan menjadi pemimpinku yang kutaati perintahnya?"

Cin Cun Orig berpikir. Orang ini memang hebat dan tenaga lweekangnya cukup tinggi. Tapi kalau aku tidak memperlihatkan kehebatanku, tentu ia kelak akan banyak membandel, juga derajatku akan turun dalam pandangan mata semua anak buahku. Maka ia lalu berkata sambil tertawa,

"Sicu hendak memberi pelajaran kepada semua anak buahku? Baik, baik silahkan."

Si tinggi kurus itu lalu menancapkan huncwenya di dalam mulut, dan ia mulai menggerak-gerakkan kedua lengannya. Ketika ia adu-adukan kedua tangan, maka terdengar suara seakan-akan dua batang kayu diadu hingga Ouwyang-hengte dan Lie Eng terkejut sekali, karena mereka pernah mendengar adanya satu ilmu yang disebut Tiat-bhok-ciang (Tangan Kayu Besi) yang sangat hebat dan berbahaya. Kini mereka dapat menduga bahwa si kurus ini tentu memiliki ilmu itu dan diam-diam mereka merasa khawatir. Tapi Cin Cun Ong hanya memandang dengan tersenyum, bahkan berkata, "Berlakulah murah kepadaku, sicu." dan kemudian ia memasang kuda-kuda.

"Kau menyeranglah dulu, ciangkun," kata Huncwe Maut dengan suara tidak jelas karena bibirnya terganjal huncwe.

"Kau tamu aku tuan rumah, jangan berlaku sungkan, sicu," jawab Cin Cun Ong.

Maka bergeraklah si Huncwe Maut dengan serangan tangan kanan. Sungguh mengherankan sekali, serangannya itu dilakukan perlahan sekali dengan gerakan yang lambat, memukul ke arah pundak lawan. Cin Cun Ong tidak berkelit, tapi sengaja menerima pukulan itu dengan tangannya pula. Ini adalah gerakan percobaan untuk mengukur tenaga masing-masing dan kesudahannya membuat si Huncwe Maut heran dan kagum. Ketika tangannya bertemu dengan tangan panglima tua itu, ia merasa bagaikan memukul kapas yang empuk dan lemas sekali hingga buru-buru ia tarik kembali tangannya yang tadinya digunakan dengan tenaga Tiat-bhok-ciang sepenuhnya. Ternyata dengan menggunakan lweekangnya yang tinggi Cin-ciangkun telah dapat memunahkan serangan lawan hingga tenaga Tiat-bhok-ciang itu tak berdaya sama sekali.

Maka si tinggi kurus tak berani main-main lagi. Ia berlaku waspada dan mengeluarkan ilmu silatnya yang tertinggi. Tapi ternyata Cin Cun Ong tak percuma mendapat nama besar sebagai seorang panglima yang kosen dan tak terkalahkan. Selain memiliki tenaga besar dan kepandaian tinggi, juga Cin Cun Ong mempunyai pengalaman bertempur puluhan tahun. Entah sudah berapa banyak lawan-lawan lihai dan musuh-musuh hebat pernah dihadapinya, maka selain pandai iapun tenang dan tabah, serta sudah hafal akan ilmu-ilmu silat dari berbagai cabang. Kini menghadapi si Huncwe Maut, ia dapat membuat lawannya tak berdaya dan semua serangan dapat dipatahkan dengan mudah saja.

Karena merasa takkan mungkin menang jika bertempur dengan tangan kosong, maka si Huncwe Maut lalu berkata sambil memegang huncwenya, "Maaf, marilah kita main- main sebentar dengan senjata."

"Silakan, sicu." Cin Cun Ong maklum bahwa lawannya ini tentu istimewa sekali kepandaiannya dalam hal mempergunakan huncwe dan melihat ujung huncwe yang kecil setengah runcing itu maklumlah ia bahwa si tinggi kurus ini tentulah seorang ahli totok yang lihai. Tapi karena sudah dapat mengukur kepandaian lawannya, ia sengaja hendak melayaninya dengan tangan kosong untuk membuktikan keunggulan dan kelihaiannya.

Melihat panglima tua itu tidak mengeluarkan senjata, si tinggi kurus lalu berkata, "Ciangkun, mana senjatamu? Lekas keluarkan biar kurasakan pukulannya."

"Aku adalah tuan rumah, mana aku berani menghina tamuku dengan sambutan senjata tajam. Sicu, jangan kau sungkan-sungkan, pergunakanlah huncwemu, kebetulan sekali aku ingin sekali belajar kenal dengan huncwe maut yang telah terkenal. Biarlah aku bertahan dengan kedua tanganku."

Si Huncwe Maut marah dan penasaran sekali karena merasa dipandang rendah, tapi karena maklum bahwa panglima tua she Cin ini tak boleh dibuat gegabah, ia tak banyak bicara lagi lalu berseru,

"Awas senjata." Berbeda dengan ilmu silatnya tadi yang dilakukan dengan ayal-ayalan dan lambat karena mengandalkan kehebatan Tiat-bhok-ciang di lengan tangannya, kini gerakan si kurus itu berubah cepat sekali. Huncwenya berkelebatan ke sana ke mari dan ujungnya selalu menuju jalan darah Cin Cun Ong dengan totokan-totokan berbahaya dan cepat sekali. Sementara itu, karena api di dalam huncwe itu belum padam, maka a-sap tembakau yang berbau keras itu keluar ikut menyambar muka orang membuat lawan yang kurang hati-hati tentu akan merasa bingung dan mabok.

Diam-diam Cin Cun Ong kagum melihat permainan si kurus ini dan tak terasa pula ia berseru, "Bagus, memang hebat sekali si Huncwe Maut." Ia berlaku hati-hati sekali dan segera mengeluarkan ilmu silatnya Ngo-heng-lian- hoan-kun-hoat. Ilmu silat ini tadi telah dimainkan oleh Ouwyang Bun tapi setelah kini dimainkan oleh Cin Cun Ong, maka lebih hebat dan luar biasa lagi. Gerakan-gerakan orang tua ini demikian cepat hingga seakan-akan ia berubah menjadi lima orang yang menjaga dan menyerang dari lima penjuru. Memang ilmu silat ini berdasarkan Ngo-heng dan gerakannya dari lima jurusan, juga perubahan kaki lima macam hingga tampaknya ia bersilat sambil berputaran, tapi selalu dapat mengelit atau memukul huncwe lawannya, bahkan dapat balas menyerang dengan hebat sekali.

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu yang mengenal baik ilmu silat ini merasa sangat kagum Mereka tak menyangka bahwa ilmu silat Ngo-heng itu dapat dimainkan sedemikian hebatnya, karena suhu mereka sendiri Pat-jiu Lo-mo (Iblis Tua Tangan Delapan) tidak dapat memainkan sehebat itu.

Yang langsung merasai kehebatan ilmu silat Ngo-heng dari Cin Curi Ong adalah si Huncwe Maut sendiri. Ia merasa betapa dari lima penjuru yang mengelilinginya di mana tampak bayangan lawannya menyambar angin pukulan yang membuat huncwenya terasa ringan sekali dan tak bertenaga. Ke mana saja ia menyerang, huncwenya selalu bertemu dengan tenaga besar yang membuat senjatanya terpental kembali hingga gerakannya menjadi kacau-balau. Sebentar saja ia merasa pening dan matanya menjadi kabur, maka dengan kewalahan ia lalu berteriak,

"Sudah, sudah, ciangkun. Aku menyerah kalah." maka berhentilah panglima tua yang gagah perkasa itu, lalu berdiri di depannya sambil tersenyum.

"Sicu, kau dan dua kawanmu memang cocok untuk menjadi pembantu kami," tapi tiba-tiba sikapnya berobah ketika ia berkata dengan suara keras dan tetap.

"Sekarang kau mengakulah terus terang mengapa kalian datang hendak membantuku. Tentu ada sesuatu yang menyakiti hatimu hingga kalian mengambil keputusan untuk membantu kami memusuhi para pemberontak."

Si Huncwe Maut menghela nafas. "Memang tak salah kalau orang berkata bahwa Cin-ciangkun adalah seorang panglima nomor satu di dunia ini. Kau tidak saja kosen dan lihai, ciangkun, tapi juga matamu awas sekali. Biarlah aku mengaku terus terang padamu. Kami bertiga memang telah bermusuhan dengan beberapa orang kang-ouw yang kini menggabungkan diri dengan pemberontak. Kami telah bertemu dengan mereka tapi kami kalah. Karena tidak ada jalan lain untuk membalas dendam, kami mengambil keputusan untuk menggabungkan diri dengan ciangkun di sini untuk membantu membasmi mereka dan komplot- komplot mereka."

Cin Cun Ong menganggok-angguk dan si Huncwe Maut memperkenalkan diri. Ternyata ia bernama Khu Ci Lok. Kemudian Cin-ciangkun mengadakan perjamuan untuk menghormati perwira-perwira baru itu dan semua perwira ikut berpesta gembira-. Para anggauta tentara bubaran dan mereka merasa puas sekali karena pertunjukan-pertunjukan malam ini sungguh-sungguh hebat dan lain daripada yang lain. Bahkan Cin-ciangkun sendiri sampai maju dan turun tangan.

0o-dw-o0

Post a Comment