Halo!

Sepasang Pendekar Kembar Chapter 03

Memuat...

Tanpa menanti jawaban, si Raja Pengemis itu telah bersilat mengimbangi permainan Lui Kok Pauw. Raja Pengemis ini bersilat Tat-mo-kun-hoat yang cukup kuat dan lihai hingga sebentar saja tubuh mereka berdua Berkelebatan ke sana ke mari, makin lama makin cepat hingga membikin kabur mata para penonton yang tak begitu pandai dalam hal ilmu silat. Ketika kedua lengan mereka bertemu untuk pertama kali, keduanya maklum bahwa tenaga dalam mereka seimbang.

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu diam-diam kagum juga melihat kelihaian mereka dan dua orang pemuda yang berkepandaian tinggi dan bermata tajam inipun tahu bahwa dalam hal ilmu silat, Lui Kok Pauw lebih menang setingkat, tapi kekalahan si Raja Pengemis itu tertutup dengan kemenangannya dalam ginkang. Memang Bhok Sun Ki memiliki ginkang luar biasa dan tubuhnya sampai hampir tak terlihat lagi karena cepatnya ia bergerak.

Setelah bertempur seratus jurus, keduanya makin panas dan penasaran karena belum juga dapat keluar sebagai pemenang. Sebenarnya Lui Kok Pauw tidak hendak melanjutkan perkelahian yang tadinya hanya bersifat main- main ini, tapi karena Bhok Sun Ki yang sudah memiliki nama besar dan terkenal sebagai seorang tokoh tingkat tinggi, kini tak dapat menjatuhkan seorang muda, merasa penasaran dan malu sekali hingga Raja Pengemis itu kini tidak main-main lagi, tapi berkelahi dengan sungguh- sungguh dan melancarkan serangan-serangan dan pukulan- pukulan maut. Tentu saja Lui Kok Pauw tahu dan merasa pula, maka iapun terpaksa mengeluarkan ilmu simpanannya dan kini setiap serangan dilakukan dengan tenaga lweekang sepenuhnya hingga sangat berbahaya bagi keduanya.

Pada suatu saat, Bhok Sun Ki menyerang hebat dengan tangan kanannya. Karena serangan ini cepat sekali, Lui Kok Pauw menangkis dan berbareng mencengkeram tangan lawan itu. Ternyata maksudnyapun sama dengan maksud Bhok Sun Ki, karena ternyata pukulan si Raja Pengemis itu lalu diubah menjadi pukulan Eng-jiauwkang (Pukulan Cakar Garuda). Maka secara tepat dan cepat sekali kedua tangan kanan mereka saling mencengkeram dan saling memegang hingga jari-jari tangan mereka saling menggenggam. Karena gerakan ini dilakukan berbareng, maka kini mereka tak dapat melepaskan tangan lagi dan keduanya mengerahkan tenaga lweekang untuk menjatuhkan lawan. Tubuh mereka diam bagaikan patung, tangan kiri diacungkan ke atas dan kedua mata mereka saling pandang tak berkedip.

Melihat betapa kedua orang itu mengadu kepandaian dan lweekang hingga berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan sekali, semua orang menahan napas. Memang sukar bagi kedua pihak untuk mundur lagi, karena mengalah sedikit saja pasti akan mendapat luka dalam yang berbahaya. Adu tenaga dalam itu telah mendatangkan peluh di jidat kedua orang itu dan napas mereka telah terdengar terengah-engah.

Pada saat itu, Ouwyang-hengte yang sudah bersepakat, tiba-tiba meloncat dengan gerakan lincah dan ringan ke atas panggung. Ouwyang Bun turun di dekat Raja Pengemis, sedangkan adiknya turun di dekat Lui Kok Pauw. Keduanya berseru,

“Maaf.” dan cepat sekali mereka keduanya menggunakan tangan kanan untuk menotok pergelangan tangan masing-masing dan cepat membetot tubuh mereka ke belakang. Baik Bhok Sun Ki, maupun Lui Kok Pauw ketika tertotok merasa tenaga mereka lenyap dan tangan mereka lumpuh tak bertenaga, maka mudah saja keduanya ditarik ke belakang hingga terlepaslah genggaman masing- masing. Sekali lagi Ouwyang Bun dan adiknya menjura kepada dua orang itu dan Ouwyang Bun berkata merendah, “Mohon dimaafkan bahwa siauwte berdua lancang tangan memisah, karena dua harimau bergulat, pasti akan ada yang terluka. Bukankah hal itu sayang sekali?”

Sehabis memisah dua orang gagah yang bertanding mati- matian tadi, kedua saudara Ouwyang itu cepat meloncat turun dan duduk kembali ke tempat mereka semula. Diam- diam Bhok Sun Ki dan Lui Kok Pauw merasa kagum akan kecerdikan kedua anak muda itu, dan merasa malu kepada diri sendiri yang telah melupakan maksud semula bahwa mereka bertanding hanya untuk main-main dan meramaikan pesta saja. Bhok Sun Ki si Raja Pengemis lalu menjura sambil berkata,

“Lui-sicu, sungguh kau gagah perkasa dan aku orang tua takluk padamu. Kau benar-benar patut disebut enghiong sejati, hohan yang berjiwa patriot.”

Lui Kok Pauw buru-buru membalas penghormatan itu dengan merendahkan diri dan berkata, “Sebaliknya siauwte merasa mendapat kehormatan besar sekali karena hari ini telah berkenalan dengan keulungan lo-enghiong, dan mendapat kenyataan bahwa lo-enghiong juga berjiwa patriot sejati. Atau, apakah siauwte salah raba?” ia memancing untuk mengetahui pendirian orang tua gagah itu.

Si Raja Pengemis tertawa gelak-gelak. “Apakah sicu hendak samakan aku orang tua sebagai segala macam orang pengekor seperti Cin Cun Ong dan para begundalnya?”

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu terkejut mendengar kata-kata ini, dan mereka memandang kepada pengemis itu dengan mata marah. Cin Cun Ong adalah seorang panglima besar dan menjadi susiok mereka, mengapa kini dimaki-maki oleh raja pengemis itu? Sebaliknya, Lui Kok Pauw menjadi girang sekali, biarpun ia merasa agak heran akan keberanian orang memaki panglima itu di depan orang banyak.

Lui Kok Pauw tentu tidak tahu bahwa sebagian besar orang-orang gagah yang duduk di situ semua merasa simpati dan setuju akan pemberontakan yang dipimpin oleh seorang gagah perkasa bernama Lie Cu Seng yang terkenal. Orang gagah ini memimpin barisan besar sekali yang terdiri dari kaum tani dan jembel yang telah merasa cukup banyak menderita karena tindasan dan perasan para pembesar- pembesar busuk di bawah pemerintahan kaisar yang lalim. Memang harus diakui bahwa pemberontakan yang dicetuskan oleh Lie Cu Seng ini tidak banyak mendapat sambutan dari para orang gagah yang kebanyakan hanya peluk tangan dan bersikap masa bodoh saja, walaupun di dalam hati mereka bersimpati. Akan tetapi tidak sedikit orang-orang gagah di utara dan timur dengan aktif membantu pergerakan ini hingga lambat-laun barisan Lie Cu Seng makin besar dan kuat saja, apalagi karena pergerakan ini dibantu oleh rakyat jelata yang memberi ransum dan makan dengan suka rela kepada mereka.

Kini mendengar betapa Bhok Sun Ki memaki-maki Cin Cun Ong, seorang panglima yang terkenal gagah dan banyak membasmi kaum pemberontak, mereka itu bersikap dingin saja, dan tidak ambil perduli. Akan tetapi, Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu merasa marah sekali, biarpun mereka masih menahan-nahannya. Lebih-lebih Ouwyang Bu, ketika mendengar susioknya yang dipuji oleh suhunya itu dimaki orang, hampir saja tak dapat menahan kemarahan hatinya dan hendak melompat ke atas panggung kalau saja tidak ditahan oleh kakaknya yang lebih sabar. Lui Kok Pauw tertawa senang mendengar kata-kata si Raja Pengemis itu. “Bagus, bagus. Sungguh senang bertemu dengan orang-orang gagah yang berhaluan mulia. Memang, pengekor-pengekor macam orang she Cin itu dan kaki tangannya, kalau bukan orang-orang gagah macam kita yang membasminya, siapa lagi? Lo-enghiong, mengapa kau tidak cepat-cepat menggabungkan diri dengan kami dari utara? Waktunya kini telah tiba untuk membebaskan rakyat dari hidup sengsara.”

“Sicu berada di bawah pimpinan siapakah?”

“Siapa lagi kalau bukan Thio Sian Tiong enghiong yang bijaksana dan gagah perkasa?”

Mendengar bahwa orang she Lui itu adalah seorang anak buah dari barisan pemberontak Thio Sian Tiong, terkejutlah semua orang dan mereka menaruh perhatian besar. Sementara itu, Ouwyang Bu yang sudah tak dapat menahan sabarnya lagi, meloncat sambil memaki,

“Bangsat pemberontak jangan kau lancang mulut.”

Lui Kok Pauw dan Bhok Sun Ki terkejut karena melihat bahwa yang meloncat ke panggung dengan muka merah, ini adalah seorang dari kedua pemuda yang tadi memisah mereka. Belum hilang kaget mereka, seorang pemuda lain melompat menyusul dan kini kedua pemuda yang bermuka sama benar itu telah berdiri menghadapi mereka. Karena tindakan ini, maka sepasang saudara kembar ini jelas kelihatan oleh semua orang yang memandang dengan bingung dan heran. Sungguh kedua pemuda itu sama benar bentuk dan rupanya. Ketika kedua pemuda ini tadi naik ke panggung dan memisah kedua jago yang sedang bertempur, mereka bergerak cepat dan tidak lama tinggal di atas panggung hingga tidak menarik perhatian orang. Juga, gerakan-gerakan mereka yang cepat tadi tak terlihat oleh sebagian besar para tamu hingga mereka tidak menaruh perhatian karena menyangka bahwa pemuda itu hanya memisah dengan mulut saja.

Bhok Sun Ki si pengemis membentak. “He, anak muda, siapakah yang kau maki pemberontak tadi?”

“Siapa lagi kalau bukan kalian berdua? Kalian pemberontak-pemberontak rendah pengacau negara sungguh berani mati menghina Cin-ciangkun di muka umum. Agaknya kalian telah bosan hidup.” Ouwyang Bu membentak.

Lui Kok Pauw lalu maju dan menjura. “Jiwi ini sungguh anak-anak muda yang aneh. Tadi kalian bersikap sebagai sahabat, tapi kini tahu-tahu memusuhi kami. Sebenarnya siapakah jiwi dan mengapa melarang kami memaki-maki pembesar pengkhianat yang menjadi penjilat kaisar lalim itu?”

“Bangsat bermulut lancang.” Ouwyang Bu memaki, tapi kakaknya lalu berkata kepada Lui Kok Pauw.

“Saudara adalah seorang yang berkepandaian, dan bukanlah urusan kami kalau kau hendak berlaku sesat dan ikut-ikut dengan para pemberontak yang kejam dan ganas. Akan tetapi, kami berdua Ouwyang-hengte tentu saja takkan tinggal diam mendengar susiok kami dimaki-maki orang. Ketahuilah, kami berdua adalah murid-murid kemenakan Cin-ciangkun, dan kami berdua hendak membantu susiok membasmi para pemberontak dan pengkhianat yang mencelakakan rakyat jelata.”

Post a Comment