Halo!

Sepasang Pendekar Kembar Chapter 12

Memuat...

“Gui-ciangkun, betapapun juga, aku kagumi tenagamu yang besar.”

Kata-kata ini bahkan menambah rasa mendongkol di hati Gui Li Sun hingga ia memuntahkan darah dari mulutnya karena malu, marah, dan mendongkol.

Melihat hal ini, Cin Lie Eng merasa marah sekali. Ia merasa betapa dengan peristiwa kekalahan para perwira itu, seakan-akan orang telah mengotorkan muka ayahnya. Ia tadi melihat bahwa Gui Li Sun hanya dikalahkan karena kecerobohannya saja dan ia taksir bahwa ia takkan kalah menghadapi si Kerbau Belang, maka ia cepat berdiri dan siap hendak menghadapi orang itu. Tapi ia didahului orang karena pada saat itu, bayangan seorang muda berkelebat cepat dan tahu-tahu Ouwyang Bu telah berdiri di atas panggung.

“Gui-ciangkun, biarlah aku dengan ilmu burukku membayar hutangmu kepada sobat ini,” katanya dan pada saat itu dua orang prajurit naik ke panggung dan membawa pergi Gui-ciangkun yang terlalu lemah untuk turun sendiri. Beberapa orang perwira meminumkan obat kepada perwira itu, kemudian setelah ditempeli obat penawar luka yang memang sudah tersedia, perwira muda yang bertubuh kuat itu sudah dapat duduk lagi di tempat semula, biarpun wajahnya masih pucat. Ia merasa penasaran dan kini ia memandang ke atas panggung dengan keheran-heranan.

Tiba-tiba Kerbau Belang yang tangguh itu telah bertanding melawan Ouwyang Bu, pemuda yang tadi ia tolak dan nyatakan bahwa kepandaiannya terlampau rendah. Dan yang sangat mengherankan ialah bahwa pemuda itu masih saja menggunakan ilmu silatnya yang didemonstrasikan tadi, yakni kedua kakinya tak berubah, hanya tubuh atasnya saja bergerak-gerak ke sana ke mari, sedangkan kedua tangannya seakan-akan berubah menjadi banyak sekali.

Ouwyang Bu benar-benar hebat karena dengan ilmu silat Cian-jiu Kwan-im-hian-ko yang sudah terlatih hebat itu ia dapat membuat lawannya tak berdaya. Si Kerbau Belang tadinya hendak menggunakan kegenitannya seperti tadi untuk menjatuhkan lawan ini, tapi siapa tahu, anak muda yang tampan dan selalu tersenyum ini sama sekali tidak mau berpindah dari tempatnya hingga terpaksa dia harus menghampirinya lagi. Segala macam serangan telah ia lakukan, tapi selalu dapat ditangkis dengan tepat oleh lawan muda itu dan ketika ia mencoba mengadu tenaga, ternyata ia merasa betapa lengannya kesemutan. Ia terkejut dan maklum bahwa anak muda ini adalah seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga lweekang sangat tinggi, maka ia tidak berani main-main pula.

Karena pemuda itu hanya menangkis saja, si Kerbau Belang menjadi marah dan pada pikirnya kalau pemuda itu menyerang, tentu akan ada kesempatan baginya untuk merobohkannya. Jika hanya bertahan, maka tentu saja pemuda itu kuat sekali karena seluruh perhatian dan tenaganya dikerahkan untuk bertahan dan membela diri, tidak demikian kalau ia balas menyerang, tenaga dan perhatian menjadi terpecah. Maka si Kerbau Belang lalu berseru gemas,

“Eh, anak bandel, apa kau tidak berani menyerang?”

Ouwyang Bu menjawab, “Menyerang? Kau yang minta, jangan menyesal nanti.” dan tubuhnya lalu mulai bergerak pindah. Sebentar saja ia berkelebat ke sana ke mari dengan kecepatan yang melebihi lawannya hingga si Kerbau Belang menjadi terkejut sekali. Beberapa jurus kemudian, dengan gerak tipu Pai-bun-twi-san (Atur Pintu Tolak Gunung) ia berhasil mendorong dada lawannya hingga sambil berseru marah dan kesakitan si Kerbau Belang terdorong bergulingan di atas panggung kemudian menggelinding dan jatuh ke bawah. Tapi karena ia memang berkepandaian tinggi, jatuhnya di atas tanah masih berdiri. Ia meringis kesakitan dan mengelus-elus dadanya.

Gegap-gempita suara sambutan para anggauta tentara melihat kemenangan Ouwyang Bu yang tidak disangka- sangka ini. Juga Cin Cun Ong nampak girang karena murid keponakan itu telah dapat membersihkan mukanya. Lie Eng ikut tepuk-tepuk tangan saking gembiranya, sementara itu Gui-ciangkun memandang bengong seakan-akan tak percaya kepada mata sendiri. Benar-benarkah pemuda yang tak becus bersilat itu bisa memenangkan si Kerbau Belang yang telah merobohkannya?

Tapi pada saat itu terdengar seruan keras dan hwesio gemuk pendek itu sambil menyeringai telah meloncat ke atas panggung. “Tidak adil, sungguh tidak adil. Lee- enghiong kalah karena keroyokan? Mengapa di sini orang tidak mengerti aturan? Lee-enghiong telah dua kali menang, kepandaianmu boleh juga, coba kaujatuhkan aku kalau mampu.” katanya kemudian sambil memandang Ouwyang Bu.

Pemuda yang keras hati itu tentu saja tidak gentar sedikitpun, tapi pada saat itu terdengar kakaknya berseru dari bawah.

“Bu-te, kau turunlah. Berikan daging gemuk ini untukku, jangan kau borong semua.”

Ouwyang Bu tertawa dan berkata kepada si hwesio gemuk, “Eh, hwesio gendut, sayang aku harus meninggalkan kau. Kakakku agaknya lapar juga dan kau memang menjadi ‘makanannya’.” Ia lalu melayang turun dan pada saat itu Ouwyang Bun meloncat ke atas panggung menggantikan adiknya.

Hwesio gendut itu berkata kepada Ouwyang Bun sambil tertawa,

“Eh, bocah, jangan kau main gila. Kau bilang hendak digantikan kakakmu, tapi setelah meloncat turun mengapa kembali lagi. Apakah kakakmu ketakutan dan lari pulang ke pangkuan ibumu?”

-Oo)d-e(oO-

MENDENGAR kata-kata yang diucapkan dengan suara nyaring itu, terdengar suara ketawa di sana-sini karena orang-orang yang telah kenal kepada Ouwyang-hengte tahu bahwa hwesio itu salah lihat dan menyangka bahwa yang kini berdiri di depannya masih pemuda yang tadi.

"He, hwesio, bukalah matamu lebar-lebar dan lihat baik- baik, aku berada di sini." Ouwyang Bu berteriak dari bawah. Hwesio itu cepat memandang ke bawah jdan kedua matanya terbelalak lebar karena heran. Ia lalu menghadapi Ouwyang Bun sambil menjura.

"Pemuda gagah harap perkenalkan nama. Pinceng (aku) sendiri bernama Bi Kok Hosiang."

"Siauwte Ouwyang Bun mohon pengajaran dari kau orang tua," jawab pemuda itu.

"Jangan kau merendah, adikmu tadi kepandaiannya tinggi, kau tentu lebih hebat lagi. Bagaimana kalau kita main-main dengan senjata sebentar?"

"Terserah kepadamu, siauwte hanya melayani saja."

Bi Kok Hosiang lalu mengambil seuntai tasbeh yang tadi dikalungkan di lehernya. Sambil berseru "Ahh." ia kebutkan tasbeh-nya yang terlepas sambungannya dan kini menjadi senjata panjang seperti rantai. Ternyata tasbeh ini memang sengaja dibuat dari baja kuat dan digunakan sebagai senjata ampuh.

Melihat hwesio itu mengeluarkan senjata aneh, Ouwyang Bun juga mencabut pedangnya dan siap menanti datangnya serangan.

"Lihat senjata.” Bi Kok Hosiang berseru dan senjata tasbehnya meluncur cepat ke arah leher Ouwyang Bun. Pemuda itu cepat menangkis dan balas menyerang. Sebentar saja kedua opang itu saling serang dengan hebat sekali hingga semua penonton menahan napas saking tegangnya. Memang kepandaian kedua pihak berimbang dan hwesio itu biarpun tubuhnya gemuk, tapi gerakan- gerakannya gesit dan cepat psekali. Akan tetapi, Ouwyang Bun tidak kalah gesit. Ia putar pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Sakti) hingga tubuhnya tertutup sinar pedang dan ia menyambar-nyambar dengan sinar pedangnya bagaikan seekor garuda melayang dan menyambar-nyambar korbannya.

Sekali lagi Gui-ciangkun dikejutkan oleh kehebatan anak muda yang dipandang rendah itu dan diam-diam ia menghela napas karena terus terang ia mengakui bahwa ilmu kepandaian Ouwyang Bun masih jauh berada di atasnya. Perwira muda yang kasar dan sombong ini menjadi insyaf bahwa kepandaiannya sebenarnya masih dangkal sekali.

Cin Lie Eng tidak heran melihat kehebatan kedua saudara kembar itu karena gadis ini pernah menyaksikan kepandaian mereka ketika dikeroyok oleh para pemberontak di pinggir sungai. Tapi ia merasa kagum juga melihat permainan pedang Ouwyang Bun dan tahu bahwa dengan permainan pedang sehebat itu, Ouwyang Bun tak kalah oleh hwesio yang juga sangat hebat itu.

Sebaliknya Cin Cun Ong berpikir lain. Panglima tua ini merasa gembira sekali karena selain kedua saudara Ouwyang yang kosen, ia juga kedatangan tiga orang tua yang cukup hebat hingga mereka ini kesemuanya merupakan pembantu-pembantu yang sangat berharga baginya. Kini melihat jalannya pertempuran antara Ouwyang Bun dan Bi Kok Hosiang, timbul kekhawatirannya, la maklum bahwa hwesio itu tentu merasa malu kalau sampai dikalahkan maka melawan mati- matian dan nekat, sebaliknya Ouwyang Bun yang masih muda tentu saja berdarah panas dan tidak akan mau mengalah begitu saja. Ini berarti bahwa banyak kemungkinan seorang di antara mereka tentu akan terluka atau binasa, dan kalau hal ini terjadi, tentu akan timbul permusuhan di antara Ouwyang-hengte dan ketiga orang tua itu. Maka orang tua ini lalu segera bertindak. Ia gerakkan tubuhnya dan tahu-tahu ia telah melayang ke atas panggung.

Semua penonton terkejut melihat jenderal besar itu turun tangan dan berada ni atas panggung begitu tiba-tiba. Cin- ciangkun lalu menggunakan kipas yang sejak tadi dipegang untuk mengipasi tubuhnya. Kipas yang terbuat dari bambu itu dikebutkan ke tengah-tengah di antara kedua orang yang sedang bertempur itusam-bil berseru keras sekali,

"Tahan.."

Bi Kok Hosiang dan Ouwyang Bun terkejut bukan main karena kebutan kipas itu mendatangkan tenaga besar hingga kedua senjata mereka tertolak mundur hingga keduanya juga cepat-cepat mundur.

Ouwyang Bun lalu memberi hormat kepada susioknya, sedangkan Bi Kok Hosiang juga memberi hormat karena ia merasa kagum akan kelihaian panglima tua ini.

"Toyu, kepandaianmu cukup tinggi. Aku amat merasa girang sekali kalau kau sudi membantu kami."

Hwesio gendut itu tersenyum girang dan menjura kepada Cin-ciangkun. Ia suka kepada panglima tua yang dapat menghargai tenaganya walaupun tadi ia tak dapat dikatakan menang atas kepandaian anak muda yang menjadi lawannya itu. "Ouwyang Bun, kau duduklah di sana dengan adikmu." Orang tua ini menuding ke arah deretan tempat duduk di dekat kursinya sendiri hingga Ouwyang Bun menghaturkan terima kasih. Mendengar bahwa anak muda itu menyebut "susiok" kepada panglima itu, Bi Kok Hosiang terkejut dan berkata,

"Tidak kusangka sicu adalah murid keponakan Cin-tai- ciangkun, pantas saja demikian hebat." katanya sambil memberi hormat yang dibalas Ouwyang Bun dengan merendah. Kemudian pemuda itu mengajak adiknya pindah tempat duduk di dekat Cin Lie Eng dan disambut dengan gembira oleh gadis yang sudah menyediakan kursi untuk mereka berdua itu.

Post a Comment