Tiga orang itu menahan serangan mereka dan me langkah mundur sa mbil me mandang dengan sikap me mandang rendah. Bagaimanapun juga, tentu akan lebih menyenangkan dan lebih mudah bagi mereka kalau t iga orang buruan ini menyerahkan diri dengan suka rela agar tidak susah-susah lagi mere ka menggir ing tawanan itu ke Thian-cin. Inilah sebabnya mengapa mereka me nahan serangan mereka ketika mendengar suara Kim Siok.
"Bu-tek Sa m-eng, kalian bertiga adalah orang-orang gagah. Kalau me mang kami dianggap bersalah, biarlah se mua kesalahan itu aku sendiri yang akan menanggungnya. Kalian kasihanilah puteriku dan muridku yang tidak berdosa ini. Biarkan mereka berdua pergi dan aku yang akan menerima segala macam hukuman yang akan dijatuhkan kepada kami."
"Ayah!" "Suhu. !"
Dua orang muda itu me mandang kepada Kim Siok dengan mata terbelalak dan alis berkerut. Tentu saja mereka merasa tidak setuju sa ma sekali dengan sikap Kim Kauwsu itu. "Ha-ha-ha-ha! Kim Siok, untuk apa kami hanya me mbawa pulang seorang seperti engkau? Yang dibutuhkan adalah puterimu, dan engkau bersama muridmu ini harus ikut pula untuk mener ima hukuman!" kata Koo Cai Sun sambil tertawa mengejek. "Daripada kami harus menggunakan kekerasan dan bagaimanapun juga kalian takkan dapat menandingi kami, lebih baik kalian bertiga lekas berlutut dan me nyerah saja."
"Singgg....!" Nampa k sinar berkilat ketika Cui Hong sudah mencabut pedangnya. Karena mereka bertiga me larikan diri dari bahaya, maka dari rumah mere-ka telah me mpersiapkan senjata dan kini dara itu yang menjad i marah sekali mendengar ucapan Koo Cai Sun, sudah mencabut pedangnya. "Manusia so mbong, lihat pedang!" bentaknya dan iapun sudah menggerakkan pedangnya menyerang Koo Cai Sun dengan tusukan ke arah dada.
"Heh-heh, liar dan panas!" Si perut gendut itu mengelak dengan cepatnya.
Akan tetapi Cui Hong menyerang terus dengan tusukan- tusukan dan bacokan-bacokan bertubi-tubi dan berbahaya sekali.
Melihat sumo inya sudah maju lagi, Lu San juga mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap diapun sudah menggerakkan pedang menyerang Gan Tek Un yang juga cepat mengelak dari serangan-serangan pedang yang cukup berbahaya itu. "
Kim Siok menghela napas panjang. Usahanya gagal! Tidak ada jalan la in kecuali melawan mati- matian. Maka diapun me lolos sabuknya yang merupakan senjatanya yang ampuh dan dengan sabuk ini diapun menyerang Louw Ti. Louw Ti menge luarkan dengus mengejek dan tahu-tahu ca mbuk hitamnya yang disebut Toat beng-joan-pian (Cambuk Pencabut Nyawa ) sudah berada pula di tangannya. "Tar-tar-tarrr.....!" Cambuknya meledak-ledak me nyambut sambaran sabuk Kim Siok dan kedua orang ini segera berkelahi dengan seru. Nampak gulungan sinar putih dan hitam dari senjata mere ka menya mbar-nyambar.
Perkelahian antara Cui Hong dan Koo Cai Sun terulang kembali, akan tetapi biarpun kini Cui Hong me nggunakan pedang, tetap saja keadaan mereka tidak seimbang. Koo Cai Sun juga me mpergunakan senjatanya, yaitu sepasang tombak pendek, akan tetapi sepasang senjata ini hanya dia pergunakan untuk me nangkis dan menganca m saja. Dia tidak bermaksud melukai gadis itu seperti yang telah dipesankan dengan sungguh-sungguh oleh Pui Ki Cong. Kalau dia menghenda ki, dengan ilmu kepandaiannya yang jauh lebih tinggi, akan mudah bagi Koo Cai Sun untuk merobohkan gadis itu. Dia me mper mainkan sambil tertawa-tawa, dan hanya mena mbah tenaganya setiap kali menangkis sehingga beberapa kali ha mpir saja pedang di tangan Cui Hong terlempar lepas.
Tidak banyak perbedaannya dengan keadaan Lu San. Pemuda ini menga muk dengan pedangnya, akan tetapi semua gerakan pedangnya itu mene mui jalan buntu dan kandas dalam gerakan sepasang pedang Gan Tek Un. Jagoan ini menggunakan sepasang pedang dan dengan pedang pasangan yang digerakkan secara hebat, sepasang pedang itu demikian ganasnya seperti sepasang naga terbang dan bermain-main di angkasa, sesuai dengan ilmu pedangnya, yaitu Siang-liong Kia m-sut (Ilmu Pedang Sepasang Naga). Lu San sungguh bukan lawan seimbang dari Gan Tek Un dan setelah me mper mainkan pemuda ini sela ma t iga puluh jurus lebih, tiba-tiba Gan Tek Un mengeluarkan bentakan keras dan tahu-tahu pedang di tangan Lu San terlepas dan pemuda itupun terpelanting roboh karena pundak kanannya tercium ujung pedang dan ada otot di pundaknya yang putus! Robohnya Lu San disusul dengan robohnya Cui Hong. Dara ini dirobohkan oleh Koo Cai Sun yang merasa sudah cukup me mper ma inkannya. Tiba-tiba pedang di tangan dara itu tertangkap oleh kaitan senjata siang-kek di tangannya dan sekali me mbuat gerakan me mutar, pedang itupun patah dan karena tangannya terasa nyeri, terpaksa Cui Hong melepaskan gagang pedang. Sebelum dara ini ma mpu menjaga diri, tahu- tahu lawannya yang amat lihai telah menotoknya dan robohlah ia tanpa terluka, terkulai dalam keadaan lumpuh dan tak ma mpu bergerak lagi.
Melihat betapa dua orang kawannya sudah merobohkan lawan, Louw Ti mengeluarkan suara me lengking nyaring sekali dan kini gerakan cambuknya berubah ganas bukan main. Guru silat Kim Siok terkejut. Dia sendiri adalah seorang ahli bermain senjata lemas seperti ca mbuk atau sabuknya, akan tetapi kini dia tahu bahwa dia telah bertemu dengan seorang yang tingkat kepandaiannya masih jauh lebih t inggi. Dia mencoba untuk mengerahkan seluruh tenaga dan me mutar senjata sabuknya itu dengan sebaik mungkin, me mainkan ilmu silat yang mendarah daging kepadanya. Sabuknya me mbuat gerakan menyambar-nyambar dan me mbentuk lingkaran cahaya putih. Akan tetapi, cambuk di tangan Louw Ti menge luarkan suara meledak-ledak, me mbuat gerakan me lecut-lecut secara aneh, kadang-kadang menyambar- nyambar dari atas, bawah, kanan kiri dan depan belakang, sukar sekali untuk dibendung. Apalagi setiap lecutan itu mengandung tenaga yang amat kuat sehingga sabuk di tangan Kim Kauwsu kadang-kadang me mbalik ketika terbentur senjata lawan. Dia tidak tahu bahwa lawannya telah me ma inkan Ilmu Cambuk Pencabut Nyawa yang dahsyat sekali.
Kim Siok terlalu la ma men inggalkan dunia persilatan. Semenjak kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, dia tidak pernah lagi menje lajah dunia persilatan dan tidak tahu bahwa di dunia kang-ouw, telah terjadi banyak perubahan dan banyak bermunculan tokoh-tokoh yang lihai. Juga telah terjadi perkembangan yang luas dalam ilmu silat sendiri. Karena ini, biarpun dia setiap hari me latih diri dengan mengajarkan ilmu silat kepada murid-muridnya, namun sela ma dua puluh tahun dia tidak mena mbah pengetahuannya dalam ilmu silat. Maka, begitu bertemu tanding tangguh, yang me ma inkan ilmu silat baru yang sama sekali tidak dikenalnya, dia menjad i bingung.
"Tar-tar-tarrr..... robohlah kamu!" terdengar Louw Ti me mbentak dan ujung ca mbuknya yang dipasangi mata pisau tajam itu menya mbar turun secara bertubi-tubi. Kim Siok terkejut mengelak dan me mutar sabuknya me lindungi dirinya, namun terlambat.
"Crokkk.. aughhhh...." Dan robohlah guru silat itu, dari kaki kanannya di bagian lutut bercucuran darah karena sambungan lututnya hampir putus disa mbar mata pisau di ujung ca mbuk lawan tadi. Juga di pergelangan tangannya mengucurkan darah dan terpaksa dia me lepaskan sabuknya. Karena luka di lutut dan pergelangan tangan, guru silat itu tidak ma mpu me lakukan perlawanan lagi dan diapun roboh terguling tanpa dapat mengelak ketika Louw Ti mena mbah kan totokan yang me mbuat kaki tangannya lumpuh.
"Ha-ha-ha, Kim Siok. Kiranya engkau dan puterimu beserta muridmu ini tidak seberapa hebat. Engkau me mang orang keras kepala dan tolol. Kalau saja kau-berikan puterimu kepada Pui-kongcu, tentu tidak akan begini jadinya dan engkau akan hidup terhormat dan makmur."
"Bunuhlah aku, tapi bebaskan anakku berdua itu." Kim Siok masih mencoba untuk me mbujuk karena dia a mat meng khawatirkan nasib puterinya. Akan tetapi tiga orang itu hanya tertawa-tawa dan Koo Cai Sun lalu mengang kat tubuh Cui Hong yang sudah tak ma mpu bergerak, meletakkan tubuh itu melintang di atas punggung kudanya. Lalu dia sendiri me loncat naik dan tubuh dara itu me lintang mene lungkup di depannya. "Mari kita cepat bawa mereka!" katanya dan dua orang temannya juga segera me mbawa tawanan masing-mas ing. Kim Siok dan Lu San yang juga sudah tidak ma mpu bergerak karena ditotok, juga mereka dibelenggu kaki tangannya, diikat di atas punggung kuda. Lalu tiga orang jagoan itu me larikan kuda masing-masing me mbawa tawanan itu menuju ke Thian- cin, me mbayangkan kedudukan terhormat yang akan mereka terima sebagai hadiah Pui Taijin.
"Ha, nona manis, akhirnya engkau terjatuh ke dalam tanganku!"
Cui Hong rebah di atas pe mbaringan dengan kaki tangan terikat. Tadi ia dile mparkan oleh Koo Cai Sun ke atas pembaringan di dalam kamar itu, dan sambil terkekeh Koo Cai Sun menyerahkannya kepada Pui Ki Cong.
"He-heh-heh, Pui-kongcu. Nih, kuda betina liar itu. Ia panas dan liar, akan tetapi aku menepati janji, ia tidak kusentuh! Ha- ha, me mang ia menarik sekali, tapi aku tidak menyentuhnya." Jagoan itu tertawa bergelak.
"Terima kasih, Koo-enghiong, terima kasih." kata Pui Ki Cong dan setelah jagoan itu keluar dari kamar, dia cepat menutup kan daun pintu dan mengha mpiri pe mbaringan dengan mulut menyeringai.
"Kim Cui Hong, kalau engkau dahulu menerima pinanganku, tentu tidak perlu dilakukan kekerasan seperti ini. Akan tetapi sekarang masih belum terlambat, manis, aku sungguh cinta pada mu dan kalau engkau mau dengan suka rela menjad i isteriku, aku akan me mbujuk ayahku agar ayahmu tidak menerima hukuman berat." Pui Ki Cong duduk di tepi pe mbar ingan dan men gulur tangan untuk me mbelai dagu yang meruncing man is itu.
Cui Hong menggera kkan kepalanya menge lak dari belaian itu. Totokan pada tubuhnya telah punah akan tetapi ikatan pada kaki tangannya kuat sekali, me mbuat ia tidak ma mpu menggerakkan kaki tangannya. "Tidak sudi aku! Lebih baik mati!" ia me mbentak dan melotot kepada pe muda itu.