Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita Chapter 08

Memuat...

"Tentu saja kami akan me lakukan pengejaran. Mereka takkan dapat lari jauh." jawab Gan Tek Un.

"Akan tetapi saya mohon dengan sangat kepada sam-wi agar nona Kim jangan dilukai, dan jangan..... diganggu, ingat, ia itu milikku, calon selirku....." kata Pui Ki Cong sambil me mandang tajam wajah bulat Koo Cai Sun. Dia sudah mendengar tentang jagoan ini, seorang mata keranjang yang tidak me lewatkan wanita cantik begitu saja.

Koo Cai Sun terkekeh dan matanya makin menyipit. "Ha- ha-ha, kongcu aku masih tahu pere mpuan mana yang boleh kuja mah dan ma na yang tidak. Tentu saja aku tidak akan mengganggu dara cantik yang me mbuat kongcu tergila-gila itu, ha-ha!"

Kim Kauwsu bersa ma puterinya dan muridnya men inggalkan Ang-ke-bun dan me larikan diri me nuju ke selatan kemudian me mbelok ke barat. Setelah melakukan perjalanan cepat selama tiga hari, sampailah mereka ke kaki Pegunungan Tai-hang-san dan mereka pada pagi hari ke empat berhenti di tepi sebuah sungai yang melintang dan menghadang perjalanan mereka. Banyak sudah bukit dan hutan mereka lalui, dusun-dusun kecil mereka lewati. Setelah berada di lembah sungai di kaki Pegunungan Tai-hang-san yang indah itu, cuaca yang cerah dan suasana yang sunyi dan tenang me mbuat hati mereka merasa tenang pula.

"Ayah, kita akan menuju ke manakah?" Cui Hong bertanya kepada ayahnya selagi mereka makan bekal makanan mereka yang kemar in mere ka beli dari sebuah dusun. Mereka duduk di bawah sebatang pohon besar dan sinar matahari pagi menerobos di antara celah-celah daun pohon itu, menimpa tempat mereka beristirahat dengan sentuhan-sentuhan hangat dan halus.

"Sebaiknya kita pergi ke kota Tai-goan. Di mana aku me mpunyai seorang sahabat baik. Tentu untuk se mentara waktu dia akan suka mena mpung kita, sementara kita berusaha mencari sumber penghasilan baru. Kita harus hidup baru di te mpat itu, dan sebaliknya kalau kita berganti na ma."

Dara itu mengerutkan alisnya, juga Lu San merasa tidak setuju. Dua orang muda itu merasa betapa sikap orang tua itu terlalu ketakutan. Kalau menuruti hati mereka, lebih baik mereka tetap tinggal di dusun dan melawan mati- matian terhadap setiap pengganggu yang berani datang mengusik mereka.

Agaknya guru silat itupun dapat menduga akan isi hati puterinya dan muridnya, maka diapun menarik napas panjang. "Cui Hong, dan Lu San, aku tahu bahwa kalian merasa tidak puas dengan sikapku yang melarikan diri seolah-olah takut menghadap i bahaya. Memang terus terang saja, aku merasa takut."

"Ayah.....!" Ucapan ayahnya itu hebat sekali bagi Cui Hong yang sejak kecil mengang gap ayahnya orang yang paling hebat, paling gagah dan tidak mengenal takut. Dan sekarang ayahnya begitu saja mengaku bahwa dia takut!

Orang tua itu me megang tangan anaknya. "Aku me mang takut sekali, bukan takut kalau aku sa mpa i terkena celaka. Akan tetapi aku takut kalau-kalau engkau, Cui Hong, kalau- kalau kalian berdua tertimpa malapetaka. Kalian tidak tahu betapa kejam dan jahatnya manusia-manusia di dunia ini. Aku ingin me lihat kalian terhindar dari bencana. Kalau aku sudah berhasil menyelamatkan kalian, kalau kalian sudah menjadi suami isteri, aku sendiri akan menggabungkan diri dengan para pemberontak." "Suhu, apa maksud ucapan suhu ini?" Lu San terkejut mendengar ini. Belum pernah suhunya bicara seperti itu, apalagi menyatakan hendak bergabung dengan pe mberontak.

"Ketahuilah kalian. Pada waktu ini, pemerintah amat le mah, Kaisar telah menjad i seperti boneka saja. Yang berkuasa adalah pejabat-pejabat setempat dan mereka yang me miliki kekuasaan. Kabarnya, di kota raja sekalipun yang berkuasa adalah pejabat-pejabat dan di istana yang berkuasa adalah pejabat-pejabat thai-kam. Kejahatan merajale la, perbuatan- perbuatan tak patut dan tidak adil terjadi di mana- mana. Karena itu, orang-orang gagah yang berjiwa patriot me mberontak terhadap pemerintah yang dianggap tidak becus. Mereka me mberontak untuk me mbentuk pe mer intahan baru yang bijaksana dan adil. Sudah la ma aku me mikir kan hal itu dan siapa kira hari ini kita sendiri ma lah menjad i korban keganasan seorang pejabat yang sewenang-wenang. Hal ini mendorong se mangatku untuk me mbantu para pemberontak, yaitu menggulingkan pemer intah lalim dan mendir ikan pemerintah baru yang sehat. Dengan demikian, maka tidak akan sia-sialah aku menghabis kan sisa hidupku. Aku mendengar bahwa banyak sekali para pendekar gagah perkasa yang masuk menjadi pe mbantu suka rela dari pasukan pe mberontak yang disebut pejuang-pejuang rakyat."

"Kalau begitu, teecu ikut, suhu!" kata Lu San penuh semangat.

"Aku juga ikut, ayah!" sambung Cui Hong.

Tiga orang itu terseret oleh semangat perjuangan yang timbul karena perhatian yang mereka alami akibat gangguan seorang pejabat. Demikian tersentuh rasa hati mereka oleh kegembiraan se mangat itu sehingga mereka tidak begitu me mperhatikan bunyi derap kaki kuda yang datang dari jauh. Setelah tiga orang penunggang kuda itu tiba di situ dan berloncatan turun, barulah Kim Kauwsu, puteri dan muridnya terkejut dan mereka pun me ngenal tiga orang itu. Jagoan- jagoan sombong yang menyebut diri Thian-cin Bu-tek Sa m- eng!

Tiga orang itu dengan sikap tenang mena mbatkan kuda mereka pada batang pohon dan mereka lalu melangkah maju mengha mpiri Kim Siok dan dua orang muda itu. Koo Cai Sun me mperhatikan dara remaja yang nampak berdiri dengan gagahnya itu dan tiba-tiba dia tertawa bergelak.

hal 24-25 gak ada

“orang juga." kata Koo Cai Sun, masih tersenyum mengejek dan pandang nyatanya seperti menggerayangi seluruh bagian tubuh yang ranum dari remaja itu.

Karena tidak me lihat cara lain untuk menghindarkan bentrokan, Kim Kauw-su me mbentak dengan marah, "Ah, kalau begitu, benar ucapan anakku tadi bahwa kalian adalah tiga ekor anjing penjilat dan pe mburu dari jaksa Pui?"

"Ha-ha-ha, benar Benar! Kami adalah tiga ekor anjing pemburu yang mengejar-ngejar tiga ekor tikus yang melarikan diri, ha-ha!" kata Koo Cai Sun yang pandai bicara itu.

"Ayah, menghadapi anjing perlu bertindak, bukan bicara!" Tiba-tiba Cui Hong sudah menerjang ke depan, mengir im tendangan yang amat keras dan cepat ke arah perut Koo Cai Sun yang gendut. Akan tetapi, orang ini sambil terkekeh sudah menge lak dengan menarik tubuh ke belakang, bahkan dia berusaha menyambar dengan tangannya untuk menangkap kaki Cui Hong yang menendang. Dara itu terkejut dan cepat menarik kemba li kakinya, kemudian menyerang lagi dengan kedua tangannya, mengir im pukulan-pukulan beruntun.

"Aha, kuda betina liar ini sungguh menarik!" kata Koo Cai Sun dan dengan mudah dia menghindarkan diri dari semua serangan itu dengan elakan dan tangkisan. jelas bahwa dia hendak me mper ma inkan gadis itu karena dia tidak me mba las serangan-serangan itu, hanya me mbiarkan gadis itu menyerang terus yang semua dapat dihindarkannya dengan mudah, bahkan dalam serangan jurus ke lima, sambil menge lak dia berhasil meng usap dagu runcing itu.

"Aih, manisnya!"

Tentu saja Cui Hong menjadi marah dan menyerang semakin dahsyat. Hal itu me mbuat Lu San juga marah sekali.

"Manusia busuk!" bentaknya dan dia-pun terjun ke dalam perkelahian itu, hendak me mbantu sumo inya atau tunangannya. Akan tetapi, dari kanan menyambar tubuh Gan Tek Un yang sudah menghadangnya sehingga merekapun segera berkelahi dengan seru.

Hati guru silat Kim Siok terkejut dan khawatir sekali ketika dia me lihat gerakan dua orang yang sudah berkelahi dengan anak perempuan dan muridnya. Tahulah dia bahwa tiga orang lawan ini bukan hanya berna ma kosong saja dan biarpun mereka meng gunakan julukan yang terlalu so mbong, na mun Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin ini ternyata me mang lihai sekali. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menyertai anak dari calon mantunya untuk me mbela diri dan me lawan mati- matian. Hanya Louw Ti seorang yang masih belum me mperoleh tanding, maka diapun tak mengeluarkan kata-kata lagi, langsung saja menyerang Louw Ti yang pendek tegap itu dengan pukulannya yang ampuh.

Louw Ti meng hadapi serangan itu dengan tenang. Pukulan itu bukan pukulan biasa, melainkan pukulan dari jurus Ilmu Silat Sin-ho-kun (Silat Bangau Sakti), dilakukan dengan sempurna dan didorong oleh tenaga sinkang yang a mat kuat. Namun Louw Ti tidak mengelak, sengaja tidak mengelak me lainkan me nyambutnya dengan tangkisan sa mbil mengerahkan tenaganya pula karena dia ingin meng uji kekuatan pihak lawan.

"Dukkk......!" Dua tenaga yang amat kuat bertemu melalui dua lengan itu dan akibatnya, tubuh Kim Siok terdorong ke belakang sa mpai dia terhuyung, sebaliknya, Louw Ti masih berdiri tegak, matanya melotot lebar dan mulutnya bergerak ke arah senyum mengeje k. Dalam perte muan adu tenaga gebrak pertama ini, mereka berdua sudah ma klum akan kekuatan mas ing-masing dan dia m-dia m guru silat Kim terkejut bukan ma in karena dia tahu bahwa tenaganya masih kalah jauh dibandingkan dengan lawan yang bertubuh pendek tegap bermuka hita m ini. Dengan sudut matanya diapun me lihat betapa keadaan anak perempuan dan muridnya sudah payah, terdesak terus oleh pihak lawan dan mudah diduga bahwa mereka berdua itu pasti akan kalah. Maka, dengan menebalkan muka, de mi kepentingan puterinya, dia segera berkata dengan lantang.

"Tahan dulu. !!"

Post a Comment