Halo!

Sepasang Pendekar Kembar Chapter 11

Memuat...

Tapi buru-buru Cin-ciangkun memberi isyarat kepada pembantunya hingga Gui-ciangkun melanjutkan kata-kata, “Biarlah, kalian dengar syarat-syaratnya. Kalian harus dapat memenangkan seorang perwira yang kami tunjuk untuk menguji kepandaian kalian. Tapi kalau pertandingan ujian ini mengakibatkan luka atau mati, tidak boleh ada tuntutan.”

“Bagus, bagus sekali.” orang ketiga yang berbaju biru tertawa mendengar syarat-syarat ini. “Memang adil sekali. Belum pernah seumur hidupku aku bertanding me lawan seorang perwira. Tentu saja takkan ada tuntutan, karena dalam hal pibu (beradu silat) sudah sewajarnya mendapat luka atau mati. Pula, kalau orang sudah mampus, ia tak mungkin dapat menuntut.”

Para anggauta tentara tertawa geli mendengar ucapan yang lucu ini.

“Kami terima syarat ini.” si penghisap huncwe berkata nyaring. “Sekarang kami majukan syarat-syarat kami.”

“Di sini orang tidak boleh mengajukan syarat.” bentak Gui-ciangkun yang merasa marah sekali melihat sikap orang yang ugal-ugalan. Tapi Cin Cun Ong memberi isyarat hingga perwira muda itu dengan mendongkol bertanya, “Apakah syaratmu, he, orang-orang aneh?”

Si penghisap huncwe tertawa gelak-gelak dan berkata, “Biarpun orang-orangnya tak tahu adat, tapi ternyata Cin- ciangkun peramah sekali, sesuai dengan nama besarnya. Nah, dengarlah, kami minta dijamin makan minum dan pakaian kami, di samping itu tiap sepekan sekali kami minta upah sepuluh tail perak. Bagaimana, setuju?” Ternyata syarat yang dimajukan ini bukanlah syarat, tapi hanya main-main saja, hingga semua orang pada tertawa geli dan Gui-ciangkun makin mendongkol saja.

“Syaratmu diterima dan kini orang pertama naiklah ke panggung. Ujian segera dimulai.” Gui-ciangkun lalu memilih seorang perwira yang cukup tinggi ilmu silatnya untuk memberi hajaran kepada orang-orang tua gila itu.

“Orang pertama adalah aku, kaukeluarkan dulu orangmu yang hendak pibu denganku dan suruh ia naik ke panggung.” kata orang tua berbaju biru itu.

Terpaksa perwira yang hendak melayaninya itu cepat menanggalkan pakaian perangnya dan dengan pakaian ringkas ia meloncat ke atas panggung. Orang ini adalah seorang yang telah lama menjadi perwira di situ hingga telah cukup terkenal akan kegagahannya. Dengan gagah ia berdiri menanti datangnya kakek baju biru itu untuk segera diberi hajaran karena kekurang-ajarannya.

“Nah, sekarang aku naik. Ah, mengapa panggung ini setinggi ini?” Sambil berkata demikian, si baju biru itu lalu menggunakan tangan dan kakinya untuk memanjat balok pinggiran panggung itu, seperti lakunya seekor monyet memanjat pohon. Tentu saja perbuatannya ini menimbulkan suara ketawa riuh rendah karena meloncat ke atas panggung saja tidak becus, apalagi hendak melawan perwira itu? Sungguh manusia tak tahu diri dan hendak mencari mampus.

Akan tetapi Ouwyang Bun saling pandang dengan adiknya karena dari tempat duduk mereka, kedua saudara Ouwyang ini dapat melihat jelas dan mereka kagum sekali akan ilmu merayap Pek-houw-yu-chong (Cecak Merayap Di Tembok) yang cukup hebat itu. Kedua telapak tangan dan kaki si baju biru itu bagaikan kaki tangan cecak dapat lengket di balok yang licin itu tanpa terpeleset sedikit juga. Ilmu ini sepuluh kali lipat lebih sukar dipelajari daripada meloncati panggung yang dua kali tingginya daripada panggung ini.

Setelah berhadapan dengan perwira itu, si baju biru lalu menjura dengan lagak sangat hormat, tapi mulutnya tetap tersenyum.

“Sungguh satu kehormatan tinggi sekali bagiku untuk pibu dengan seorang gagah lagi berpangkat. Ciangkun, harap kau berlaku murah dan jangan membinasakan aku, karena akupun tidak akan melukaimu.”

Dari tempat duduknya, Gui-ciangkun berseru keras, “Sebelum pibu, hendaknya tuan memberitahukan nama terlebih dulu.”

“Aku bernama Lee Uh dan disebut orang Hoa-gu-ji (Si Kerbau Belang).”

Maka mulailah pertandingan itu ketika si perwira tanpa banyak peradatan lagi melancarkan serangannya. Perwira itu bertenaga besar dan pukulannya mendatangkan sambaran angin keras. Tapi ketika Lee Un menangkis dengan kepretan tangannya, perwira itu meringis karena ia rasakan pergelangan tangannya sakit sekali. Marahlah ia karena maklum bahwa musuhnya mempunyai tenaga tak kalah besarnya. Ia lalu menyerang dengan pukulan-pukulan berat dan berbahaya dengan bertubi-tubi.

“Hati-hati, ciangkun, jangan main keras, kau nanti jatuh.” si Kerbau Belang menyindir sambil berkelit ke sana ke mari dengan lincahnya. Si perwira menjadi malu dan makin marah hingga kini gerakan-gerakannya dilakukan dengan sepenuh tenaga hingga papan panggung itu bergerak-gerak tergetar oleh perubahan kakinya yang cepat dan berat. Tapi dengan kegesitannya, Hoa-gu-ji Lee Un membuat lawannya berputar-putar karena ia selalu berkelit sambil berputar mengelilingi panggung itu. Setelah lawannya menjadi pusing, tiba-tiba Lee Un tertawa terbahak-bahak dan ketika lawannya memukul keras dari depan ke arah dadanya, ia meloncat ke samping dan sebelum perwira itu keburu menarik kembali lengannya, Lee Un sudah berada di belakangnya dan mendorongnya dengan keras. Karena kepalanya telah pusing dan tenaga dorong dari belakang itu sangat besar perwira itu bagaikan meloncat ke depan saja dan tidak ampun lagi tubuhnya terpelanting keluar panggung.

Terdengar tempik sorak ramai menyambut kemenangan ini, dan tiba-tiba si baju biru itu menjadi sombong sekali. Ia bertolak pinggang dan menghadap Cin-ciangkun sambil berkata keras,

“Ciangkun, mengapa perwira-perwiramu hanya macam begitu saja? Kalau menghadapi pemberontak-pemberontak yang berkepandaian tinggi, apakah takkan mengecewakan? Kalau hanya setinggi itu kepandaian perwiramu, lebih baik kau turun sendiri dan mengujiku, ciangkun. Dengan mengukur kepandaianku, maka kau akan dapat mengira- ngira sendiri berapa pantasnya gajiku.”

Ucapan ini bagaimanapun juga merupakan tantangan. Gui-ciangkun menjadi marah sekali. Sambil berseru keras ia genjot tubuhnya dan tahu-tahu ia telah berada di atas panggung, menghadapi si baju biru dengan pakaian perangnya masih lekat di tubuhnya.

“Ha, ini ada satu lagi. Tapi kepandaiannya jauh lebih baik daripada yang tadi,” kata Hoa-gu-ji Lee Un.

“He, orang jumawa dan sombong. Bilanglah terus terang, kau datang hendak membantu kami atau hendak memusuhi?”

“Eh, bagaimanakah kau ini? Sudah terang kami datang hendak membantu. Apakah kaukira kami suka pada kaum pemberontak?”

“Mengapa kau berani sekali menghina jenderal kami?”

Si baju biru itu mengangkat pundaknya lalu berkata heran, “Siapa yang menghina? Aku hanya ingin diuji oleh orang yang benar-benar memiliki kepandaian. Kau agaknya boleh juga, mari kau coba-coba mengujiku, tapi kalau kau kalah, sudah selayaknya kauserahkan kedudukanmu kepadaku.”

Marahlah Gui-ciangkun yang bernama Li Sun, karena memang ia seorang yang beradat keras sekali. Cepat Gui Li Sun menanggalkan pakaian perangnya yang kurang leluasa dipakai bersilat itu dan kini ia memakai pakaian ringkas.

“Marilah kita main-main sebentar,” katanya sambil memasang kuda-kuda. Carang she Gui ini anak murid Kun- lun-pai yang melatih tenaga gwa-kang (tenaga luar) hingga mencapai tingkat cukup tinggi. Tenaganya besar dan kuat sekali hingga boleh dibilang bahwa di dalam seluruh pasukan Cin-ciangkun ia adalah orang terkuat.

Karena menduga bahwa perwira ini yang diserahi tugas memimpin ujian tentulah bukan orang sembarangan, maka si Kerbau Belang berlaku hati-hati. Ia hendak mengambil keuntungan dengan menyerang lebih dulu, maka dengan tiba-tiba ia gerakkan tangannya menyerang dada lawan. Gui Li Sun mengangkat tangan menangkis dan dua buah tenaga besar beradu keras sama keras tapi akibatnya mengagumkan karena orang she Lee itu terhuyung mundur tiga tindak sedangkan Gui-ciangkun hanya mundur selangkah saja. Tahulah si Kerbau Belang bahwa ia kalah tenaga hingga ia merasa kagum. Ia dijuluki Kerbau Belang karena tenaganya yang luar biasa tapi sekali ini ia bertemu lawan yang bertenaga gajah.

Melihat bahwa tenaganya lebih besar daripada tenaga lawan, Gui-ciangkun merasa besar hati dan ia mendesak makin hebat dan melancarkan pukulan-pukulan keras. Tapi ternyata si Kerbau Belang hanya kalah tenaga saja, sedangkan dalam hal ilmu silat dan kegesitan, terbukti bahwa perwira she Gui itu masih kalah setingkat. Hal ini dengan mudah dapat terlihat oleh Ouwyang-hengte dan Cin Lie Eng serta ayahnya, walaupun tak dapat diduga oleh orang lain karena memang Gui Li Sun berada di pihak yang selalu menyerang dan mendesak.

Li Sun makin gembira dan mendesak, terus, tidak tahu bahwa lawannya sengaja menggunakan akal untuk membuat ia berlaku sangat bernafsu hingga mengutamakan penyerangan tanpa ingat akan penjagaan diri. Dengan demikian, maka ia memberi tempat-tempat kosong pada tubuhnya tanpa ia sadari. Memang Lee Un si Kerbau Belang memperlihatkan sikap seakan-akan repot dan terdesak sekali, tapi ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik. Pada saat yang menguntungkan, ia cepat bergerak menyerang dengan tendangan kakinya yang “mencuri” kekosongan hingga tepat menendang lambung kanan Gui-ciangkun. Raksasa muda yang bertenaga besar itu merasa betapa seakan-akan pernafasannya tertutup. Ia terhuyung mundur dengan terengah-engah, kemudian roboh di atas panggung. Lawannya menjura kepadanya sambil berkata,

Post a Comment