Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita Chapter 13

Memuat...

"Baiklah, ia akan kutinggalkan saja di sini." akhirnya dia berkata dengan suara bernada menyesal dalam hati.

"Bunuh saja, agar kelak tidak mendatangkan kepusingan." kata Gan Tek Un.

"Benar, me mbas mi tanaman beracun harus sa mpa i ke akar- akarnya." sambung Louw Ti.

Akan tetapi, hati Koo Cai Sun yang mempunyai rasa sayang kepada Cui Hong, merasa tidak tega. "Apakah kalian merasa takut kepadanya? Lihat, ia hanya seorang gadis yang tidak berdaya. Mau bisa apakah ia terhadap kita? Biarlah, biarkan ia di sini dan kita lanjutkan perjalanan kita." "Tapi, kelak. " Louw Ti me mbantah.

"Louw-toako, tidak kita bunuh juga ia akan mati sendiri. Hutan ini penuh dengan binatang buas. Biarlah ia mati dimakan binatang buas. Terus terang saja, setelah menikmati dirinya, aku tidak tega melihat ia terbunuh." jawab Koo Cai Sun.

"Mari kita berangkat!"

Tiga orang jagoan itu lalu berangkat meninggalkan tempat itu, meningga lkan Cui Hong yang masih le mas bersandar pohon. Mereka tidak tahu bahwa biarpun kelihatan seperti orang setengah mati, yang seperti kehilangan se mangatnya, namun sesungguhnya, semangat Cui Hong masih menyala- nyala. Bahkan kekerasan hatinya menekan penderitaannya yang dialami tubuh dan batinnya, yang kadang-kadang me mbuat ia ingin mati saja. Kekerasan hatinya yang menentang ini. Ia harus hidup! Ia harus hidup terus agar kelak ia dapat membalaskan se muanya ini! Ia harus hidup, biarpun semata-mata untuk dendamnya! Ia tidak mau mati sebelum dapat me mbalas dendam kebencian hatinya terhadap e mpat orang, yaitu Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, Gan Tek Un, dan Louw Ti! Ia harus hidup, dan kalau ia sudah memiliki kese mpatan, ia akan mengejar e mpat orang itu, biar sa mpai ke neraka sekalipun!

Karena itu, Cui Hong tahu dan sadar betapa tiga orang itu berbantah dan kemudian men inggalkannya. Senyum kemenangan mulai menghias bibirnya yang pucat dan berdarah. Ia berdarah di mana- mana. Bahkan bibirnya luka- luka bekas gigitan, juga lehernya, dadanya, mereka itu telah bertindak melebihi binatang-binatang buas terhadap dirinya!

Setelah tiga orang itu pergi menunggang kuda, terjadilah ketegangan luar biasa dalam hati Cui Hong. Bagaimana kalau mereka itu mengubah p ikiran dan mereka kembali lagi? Setiap ada suara, hatinya terguncang keras, takut kalau-kalau mereka bertiga, atau seorang di antara mereka, ke mbali lagi. Jalan darahnya mulai norma l kembali dan lewat dua tiga jam ke mudian, totok-an pada tubuhnya mencair dan ia dapat bergerak kembali. Pertama-ta ma yang dikerjakannya adalah bangkit berdiri, me mandang ke kanan kir i dan berindap-indap pergi dari tempat itu secepat mungkin, untuk menye mbunyikan diri karena khawatir kalau-kalau tiga orang itu akan datang kembali. Setelah ia berhasil menyusup-nyusup me lalui pohon-pohon dan semak-se ma k belukar, akhirnya ia menjatuhkan diri ke atas rumput tebal di balik se mak be lukar. Dipegang-pegangnya kaki tangannya, kepalanya, tubuhnya, ia masih hidup dan inilah yang terpenting. Ia masih hidup! Tapi ayahnya dan suhengnya sudah mati.

"Ayahhh...............! Suheng..........!" Ia mengeluh dan menang islah Cui Hong. Teringat ia akan ayahnya dan bahwa kini ia hidup sebatangkara, seorang diri, dalam keadaan seperti itu. Ayahnya dibunuh orang, suhengnya atau tunangannya juga dibunuh orang. Dan ia dinodai, diper mainkan dan dihina me la mpaui batas perike manusiaan. Cui Hong menang is, mengguguk akan tetapi ia masih berusaha agar tangisnya tidak mengeluarkan suara.

Ia harus dapat menyelamatkan diri. la harus hidup terus demi dendam! Ia harus dapat membalas se mua ini! Rasa duka yang amat berat menindih perasaannya dan membuat ia merasa lelah bukan main. Dan iapun terkulai dan roboh pulas, tertidur di balik se mak-se mak belukar. Tidur dalam arti yang sesungguhnya karena kelegaan hati terlepas dari cengkeraman musuh, karena kedukaan yang menghimpit. Tidur yang amat dibutuhkan badan dan batinnya, karena hanya tidurlah yang dapat menghapus segala duka.

0dw0

Kalau orang tidak me miliki batin yang kuat, apalagi seorang dara remaja seperti Cui Hong, setelah mengalami segala penderitaan lahir batin yang merupakan malapetaka amat hebatnya itu, mungkin saja orang itu akan menjadi gila. Penderitaan badan masih dapat dipertahankan, akan tetapi penderitaan batin seperti yang dialami Cui Hong itu terlalu hebat untuk dapat ditahan perasaan. Ayahnya dan tunangannya walaupun ia belum me miliki perasaan cinta kasih terhadap tunangannya itu, dibunuh orang di depan matanya. Dan ia sendiri diperkosa di depan mereka, diper mainkan dan dihina oleh e mpat orang yang kejam seperti iblis. Dan kini, ia berada seorang diri di dalam hutan, kehilangan segala- galanya, keluarganya, harta benda, kehormatannya.

Selama kurang lebih sepekan ia berkeliaran di dalam hutan. Rasa lapar di perutnya mendorongnya untuk mencari makanan. Buah-buahan, daun-daun muda, dan binatang kelinci dan ayam hutan menjad i makanannya. Akan tetapi yang amat parah menindih hatinya adalah perasaan dendam yang me mbuatnya putus asa. Bagaimana itu mungkin dapat me mba las sakit hati kepada e mpat orang itu? Pui Ki Cong adalah putera seorang jaksa, putera seorang pembesar yang dilindungi pasukan pengawal. Dan tiga orang musuh besar lainnya adalah Thian-cin Bu-tek Sa m-eng, tiga orang jagoan yang me miliki ilmu kepandaian silat tinggi. Apalagi ia sendiri, bahkan ayahnyapun tidak ma mpu menand ingi mereka. Bayangan inilah yang me mbuatnya putus asa. Dendam sakit hati amat mend idih, akan tetapi ia sadar bahwa ia tidak akan dapat membalas semua dendam itu. Kenyataan ini merupakan siksaan batin baginya dan berkali- kali ia menangis karena ini.

Betapa kita hidup ini terombang-a mbing oleh pikiran yang me lahirkan keinginan-keinginan, diper mainkan antara harapan dan keputusan, suka duka, cinta benci dan sebagainya. Apakah kita semua dilahirkan hanya untuk menjadi per mainan antara terang dan gelap ini? Tidakkah kita yang dilahirkan bukan atas kehendak kita sendiri ini berhak untuk men ikmati kehidupan ini? Mengapa kehidupan selalu penuh dengan duka dan hanya sedikit saja datang suka? Mengapa selalu datang kekecewaan yang mendatangkan duka? Kenapa kita selalu diganggu oleh keresahan, kemurungan, kemarahan yang men imbulkan kebencian? Mengapa terhadap segala pertentangan dan permusuhan dengan orang lain? Mengapa ketenteraman, kedamaian dan kebahagiaan hanya merupakan cahaya khayali yang menggapa i dari jauh tak pernah menjadi kenyataan?

Kita selalu lupa bahwa segalanya itu harapan dan keputusasaan, suka dan duka, cinta dan benci, kemarahan, kebencian dan sikap ber musuhan, kesemuanya itu tidaklah terpisah daripada batin kita sendiri. Kalau kita marah, maka kemarahan itulah kita! Segala maca m perasaan itu adalah d iri kita sendiri. Suka duka bukan datang dari luar walaupun dinyalakan dari keadaan luar. Suka duka adalah suatu keadaan diri kita sendiri, yang kita buat sendiri! Segala macam kebencian, kemarahan, segala maca m perasaan datang dari pikiran, datang dari "aku" yang selalu me mperhatikan dengan dasar rugi untung.

Kalau se mua datang dar i ingatan, dari pikiran, apakah kita lalu menghentikan pemikiran itu dan melupakan segala yang terpikir dan yang menimbulkan duka? Hal ini jelas tidak mungkin. Bagaimana kita bisa melarikan diri dari diri sendiri? Melarikan diri dari duka, dengan kewaspadaan, tanpa me muji atau mencela, tanpa me mbela atau menentangnya, maka kita telah me masuki dime nsi lain.

Pagi itu Cui Hong berkeliaran sa mpai jauh dari hutan di mana ia biasa tinggal semenjak ia terlepas dari cengkeraman tiga jagoan. Kalau ma lam tiba ia naik ke atas pohon dan tidur dengan aman di atas pohon, jauh dari jangkauan binatang buas. Pagi itu ia keluar dari hutan besar dan me masu ki hutan lain yang berada di lereng bukit. Hatinya diliputi kedukaan dan putus asa. Ingin ia mati saja, karena semakin dipikir, semakin hilang harapannya untuk dapat me mbalas denda mnya terhadap empat orang musuh besarnya. Beberapa kali malam tadi ia melepas ikat pinggangnya. Betapa mudahnya meng ikatkan ujung yang satu dari ikat pinggangnya pada dahan pohon yang didudukinya dan mengikatkan ujung yang lain pada lehernya lalu me loncat turun. Betapa mudahnya menghab iskan riwayatnya yang penuh duka itu. Namun, suara lain dari hatinya selalu menentang perbuatan itu. Sejak kecil ia dige mbleng kegagahan oleh ayahnya dan ia merasa betapa perbuatan itu amat pengecut sehingga ia merasa malu sendiri untuk me lakukannya.

Pagi itu ia berkeliaran dengan tubuh le mas, dengan langkah gontai tanpa tujuan. Kalau ada orang mengenal Cui Hong sebelum malapetaka itu, tentu dia akan terkejut dan sukar baginya untuk mengenal kembali gadis ini. Dulu, Cui Hong adalah seorang dara remaja berusia lima belas tahun lebih yang manis, lincah ge mbira, dengan sepasang mata me mancarkan gairah hidup penuh se mangat, dan sebuah mulut yang selalu tersenyum cerah, seorang dara yang me miliki lenggang tegap dan mengga irahkan. Akan tetapi sekarang, perempuan yang berkeliaran di hutan itu sungguh merupakan pe mandangan yang menyedihkan. Kemudaannya tidak na mpak lagi, bagaikan setangkai bunga yang layu karena kekeringan. Rambutnya yang hitam panjang itu kusut masai, sebagian menutupi mukanya yang amat pucat. Sepasang mata yang biasanya penuh gairah hidup itu kini na mpa k sayu tidak bercahaya, seperti lampu yang kehabisan minyak, kadang- kadang me mandang kosong ke tempat jauh mene mbus pohon dan kadang-kadang seperti mata orang yang mengantuk. Mata yang biasanya jeli itu kini agak kemerahan, dan mulut yang biasanya segar kemerahan penuh senyum itu kini kepucatan dan me mbayangkan kepedihan hati. Tubuhnya yang bagaikan bunga baru mulai mekar itu nampak kurus dan layu.

Selagi Cui Hong melangkah tanpa tujuan, dengan hati kosong dan penuh duka, tiba-tiba mendengar suara orang bernyanyi. Otomatis langkah kakinya terhenti dan ia menyelinap di balik sebatang pohon besar, mengintai ke depan. Tidak nampak ada orang, akan tetapi suara laki-laki itu bernyanyi itu terdengar jelas dari depan. Mungkin orangnya berada di balik se ma k-semak belukar yang menghadang di depan. Cui Hong me mperhatikan kata-kata orang itu yang terdengar lantang dan jelas.

"aku bebas ,

tak ingin tak harap tak duka tak suka tak lebih tak kurang

tak kir i - tak kanan.........

apa ke marin sudah lalu

mengapa sesal - mengapa kecewa tiada guna.....

sekarang sadar - sekarang ubah

sekarang baru - sekarang benar sekarang bebas.........

apa ke mudian - hanya akibat bukan

urusanku sekarang benar - esokpun benar mengapa harap - mengapa ingin

apa la munan - apa impian tiada guna......

Post a Comment