“Ibu ”
“A Bun.... A Bu....” Nyonya itu akhirnya dapat juga mengeluarkan perkataan, ia menangis tapi mulutnya tertawa-tawa dan tubuhnya menjadi lemas dan limbung.
Kedua anak muda itu cepat berdiri dan memeluk tubuh ibu mereka yang setengah pingsan karena kegirangan dan karena peristiwa perjumpaan ini benar-benar mendatangkan kaget pada hatinya yang memang telah lemah karena banyak bersedih. Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, kedua putera itu membimbing ibu mereka memasuki kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur.
“Ibu.... aku dan adikku telah berada di sini. Senangkanlah hatimu, ibu,” kata Ouwyang Bun dengan suara halus dan mengelus-elus rambut ibunya. Nyonya Ouwyang lalu bangun dan duduk di atas pembaringannya. Sekali lagi ia memandang kedua anaknya dari kanan ke kiri dan tiba-tiba ia merangkul mereka dalam pelukannya dan menangis keras.
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu pun tak dapat menahan keharuan hati mereka dan ikut mengalirkan air mata.
“A Bun.... A Bu... kau anak nakal... jangan kalian tinggalkan ibumu lagi....” Setelah menangis sepuas- puasnya, legalah dada nyonya yang telah bertahun-tahun menderita sedih itu. Berkali-kali dipandanginya wajah kedua anaknya dan akhirnya ia tertawa girang.
“A Bun.... yang manakah kau? Aku sendiri menjadi bingung ”
“Akulah A Bun, ibu....” jawab Ouwyang Bun, dan Ouwyang Bu tersenyum geli melihat ibunya.
“Kaukah A Bun? Ah, serupa benar, tentu aku akan lupa lagi. Kalau dulu mudah saja bagiku, ada tanda biru di pahamu, A Bun. Dan tanda itulah yang memudahkan aku untuk mengenal mana kau mana adikmu.”
Ouwyang Bun tersenyum. “Tanda itu masih ada, ibu.”
Tiba-tiba nyonya itu teringat sesuatu, maka ia segera memanggil Tan Ngo dengan suara nyaring. Nyonya itu ternyata dalam sekejap mata saja mendapatkan kembali kegembiraan hidupnya dan tampak lebih muda beberapa tahun. Tapi yang dipanggil tidak menghadap, dan seorang pelayan lain yang dapat menghadap.
“Mana Tan Ngo? Suruh ia lekas beritahukan wangwe dan menyusulnya di Kwian. Suruh lekas pulang, kedua kongcu telah datang.”
“Dia sudah pergi, sudah sejak tadi.” “Pergi ke mana?”
“Menyusul loya di Kwi-an.”
Ternyata pelayan tua itu dengan gembira sekali mendahului perintah majikannya untuk menyampaikan berita baik ini kepada majikannya di Kwi-an. Karena Kwian hanya terpisah beberapa li saja dari Nam-tin, maka sebentar saja Ouwyang Heng Sun yang mendapat kabar baik itu segera menyuruh pengemudi keretanya membalapkan kuda menuju ke Nam-tin.
Tidak terkira rasa bangga dan girang hati ayah ini ketika ia dapat berhadapan muka dengan kedua puteranya yang tercinta. Semalam itu mereka berempat, kedua orang tua dan kedua anak itu, tiada henti-hentinya mengobrol dan Ouwyang-hengte harus menuturkan segala pengalamannya semenjak mereka diculik oleh suhu mereka.
Esok harinya, Ouwyang-wangwe mengadakan pesta dan mengundang handai-taulan dan langganan-langganan untuk merayakan kedatangan kedua putera mereka. Suasana gembira sekali dan semua orang memberi selamat kepada hartawan yang bahagia itu.
Beberapa hari kemudian, Ouwyang Bun dan adiknya dengan terus terang memberitahukan kepada ayah ibunya tentang pesan suhu mereka agar mereka pergi ke utara dan membantu usaha susiok mereka, yakni Cin Cun Ong untuk membasmi para pemberontak yang bergerak di sepanjang tembok besar sebelah utara.
Ouwyang Heng Sun mengangguk-angguk dan berkata, “Sungguhpun aku sama sekali tidak suka melihat kalian maju bertempur menghadapi para pengacau negara itu, namun aku lebih tidak suka lagi melihat dan mendengar tentang para pemberontak itu. Mereka itu namanya saja pemberontak yang merobohkan pemerintah yang sekarang, tapi pada hakekatnya mereka itu tidak lain hanya perampok-perampok yang mengincar harta benda orang. Aku mendengar dari orang-orang bahwa di utara, tiap kali mereka menduduki sebuah kampung, perampok-perampok itu merampas semua sawah dan membagi-bagikannya di antara kawan-kawan mereka dan orang-orang jembel. Perbuatan ini mereka tutupi dengan kedok menyumbang dan menolong orang melarat. Tapi apa yang dilakukan oleh para jembel yang menerima sawah rampasan itu? Mereka menjualnya lagi kepada orang-orang yang mempunyai uang dan menggunakan uang itu untuk foya-foya hingga sebentar saja sawah dan uang habis ludes. Setelah habis, mereka ikut pula dengan para pemberontak untuk mengharapkan pembagian baru. Hah..”
Ouwyang-wangwe menghela napas. Memang tidak aneh pendapatnya ini, karena sebagai seorang kaya raya yang memiliki ratusan hektar sawah, tentu saja ia sangat khawatir kalau-kalau tanahnyapun dirampas oleh para pemberontak itu. Apalagi sebarang telah timbul pemberontakan di mana-mana, dan tidak hanya di utara. Di selatan inipun mulai ada orang-orang yang membentuk perserikatan dan perkumpulan-perkumpulan gelap yang maksudnya menentang dan memberontak terhadap pemerintah.
Mendengar kata-kata ayahnya itu, Ouwyang Bun lalu bertanya,
“Kalau begitu, tentu ayah tidak berkeberatan kalau anak berdua pergi memenuhi pesan suhu, bukan?”
Sebelum ayah mereka menjawab, nyonya Ouwyang sudah mendahului, “Baru beberapa hari kalian datang sudah mau pergi lagi. Apalagi sekarang pergi untuk menghadapi pertempuran. Sungguh kalian tidak sayang kepadaku.”
Ouwyang Bun segera mendekati ibunya. “Bukan demikian, ibu. Ibu tahu bahwa aku dan adikku sayang kepada ibu, tapi kepergian kami berdua ini tidak saja demi kepentingan negara den rakyat tapi juga demi kepentingan ayah dan ibu sendiri.”
“Bicara twako benar, ibu,” Ouwyang Bu menyambung, “kalau para pemberontak ini tidak segera dibasmi sampai mereka meluas dan menyerbu ke sini, bukankah hal itu akan menimbulkan celaka den malapetaka terhadap keluarga kita juga?”
Nyonya Ouwyang menutupi mukanya dengan tangan. “Tidak tahu, tidak tahu.” serunya. uTapi aku tidak suka kalian pergi sebelum kalian melangsungkan perjodohan dulu.”
Ouwyang-hengte meloncat dengan kaget. “Apa?
Perjodohan kami?”
Ibu yang bersedih itu menurunkan tangannya dan memandang kepada mereka. “Ya, perjodohan kalian. Ketahuilah, semenjak kecil kalian telah kami jodohkan dengan kedua puteri dari keluarga Can yang kini telah pindah ke Tung-han. Karena kalian dulu lenyap diculik oleh perampok itu, maka keluarga Can tidak pernah mengirim berita lagi.”
“Ibu, jangan sebut suhu sebagai perampok,” kata Ouwyang Bu.
“Dia itu memang perampok, bukan?” tanya ibunya dan Ouwyang Bu tak dapat menyangkal pula. Memang dulu suhun ya adalah perampok, hal ini tak dapat disangkal, maka ia diam saja dan menundukkan kepala.
“Sekarang kalian telah pulang dan telah dewasa. Kalau tidak salah, tahun ini kalian telah berusia sembilanbelas tahun, cukup dewasa untuk melangsungkan perkawinan. Maka, sebelum kalian langsungkan perjodohan itu, aku tidak rela membiarkan kalian pergi bertempur melawan para pemberontak dan pengacau itu.”
Ouwyang Bun semenjak kecil memang lebih sayang kepada ibunya. Maka mendengar kata-kata ibunya ini, ia lalu bertanya kepada ayahnya.
“Bagaimana, ayah? Aku hanya menurut saja kepada kehendak ayah dan ibu, dan kurasa Bu-tepun demikian juga.”
Ouwyang-wangwe meraba-raba jenggotnya. “Memang menurut pendapatku juga demikian. Sekarang begini, karena Tung-han bukanlah dekat dari sini, lebih baik kau pergi ke Tung-han bersama adikmu, mencari keluarga Can Lim Co itu. Kalau sudah bertemu, sampaikan salam kami dan atas nama kami boleh kalian tanyakan tentang urusan perjodohan itu. Atau di sana kalian boleh mencari seorang perantara untuk menyampaikan pertanyaan ini. Kalau pihak sana bersedia, boleh ditetapkan hari kawin pada permulaan musim Chun pada hari keempat bulan depan.”
Memang malam tadi, kedua suami isteri itu telah merencanakan semua itu, hingga kini tanpa mencari hari baik lagi Ouwyang Heng Sun telah dapat memutuskan harinya. Terpaksa Ouwyang-hengte menurut kehendak ayah ibu mereka dan mereka berkemas untuk segera berangkat melakukan perjalanan ke Tung-han.