Tiba-tiba Lui Kok Pauw tertawa besar. “Ha-ha. Sungguh lucu. Masih tidak aneh kalau kalian anak-anak muda ini membantu kaisar kejam karena mempunyai susiok yang menjadi panglima penjilat. Tapi sungguh lucu kalau orang- orang sesat dan pengkhianat seperti kalian ini mengaku sebagai pembela rakyat. Ketahuilah orang-orang muda yang buta, para pemberontak itulah rakyat jelata.”
“Jangan jual obrolan kosong.” Ouwyang Bu berseru lalu maju menyerang. Lui Kok Pauw menangkis dan sebentar saja mereka berdua bertempur hebat. Bhok Sun Ki tentu tak mau tinggal diam saja, karena iapun sudah mengaku sebagai seorang patriot, maka kini di situ terdapat orang- orang muda pembela kaisar, mustahil ia harus tinggal diam saja? Maka ia lalu bergerak dan menyerang Ouwyang Bun. Pertempuran di atas panggung makin menghebat, sedangkan semua tamu menjadi panik dan memandang ke arah panggung dengan wajah tegang. Mereka maklum bahwa kini perkelahian dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bukan main-main. Sementara itu, Gak Liong Ek si tuan rumah, menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia tahu bahwa kepandaian keempat orang itu sangat hebat dan untuk memisah mereka adalah pekerjaan yang sangat berbahaya dan sukar, dan ia sendiri memang berpendirian bebas, tidak pro sana tidak anti sini. Oleh karena itu, lain tidak ia hanya bisa mondar-mandir di bawah panggung sambil berseru berkali-kali,
“Berhenti, tahan, tahan.”
Akan tetapi keempat orang yang sudah terlibat dalam pertempuran seru dan mati-matian itu, tidak sudi berhenti demikian saja. Ouwyang-hengte memang memiliki kepandaian asli dari Pat-jiu Lo-mo guru mereka yang tersohor itu, maka setelah bertempur beberapa puluh jurus, Lui Kok Pauw dan Bhok Sun Ki kena didesak hebat dan hanya sanggup menangkis saja.
Maka marahlah kedua orang itu lalu mencabut senjata masing-masing. Lui Kok Pauw mencabut sebatang pedang dan Bhok Sun Ki mengeluarkan sebatang tongkat. Ouwyang-hengte melihat kenekatan lawan, lalu mengeluarkan senjata mereka pula. Ouwyang Bun mencabut pedang panjangnya, sedangkan Ouwyang Bu mengeluarkan pedang pendeknya. Keempat senjata itu berkelebat dan kembali pertempuran berlangsung dengan hebat dan serunya, bahkan lebih seru dan menyeramkan daripada ketika dilakukan pertandingan tangan kosong tadi.
Ternyata dalam permainan senjata, tongkat si Raja Pengemis sangat hebat sekali, karena ia memiliki kepandaian tunggal, yakni Hui-coa-tung-hoat (Ilmu Tongkat Ular Terbang). Dengan gerakan tongkatnya yang berkelebatan dengan bergetar dan berputaran ujungnya, ia dapat melayani pedang panjang Ouwyang Bun dengan baik dan seimbang. Tapi sebentar saja Ouwyang Bu telah dapat mendesak senjata Lui Kok Pauw dengan pedang pendeknya yang ternyata hebat dan ulung pula. Lui Kok Pauw kini hanya dapat main mundur saja dan beberapa kali pedangnya hampir terlepas dari pegangannya kena gempur pedang pendek lawannya yang cepat dan kuat gerakannya itu.
Pada saat itu terdengar suara teriakan orang. “Cuwi, kedua anak muda ini sungguh tak tahu diri. Agaknya ia hendak meng gunakan pengaruh Cin-ciangkun untuk meng hina kami orang-orang kang-ouw. Ayoh kita usir mereka.”
Yang berseru demikian itu adalah tosu bongkok kurus, tokoh Go-bi-san yang bernama Kin Keng Tojin dan yang tadi duduk di deretan tempat para loeianpwe. Tojin ini adalah kawan baik Bhok Sun Ki. Maka ketika melihat kawannya itu terdesak, tentu saja tak mau tinggal diam, apalagi ketika mendengar bahwa dua orang anak muda itu adalah murid kemenakan Cin Cun Ong, panglima raja yang gagah perkasa dan yang sudah banyak mengorbankan jiwa kawan-kawan baiknya di dunia kang-ouw, ia menjadi marah sekali.
Di antara tamu-tamu Gak Liong-Ek, banyak terdapat orang-orang gagah yang telah merasa sakit hati kepada Cin- ciangkun, maka serentak mereka bangun berdiri, hanya masih ragu-ragu karena merasa malu harus mengeroyok dua orang anak muda. Ada juga yang tinggal diam saja karena memang tak kurang jumlahnya orang-orang kang- ouw yang tidak mau ambil perduli tentang pertentangan- pertentangan yang pro dan anti pemberontak atau yang pro dan anti kaisar.
Ouwyang Bu dan Ouwyang Bun melihat sikap orang- orang itu, segera berkata dengan suara keras kepada tuan rumah “Gaklo-enghiong, maafkan kami tidak dapat hadir lebih lama di sini.” lalu dengan cepat sekali Ouwyang- hengte meloncat turun dan lari meninggalkan tempat itu dengan cepat, disusul oleh seruan Gak Liong Ek.
“Jiwi, sampaikan maafku kepada gurumu.”
-Ooo-dw-ooO-
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu lari dan dengan kepandaiannya meninggalkan tempat pesta itu karena mereka berdua maklum bahwa dengan tenaga berdua saja tak mungkin dapat menghadapi sekian banyak orang yang memiliki kepandaian tinggi. Mereka langsung mengambil jalan yang menuju ke selatan, karena niat mereka hendak mencari orang tua mereka terlebih dulu. Mereka telah tahu dari Pat-jiu Lo-mo guru mereka itu bahwa orang tua mereka tinggal di kota Nam-tin dan bahwa ayah mereka bernama Ouwyang Heng Sun. Telah hampir sembilan tahun mereka berpisah dari kedua orang tua hingga wajah ayah ibu mereka hanya teringat dengan samar-samar saja.
Ouwyang Heng Sun adalah seorang saudagar yang berdagang hasil bumi dan memiliki tanah sawah yang beratus hektar luasnya. Ia sangat kaya dan boleh disebut menjadi hartawan terbesar di kota Namtin. Anaknya hanya Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu yang lahir kembar. Maka dapat dipahami bahwa ia dan isterinya sangat menyayangi anak kembar mereka itu.
Tapi ketika kedua anak itu baru berusia kurang lebih sepuluh tahun, pada suatu malam datanglah malapetaka yang merupakan diri Pat-jiu Lo-mo, perampok tunggal yang sangat ditakuti itu. Si iblis tua tangan delapan datang dengan maksud hendak mengambil sedikit bagian dari harta kekayaan Ouwyang Heng Sun, tapi kebetulan sekali ia memasuki kamar kedua anak kembar itu dan sangat tertarik melihat sepasang anak kembar yang cakap dan mungil itu. Memang, selama merantau dan malang melintang di dunia kang-ouw, iblis tua ini belum pernah menerima murid. Juga ia belum pernah kawin dan belum pernah punya anak sendiri, maka melihat kedua anak yang cakap-cakap ini timbullah hati sayangnya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia batalkan niatnya untuk merampok harta benda dan sebaliknya menculik dua anak kembar itu, setelah meninggalkan surat pemberitahuan di atas meja bahwa sepasang anak kembar itu diambil oleh Pat-jiu Lo-mo untuk dijadikan muridnya.
Tentu saja peristiwa ini menghancurkan hati Ouwyang Heng Sun dan isterinya. Mereka telah berusaha sedapat mungkin untuk mencari kedua anak itu. Mereka gunakan harta kekayaan mereka untuk menyewa guru-guru silat dan petugas-petugas guna mencari jejak Pat-jiu Lo-mo, tapi semua usaha ini sia-sia belaka, karena andaikata ada juga guru silat yang dapat menemukan iblis tua itu, siapakah yang berani menentang perampok tunggal yang berkepandaian tinggi itu?
Maka segala kebahagiaan lenyaplah dari. dalam hati Ouwyang Heng Sun dan isterinya dan tiap hari nyonya Ouwyang hanya pasang hio bersembahyang kepada Yang Maha Kuasa untuk memohon berkah bagi kedua puteranya. Sedangkan Ouwyang Heng Sun sendiri, lebih banyak berkecimpung dalam dunia perdagangan untuk melupakan kesedihannya. Oleh karena itu, maka kekayaan keluarga Ouwyang makin bertambah saja.
Ketika Ouwyang-hengte (kedua saudara Ouwyang) memasuki kota Nam-tin, kota kelahirannya, mereka sudah lupa sama sekali dan merasai keasingannya memandangi rumah-rumah di kanan kiri jalan. Mereka mencoba-coba mengumpulkan ingatan, tapi benar-benar keadaan kota yang memang telah banyak mengalami perubahan itu tampak baru dan asing. Mereka lalu mencari keterangan tentang orang tuanya.
Yang ditanyai memandang heran kepada dua orang pemuda yang sebentuk dan serupa ini karena selain merasa aneh melihat sepasang pemuda yang serupa benar itu, juga ia heran mengapa terdapat orang-orang yang tidak tahu di mana rumah Ouwyang-wangwe (hartawan Ouwyang). Setelah diberi tahu letak rumah Ouwyang-wangwe, dengan hati berdebar kedua pemuda itu menuju ke gedung orang tua mereka.
Di pintu depan mereka disambut oleh seorang pelayan muda yang menyambut dengan hormat dan menanyakan maksud kedatangan mereka.
“Saudara, apakah benar-benar ini rumah Ouwyang Heng Sun?”
Pelayan itu mengangguk dengan heran. “Apakah orang tua itu ada di rumah?”
“Tidak ada, sedang, pergi mengurus perdagangan di Kwi-an. Jiwi dari manakah dan ada keperluan apa?”
Tapi Ouwyang Bu tidak memperdulikan pertanyaan itu, dan malah bertanya lagi dengan tidak sabar, “Ouwyang- hujin (nyonya Ouwyang) adakah?”
Biarpun makin merasa heran, pelayan itu mengangguk dan menjawab,
“Ada, di dalam.. Ada apakah kau menanya-nanyakan hujin?”
Mendapat jawaban itu, kedua pemuda itu tak dapat menahan sabar lagi dan menyerbu ke dalam. Pelayan itu menjadi marah dan membentak. “Eh- eh. Jangan kalian masuk, bukankah sudah kuberi tahu bahwa wangwe tidak ada di rumah?”
“Minggir kau.” seru Ouwyang Bu dan mendorong pelayan itu ke pinggir. Pelayan itu terlempar dan menabrak dinding, hingga ia berteriak-teriak kesakitan dan marah.
“Tolong, tolong, ada perampok. Tangkap pengacau.” teriaknya.
“Diam. Kami adalah putera-putera Ouwyang-wangwe, kau mengerti?”
Mulut pelayan yang tadinya berteriak-teriak itu kini terbuka ternganga dengan mata terbelalak. Mana ia mau mempercayai keterangan ini? Pada saat itu dari dalam gedung keluar beberapa orang pelayan berlarian mendengar teriakan-teriakan tadi. Seorang pelayan tua bernama Tan Ngo berdiri kesima dan memandang kedua pemuda itu. Ia tadi sempat mendengar keterangan Ouwyang Bun bahwa mereka adalah putera Ouwyang-wangwe dan ia teringat akan kedua anak kembar yang dulu diculik penjahat. Akhirnya ia tidak ragu-ragu lagi dan lari menubruk kedua anak muda itu.
“Ah, kongcu, benar-benarkah kalian yang datang ini? Sudah lupakah padaku? Aku A-ngo yang dulu sering bermain-main dengan jiwi.”
Ouwyang Bun masih ingat ketika mendengar nama ini, maka ia pegang tangan orang tua itu dengan girang sekali. “A-ngo, benar-benar kau berhadapan dengan kami berdua. Mana ibu?”
Dengan air mata mengalir saking gembiranya, Tan Ngo lalu menarik-narik tangan kedua anak muda itu menuju ke dalam. Di sepanjang jalan menuju ke kamar majikannya, tiada hentinya ia berteriak-teriak. “Kedua kongcu datang kedua kongcu pulang.”
Nyonya Ouwyang yang sedang duduk di dalam kamarnya, mendengar teriakan ini, tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya. Ia berdiri dengan muka pucat dan sekali saja memandang kedua anak muda itu, tahulah ia bahwa mereka benar-benar puteranya. Kedua tangannya diulurkan ke depan, bibirnya bergerak-gerak tapi tak mengeluarkan sepatah katapun, sedangkan air mata yang membanjir turun dari kedua matanya dan membasahi pipinya yang masih putih halus itu bicara dalam seribu bahasa.
Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu melihat wanita setengah tua yang masih cantik itu, untuk sesaat menahan kedua kaki mereka dan mengumpulkan semua ingatan. Ouwyang Bun yang teringat lebih dulu, segera lari diikuti oleh Ouwyang Bu. Mereka berdua menjatuhkan diri berlutut di depan ibu mereka dan menyebut,