Namun, Lie Eng adalah anak tunggal yang mencintai ayahnya karena sudah tak beribu lagi, maka biarpun dilarang tak jarang gadis itu membantu ayahnya dalam pertempuran-pertempuran karena iapun memiliki kepandaian silat yang cukup hebat.
Setelah hening sejenak, tiba-tiba Cin-ciangkun berkata lagi, “Bagaimana, apakah kalian tetap dengan maksud kalian hendak membantuku melawan orang-orang di luar tembok besar itu?”
“Teecu berdua tetap dengan pendirian semula, susiok. Apalagi teecu berdua sedang menjalankan perintah suhu, dan pendapat teecu berdua, tindakan ini memang benar dan patut dilakukan oleh orang-orang gagah. Teecu berdua sediakan jiwa raga untuk tugas yang mulia, yakni membela negara dan membebaskan rakyat dari gangguan segala penjahat.” berkata Ouwyang Bun bersemangat. “Terserah kepadamu, tapi satu syarat yang harus kautaati, yakni kalian tidak boleh sekali-kali memikirkan atau membicarakan tentang politik mereka maupun politik negara kita. Kau berjuang di sini sebagai pembantuku, yang berarti bahwa kau juga menjadi tentara dan tugasmu semata-mata hanya tunduk perintah atasan, mengerti?”
Ouwyang-hengte memberi hormat dan menjawab bahwa mereka telah mengerti akan maksud susiok mereka itu.
“Ada lagi.... malam nanti adalah malam berlatih dan ujian kepandaian para panglima. Kalian bersiaplah karena sebagai orang baru, kalian harus diuji. Apalagi sebagai murid-murid keponakan dariku, kalian harus menjaga nama suhumu dan namaku, mengerti? Nah, kalian boleh mundur. Eh, Lie Eng, beritahukan kepada pengawal dalam untuk memberi tenda dan atur semua keperluan kedua suhengmu itu.”
Lie Eng menjawab, “Baik, ayah.” lalu ia memberi hormat secara militer kepada ayahnya dengan sikap yang lucu dan manja hingga ayahnya tertawa senang. Ketiga anak muda itu lalu keluar dari tenda panglima Cin dan Lie Eng lalu sibuk mengatur segala keperluan Ouwyang-hengte. Ia gembira sekali dan melakukan segalanya dengan tangan sendiri, hingga Ouwyang-heng-te merasa tidak enak dan malu.
“Ji-wi suheng, kalian harus siap dan berhati-hatilah karena malam nanti kalian akan diuji dan menghadapi lawan-lawan berat. Terutama kalau si raksasa itu muncul untuk mengujimu, kalian harus waspada. Ia ahli gwakang dan kepandaiannya walaupun tidak sangat tinggi, namun tenaganya melebihi tenaga gajah.”
“Raksasa yang mana, sumoi?” tanya Ouwyang Bun heran. Sambil tersenyum Lie Eng berkata, “Raksasa yang tadi kita jumpai di depan tenda ayah.”
“O, kau maksud Gui-ciangkun tadi?” kata Ouwyang Bu. “Benar-benarkah tenaganya melebihi tenaga gajah?”
“Entahlah,” gadis itu menjawab sambil tertawa lucu, “aku sendiripun belum pernah melihat gajah, apalagi mengukur tenaganya.” Ketiga anak muda itu tertawa-tawa dan mengobrol senang.
Malam harinya, boleh dibilang semua anggauta tentara yang tidak sedang tugas berjaga, datang membanjiri lian-bu- thia (ruang main silat) di mana khusus untuk keperluan itu telah dibangun panggung semacam panggung lui-tai (tempat adu silat). Tempat ini sedikitnya setengah bulan sekali tentu digunakan oleh Cin-ciangkun untuk menguji para panglima muda yang baru, juga para kepala-kepala regu yang baru untuk menetapkan tingkat masing-masing. Harus diakui bahwa jika orang telah menceburkan diri dalam dunia ketentaraan, maka hati menjadi berani, tabah dan keras. Oleh karena itu, tidak jarang dalam hal main- main dan menguji kepandaian ini sampai terjadi pertandingan seru yang mengakibatkan luka berat. Tapi dalam hal persilatan, luka ringan atau berat adalah soal biasa dan tak patut diributkan.
Malam hari itu, tempat itu makin ramai dan lebih penuh dari biasanya karena para anggauta tentara mendengar kabar bahwa selain ada lima orang panglima muda yang baru dilantik, juga di situ datang dua orang murid keponakan dari Cin-ciangkun sendiri. Mereka dapat menduga bahwa malam ini tentu akan terjadi pertandingan- pertandingan hebat dan ramai, maka berduyun-duyunlah mereka menuju ke lian-bu-thia itu, biarpun di antara mereka ada yang siang tadi telah bertugas menjaga sampai sehari penuh dan tubuh mereka lelah sekali. Di atas sebuah kursi yang tinggi di dekat panggung duduklah Cin-ciangkun dalam pakaian kebesaran. Baju perangnya bersisik biru dan mengkilap, sedangkan pedang gagang emasnya dipakai hingga menambahkan kegagahannya. Di sebelah kirinya duduk Cin Lie Eng yang memakai pakaian ringkas warna biru muda hingga tampak terang di samping baju perang ayahnya yang berwarna biru tua. Seperti ayahnya, gadis itupun memakai pedang di punggung. Rambutnya diikal ke atas dan diikat dengan benang perak yang berkilauan dan ditusuk dengan hiasan rambut dari perak pula. Gadis itu nampak gagah dan cantik bagaikan bidadari. Tak ada seorang pun yang berada di ruang itu yang tidak menujukan matanya memandang gadis itu dengan sinar kagum.
Di atas kursi-kursi yang agak rendah, di sebelah kanan dan kiri, sejajar dengan panglima tua itu, duduk panglima- panglima muda yang jumlahnya tujuhbelas orang. Pakaian perang mereka bersisik dan berwarna hijau semua dan pedang mereka tergantung di pinggang kiri. Mereka ini biarpun disebut panglima muda, tapi di antara mereka banyak yang sudah berusia empatpuluh lebih dan Gui- ciangkun yang duduk paling dekat dengan Cin-ciangkun, merupakan panglima muda yang tergagah, apalagi tubuhnya yang tinggi besar memang tepat sekali dipunyai oleh seorang panglima perang. Seringkali panglima muda raksasa ini mengerling ke arah Lie Eng hingga para anggauta tentara banyak yang tersenyum-senyum dan saling berbisik. Bukan menjadi rahasia lagi bahwa panglima muda she Gui itu punya “banyak harapan” untuk memetik bunga yang sedang mekar indah di taman panglima Cin itu.
Ouwyang-hengte karena belum disahkan sebagai pembantu atau panglima, mendapat tempat di bagian tamu, satu tempat khusus bagi para pendatang baru, hingga kedua sauda ra itu duduk bersama-sama dengan lima panglima baru yang hendak di uji dan beberapa orang pembesar Lain yang sengaja diundang dan datang menyaksikan ujian ini. Kebetulan sekali tempat duduk mereka berhadapan dengan tempat duduk Lie Eng, hingga mereka dapat saling memandang, bahkan ketika Lie Eng memandang ke arah mereka ia mengangguk dan tersenyum lucu.
Setelah Cin-ciangkun memberi sambutan yang isinya berupa nasihat-nasihat agar semua anggauta tentara, baik yang bertingkat rendah maupun yang bertingkat tinggi, semua tunduk akan peraturan dan taat akan perintah serta disiplin maka tahulah Ouwyang-hengte mengapa paman guru itu berhasil menggembleng semua anggauta tentara di bawah pimpinannya menjadi kesatuan yang kuat dan ternama. Di waktu menyambut, orang tua itu tampak bersemangat dan semua nasihatnya memang tepat dan baik sekali bagi setiap anggautanya, jauh bedanya dengan kesatuan-kesatuan lain yang kotor sekali keadaannya, karena para panglima dan pemimpinnya kebanyakan hanya tahu menyenangkan diri sendiri saja dan menjalankan korupsi besar-besaran. Kalau kepalanya merayap ke selatan, mana ekornya bisa merayap ke utara? Demikian bunyi peribahasa sindiran kuno yang maksudnya, kalau para pemimpinnya nyeleweng, mana bisa anak buahnya berlaku benar? Akibatnya, kesatuan-kesatuan itu menjadi lemah dan menjadi tempat pemakan gaji buta saja hingga sewaktu- waktu ada bahaya mengancam negara, tenaga mereka tak banyak dapat diharapkan.
Kemudian, setelah sambutan selesai, ujian dimulai. Kelima panglima muda itu maju seorang demi seorang untuk memperlihatkan kemahiran mereka bersilat tangan kosong dan bersilat pedang. Dalam pandangan Ouwyang- hengte, kepandaian mereka itu biasa saja, hanya lebih tinggi sedikit daripada kepandaian guru silat biasa. Tapi mereka mendapat sambutan hangat dan tempik sorak ramai dari para anggauta tentara yang menganggap permainan mereka cukup bagus.
Kemudian atas isyarat Gui-ciangkun yang menjadi pemimpin ujian itu, dari deretan panglima muda keluarlah seorang panglima yang bertubuh pendek. Ia adalah seorang yang dipilih untuk menguji kepandaian perwira pertama.
Menurut peraturan, perwira yang diuji, kalau dapat memenangkan panglima muda, mendapat pangkat, perwira kelas satu, tapi yang kalah hanya menerima tanda pangkat berupa pakaian seragam perwira kelas dua saja.
Setelah memberi hormat kepada Cin-ciangkun yang menganggukkan kepala, perwira pendek itu meloncat ke atas panggung dengan gerakan Burung Walet Menyambar Air. Gui-ciangkun lalu memanggil calon perwira pertama yang diuji, dan majulah seorang dari pada kelima calon tadi. Mereka lalu bertanding tangan kosong. Biarpun tubuhnya pendek, ternyata perwira penguji itu pandai sekali bersilat tangan kosong dari cabang Siauw-lim. Juga ia memiliki tenaga yang cukup hebat hingga setelah bertanding selama lebih dari empatpuluh jurus, calon perwira itu terdesak hebat dan akhirnya ia tertendang roboh keluar panggung. Tempik sorak hebat-menjadi hadiah perwira penguji ini yang lalu menjura kepada Cin-ciangkun dan mengundurkan diri, memakai kembali pakaian perang yang tadi ditanggalkan, dan dengan langkah bangga kembali ke tempat duduk semula.
Demikianlah berturut-turut kelima calon perwira itu diuji oleh perwira-perwira muda yang ditunjuk oleh Gui- ciangkun. Hasilnya, tiga di antara mereka kalah dan menjadi perwira kelas dua sedangkan yang dua orang menang dan diangkat menjadi perwira kelas satu. Setelah itu, tampak Cin Lie Eng berbisik dekat telinga ayahnya dan panglima tua itu mengangguk-angguk lalu berkata kepada Gui-ciangkun,
“Sekarang biar kita. uji dua anak muda itu, mereka juga merupakan pembantu-pembantu yang cakap. Pilihlah perwira yang agak tinggi kepandaiannya karena mereka berdua tak dapat disamakan dengan orang-orang yang telah diuji tadi.”
Gui-ciangkun yang semenjak siang tadi tidak suka melihat kedua anak muda yang bergaul erat dengan Lie Eng, kini makin cemburu dan iri hati, akan tetapi ia tidak berani membantah perintah atasannya, maka berdirilah ia dan dengan suara keras berkata,
“Kini kami hendak menyaksikan kepandaian dua tamu muda yang bernama Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu, yang sengaja datang ke sini untuk menawarkan tenaga bantuannya. Kami harap kedua orang itu suka maju dan memperlihatkan kepandaiannya, kalau dianggap cukup tinggi maka akan diuji pula.”
Hati kedua pemuda itu panas sekali mendengar perkenalan dan perintah yang memandang rendah sekali ini, sedangkan Cin-ciangkun juga merasa heran mengapa seolah-olah pembantunya ini mempunyai iri hati terhadap kedua pemuda itu.