Halo!

Sepasang Pendekar Kembar Chapter 02

Memuat...

Ia didik dan ia gembleng kedua anak kembar itu sampai delapan tahun lebih hingga kini mereka telah berusia delapanbelas tahun dan telah memiliki kepandaian silat yang tinggi sekali, karena boleh dibilang mereka telah mewarisi delapan bagian dari seluruh kepandaian Pat-jiu Lo-mo Si Iblis Tua Tangan Delapan. Biarpun muka kedua orarfg pemuda itu serupa benar, namun ternyata perangai mereka berbeda jauh. Ouwyang Bun berwatak pendiam, halus tutur sapanya, dan cerdik penuh akal. Sebaliknya Bu, adiknya, beradat keras, suka terus terang, jujur dan tak begitu mengindahkan adat sopan santun, pula mudah sekali marah. Hanya baiknya anak muda yang keras hati ini sangat cinta dan taat kepada kakaknya, hingga Ouwyang Bun yang lebih cerdik dan halus dapat menguasai dan mengendalikan adiknya itu. Ketika Pat-jiu Lo-mo Ang In Liang, suhu mereka menerima undangan dari Gak Liong Ek, kebetulan sekali jago tua ini merasa bahwa sudah tiba waktunya bagi kedua muridnya untuk turun gunung dan mempraktekkan semua kepandaian yang telah dipelajarinya di atas gunung dengan tekun dan bersusah payah. Oleh karena itu, maka ia mengutus kedua muridnya itu untuk mewakili dia menghadiri pesta perayaan Gak Liong Ek, agar mereka dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang pandai di dunia kang-ouw.

Selain menyuruh mereka mengunjungi pesta Gak Liong Ek, juga Iblis Tua Tangan Delapan itu memberi pesan dengan kata-kata bersemangat,

“Kalian boleh pergi mencari orang tuamu yang telah kauketahui terang nama dan tempat tinggalnya. Tapi yang terpenting sekali, aku minta kepada kamu berdua supaya menunjukkan kepada dunia bahwa kamu berdua adalah laki-laki bersikap jantan dan gagah yang tidak sia-sia belajar silat dengan tekun di sini. Ketahuilah bahwa negara sedang terancam oleh serangan-serangan para pemberontak dari utara. Siapa lagi yang akan membela negara selain putera- puteranya seperti kalian berdua? Dengan demikian, maka tidak percuma pula aku mendidik kalian sampai bertahun- tahun. Setelah kamu berdua bertemu dengan orang-tuamu., maka pergilah ke Pak-thian dan carilah seorang panglima perang bernama Cin Cun Ong yang memimpin barisan besar menindas para pemberontak di daerah utara. Ketahuilah bahwa Cin Cun Ong ini adalah susiokmu sendiri. Kalian berikan surat dariku dan kalian harus membantu dia menumpas para pemberontak pengacau negara. Bunuhlah sebanyak-banyaknya para pengkhianat negara itu, sepuas hatimu. Tapi berlakulah waspada dan hati-hati karena di antara mereka banyak terdapat orang- orang pandai.”

Tentu saja kedua saudara Ouwyang ini menerima pesan suhu mereka dengan taat. Mereka menerima masing- masing sebatang pedang, dan setelah menyimpan surat suhunya untuk diberikan kepada panglima Cin Cun Ortg kelak dan berpamit, keduanya lalu turun gunung.

-Ooo-dw-ooO-

Tak lama kemudian, ruang yang sengaja disediakan untuk para tamu di rumah Gak Liong Ek, telah penuh dengan tamu. Tempat tuan rumah yang agak tinggi kini telah penuh tamu pula, yakni orang-orang tua yang ganjil pakaian dan bentuk tubuhnya dan beberapa orang yang berpakaian seperti pembesar. Karena ingin sekali kenal siapakah adanya para locianpwe yang mendapat kehormatan di kursi tinggi itu, Ouwyang Bun bertanya kepada orang-muda lain yang duduk di dekatnya. Orang muda itu berpakaian sebagai seorang ahli silat juga dan mendengar pertanyaan itu, ia merasa girang dan bangga sekali. Dengan menunjukkan bahwa ia telah kenal semua cianpwe itu, seakan-akan ia telah membanggakan pengalamannya hingga orang dapat menduga bahwa iapun memiliki kepandaian tinggi.

Ia menggunakan jarinya menunjuk dari kiri ke kanan sambil memperkenalkan, “Yang duduk di ujung kiri, tubuhnya bongkok kurus, rambutnya panjang diikatkan ke atas dan berpakaian seperti tosu itu adalah Kin Keng Tojin, tokoh dari Go-bi-san. Kedua dari kiri, hwesio gundul bertubuh gemuk pendek itu adalah Cin Kong Hwesio dari kelenteng Hok-po-tong, di mana ia menjadi ketuanya. Ketiga adalah Bhok Sun Ki dan dari pakaiannya yang penuh tambal an itu kau dapat menduga bahwa dia adalah seorang pengemis, tapi bukan sembarang pengemis karena julukannyapun Raja Pengemis. Lima orang tua berikutnya yang berpakaian petani adalah tokoh-tokoh terkenal, karena mereka ini tidak lain ialah Ki-lok Ngo-koai atau Lima Setan Tua dari Ki-lok. Hanya delapan loeianpwe itulah yang berkepandaian setingkat dengan Gaklo-enghiong, sedangkan yang lain berada di bawah tingkatnya.”

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu memandang mereka yang dipuji-puji itu dengan kagum. Mereka menduga-duga sampai di mana kehebatan dan keunggulan mereka ini. Apakah mereka ini lebih hebat daripada gurunya? Demikian kedua saudara Ouwyang ini berpikir.

Pada saat itu para tamu sudah banyak yang setengah mabok karena arak wangi yang dihidangkan itu benar-benar keras dan simpanan lama. Dari rombongan anak-anak muda mulai terdengar suara-suara keras dan tertawa-tawa bebas dan berani, hingga Ouwyang Bun berdua adiknya beberapa kali menengok. Tiba-tiba seorang yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun dan duduk di tengah-tengah di antara kaum muda, berdiri dan mengacungkan cawan araknya ke arah tuan rumah, lalu berkata dengan suara lantang,

“Gak-lo-enghiong yang gagah dan dipanggil Hui-liong (Naga Terbang), sungguh-sungguh telah menghibur kita dengan arak baik dan hidangan lezat. Sayangnya tidak ada sesuatu pertunjukan yang menarik hati, kecuali suara musik yang membosankan. Para locianpwe yang mendapat tempat terhormat, apakah tidak hendak turun tangan sekedar membantu meramaikan pesta dan membalas budi tuan rumah?”

Semua orang-orang tua yang duduk di dekat tuan rumah saling pandang, ada yang memandang marah, ada pula yang geli dan menganggap pemuda itu sudah mabok dan mengoceh tak keruan.

“Ha-ha.” pemuda itu tertawa, “kalau begitu percuma saja tuan rumah menyediakan tempat khusus untuk para locianpwe yang gagah. Nah, Gak-lo-enghiong, biarlah siauwte minum arak ini untuk keselamatanmu.” Terpaksa Gak Liong Ek sambil tertawa menyambut ucapan selamat ini dengan mengangkat cawan araknya pula.

Kemudian anak muda itu berkata pula, “Sekarang, kalau para locianpwe tidak ada yang sudi turun tangan biarlah siauwte yang muda dan bodoh meramaikan pesta ini dengan pertunjukan sedikit kepandaian silat. Harap jangan ditertawakan, karena memang siauwte masih bodoh. Lihat, tempatkupun di rombongan ini, bukan di atas.”

Terang sekali ia menyindir tuan rumah dan para locianpwe, dan setelah meletakkan cawan arak kosong di atas meja, orang itu dengan sekali gerakan tangan, tahu- tahu tubuhnya telah melayang dan meloncat ke panggung yang cukup luas di tengah-tengah ruangan itu. Panggung ini memang sengaja dibangun untuk para penari dan penyanyi, juga karena Gak Liong Ek adalah seorang dari kalangan persilatan, ia sengaja menyediakan tempat ini kalau-kalau ada pertunjukan silat.

Gerakan yang didemonstrasikan oleh pemuda berbaju biru itu memang cukup gesit hingga Ouwyang-hengte (kakak beradik Ouwyang) diam-diam memuji.

Setelah berada di atas panggung, si baju biru lalu memberi tanda kepada para pemukul gamelan untuk menghentikan permainan mereka. Kemudian ia menjura ke arah tuan rumah, lalu ke seluruh penjuru.

“Cuwi sekalian yang mulia. Mungkin cuwi belum pernah mendengar namaku dan belum mengenal siauwte, memang siauwte bukanlah orang gagah yang terkenal. Baiklah siauwte memperkenalkan diri, nah aku Lui Kok Pauw dan terus terang saja siauwte mengaku bahwa siauwte ikut menghadiri pesta ini semata-mata karena kagum akan nama Gak-lo-enghiong, bukan atas undangan. Oleh karena itu, karena aku bukanlah seorang yang hendak makan hidangan orang begitu saja tanpa membayar, biarlah sekarang siauwte bayar makanan dan hidangan itu dengan meramaikan dan menggembirakan pesta ini. Kalau kiranya di antara para locianpwe ada yang merasa bergembira untuk menemani siauwte bermain-main, hal itu akan baik sekali.”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang tinggi dan nyaring dari arah para locianpwe. Ternyata yang tertawa itu adalah si Raja Pengemis Bhok Sun Ki. Dari suara tertawa ini saja dapat diketahui bahwa khikangnya sudah matang dan tentu kepandaiannya juga tinggi sekali.

“Lui-sicu.” katanya kepada si baju biru di atas panggung, “kalau aku tidak salah ingat, namamu sangat terkenal di antara tokoh-tokoh dari utara. Cobalah perlihatkan kepandaianmu dulu untuk kulihat apakah cukup berharga untuk bermain-main dengan aku orang tua.”

Lui Kok Pauw terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa pengemis jembel itu mengenalnya, maka iapun menjura dan berkata, “Lo-enghiong yang gagah menyembunyikan kepandaian tinggi di dalam tubuh yang dibungkus kain-kain lapuk penuh tambalan. Bukankah julukan lo-enghiong ini Kai-ong si Raja Pengemis?”

Kini Bhok Sun Ki yang kaget karena ternyata Lui Kok Pauw bermata tajam. “Ha-ha, Lui-sicu, kaupun bukan orang bodoh sembarangan saja. Lekas perlihatkanlah beberapa gerakanmu, sudah gatal-gatal tanganku untuk menerima sedikit pengalaman darimu.” Lui Kok Pauw adalah seorang jago muda yang namanya telah menggemparkan daerah utara. Dia adalah murid langsung dari Keng-an-san dan memiliki ilmu silat campuran dengan ilmu silat dan gumul dari Mongolia. Sebenarnya, orang she Lui ini adalah seorang di antara para tokoh pemberontak yang bergerak di sepanjang tembok besar dan berusaha menjatuhkan pemerintahan kaisar yang pada waktu itu berkuasa. Dan kini Lui Kok Pauw datang ke situ bukanlah semata-mata hendak menghadiri pesta, tapi juga hendak mengumpulkan kawan-kawan sepaham dan membujuk orang-orang kang-ouw untuk membantu pergerakan kawan-kawannya.

Untuk inilah, sengaja ia hendak memperlihatkan kepandaiannya agar menarik perhatian para orang gagah. Ia lalu gerakkan kedua kaki dan tangannya dan memainkan Pek-wan-kun-hoat (Ilmu Silat Lutung Putih) yang eepat dan gesit karena tiap-tiap pukulan diakhiri dengan tangkap dan cengkeraman serta tiap pukulan lalu dirobah dengan serangan lain yang tak terduga datangnya. Baru beberapa jurus saja ia bersilat, para locianpwe yang duduk dekat tuan rumah maklum sudah bahwa orang she Lui yang baru berusia paling banyak tigapuluh tahun itu memang memiliki kepandaian tinggi dan merupakan lawan yang sukar ditandingi.

Melihat gerakan-gerakan Lui Kok Pauw yang aneh itu, timbullah kegembiraan Bhok Sun Ki untuk mencobanya. Sekali menggerakkan kaki ia telah sampai di atas panggung itu dan berkata,

“Lui-sicu. Namamu bukan kosong melompong, kau ternyata memang mempunyai isi yang baik juga. Mari kita bermain-main sebentar.”

Post a Comment