Cui Hong me mutar otaknya. Kalau dibiarkan berlarut-larut dan ayah serta suhengnya tidak cepat dibebaskan, pihak musuh akan dapat mengatur siasat. Memang lebih ba ik kalau pemuda ini yang me mbebaskan sendiri dua tawanan itu. Kalau ia terus menodongnya, pihak lawan tidak akan ma mpu mengganggunya dan terpaksa harus me menuhi tuntutannya.
"Baik, mar i kita bebaskan mereka!" katanya dan dengan pedangnya ia me mbabat tali pengikat kedua kaki Ki Cong, lalu ia me mbebaskan totokannya dari tubuh pemuda itu. Pemuda itu dapat bergerak lagi dan dengan susah payah karena kedua pergelangan tangannya masih dibelenggu, dia bangkit berdiri, dibantu dengan sepakan kaki oleh Cui Hong. Dengan tangan kiri me ncengkera m ra mbut kepala, tangan kanan menodongkan pedang yang dite mpelkan di leher pe muda itu, Cui Hong lalu me nodongnya keluar dari kamar, didahului oleh dua orang pengawal, yang bersikap ketakutan dan menjadi petunjuk jalan menuju ke kamar tahanan yang berada di belakang gedung.
Hati Cui Hong diliputi penuh kecurigaan dan ia bersikap hati-hati sekali, tak pernah melepaskan kewaspadaan dan dengan keras mencengkera m ra mbut kepada Ki Cong dan terus mene mpelkan pedangnya di leher orang itu. Ia merasa lega ketika t iba di ruang tahanan, me lihat bahwa di situ tidak nampak penjaga-penjaga yang siap mengeroyoknya, bahkan para penjaga nampak menyingkir dan berdiri di tepi yang aman. Dan hatinya girang sekali ketika t iba di sebuah tikungan sempit, dari jauh ia me lihat ayah dan suhengnya di dalam sebuah kamar kerangkeng, terbelenggu dan duduk di atas lantai dalam keadaan selamat.
"Ayah....!" Tak tertahankan lagi keharuan hatinya dan ia berteriak me manggil.
Tiba-tiba ayahnya berseru, "Hong-ji, hati.. hati !"
Akan tetapi terlambat. Karena pada saat itu, perhatian Cui Hong tertarik kepada ayah dan suhengnya sehingga ia tidak me lihat betapa tiba-tiba ada sebuah tubuh menubruknya dari kanan. Tentu saja ia cepat menggerakkan pedangnya menya mbut tubrukan orang itu tanpa melepaskan ja mbakan tangan kirinya dari ra mbut kepala Ki Cong.
"Crokkkk........!" Perut orang yang menubruknya itu terbacok dan darah muncrat- muncrat ke Cui Hong. Tentu saja gadis ini merasa terkejut dan ngeri. Biarpun sejak kecil ia belajar ilmu silat, akan tetapi belum pernah ia me mbunuh orang, apalagi me mbacok perut sampai muncrat-muncrat darahnya seperti itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa orang yang menubruknya itu ternyata tidak menubruk, me lainkan dilontarkan orang dan orang itu sa ma sekali tidak ma mpu men gelak atau menang kis ketika dibacoknya. Karena kaget dan ngeri, otomatis me lepaskan ja mbakan ra mbut Ki Cong dan melompat ke belakang agar tidak terkena darah. Dan pada saat itu, muncullah Koo Cai Sun dan Gan Tek Un. Gan Tek Un menyambar tubuh Ki Cong dan Koo Cai Sun sudah menyerang Cui Hong dengan kedua tangannya. Gadis ini berusaha me mbela diri, akan tetapi ia me mang kalah jauh, dan juga sudah lelah sehingga sebuah tendangan yang mengenai lututnya me mbuat ia terpelanting dan sebelum ia dapat bangkit berdiri, Kuo Cai Sun sudah me nubruknya dan beberapa orang pengawal maju dan me mbelenggu kaki tangannya!
Cui Hong meronta-ronta dan me maki- ma ki, akan tetapi sia- sia saja dan di lain saat ia sudah tidak ma mpu bergerak, kaki tangannya ditelikung dengan a mat kuat. Tiba-tiba Pui Ki Cong tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, bocah liar. Engkau me mang tidak boleh disayang! Engkau me mang ingin disiksa, diperkosa, dan dihina. Aku akan me mpermainkan engkau sa mpa i meratap- ratap minta a mpun, sampai engkau me nyesal pernah dilahirkan oleh ibumu!" Setelah berkata demikian, dalam kemarahannya Ki Cong mengayun tangannya mena mpar muka gadis yang sudah tak berdaya rebah di atas lantai itu.
"Plak! Plak!" Dua kali tangannya mena mpar, sampai panas rasanya mengenai kedua pipi gadis itu saking kerasnya. Kedua pipi gadis itu menjadi merah sekali, akan tetapi sepasang matanya tetap melotot penuh kebencian. Melihat ini, kemba li Pui Ki Cong tertawa mengejek. Dia merasa amat penasaran dan marah. Beberapa kali dia mengalami penghinaan gadis ini dan kemarahannya me mbuat dia lupa diri bahwa di situ terdapat tiga orang jagoan itu, dua orang tawanan dan beberapa orang pengawal yang menjadi penonton.
"Ha-ha-ha, setelah ditampar engkau berta mbah cantik!" Setelah berkata demikian, tiba-tiba dia merangkul leher Cui Hong dan mencium mulut yang dikaguminya itu. Dia menc ium dengan rakus, seperti orang kehausan memperoleh minuman segar yang diteguknya dengan ln-hap.
"Aaughhhh.......!!" Tiba-tiba Ki Cong menjer it dan meronta- ronta, akan tetapi deretan gigi putih kecil- kecil yang amat kuat itu tidak mau melepaskannya, karena seperti seekor singa menggigil korbannya. Ki Cong meronta-ronta dan mengaduh- aduh, darah bercucuran dari mulutnya. Melihat ini, Koo Cai Sun cepat menotok jalan darah di leher Cui Hong dan gadis itu terkulai, gigitannya terlepas.
"Aduhhhh..... iblis betina..... aduhhhh” Ki Cong bangkit dan menutup i mulutnya yang bercucuran darah. Bibirnya yang bawah hampir putus oleh gigitan Cui Hong, gigitan yang dilakukan penuh kebencian tadi. Mulut gadis itupun juga berlepotan darah yang keluar dari luka di bibir Ki Cong dan gadis itu, biarpun sudah tertotok le mas, masih ma mpu me ludahkan darah yang menodai mulutnya.
Koo Cai Sun tertawa. "Ain, kongcu, tidak perlu tergesa- gesa. Sudah kukatakan bahwa d ia ini seekor kuda betina liar, ganas dan panas. Kalau engkau ma mpu menjinakkannya, wah, dia akan hebat sekali. Akan tetapi sebaliknya, ia dapat me mbawa kau terjun ke jurang, ha-ha!"
Pui Ki Cong menjadi se makin penasaran dan marah. Dengan kasar dia lalu menggunakan sehelai saputangan untuk diikatkan di depan mulut Cui Hong, kemudian ia me mondong tubuh gadis itu dan dibawanya kembali ke dalam kamarnya, diikuti suara ketawa ketiga orang jagoan itu.
Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hati Kim Siok dan Lu San menyaksikan semua. Mereka tidak berdaya, dibelenggu dengan kuat. Timbul tekad dalam hati mereka untuk mencari kesempatan, me mberontak dan kalau perlu me mpertaruhkan nyawa untuk mencoba menyelamatkan Cui Hong.
-oo0dw0oo-
"Tar! Tar! Tarr. !!"
Berulang kali ca mbuk itu melecut dan men impa tubuh Cui Hong. Gadis itu terlentang di atas pembaringan dengan tangan dan kaki terpentang dan terikat pada kaki pembaringan. Cambuk itu diayun oleh Ki Cong dan me lecut tubuhnya, menggigiti kulitnya melalui robekan baju. Pakaian gadis itu koyak-koyak oleh lecutan ca mbuk dan bahkan kulitnya yang putih mulus itu mulai penuh dengan garis-garis merah, ada pula yang mengeluarkan darah. Namun tidak satu kalipun terdengar keluhan dari mulut Cui Hong. Ia merapatkan bibirnya, bahkan kalau terlalu nyeri, digigitnya bibir sendiri dan matanya tetap melotot menatap wajah penyiksanya. Habis koyak-koyak seluruh pakaiannya dan yang tinggal hanyalah belenggu pada mas ing-masing tangan dan kakinya.
Kadang-kadang datang pula perasaan takut dan ngeri yang bergelombang dan ha mpir menenggelamkan kesadarannya, rasa takut yang jauh lebih hebat dan lebih besar daripada rasa nyeri karena siksaan ca mbuk itu. la berharap agar orang itu menca mbukinya terus sampai ia mati. Tidak, ia tidak takut mati. Kalau ia mati, ia akan terbebas dari siksaan ini, terutama sekali siksaan rasa takut yang mengerikan. Hanya satu hal yang me mbuat ia penasaran kalau ia mati, yaitu ia tidak akan lagi ma mpu me mbalas dendam kepada keparat ini.
"Bunuhlah aku, bunuhlah, hanya demikian bisik suara hatinya ketika akhirnya Ki Cong menghentikan siksaannya. Dia me le mparkan ca mbuk yang berlepotan darah itu, dan mengusap peluh yang me mbasah i tubuhnya. Matanya liar menatap seluruh tubuh yang ditinggalkan pakaian yang sudah koyak-koyak dan kulit I putih mulus yang dihiasi garis-garis merah. Memandang dengan penuh gairah nafsu dan Ki Cong lalu duduk di tepi pe mbaringan, kedua tangannya mengusap- usap seperti hendak mengobati atau mengusir semua rasa nyeri.