Pada waktu itu, memang di mana-mana banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan dan orang-orang gagah di kalangan kan g-ouw banyak yang bersimpati kepada gerakan Lie Cu Seng hingga diam-diam mereka di tempat masing- masing menghimpun para kawan-kawan sepaham, bersiap- siap untuk sewaktu-waktu menggabungkan diri bila masanya untuk memberontak telah tiba. Juga di Tung-han tak terkecuali, bahkan di sekitar daerah itu telah pecah pertempuran-pertempuran antara para pemberontak melawan alat-alat pemerintah. Melihat adanya bahaya dari segenap pihak, para pembesar setempat juga bersiap sedia menjaga keamanan sendiri-sendiri. Mereka membentuk barisan-barisan pengawal yang terdiri dari orang-orang berkepandaian silat tinggi untuk menjadi penjaga keamanan dan menumpas para pemberontak yang berani mengacau.
Karena kota Tung-han bukanlah kota yang sangat besar, maka mudah juga mencari rumah keluarga Can Lim Co. Ternyata orang she Can ini adalah seorang sastrawan yang miskin, biarpun dulu ketika masih tinggal di selatan, ia adalah putera seorang yang kaya raya. Agaknya Can Lim Co bukan berjiwa pedagang hingga ia tak dapat mempergunakan uang warisan ayahnya untuk berdagang. Bahkan sebaliknya, uang warisan itu lekas habis karena dimakan sambil menganggur saja, dan pula, orang she Can ini suka sekali bergaul dengan segala macam orang dan tiap lari di rumahnya selalu penuh dengan tamu-tamu yang diajaknya bercakap-cakap sambil minum arak. Mereka selalu mempersoalkan syair-syair kuno yang penuh arti, tentang peperangan, tentang sejarah dan tentang ilmu pengetahuan lain, tergantung dari sifat dan keadaan tamu yang diajaknya bercakap-cakap itu. Tak heranlah, apabila lambat-laun harta benda yang dulu dikumpulkan dengan susah payah oleh ayahnya menjadi ludes dan habis. Terpaksa Can Lim Co menjual rumah dan sawah, lalu pindah ke kota Tung-han. Ia mempunyai dua orang anak perempuan yang usianya sebaya dengan Ouwyang-hengte. Dulu ketika ia masih tinggal di selatan, ia menjadi kenalan baik keluarga Ouwyang, maka terjadilah ikatan jodoh itu. Kemudian, setelah Ouwyang-hengte diculik orang, dan keadaan keluarganya makin susah, ia lalu pindah ke Tung-han dan semenjak itu ia tak pernah berkabar-kabaran dengan keluarga Ouwyang.
Ketika Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu mengunjungi rumah keluarga Can dengan pertolongan seorang perantara, mereka diterima oleh Can Lim Co sendiri. Sastrawan ini telah nampak tua dan rambutnya telah putih, tapi sikapnya masih lemah-lembut dan pakaiannya bersih.
Ketika dua anak muda itu memperkenalkan diri sebagai kedua putera dari Ouwyang Heng Sun, ia merasa terkejut dan heran sekali. Lalu dipanggilnya isterinya yang berada di dalam dan kedua orang tua itu menghujani Ouwyang- hengte dengan bermacam-macam pertanyaan, membuat kedua anak muda itu menjadi malu dan menuturkan pengalaman mereka dengan singkat.
“Kalian telah belajar silat, itu baik sekali.” kata Can Lim Co sambil mengangguk angguk senang. “Memang dalam keadaan zaman seburuk ini, perlu sekali orang memiliki kepandaian bu (silat) untuk membela keadilan. Apakah gunanya sebatang pit (alat tulis) dan kertas pada masa sekacau ini?” orang tua ini menghela napas, kemudian dengan cara jujur seperti yang telah menjadi kebiasaannya, ia tanyakan maksud kedatangan kedua anak muda itu mengapa mereka datang membawa seorang perantara.
Kini giliran perantara itu untuk bicara, karena mendengar pertanyaan ini. Sedangkan Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu tak berani menjawab. Mereka hanya tunduk dengan muka merah. Perantara itu lalu memberi tahu. maksud keluarga Ouwyang untuk menetapkan hari kawin, yakni pada permulaan musim Chun pada hari keempat bulan depan.
Setelah perantara itu selesai bicara, barulah Ouwyang- Yiengte berani mengangkat muka untuk mendengar jawaban calon mertua mereka. Tapi sungguh mengherankan sekali karena wajah sastrawan tua tiba-tiba tampak muram dan tak senang, kemudian terdengar ia berkata,
“Pada waktu sekacau ini, siapakah yang ada waktu untuk bicara tentang perkawinan?” kata-kata ini seakan- akan ditujukan kepada diri sendiri, kemudian segera disambungnya dan kini ia bicara kepada kedua anak muda yang masih duduk di depannya dengan hati tak enak mendengar ucapannya tadi. “Jiwi hiante, sungguh menyesal sekali bahwa, aku tak dapat menyetujui kehendak orang tuamu. Tolong kausampaikan saja salamku disertai pernyataan maaf dan hormatku. Kami menolak bukannya tanpa alasan, tapi sesungguhnya pada waktu ini kedua puteri kamipun tidak berada di rumah.”
Kedua anak muda itu heran dan bibir mereka bergerak hendak bertanya ke mana perginya kedua “tunangan” mereka itu tapi mereka tak kuasa membuka mulut karena malu. Can Lim Co maklum akan maksud kedua pemuda itu, maka ia berkata perlahan,
“Karena keadaan di sini kurang aman, mereka pergi dan untuk sementara tinggal di rumah paman mereka di utara.”
Kemudian kedua anak muda itu berpamit dan Can Lim Co berkata lagi kepada mereka, “Biarlah urusan perjodohan ini ditunda dulu sampai keadaan menjadi aman dan beres. Dan jiwi hiante yang memiliki kepandaian, tidak menggunakan kepandaian itu pada masa ini, mau tunggu kapan lagi?” Sebetulnya maksud Cam Lim Co ialah menganjurkan kedua calon mantunya itu untuk membantu pergerakan para pemberontak, tapi karena pada waktu itu tak seorangpun berani mengatakan hal ini dengan terang- terangan yang dapat mengakibatkan mereka ditangkap dan dianggap anggauta pemberontak lalu menerima hukuman mati, maka ia hanya berkata seperti tadi hingga kedua saudara Ouwyang salah mengerti. Mereka mengira bahwa calon mertua mereka juga benci kepada para pemberontak dan menganjurkan untuk menggunakan kepandaian mereka membasmi pemberontak-pemberontak itu. Maka tanpa ragu-ragu lagi mereka menjawab,
“Memang telah menjadi cita-cita kami berdua untuk secepatnya berangkat ke utara menyumbangkan tenaga.” Mendengar kata-kata ini, orang tua itu tampak senang sekali. Maka pergilah Ouwyang-hengte meninggalkan rumah keluarga Can. Mereka lalu menyuruh orang untuk mengirimkan suratnya kepada orang tua mereka di Namtin, karena dari Tung-han mereka akan terus ke utara hingga tidak usah pulang lagi. Ketika menerima surat kedua puteranya itu, Ouwyang Heng Sun dan isterinya hanya bisa menghela napas dan mengharap mudah-mudahan kedua anak muda itu akan pulang dengan selamat.
-Ooo-dw-ooO-
Karena ayah mereka memberi bekal uang yang cukup, kedua saudara itu lalu membeli dua ekor kuda agar perjalanan dapat dilanjutkan lebih cepat dan tidak tertunda- tunda lagi. Dengan menunggang kuda mereka dapat melakukan perjalanan jauh tanpa merasa lelah.
Pada suatu hari, pagi-pagi mereka telah memasuki sebuah hutan besar. Hutan itu liar dan penuh dengan pohon-pohon raksasa. Ketika mereka telah memacukan kuda beberapa li jauhnya di dalam hutan itu, terdengar suara ringkik kuda dibarengi suara senjata beradu dan orang-orang berteriak. Jelas bahwa di sebelah depan sedang terjadi pertempuran hebat. Mereka lalu mempercepat jalan kuda untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam hutan itu.
Tak lama kemudian tampaklah oleh Ouwyang-hengte sebuah pertempuran yang dahsyat dan hebat. Kurang lebih duapuluh orang berpakaian seragam sedang mengeroyok lima orang yang memainkan pedang dengan gerakan luar biasa. Di sana-sini ada beberapa orang pengeroyok yang roboh mandi darah. Melihat pakaian para pengeroyok tadi, tahulah Ouwyang-hengte bahwa mereka adalah tentara negeri, dan rata-rata memiliki kepandaian lumayan juga. Tapi lima orang yang dikeroyok itu lebih hebat lagi.
Ketika diperhatikan, ternyata bahwa lima orang itu berpakaian sederhana. Mereka adalah laki-laki semua yang rata-rata sudah berusia empatpuluh tahun lebih.
Ouwyang Bun dan adiknya lalu melompat turun dari kuda dan Ouwyang Bun yang tidak mau berlaku ceroboh, lalu meng hampiri seorang tentara yang luka.
“Saudara, siapakah lima orang yang mengamuk itu?” tanyanya.
Tentara yang luka itu memandang heran, lalu menjawab dengan suara lemah karena ia telah banyak mengeluarkan darah.
“Siapa lagi, mereka adalah pemberontak.”
Mendengar ini, Ouwyang-hengte lalu meloncat berdiri dan mencabut senjata. Tanpa banyak cakap lagi mereka menyerbu dan menyerang lima orang pemberontak itu. Kedatangan Ouwyang-hengte merobah keadaan pertempuran, karena dengan ilmu pedang mereka yang lihai sebentar saja mereka dapat mendesak kelima orang pemberontak itu. Dan para tentara negeri dengan gembira sekali bersorak-sorak dan mengurung. Akan tetapi, ternyata lima orang itu betul-betul gagah, karena melihat keadaan mereka terdesak, kelimanya lalu mengeluarkan senjata rahasia mereka yang berbahaya. Beberapa orang pengeroyok roboh lagi oleh senjata itu hingga kurungan menjadi kendur. Kesempatan itu mereka gunakan untuk melompat dan kabur. Tapi Ouwyang Bu secepat kilat mengirim serangan pada pemberontak yang terakhir larinya hingga ketika orang itu menangkis, pedangnya kena babat dan putus oleh pedang Ouwyang Bu, berikut dua buah jari tangan orang itu. Dia menjerit kesakitan dan cepat menggunakan tangan kiri menyerang Ouwyang Bu dengan senjata rahasia berupa jarum-jarum halus. Ouwyang Bu maklum akan bahaya senjata-senjata rahasia ini, maka ia cepat melompat mundur dan membiarkan orang itu lari menyusul kawan-kawannya. Terdengar kuda mereka meringkik dan suara kaki kuda mereka meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Ouwyang-hengte hendak mengejar, tapi pemimpin tentara yang berjenggot pendek mencegahnya. “Mereka mungkin masih mempunyai banyak kawan, awas jangan sampai terjebak.” katanya.
-O0od-wo0O-
SETELAH merawat para korban pertempuran itu, kepala rombongan tentara lalu menjura kepada mereka.
“Ji-wi enghiong sungguh gagah perkasa. Terima kasih atas pertolongan ji-wi yang telah mengusir lima penjahat itu. Bolehkah kami mengetahui nama ji-wi yang terhormat agar kami dapat memasukkan dalam buku laporan?”
“Tak usah, tak perlu nama kami disebut-sebut dalam buku laporan. Kami adalah Ouwyang-hengte yang hendak mencari tempat markas barisan Cin-ciangkun di Pak-thian untuk membantu usahanya membasmi pemberontak.”
Mendengar ini, tiba-tiba sikap pemimpin rombongan itu menjadi sangat hormat dan kagum. “Jadi ji-wi adalah pembantu-pembantu Cin-ciangkun? Pantas demikian hebat. Maaf kami berlaku kurang hormat.” Setelah berkata demikian, dengan tubuh tegak ia memberi hormat lagi.
“Janganlah berlaku sungkan-sungkan, lebih baik tunjukkan kepada kami jalan mana yang terdekat untuk pergi ke Pak-thian,” kata Ouwyang Bun.
“Jika ji-wi keluar dari hutan ini dari sebelah kiri dan dari situ dengan lurus menuju ke utara melalui Sungai Luan-ho, maka dalam waktu tiga hari saja ji-wi akan tiba di Pak- thian. Harap sampaikan hormatku kepada semua kawan dalam barisan Cin-ciangkun.”
Setelah mendapat keterangan lengkap, kedua anak muda itu lalu melanjutkan perjalanan mereka. Setelah matahari telah naik tinggi, baru mereka dapat keluar dari hutan itu dan mereka lalu menurut petunjuk pemimpin rombongan tadi menuju ke utara.
Betul saja, dua hari kemudian mereka tiba di pinggir Sungai Luan-ho yang lebar. Dari jauh tampak beberapa orang sedang berdiri di pinggir sungai dan beberapa orang lagi duduk di atas perahu yang dijalankan di pinggir. Ketika mereka telah dekat Ouwyang-hengte melihat seorang laki-laki yang mereka kenal baik-baik berdiri di situ sedang memandang kedatangan mereka. Juga semua orang kini menengok dan memandang mereka dengan mata mengancam. Ternyata orang yang berdiri paling depan tidak lain ialah Lui Kok Pauw si pemberontak yang pernah bertempur dengan mereka di rumah Gak Liong Ek dulu. Dan ketika mereka memandang dengan penuh perhatian, tampak pula lima orang yang dikeroyok di dalam hutan pada kemarin dulu, juga orang kelima yang dua jarinya dibuntungkan oleh pedang Ouwyang Bu, berada pula di situ dengan tangan dibalut.