“Ouwyang Bu diminta maju memperlihatkan kepandaian.” Gui-ciangkun berseru lagi dengan suara memerintah. Ouwyang Bu dengan bersungut-sungut tidak mau berdiri dari tempat duduknya.
“Bu-te, kau majulah.” kata Ouwyang Bun, tapi adiknya dengan cemberut geleng-geleng kepala. “Biarkan anjing itu menggonggong lebih lama dulu.” jawabnya.
“Bu-te, jangan begitu. Ingatlah bahwa dia itu hanya memenuhi perintah susiok saja. Kau majulah.”
Terpaksa Ouwyang Bu berdiri dari tempat duduknya dan sekali loncat ia telah berada di atas panggung. Ia menjura kepada susioknya, lalu bersilat. Tapi cara bersilatnya aneh sekali. Ia pasang kuda-kuda dan tanpa mengindahkan kedua kakinya, ia memukul ke depan ke belakang, ke kanan kiri dan hanya tubuh atasnya saja yang bergerak-gerak, sedangkan kedua kaki tetap di atas lantai tak bergerak. Setelah memukul sana menghantam sini beberapa jurus, ia lalu menghentikan gerakannya dan menjura lagi kepada susioknya.
Semua orang mencela dan heran sekali akan ketololan pemuda itu. Hanya Cin-ciangkun seorang yang tahu bahwa pemuda itu telah mengeluarkan dasar ilmu silat Cian-jiu Kwan-im-hian-ko (Kwan Im Tangan Seribu Mempersembahkan Buah) yang menjadi sumber ilmu silat Kiauw-ta-sin-na yakni gabungan ilmu silat Siauw-lim dan Bu-tong. Biarpun kedua kaki tidak mengubah bhesi (kuda- kuda), namun sepasang tangan dapat bergerak dalam bermacam-macam tipu dan dapat menghadapi musuh dari manapun juga, bahkan dapat menghadapi lawan yang berada di belakang. Maka ia tidak mencela, hanya diam- diam ia sesalkan murid keponakan itu mengapa tidak mau memperlihatkan keindahan ilmu silat cabang mereka agar semua orang menjadi kagum.
Melihat cara bersilat Ouwyang Bu, panglima she Gui itu memandang remeh sekali, maka ia segera berdiri dan dengan suara keras memerintah lagi. “Kini Ouwyang Bun harap maju menunjukkan kemahirannya.”
“Ayah, kuharap suheng ini tidak terlalu seji (sungkan) seperti adiknya,” kata Lie Eng kepada ayahnya. Gadis ini biarpun berkata perlahan, tapi sengaja ia kerahkan tenaga lweekang dari tan-tian (pusar) hingga suaranya terdengar pula oleh Ouwyang Bun. Pemuda ini tersenyum lalu dengan loncatan Naga Sakti Terjang Mega ia telah berada di atas panggung. Loncatannya benar-benar bergaya indah hingga diam-diam panglima muda she Gui itu merasa kagum juga, dan semua anggauta tentara melihat gaya ini lalu bertepuk tangan ramai.
Ouwyang Bun lalu menjura kepada susioknya kemudian ia keluarkan ilmu silatnya. Berbeda dengan adiknya, Ouwyang Bun yang mendengar kata-kata Lie Eng, segera berusaha “menebus” kerugian yang diperlihatkan oleh adiknya. Ia maklum bahwa selain susioknya dan sumoinya itu, mungkin semua orang memandang rendah kepada ilmu silat yang baru saja diperlihatkan Ouwyang Bu, maka kini ia segera memainkan ilmu silat Ngo-heng-lian-kun-hoat, yakni ilmu silat warisan suhunya yang memang tidak saja indah dipandang, tapi juga sangat hebat dan tidak mudah dimainkan oleh sembarang orang. Tubuhnya bergerak cepat hingga membuat mata penonton menjadi kabur. Tidak heran bila sambutan-sambutan sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar terus-menerus sampai ia menghentikan gerakannya dan berdiri menjura kepada susioknya dengan wajah tidak berubah.
Diam-diam Cin Cun Ong senang melihat kepandaian Ouwyang Bun dan adiknya, karena ia maklum bahwa kedua pemuda itu benar-benar merupakan pembantu yang boleh dipercaya. Tapi pada saat itu, Gui-ciangkun segera berdiri dan berseru keras.
“Ouwyang Bun dianggap lulus dan boleh diuji melawan seorang perwira untuk menetapkan kelasnya, tapi Ouwyang Bu tidak dapat diterima karena ilmu silatnya masih rendah. Ia hanya boleh masuk menjadi perajurit biasa.”
Ouwyang Bu lalu meloncat cepat ke atas panggung dan setelah menjura kepada susioknya, ia berkata kepada panglima muda itu,
“Aku juga tidak sangat mabok pangkat seperti engkau, tapi tentang kepandaian, biarpun pengertianku masih rendah, tapi dapat kupastikan bahwa dengan ilmu silatku tadi, kau takkan mampu menjatuhkan aku. Percaya atau tidak? Kalau tidak percaya, naiklah ke mari dan kita membuktikannya. Kalau kau percaya, maka kau ter nyata tidak tahu malu.”
Kagetlah semua orang mendengar ucapan ini, karena siapa orangnya berani menghina Gui-ciangkun yang selain terkenal kejam dan gagah perkasa, juga menjadi tangan kanan panglima tua Cin Cun Ong. Tantangan itu sungguh lancang dan gegabah.
Sebaliknya, Cin-ciangkun merasa menyesal mengapa pembantunya begitu bodoh hingga tak dapat mengenal ilmu silat Ouwyang Bu yang ulung tadi dan mengeluarkan pernyataan yang menyakiti hati pemuda itu, tapi memang ia telah mengangkat Gui-ciangkun menjadi pemimpin penguji hingga panglima muda itu memang berwewenang dalam hal itu.
Gui-ciangkun tentu saja sangat marah. Kedua matanya melotot dan mukanya menjadi merah. Kalau tidak ada Cin- ciangkun di situ, pasti ia telah memerintahkan orang- orangnya untuk menangkap anak muda kurang ajar itu. “Apa kau sudah bosan hidup?” hanya demikian bentaknya.
Ouwyang Bu tertawa. “Aku atau kau yang bosan hidup? Naiklah, naiklah, ingin sekali aku melihat apakah kepandaianmu sehebat pakaianmu.”
“Bu-te. Jangan begitu, kau turunlah.” Ouwyang Bun berseru karena tak suka melihat adiknya menimbulkan keributan.
Sementara itu, Cin-ciangkun merasa sudah tiba waktunya untuk bertindak sebagai pemisah, karena kalau sampai kedua orang itu betul-betul bertempur, pasti salah seorang menderita bencana dan hal ini tak ia kehendaki karena berarti merugikan kekuatan kesatuannya. Ia lalu berdiri dan membentak,
“Gui-ciangkun, habisi pertengkaran ini. He, Ouwyang Bu, kau kembalilah ke tempat dudukmu lagi.” bentakan ini terdengar keras dan berpengaruh sekali hingga kedua orang itu tak berani membantah. Panglima Gui tunduk menghadapi pemimpinnya, sedangkan Ouwyang Bu tidak saja takut kepada kakaknya, tapi juga ia segan membantah susioknya. Keduanya lalu mundur dan pada saat itu terdengar suara tertawa keras dan nyaring dari luar. Suara ketawa ini demikian nyaring dan menyeramkan, apalagi terdengar pada saat semua orang tak berani bersuara melihat Cin-ciangkun yang marah hingga suasana sunyi sekali. Siapakah orangnya yang demikian berani mati tertawa dalam saat seperti itu?
Semua orang menengok dan dari luar masuklah tiga orang tua-tua dengan langkah kaki perlahan. Yang berjalan paling depan adalah seorang bertubuh tinggi kurus seperti batang bambu. Mulutnya menjepit sebatang huncwe bambu yang kecil panjang dan ujungnya mengepulkan asap biru, kedua tangannya yang kurus seperti tangan jerangkong itu digendong di belakang. Ia berjalan bagaikan sedang jalan- jalan di dalam taman bunga di rumahnya saja demikian seenaknya dan tenang. Orang kedua dan ketiga juga orang- orang tua yang usianya sebaya dengan orang pertama, kira- kira limapuluhan tahun. Yang kedua orangnya gemuk pendek, kepalanya gundul dan berjubah hwesio. Mulutnya selalu menyeringai dan matanya yang bundar itu memandang liar ke kanan kiri. Orang ketiga berpakaian seperti orang pertama, yakni pakaian guru silat yang serba ringkas, tapi sangat mewah karena pinggir pakaiannya dihias sulaman-sulaman benang emas. Tubuh orang ketiga ini sedang saja, tapi dadanya bidang menandakan bahwa ia kuat sekali.
Si hwesio dan orang ketiga itu berkali-kali menengok ke kanan kiri dan memuji-muji, “Sungguh angker, sungguh kuat.” agaknya mereka memuji-muji pertahanan dan kedudukan markas besar Cin-ciangkun.
Diam-diam Cin Cun Ong terkejut karena bagaimana tiga orang aneh ini dapat masuk ke situ tanpa dapat dicegah oleh para penjaganya? Tentu mereka ini orang-orang pandai. Akan tetapi, sebagai seorang berkedudukan tinggi, ia tak mau berlaku terlalu merendah, dan sebaliknya ia hanya memberi isyarat kepada Gui-ciangkun untuk menegur mereka.
Tapi sebelum Gui-ciangkun sempat menegur, si empek yang menghisap huncwe (pipa tembakau) panjang itu melepaskan huncwenya dari mulut dan bertanya kepada seorang anggauta tentara yang berdiri di dekatnya,
“Eh sahabat, kalian ini sedang melihat apakah? Sedang diadakan apa di sini?” Anggaut a tentara itu geli melihat sikap dan lagak empek itu, maka ia lalu menjawab sambil tertawa,
“Empek tua, lebih baik kau jangan dekat-dekat di sini karena kami sedang mengadakan ujian permainan silat kepada para perwira baru.”
“Bagus, bagus. Memang kami bertiga datangpun hendak memasuki ujian. Mana pemimpin ujian itu?” ia lalu memandang ke sekeliling dengan mata mencari-cari. Lalu pandang matanya bertemu dengan Cin Cun Ong yang duduk dengan sikap tegap dan-agung.
“Oh, oh, kiranya kita tersesat di dalam markas besar panglima besar yang kalau tidak salah tentu Cin-ciangkun sendiri adanya.” kakek penghisap huncwe itu berkata kepada dua orang kawannya. Dua kawannyapun memandang ke arah Cin-ciangkun. Tapi pada saat itu, Gui- ciangkun sudah membuka mulut membentak.
“Dari mana datangnya tiga orang-orang tua kurang ajar yang masuk ke sini tanpa ijin? Tahukah kalian bahwa pelanggaran ini dapat dijatuhi hukuman mati?”
Si penghisap huncwe memandang ke arah panglima muda itu dan tertawa geli kepada kedua kawannya. “Lihat, agaknya Cin-ciangkun biarpun terkenal gagah perwira, tapi belum dapat mengajar adat kepada orang-orangnya.”
Sementara itu, Cin Cun Ong yang dapat menduga bahwa ketiga orang itu tentu berkepandaian tinggi, menyuruh Gui- ciangkun menanyakan maksud kedatangan mereka. Terpaksa perwira muda itu mentaati perintah atasannya dan ia menegur pula,
“Tiga tamu yang datang tanpa diundang, sebenarnya mempunyai maksud apakah? Harap segera memberi laporan.” “Kaukah yang menjadi pemimpin ujian ini?” tanya hwesio gemuk pendek. “Kalau begitu, boleh kau catat bahwa kami bertiga juga minta diuji apakah kami telah cukup cakap untuk membantu pekerjaan Cin-ciangkun. Ajukan syarat-syaratmu, baru kami akan ajukan syarat- syarat kami, bukankah begitu, kawan-kawan?” tanyanya kepada kedua kawannya. Dan si penghisap huncwe dan orang ketiga yang berbaju biru itu tertawa-tawa dan mengangguk-angguk membenarkan.
“Syaratnya? Kalian sudah tak memenuhi syarat karena datang tanpa diundang dan tanpa ada orang perantara yang memperkenalkan kalian.”