Halo!

Sepasang Pendekar Kembar Chapter 08

Memuat...

Lie Eng tertawa lagi hingga dapat diduga bahwa gadis ini memang seorang periang. “Jangan kau bingungkan urusan kuda, saudara.... eh, kau ini Bun-suheng atau Bu-suheng? Nah, aku sudah bingung dan tak dapat mengenal yang mana saudara Bun dan mana saudara Bu.” tapi lalu ia pandang sarung pedang yang tergantung di pinggang kedua “orang itu, maka teringatlah ia bahwa yang berpedang panjang adalah Ouwyang Bun dan yang berpedang pendek Ouwyang Bu. Sementara itu, kedua kakak beradik itu hanya tersenyum dan mendiamkan saja gadis itu menerka-nerka.

“Ha, aku tahu, kau tentu Bu-suheng.” katanya girang. “Betulkah dugaanku?” tanyanya kemudian dengan ragu- ragu. Sungguh sikap gadis ini lucu menarik hingga kedua saudara itu ikut tertawa gembira. Ouwyang Bu mengangguk membenarkan.

“Bu-suheng, kau jangan bingung perkara kuda itu, kalau kita sudah menyeberang, maka akan kuperintahkan orang mengambilnya. Pula, kedua kuda itu kurang baik, lihatlah kalau kita sudah tiba di markas ayah, kau boleh pilih kuda yang jempolan.”

Demikianlah, mereka bertiga lalu menaiki perahu Lie Eng dan menyeberangi Sungai Luan-ho yang lebar dengan airnya yang mengalir tenang. Lie Eng ternyata pandai sekali bergaul dan bercakap-cakap tiada hentinya hingga kedua saudara itu makin tertarik dan ikut bergembira. Setelah menyeberang, mereka lalu berjalan ke utara dan sebentar saja mereka bertemu dengan banyak tentara negeri yang bersikap hormat sekali bila bertemu dengan Cin Lie Eng, puteri panglima Cin yang mereka ketahui memiliki kepandaian tinggi dan gagah perkasa itu. Di samping menghormat, mereka juga memandang dengan kagum sekali. Memang, siapakah yang takkan kagum memandang dara yang cantik jelita dan bersikap gagah itu? Lie Eng memerintahkan orang untuk mengambil dua ekor kuda di seberang, lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke markas.

Di sepanjang jalan menuju ke markas, kedua saudara Ouwyang itu melihat banyak sekali tenda-tenda tentara negeri di pasang di mana-mana, dan markas besar sendiri berada di sebelah dalam tembok besar. Tampak banyak tentara negeri menjaga di atas tembok besar itu dengan senjata tombak dan anak panah. Agaknya para pemberontak itu berada di luar tembok hingga pertahanan dikerahkan di tempat itu.

Setelah melalui banyak sekali tenda-tenda tentara, mereka menuju ke sebuah tenda yang berwarna coklat dan berada ditengah-tengah, juga paling besar dan tinggi. Di puncak tenda besar itu berkibar bendera pangkat dari Cin- ciangkun dan huruf “CIN” tampak megah dan gagah di tengah-tengah bendera itu.

Sebetulnya, tidak sembarang orang dapat keluar masuk begitu saja di daerah itu, apalagi sampai di depan markas besar dan memasuki tempat kediaman Cin-ciangkun. Akan tetapi, karena Ouwyang-hengte datang bersama Lie Eng, para penjaga hanya memandang saja kepada mereka dengan menduga-duga, dan mereka berdua sama sekali tak mendapat gangguan.

Tepat di depan pintu tenda ayahnya, mereka bertiga bertemu dengan laki-laki gagah perkasa dengan pakaian perang yang bersisik-sisik berwarna hijau. Laki-laki Itu berusia paling banyak tigapuluh tahun, wajahnya gagah, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar. Pedangnya yang panjang tergantung di pinggang kiri menambah kebesarannya. Ketika melihat Lie Eng, sikapnya yang tegap berubah seketika dan wajahnya yang keras itu membayangkan kelembutan.

“Nona Cin, kau baik saja, bukan?” tegurnya dengan suara halus.

“Terima kasih, Gui-ciangkun,” jawab Lie Eng, dan gadis itu lalu memperkenalkan Ouwyang-hengte yang tadinya tak dipandang sebelah mata oleh panglima muda yang berpakaian gagah itu.

“Gui-ciangkun, kedua saudara kembar ini adalah kedua suhengku yang bernama Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu, mereka ini murid-murid supekku. Ia datang hendak membantu ayah. Mereka lucu, bukan? Lihat dan kau takkan dapat membedakan mana kiri dan mana kanan.” Gadis itu tertawa lucu, lalu berkata kepada Ouwyang- hengte,

“Ji-wi suheng, ini adalah Gui-ciangkun, pembantu ayah yang paling berjasa. Dan untuk daerah utara sini, selain ayah, tidak ada orang lain yang lebih ditakuti lawan, disegani kawan seperti Gui-ciangkun.”

Ouwyang-hengte lalu menjura dan mengangkat tangan tanda memberi hormat yang dibalas dengan tak acuh oleh Gui-ciangkun.

“Cin-siocia, ayahmu di dalam tadi mencari-carimu.” Hanya demikian ia berkata kepada nona itu lalu pergi tanpa melirik sedikitpun kepada kedua saudara yang baru datang itu. Ouwyang-hengte merasa tak enak dan tak senang melihat sikap angkuh dari panglima muda itu, tapi sebaliknya Lie Eng tersenyum geli dan mengajak mereka memasuki tenda. Cin Cun Ong adalah seorang yang bertubuh tinggi kurus dan wajahnya telah mengerat, tapi memiliki sepasang mata yang tajam bagaikan mata burung rajawali, kumisnya panjang dan bercampur dengan jenggotnya. Pakaian perangnya berwarna biru. Ketika kedua saudara Ouwyang itu masuk, panglima tua yang terkenal namanya itu sedang duduk menghadapi meja sambil menggunakan pit untuk corat-coret di atas kertas, entah sedang menuliskan surat perintah apa. Ia tidak memakai topi dan topi itu telah ditanggalkannya dari kepala dan kini terletak di atas meja sebelah kirinya.

“Ayah.” Lie Eng memanggil dengan suara manja, lalu gadis itu meloncat di dekat ayahnya dan mulai membereskan rambut ayahnya yang terurai ke belakang.

“Kau dari mana saja?” ayah itu menegur dengan mulut tersenyum tanpa menengok, karena seluruh perhatiannya tertuju pada kertas yang ditulisnya itu.

“Ayah, ada tamu menghadap engkau,” kata Lie Eng lagi.

Panglima itu menunda menulis dan memandang kepada Ouwyang-hengte yang segera menjura dalam-dalam untuk memberi hormat. Untuk sejenak mata panglima tua itu bercahaya tajam dan memandangi kedua anak muda itu dengan pandangan menyelidiki, tapi segera sinar matanya berubah heran dan tercengang melihat persamaan kedua anak muda itu.

“Mereka ini siapa, Lie Eng?” tanyanya kepada anak tunggalnya yang mulai menjalin rambutnya menjadi kuncir yang besar.

“Ha, ayah mulai bingung bukan?” Lie Eng menggoda. “Dapatkah ayah membedakan satu dari yang lain? Ayah, mereka adalah murid-murid dari twa-supek.” Kini Cin-ciangkun memandang penuh perhatian. “Hm, betulkah kalian ini murid Pat-jiu Lo-mo?”

Sambil tetap menjura, Ouwyang Bun menjawab, “Betul, susiok. Teecu berdua adalah murid orang tua itu, dan kedatangan teecu berdua adalah atas pesan dan perintahnya. Teecu membawa surat suhu untuk disampaikan kepada susiok yang terhormat,” sambil berkata demikian, Ouwyang Bun mengeluarkan surat suhunya dan memberikannya kepada panglima itu.

Cin Cun Ong menerima surat dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengambil topinya dan dipakainya. Sementara itu, Lie Eng yang telah selesai menguncir rambut ayahnya, lalu berdiri di pinggir dan memandang kepada kedua saudara itu dengan mata berseri.

Sehabis membaca surat itu, Cin-ciangkun bertanya,

“Jadi kalian hendak membantuku? Tahukah kalian siapa lawan-lawan kita dalam pertempuran ini?”

Ouwyang Bun menjawab, “Maaf, susiok. Teecu berdua memang belum mempunyai banyak pengalaman, tapi kalau teecu tidak salah, musuh-musuh kita adalah pemberontak- pemberontak dan perampok-perampok yang mengacau rakyat jelata.”

Tiba-tiba panglima tua itu tertawa geli. “Ha-ha-ha. Tahumu hanya pemberontak dan perampok. Ketahuilah, hai anak-anak muda, musuh-musuh kita adalah tokoh- tokoh kang-ouw yang ternama, orang-orang gagah yang biasa hidup sebagai pendekar-pendekar, ketua-ketua dan pemimpin-pemimpin cabang persilatan, bahkan banyak pula pendeta-pendeta dan pendekar-pendekar wanita. Mereka banyak sekali yang memiliki kepandaian tinggi dan hebat sekali.”

“Tapi teecu tidak percaya, susiok.” tiba-tiba Ouwyang Bu yang semenjak tadi diam saja kini membuka mulut, membuat panglima tua itu keheranan karena biarpun muka dan potongan tubuh serupa dan sebentuk, namun suara mereka berbeda. Ia memandang Ouwyang Bu dengan mata tertarik ketika ia berkata dengan suara keras.

“Apa alasanmu maka kau tidak percaya omonganku, anak muda?”

“Kalau mereka itu benar-benar orang gagah, mengapa mereka mengacau negara dan merampok rakyat? Tak mungkin, susiok, tak mungkin orang-orang gagah sudi menjadi pemberontak, pengacau, dan perampok.”

“Ha-ha-ha. Anak muda, kau hanya tahu kulitnya tapi tak tahu isinya. Bagaimana pendapatmu?” panglima itu tiba- tiba bertanya kepada Ouwyang Bun. Pemuda ini dengan tenang menjawab,

“Susiok, kalau memang para pemberontak itu terdiri dari orang-orang gagah perkasa dan pendekar-pendekar budiman yang memang bermaksud mulia, tidak mungkin suhu menyuruh teecu berdua datang ke sini dan membantu susiok. Pula, susiok terkenal sebagai seorang tokoh yang ternama dan gagah perkasa, maka kalau memang mereka itu benar-benar orang gagah, tak mungkin kiranya susiok memusuhi dan menghancurkan mereka.”

“Ha, kau cerdik. Tapi kaupun tidak mengetahui isi- isinya. Segala hal di dunia ini memang tergantung dari pandangan dan pendapat orang. Aku semenjak muda telah menjadi tentara negeri, maka sudah menjadi tugas kewajibanku untuk membela negara tanpa melihat dan menyelidiki sebab-sebab pertempuran yang sewaktu-waktu timbul. Pokoknya, menjadi tentara berarti membela negara, tak perduli siapa-siapa saja yang berani mengganggu negaraku, pasti akan berhadapan dengan aku dan akan kulawan mati-matian. Tapi terus terang saja kukatakan kepada kalian bahwa seringkali aku harus menghadapi orang-orang gagah yang dulu pernah menjadi kawan-kawan baikku. Dan tahukah kau bahwa pernah aku mencucurkan air mata menangisi mayat seorang tokoh persilatan yang mati di ujung pedangku sendiri?” Panglima tua itu menghela napas berat dan keadaan menjadi sunyi, karena kedua saudara Ouwyang itu sama sekali tidak mengerti akan maksud kata-kata Cin-ciangkun. Lie Eng sendiri selalu dilarang oleh ayahnya untuk ikut-ikut dalam pertempuran- pertempuran untuk membantunya, maka gadis itu tidak menjadi heran mendengar ucapan ayahnya yang sampai saat itu belum dapat diselami arti dan maksudnya.

Post a Comment