Berdebar jantung Cui Hong dan seluruh tubuhnya terasa menggigil. Rasa ngeri dan takut menyerangnya dan ketika Ki Cong mendekapnya dan menciuminya, iapun terkulai dan roboh pingsan. Ia tidak tahu apa-apa lagi, tidak merasakan apa-apa lagi seperti orang pulas atau mati.
Nafsu birahi timbul karena gambaran pikiran. Tanpa adanya pikiran yang mengga mbarkan hal-hal yang ada hubungannya dengan nafsu berahi, maka nafsu itu t idak akan timbul begitu saja. Dan menurutkan nafsu birahi, tanpa dikendalikan kebijaksanaan dan kesadaran akan me mbuat seseorang menjad i ha mba nafsu berahi. Dan celakalah badan dan batin kalau orang sudah menjad i hamba nafsu. Nafsu apa saja, termasuk nafsu berahi. Dalam cengkera man nafsu, orang akan lupa diri dan sanggup melakukan apa saja, bahkan kadang- kadang me lakukan hal-hal yang me langgar segala hukum kemanusiaan atau kesusilaan, kadang-kadang malah mengarah kepada perbuatan keji dan kejam sekali, tanpa me mperdulikan keadaan orang lain, yang terpenting adalah me menuhi dorongan hasrat untuk me muaskan nafsu sendiri yang mendesak-desak.
Dendam me mbuat seseorang dapat melakukan kekeja man yang luar biasa. Dendam adalah nafsu kebencian, dan seperti juga nafsu berahi, sekali orang dicengkera m, ma ka orang itu akan menjad i boneka, menjadi ha mba daripada nafsunya sendiri. Pui Ki Cong menaruh dendam kebencian yang cukup menda lam terhadap Cui Hong. Mula- mula karena dia kecewa bahwa hasrat hatinya tidak mendapat sa mbutan. Kemudian dia merasa dihina oleh gadis itu, dan terutama sekali merasa tersinggung rasa harga dirinya oleh semua penolakan dan penghinaan itu. Apalagi setelah berkali-kali dia gagal, bahkan hampir celaka di tangan Cui Hong. Rasa suka karena dorongan birahi berubah men jadi kebencian, dendam kebencian yang amat besar. Kebencian men imbulkan hasrat ia melihat orang yang dibencinya itu menderita sehebat-hebatnya. Dendam kebencian hanya dapat dipuaskan kalau me lihat orang yang dibencinya itu menderita hebat. Karena dirinya dicengkeram dua maca m nafsu yang amat berbahaya itu, nafsu birahi dan nafsu kebencian, maka perbuatan Ki Cong terhadap diri Cui Hong sungguh d i luar batas perike manusiaan. Segalanya tidak dipantangnya untuk dilakukan terhadap Cui Hong, untuk dapat menghina sehebat-hebatnya, untuk dapat memuaskan hasrat hatinya sedalam-dalamnya.
Begitu siuman dari pingsannya dan mendapatkan dirinya ternoda, tanpa mengeluh atau menangis, Cui Hong pingsan lagi. Berulang kali ia sadar dan pingsan lagi, dan akhirnya ia hanya rebah terlentang seperti mayat, pandang matanya kosong ditujukan ke langit-langit kamar itu dan ia sama sekali tidak perduli lagi akan dirinya, sama sekali tidak menghiraukan lagi apa yang akan terjadi dengan dirinya. Bahkan ia hanya me mandang kosong ketika Ki Cong men ggodanya dengan kata-kata, dengan perbuatan, seolah-olah semua itu hanya terjadi dalam mimpi buruk. Ia hanya menanti datangnya saat terbangun dari tidur agar mimpi buruk itu dapat terhenti. Akan tetapi mimpi buruk itu berkelanjutan dan tak pernah terhenti, baru berhenti kalau ia tenggelam kembali ke dalam ketidaksadaran! Wajah Ki Cong terukir di dalam lubuk hatinya, tanpa disadarinya. Wajah seorang laki-laki yang kemerahan, penuh peluh, yang matanya kemerahan, hidungnya kembang- kempis, mulutnya dengan bibir pecah menjendo l itu terengah- engah. Ia takkan pernah melupakan wajah itu!
Cui Hong lupa segala. Lupa akan waktu. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tersiksa di dalam kamar itu. Ia tidak ingat apa-apa lagi t idak tahu bahwa sudah sehari se ma lam ia tersiksa secara me la mpaui batas itu. Ki Cong juga lupa diri. Hanya berhenti menyiksa gadis itu untuk makan dan minum, yang diantarkan oleh seorang pengawal. Kini hatinya tenteram dan dia boleh me lakukan apa saja tanpa gangguan karena tiga orang jagoan itu berada tak jauh dari kamarnya. Di kamar sebelah, selalu siap melindunginya.
Ki Cong agak mabok, terlalu banyak minum arak. Diha mpirinya gadis itu dan dituangkannya arak dari cawan ke mulut Cui Hong yang setengah terbuka. Gadis itu menelannya dan tersedak. "Heh-heh-heh, Cui Hong, manisku. Bagaimana, apakah sekarang engkau sudah tunduk dan takluk kepadaku? Ha-ha-ha.....!" Dia me nunduk untuk menc ium dengan buas.
"Brakkk......!!" Tiba-tiba daun pintu jebol dan dua laki-laki berloncatan masuk. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Ki Cong ketika dia melihat bahwa yang menjebo l daun pintu itu adalah guru silat Kim Siok dan Lu San!
"Tolooonggg......! Toloooongggg....!!" Dia berteriak-teriak ketakutan.
Pada saat itu, tiga bayangan orang berloncatan masuk sebelum Kim Siok dan muridnya terbelalak me mandang ke arah dipan di mana Cui Hong rebah seperti mayat itu dapat me lakukan sesuatu, tiga orang jagoan itu telah menerjang mereka. Kim Siok dan Lu San tadi berhasil melepaskan diri dari ikatan kaki tangan mere ka dengan susah payah, meroboh kan enam orang penjaga dan lari ke kamar itu. Sekarang, melihat tiga orang tangguh itu menerjang, mereka menga muk dan sekali ini mereka berkelahi seperti dua ekor harimau terluka. Mereka marah, benci dan sakit hati melihat keadaan Cui Hong sehingga mereka menjadi nekat, tidak me mperdulikan nyawa sendiri dan menerjang dengan ganas dan dahsyat.
- oo o 0dw0 ooo -
BIARPUN tingkat kepandaian tiga orang jagoan itu lebih tinggi, akan tetapi menghadapi amukan dua orang yang sudah nekad tanpa me mperdulikan keselamatan nyawa sendiri Nitu Bu-tek Sa m-eng menjad i kewalahan dan terpaksa mereka lalu menge luarkan senjata mas ing-masing dan akhirnya senjata- senjata mereka dapat merobohkan Kim Siok dan Lu San. Guru silat dan murid itu roboh dengan luka-luka parah dan pada saat itu Cui Hong yang selalu berada dalam keadaan setengah pingsan itu siuman dan melihat ayah dan suhengnya roboh mand i darah, ia me njerit.
"Ayaaaahhhh......!.” Dan gadis itupun menang is. Baru sekarang ia menangis, menangis karena me lihat ayahnya, bukan menang isi dirinya sendiri. Guncangan batin yang men impa dirinya lebih mendalam daripada tangis. Ia tidak lagi dapat menangisi diri sendiri, karena di dalam batinnya, sebagai akibat ma lapetaka yang menimpa dirinya, hanya terdapat dendam dan sekali lagi denda m!
Ki Cong yang kembali terlepas dari anca man maut itu, berdiri dengan muka pucat dan dia me mandang kepada Cui Hong, kepada Kim Siok dan Lu San dengan mata mengandung kemarahan besar. Dia me mang berhasil me mbalas dendam kepada gadis itu, berhasil memper mainkannya dan me mper kosanya sesuka hatinya. Akan tetapi dia sama sekali tidak men ikmati kepuasan dari pengalaman itu, bahkan semakin dia me maksakan kehendaknya, semakin terasa olehnya betapa gadis itu menolaknya sehingga dia terpaksa harus me mperkosanya. Dia merasa bosan harus memper kosa terus, sedangkan keadaan gadis itu lebih banyak mati daripada hidup, lebih sering pingsan daripada sadar.
"Phuhh! Keluarga setan!" Dia mengo me l. "Sa m-wi eng- hiong, kuserahkan gadis itu kepada kalian. Ambillah, aku tidak sudi lagi!" katanya dan diapun men inggalkan kamar itu untuk pergi ke ka marnya sendiri di gedung besar. Koo Cai Sun tertawa girang. "Ha-ha-ha, sungguh beruntung. Aku me mang kagum sekali kepada gadis ini!"
"Pui- kongcu menyerahkan kepada kita bertiga bukan, bukan kepada seorang!" tiba-tiba Gan Tek Un berkata dan matanya yang tajam itu menya mbar dingin.
Koo Cai Sun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, jangan khawatir, kawan. Gadis ini me mang menarik sekali dan amat tabah. Baiklah, kita bagi rasa. Engkau dan Louw toako boleh mendapat giliran lebih dulu, biar aku yang terakhir, ha-ha-ha!"
Gan Tek Un dan Louw Ti me mang tidak se mata keranjang Koo Cai Sun, akan tetapi merekapun bukan laki-laki yang alim. Melihat Cui Hong yang demikian muda dan demikian cantik man is, juga melihat sikap gadis itu yang amat tabah dan keras hati, mereka berduapun merasa tertarik sekali. Dan tiga orang jagoan ini me mang sudah biasa bersenang-senang bertiga, maka kini tanpa malu-malu lagi, tanpa banyak cakap lagi, Gan Tek Un la lu mengha mpiri pe mbaringan di mana Cui Hong masih terbelenggu kaki tangannya. Dengan jari-jari tangannya yang kuat, Gan Tek Un membikin putus belenggu-belenggu itu dan diapun merangkul dengan penuh nafsu.
Ketika merasa betapa kaki tangannya terbebas dari belenggu, Cui Hong la lu bergerak me mukul. Akan tetapi dengan mudah Gan Tek Un menangkap pergelangan kedua tangan gadis yang sudah lemas karena menderita lahir batin, juga sudah tiga hari tidak pernah ma u makan. Dan kemba li Cui Hong tidak ingat apa-apa lagi ketika Gan Tek Un mulai mende kapnya.
Dapat dibayangkan bagaimana perasaan hati Kim Siok dan Lu San menyaksikan betapa Cui Hong diperkosa orang di depan mata mereka. Biarpun mere ka berdua sudah terluka parah, akan tetapi kemarahan dan sakit hati me mbuat mereka ma mpu bergerak lagi dan mereka lalu meloncat ke atas, bangkit berdiri dan dengan tubuh berlumuran darah, dengan mata terbelalak penuh kebencian, merekapun menerjang ke arah manusia berhati binatang yang sedang memper ma inkan tubuh Cui Hong di atas pe mbaringan itu.
Akan tetapi sambil tertawa, Koo Cai Sun dan Louw Ti menyambut mereka dan dengan tendangan-tendangan tubuh Kim Siok dan Lu San terjengkang dan terbanting jatuh kemba li ke atas lantai. Mereka berusaha bangkit, akan tetapi kemba li dua orang jagoan itu menyusulkan tendangan-tendangan yang me mbuat mereka jatuh kembali. Koo Cai
Sun, Louw Ti tertawa-tawa, berdiri dan setiap kali dua orang yang sudah luka-luka itu hendak bangkit berdiri, mereka meroboh kannya ke mbali dengan tendangan-tendangan.
Gan Tek Un me loncat turun kembali dari pe mbar ingan. Wajahnya keruh karena ia merasa terganggu oleh dua orang yang sudah luka-luka itu. "Mereka lebih baik dibunuh saja agar kelak tidak mendatangkan banyak urusan," katanya dan kedua tangannya bergerak menyambar sepasang pedangnya. Nampa k sinar pedang berkelebat. Pada saat itu Cui Hong sudah siuman dan dia se mpat melihat betapa sepasang pedang itu menyambar dan mene mbus dada ayahnya dan suhengnya.
"Ayaaahhh......! Suhengggg......!" Dan iapun jatuh pingsan lagi.
Cui Hong t idak ingat apa-apa lagi, tidak tahu betapa tiga orang itu me mper mainkannya secara bergantian. Setiap kali sadar dari pingsannya, yang tampak hanyalah bayangan ayahnya dan Lu San yang mand i darah.
Jaksa Pui mendengar akan semua peristiwa itu. Setelah dua jenazah Kim Siok dan Lu San disingkir kan, jaksa Pui lalu me mbujuk t iga orang jagoan itu agar segera berangkat ke kota raja, me mbawa suratnya yang memperkenalkan mereka ke kota raja kepada seorang rekannya yang berpengaruh di sana.
"Sebaiknya kalau sa m-wi segera berangkat. Kini keadaan kota raja sedang kalut, dan membutuhkan bantuan tenaga- tenaga yang boleh dipercaya seperti sam-wi. Dan jangan lupa, kalau sam-wi pergi, bawa perempuan itu bersama sam-wi. Kalau ia ditinggalkan di sini, ia hanya akan me mbikin pusing saja."
Tiga orang jagoan itu mener ima hadiah-hadiah berupa masing-masing sekantung e mas, dan merekapun menerima masing-masing seekor kuda terbaik. Setelah menyimpan surat dari 3aksa Pui itu, Koo Cai Sun me mbawa Cui Hong yang le mas itu ke atas kudanya, dan diikuti oleh dua orang temannya, diapun berangkat pada pagi hari sekali menuju ke kota raja di utara.
Koo Cai Sun ternyata jatuh cinta atau me mpunyai rasa sayang kepada Cui Hong, maka ia tidak keberatan membawa gadis itu ke kota raja. Akan tetapi ketika mereka t iba di sebuah hutan, dan berhenti beristirahat di bawah pohon dalam hutan, Gan Tek Un me ncelanya. "Koo-toako, sungguh tidak baik sekali kalau me mbawa pere mpuan ini ke kota raja. Ia hanya akan menimbulkan kesukaran saja. Lihat, pandang matanya penuh dendam. Ia takkan pernah mau menyerah kepada kita dan di sana hanya akan men imbulkan kecurigaan orang banyak saja."
"Benar, ia kelak hanya akan men jadi musuh bagi kita. Di kota raja tentu banyak perempuan yang lebih cantik dan lebih baik daripadanya. Mengapa susah-susah membawa calon mayat ini ke kota raja saja?"
Dibujuk oleh dua orang rekannya, Koo Cai Sun me njadi bimbang. Ia menoleh dan me mandang kepada gadis yang duduk bersandarkan pada pohon itu. Dia telah me notok gadis itu dan mendudukkannya di sana. Gadis itu merupakan pandangan yang tidak me narik sa ma sekali. Seorang wanita muda yang kotor. Rambutnya kusut masai. Mukanya pucat, bibirnya yang masih na mpa k indah bentuknya itu-pun kehilangan warna merahnya, bahkan nampak pucat. Sepasang matanya menger ikan, seperti mata mayat, sama sekali tidak bercahaya lagi, akan tetapi ketika pandang mata itu ditujukan kepada mereka bertiga, seperti ada api me mbara di man ik matanya. Pakaiannya awut-awutan.
Koo Cai Sun menghe la napas panjang. Seorang gadis yang keras hati dan tak pernah mau tunduk walaupun segala- galanya telah dipatahkan dengan paksa. Betapa akan mengge mbirakan kalau saja seorang wanita seperti ini ma mpu mencurah kan kasih sayang. Seorang wanita yang panas me mbara, penuh se mangat. Akan tetapi sayang, penuh pula dengan dendam kebencian. Diapun hanya akan dapat menguasai gadis itu dengan cara me mperkosanya.