Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita Chapter 10

Memuat...

"Ah, nona man is, kenapa engkau berkeras hati? Ingatlah, engkau sudah tertawan, juga ayahmu dan muridnya itu. Betapa mudahnya menjatuhkan hukuman kepada kalian bertiga dengan dalih pe mberontak. Kalau engkau berkeras dan meno lak, aku dapat mendapatkan dirimu, kalau perlu dengan perkosaan. Apa kau lebih suka diperkosa dan melihat ayahmu dan muridnya itu mati tersiksa? Ataukah engkau lebih baik menyerahkan diri baik-baik kepadaku, menjadi isteriku, sedangkan ayahmu mungkin akan dibebaskan?"

Ki Cong me mbujuk dan meray u. Dia ingin mendapatkan diri gadis ini dengan suka rela karena dia benar-benar tertarik oleh kemurnian dan kecantikan aseli dara puteri guru silat ini. Kalau harus me mperkosanya, sungguh kurang menyenangkan dan tidak akan me muaskan hatinya. Pula, hal ini menyinggung harga dirinya. Sebagai seorang perayu wanita yang tampan dan kaya, belum pernah ia harus me mperkosa wanita. Semua wanita yang digodanya dan dirayunya, satu demi satu pasti akan tunduk bertekuk lutut, menyerahkan diri dengan suka rela kepadanya. Memperkosa wanita, sama saja mengaku bahwa dia ditolak dan tidak dikehendaki wanita itu!

Tiba-tiba terjadi perubahan pada wajah yang cantik manis dan dan agak pucat itu. Sepasang mata yang jeli itu menatap wajah Pui Ki Cong penuh selidik, kemudian bibir yang mungil dan walaupun dalam keadaan tegang dan lelah masih na mpak segar merah me mbasah itu, bergerak mengajukan pertanyaan lir ih.

"Be..... benarkan..... kau akan me mbebaskan ayahku kalau aku. aku menyerahkan diri dengan suka rela pada mu?"

Wajah pemuda bangsawan itu berseri gembira. "Tentu saja! Ha-ha, nona Kim yang baik, apakah kau belum percaya kepadaku? Apakah aku harus bersu mpah? Aku cinta padamu dan kalau kau mau mener ima cintaku, dengan suka rela, engkau akan menjadi seorang isteriku yang tercinta dan tentu saja aku akan me mbebaskan ayah mu yang menjad i ayah mertuaku!"

"Kalau begitu.... demi keselamatan ayah.... akui... aku menyerah. Tapi..... harap bersikap sabar denganku, kongcu. Aku..., aku masih belum dewasa "

Wajah dara itu menjadi merah sekali dan ia tidak berani menentang pandang mata pe muda itu yang kini tersenyum penuh kegembiraan.

"Tentu saja, manisku! Aku cinta pada mu, aku akan bersikap sabar.... ah, girang rasa hatiku kalau kau mau menyerahkan diri dengan suka rela." Dan dia-pun merangkul hendak menc ium mulut yang sejak pertama kali dilihatnya telah me mbuatnya tergila-gila itu.

"Aih, nanti dulu, kongcu....." Cui Hong mir ingkan mukanya menge lak. "Aku ..... tidak enak sekali terbelenggu seperti ini..... kenapa kau tidak melepaskan ikatan tangan kakiku? Aku sudah menyerah. demi keselamatan ayah."

"Ah, aku sampai lupa! Maafkan, kekasihku, aku a kan cepat me lepaskan ikatan kaki tanganmu." Dengan penuh kegembiraan, sambil menggunakan jari-jari tangannya kadang-kadang menco lek sana-sini dengan sikap genit, Ki Cong lalu me mbuka ikatan tangan kaki Cui Hong. Dia sudah me mbayangkan betapa akan gembira dan nikmatnya kalau nanti gadis re maja ini me nyerahkan diri dengan hati terbuka kepadanya.

Dengan kedua tangan ge metar karena gejolak hatinya, Ki Cong melepaskan ikatan-ikatan pada pergelangan kaki dan tangan Cui Hong dan me mbantu gadis itu bangkit duduk. Cui Hong mengurut-urut pergelangan kaki dan tangannya, yang terasa kaku dan nyeri setelah ikatannya dibuka.

"Mari kuurut kakimu, manis." Ki Cong segera meraba kaki itu dengan tangan panas me mbelai, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut setengah mati karena tengkuknya sudah dicengkeram dan gadis itu sekali meloncat sudah turun dari atas pembaringan dan tangan kirinya mencengkera m tengkuk, tangan kanannya siap me mukul kepala.

"Jangan bergerak!" bentaknya. "Hayo cepat perintahkan agar ayahku dan suhengku dibebaskan!"

Ki Cong terkejut bukan main, bergerak meronta hendak me lepaskan diri. "Akan tetapi, nona. "

"Diam dan jangan bergerak! Hemm, kalau tidak cepat kaubebaskan mereka, akan kuhancurkan kepalamu!" Dan ia me mper kuat cengkera mannya sehingga tengkuk Ki Cong rasanya seperti dijepit besi membuat pe muda itu gelagapan dan sesak napasnya.

"Ba..... baik..... baik....., tapi..... mereka tidak ditahan di sini "

Pemuda itu merasa mendongko l, menyesal, marah akan tetapi juga ketakutan. Tak disangkanya sama sekali bahwa dara remaja itu dapat me mperguna kan siasat selicik itu. Sedikitpun tidak na mpak kepura-puraannya ketika tadi mau menyerahkan diri, nampak de mikian sungguh-sungguh. Dia sama sekali tidak tahu bahwa seorang manusia, dalam keadaan terhimpit, akan ma mpu me lakukan apa saja untuk menyelamatkan diri. Dalam hal ini, Cui Hong tidak hanya meng khawatirkan diri sendiri, melainkan ia ingin sekali menyelamatkan ayahnya dan suhengnya.

"Jangan bohong! Hayo panggil pengawalmu dan katakan bahwa ayahku dan suhengku harus dibebaskan dan dibawa ke sini. Cepat, atau akan kupatahkan batang lehermu!" Kemba li cekikannya pada tengkuk menguat dan Ki Cong dengan ketakutan lalu me manggil pengawalnya.

Dua orang pengawal mengetuk daun pintu karena daun pintu itu tadi dikunci dari dalam oleh Ki Cong. "Apakah kong- cu me manggil ka mi?" de mikian terdengar teriakan dari luar. Melihat sebatang pedang me nghias dinding, sebatang pedang yang tidak begitu baik akan tetapi indah ukirannya dan lebih menyerupai hiasan daripada! senjata, Cui Hong lalu menya mbar senjata itu, menghunusnya dan mene mpelkannya pada leher Ki Cong yang men jadi se ma kin ketakutan.

"Cepat buka pintu dan perintahkan! dia agar cepat me mbawa ayahku dan suhengku ke sini. Cepat!"

Dengan todongan pedang di tengkuknya, Ki Cong me mbuka daun pintu dan dua orang pengawal itu terbelalak me lihat betapa majikan mereka ditodong pedang oleh gadis yang menjadi tawanannya. Tentu saja mereka terheran-heran. Tadi, di luar pintu di mana mereka ditugaskan men jaga keamanan, mereka kasak-kusuk dan terkekeh-kekeh me mbicarakan dan me mbayangkan betapa majikan muda mereka tentu tengah me mper mainkan gadis tawanan itu yang mereka na makan sebagai "me metik bunga" atau "menyembelih ayam". Siapa kira, kini maj ikan muda mereka itu sama sekali tidak men ikmati tawanannya, bahkan ditodong oleh tawanan itu, mukanya pucat tubuhnya gemetar seperti orang r-serang dema m.

"Cepat..... pergi ke te mpat tahanan.... dan bawa dua tawanan itu ke sini "

"Siapa, kongcu? Tawanan yang mana? " Dua orang pengawal itu masih bingung dan gugup.

"Guru silat Kim Siok dan muridnya yang tertawan. Bebaskan dan bawa mereka ke sini, atau.... aku akan me mengga l leher kongcu kalian ini. Cepat!" bentak Cui Hong dan ujung pedang itu ia te mpelkan pada tengkuk Ki Cong sehingga terluka sedikit dan berdarah.

"Cepat...... lakukan perintah itu, cepat.....!" Ki Cong berkata dan dua orang pengawal itu kini maklum apa yang terjadi. Ternyata tawanan ini, dara yang mereka sudah dengar pandai ilmu silat ini, telah berhasil me loloskan diri sehingga keadaannya menjadi terbalik, kongcu mereka kini menjadi tawanan. Mereka mengangguk dan bergegas pergi dari situ untuk melaksanakan perintah. Tempat tahanan berada di belakang gedung besar.

Setelah dua orang pengawal itu pergi, Cui Hong menotok jalan darah tawanannya dan Ki Cong roboh dengan le mas. Cepat dara itu mempergunakan tali yang tadi dipakai untuk meng ikatnya, kini ia me mperguna kannya untuk meng ikat kaki tangan Ki Cong dengan erat. Ia tahu bahwa ia berada di dalam guha singa dan kalau tiga orang jagoan yang pernah menang kap ia dan ayahnya itu muncul, berarti keselamatannya terancam. Akan tetapi ia mempunyai tawanan penting dan dengan adanya pemuda ini di dalam kekuasaannya, tiga orang jagoan itu tidak akan mampu mengganggunya. Ia bertekad untuk me mbebaskan ayahnya dan suheng-nya, dengan jalan menjadikan Ki Cong sebagai sandera yang amat berharga. Ia harus berlaku hati-hati sekali dan karenanya, ia baru merasa tenang setelah pemuda itu dibelenggu kaki tangannya dan membiarkan pe muda itu roboh di atas lantai, sedangkan ia sendiri lalu duduk di atas bangku, siap dengan pedang di tangan menodong ke arah pe muda itu dan menghadap ke arah pintu.

Seperti dapat diduga oleh dara perkasa itu, perbuatannya me mbuat gedung menjad i ge mpar! Tentu saja pembesar Pui merasa bingung dan khawatir sekali. Memang mudah mengerahkan pasukan pengawal untuk mengeroyok gadis itu, akan tetapi bagaimana dengan keselamatan nyawa puteranya? Untung masih ada Thian-cin Bu-tek Sa m-eng yang sedang dijamu dengan hidangan mewah oleh pembesar itu. Tiga orang jagoan inilah yang bersikap tenang dan merekalah yang mengatur siasat untuk meng hadapi kenekatan Cui Hong.

Hampir habis kesabaran Cui Hong menanti di dalam kamar itu dengan daun pintunya terbuka dan pedang siap di tangan. Pui Ki Cong mengeluh perlahan-lahan, akan tetapi pemuda itu terlampau ketakutan untuk dapat bicara atau banyak bergerak. Pandang mata Cui Hong ditujukan ke luar kamar dan ia melihat betapa keadaan di luar kamar itu sunyi saja, tidak na mpak ada gerakan apa-apa.

Akhirnya dua orang pengawal itu muncul di depan pintu dan Cui Hong cepat mene mpe lkan ujung pedangnya di dada Ki Cong. "Mana mereka? " bentaknya kepada dua orang pengawal itu. "Awas kalau kalian menipuku, dada kong-cu kalian ini akan kurobek-robek!"

"Tolol kalian! Mana tawanan itu?" Ki Cong juga berseru dengan ketakutan melihat betapa dua orang pengawal itu kembali dengan tangan kosong.

"Ampun, kongcu, a mpunkan kami." kata seorang di antara mereka sedangkan orang ke dua hanya me mandang dengan muka pucat. "Para penjaga di kamar tahanan tidak percaya kepada kami dan tidak mau menyerahkan dua tawanan itu. Mereka minta agar kongcu sendiri yang datang ke sana, baru mereka ma u percaya."

"Keparat....!" Makian ini keluar dari mulut Cui Hong dan kembali ujung pedangnya mene mbus baju dan me lukai kulit dada Ki Cong yang menjer it kesakitan, atau lebih lagi, karena ketakutan.

"Ampun." dia meratap, "biarlah aku sendiri yang

me mbebaskan mereka. "

Post a Comment