"Bagus, kalau mereka yang maju, tentu tiga orang itu dapat dibekuk. Akan tetapi, jangan boleh me mbunuh mereka, ayah. Aku ingin mendapatkan mereka hidup-hidup di tanganku!"
Sang ayah yang sangat sayang kepada puteranya itu tersenyum dan mengangguk angguk.
"Hayo cepat kirim utusan kepada mereka!"
Pui Ki Cong lalu cepat mengutus pengawal me ngundang tiga orang jagoan itu dan pengawal itu tentu saja tahu ke mana harus mencar i mereka. Nama besar tiga orang jagoan itu amat terkenal. Baru julukannya saja Thian-cin Bu-tek Sa m- eng (Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin! Tak la ma kemudian, tiga orang penunggang kuda me masu ki pekarangan yang luas dari rumah gedung pembesar Pui. Melihat lagak dan pakaian saja, mudah diduga bahwa tiga orang penunggang kuda ini adalah jago-jago silat. Mereka menunggang kuda dengan cara yang gagah, duduk dengan tegak di atas kuda mere ka yang tinggi besar. Siapakah tiga orang gagah ini dan mengapa mereka berani me mperguna kan julukan yang demikian tekebur, yaitu Tiga Orang Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin?
Seorang di antara mereka berna ma Gan Tek Un berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, berperawakan sedang, mukanya bersih dan termasuk tampan juga, akan tetapi wajah yang tampan bersih itu dingin sekali, jarang tersenyum dan matanya amat tajam men usuk. Pakaiannya indah, model pakaian pendekar yang serba ringkas. Sepasang pedang tergantung di punggungnya, bersilang dengan ronce-ronce merah dan kuning.
Orang ke dua bernama Koo Cai Sun, usianya juga kurang lebih t iga puluh lima tahun. Tubuh orang ini agak ge muk, terutama di bagian perutnya yang gendut. Mukanya juga bersih karena dia berkulit putih kuning, muka yang bulat karena gemuk. Sepasang matanya yang lincah mengerling ke kanan kiri itu, mulutnya yang bibirnya agak tebal dan selalu tersenyum-senyum ge mbira, menunjukkan dengan jelas bahwa dia seorang mata keranjang dan so mbong, pakaiannya pesolek, bahkan dari pakaian itu berha mburan bau minyak wangi me lebihi wanginya pakaian pelacur di waktu ma la m. Rambutnya disisir licin bekas minyak. Di pinggangnya, secara menyolok sekali, tampak terselip sepasang to mbak pendek, yaitu senjata siang-kek, tombak cagak yang pendek, yang di kedua gagangnya dipasangi tali merah.
Adapun orang ke tiga berna ma Louw Ti, usianya juga sebaya, kurang lebih tiga puluh lima tahun, la dapat dibilang buruk rupa di antara ketiganya. Hidungnya pesek dan tubuhnya pendek tegap na mpak kuat sekali. Mukanya hitam dan matanya menyeramkan. Dia tidak me mbawa senjata, akan tetapi di pinggangnya melingkar sebuah benda yang menarik. Itulah sebatang cambuk hitam yang ujungnya dipasangi kaitan baja!
Tiga orang ini sebenarnya berasal dari aliran yang berbeda. Akan tetapi secara kebetulan, tiga orang ini sama-sama menjad i murid seorang pertapa tersesat, seorang tokoh sakti dari dunia hita m.
Karena mereka seguru, maka mere ka la lu bersatu dan me mang tingkat kepandaian mereka sa ma. Mereka bertiga, dengan kepandaian mas ing-masing, sudah menjadi seorang jagoan yang sukar dilawan. Apalagi mereka bersatu dan saling bela, tentu saja kekuatan mereka menjad i berlipat ganda. Inilah sebabnya, mereka menjadi jumawa dan merasa tidak ada lagi yang ma mpu menand ingi mereka dan mereka berani me mperguna kan julukan Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin. Bukan hanya karena kepandaian mereka yang tinggi yang me mbuat mereka berani me makai julukan ini, juga terutama sekali karena mereka me mpunyai hubungan yang amat baik dan erat dengan kalangan atas, dengan pejabat- pejabat tinggi yang berkuasa di Thian-cin. Inilah sebabnya maka para pendekar, walaupun merasa penasaran mendengar tentang julukan mereka yang amat tekebur itu, mereka segan untuk menentang mereka yang berlindung di balik kekuasaan para pejabat dan membiarkan mereka mabo k dalam kejumawaan mereka.
Tiga orang itu me makai julukan Sa m-eng (Tiga Jagoan atau Tiga Pendekar) karena me mang mereka merasa diri mereka sebagai pendekar-pendekar silat yang tangguh. Mereka me mang bukan penjahat, dalam arti kata tidak melakukan pekerjaan sebagai penjahat. Hal ini sa ma sekali bukan berarti bahwa mereka adalah pendekar-pendekar budiman yang suka meno long sesama hidup, menentang yang kuat menindas dan me mbe la kaum le mah tertindas. Sama sekali t idak. Bahkan kadang-kadang, di luar kesadaran mere ka sendiri, tiga orang ini, dalam kepongahan dan kemabokan mas ing-masing, suka me lakukan hal-hal yang bertentangan dengan sikap seorang pendekar. Kadang-kadang mereka itu dipergunakan oleh para pejabat tinggi untuk me mbela kepentingan sang pejabat. Akan tetapi mereka bertiga ini terkenal sebagai jagoan-jagoan bayaran yang menuntut bayar-an tinggi.
Demikianlah sedikit tentang keadaan tiga orang jagoan yang kini diundang oleh Pui Taijin itu. Mendengar undangan dari pejabat yang penting ini, tentu saja tiga orang jagoan yang tempat tinggalnya berpisah, akan tetapi ketiganya sama- sama tinggal di kota Thian-cin, cepat-cepat berkumpul dan segera datang berkunjung ke rumah gedung Pui Taijin.
Pembesar gendut itu menya mbut mereka di dalam ruangan khusus yang biasa dia pergunakan untuk me mbicarakan urusan rahasia. Setelah pelayan mengeluarkan hidangan, mereka mulai dengan perundingan mere ka dan daun pintu dan jendela ditutup rapat, para pelayan tidak diperkenankan mende kat. Yang berada di dalam kamar itu hanyalah tiga orang jagoan itu bersama Pui Taijin dan Pui Ki Cong. Pertama- tama Pui Taijin sendiri mengucapkan sela mat datang dengan secawan arak, mempersilakan mereka makan minum dan diapun menya mpaikan kehendaknya minta bantuan dari tiga orang pendekar itu.
"Keluarga Kim itu jelas menghina kami sekeluarga, berani menghina kami dan me lawan pasukan pengawal. Mereka itu jelas me mberontak, atau setidaknya memperlihatkan sikap me lawan alat negara dan memberontak. Akan tetapi karena jumlah mereka hanya bertiga, kami merasa malu kalau harus mengerahkan pasukan untuk menangkap mereka. Oleh karena itu, kami mengharap bantuan sam- wi untuk menangkap mereka." "Tapi harap sa m-wi jangan sekali- kali me mbunuh mereka, bahkan jangan melukai nona Kim. Tangkap mereka hidup- hidup dan seret mereka ke sini." Pui Ki Cong mena mbahkan perintah ayahnya.
Koo Cai Sun yang bermuka bulat dan selalu tersenyum itu me ma inkan biji matanya yang berminyak itu, menyumpit sepotong daging dan me masukkan daging itu ke mulutnya. Sambil mengunyah daging babi berminyak itu dia berkata, "Aha, agaknya kongcu tertarik kepada nona Kim itu, sudah dapat dipastikan bahwa ia tentu a mat cantik jelita!"
"Aihh, nona itulah yang menjadi gara-gara semua ini." Pui Taijin berkata gemas. "Dan anak yang kurang hati-hati ini. bernasib sial. Mula- mula dia berte mu dengan nona itu dan tertarik. Kami mengaju kan pinangan. Pinangan ditolak, bahkan keluarga itu menghina kami. Dia me mbawa selosin pengawal untuk me mber i hajaran, akan tetapi malah dilabrak o leh guru silat Kim, puterinya dan calon mantunya."
"Apakah yang taijin maksudkan dengan guru silat Kim itu adalah Kim Siok, guru silat dari Ang-ke-bun itu?" tiba-tiba Gan Tek Un yang sejak tadi diam saja bertanya.
"Benar, dialah orangnya, guru silat kampungan itu," kata Pui Ki Cong.
Tiga orang jagoan itu saling pandang, "Hemm," kata Louw Ti yang ber muka hitam itu sa mbil me mandang wajah Pui Kongcu. "Guru silat kampungan? Dia adalah murid S iauw-lim- pai yang cukup lihai ilmu silatnya."
"Akan tetapi bagaimanapun juga aku tidak percaya kalau sam-wi takut me lawannya." kata Pui Ki Cong. Pemuda ini me mang cerdik dan licik sekali. Ucapannya ini merupakan kesengajaan untuk me mbangkitkan ke marahan mereka karena harga diri mere ka disinggung dan kegagahan mereka diragukan. "Takut? Huh, setanpun kami tidak takut melawannya!" kata Louw Ti setengah me mbentak dan dia m-dia m Ki Cong merasa girang karena pancingannya mengena.
"Ka mipun sudah tahu bahwa keluarga Kim itu me miliki kepandaian silat yang lihai sehingga pasukan pengawal kamipun dihajar oleh mereka. Karena itulah ma ka kami sengaja mengundang sa m-wi untuk minta bantuan sa m-wi, karena siapa lagi , kalau bukan sa m-wi yang akan ma mpu menyeret mereka bertiga ke sini." kata Pui Taijin dan ucapan ini cocok sekali dengan pancingan puteranya.
Koo Cai Sun yang merupakan orang paling pandai dan paling suka bicara di antara mereka bertiga, kini mewa kili saudara-saudaranya berkata kepada Pui Taijin, "Harap taijin jangan khawatir. Memang Kim Kauwsu itu murid S iauw-lim-pai yang lihai, akan tetapi bagi kami dia itu bukan apa-apa. Kami tanggung dalam waktu singkat kami akan dapat menyeret mereka bertiga itu sebagai tawanan ke sini. Akan tetapi, kami mengharap agar taijin suka me mperti mbangkan permintaan kami bertiga tempo hari yang sampai kini belum juga taijin penuhi."
"Ahh, tentang kedudukan itu? Jangan khawatir. Kami sudah mencari-carikan di kota raja dan kami sudah mengadakan hubungan di sana. Kalau sam-wi berhasil me mbantu kami, kami akan menyerahkan surat perkenalan dan tanggungan agar sam-wi dapat diterima menjadi calon-calon perwira di kota raja. Kalau mungkin di istana, kalau tidak tentu di dalam pasukan pengawal para pejabat tinggi di sana."
Tentu saja tiga orang jagoan itu merasa gembira bukan ma in. Hanya ada satu cita-cita mereka yang belum tercapai, yaitu kedudukan tinggi karena mereka tahu bahwa kedudukan tinggi mendatangkan kekuasaan yang jauh bedanya dari kekuasaan yang datang karena ilmu silat mereka. Kekuasaan yang didapat dari kedudukan atau jabatan jauh lebih besar pengaruhnya. "Baiklah, taijin." kata Koo Cai Sun.
"Sekarang juga kami akan menangkap keluarga Kim itu." "Mungkin mere ka me larikan diri dari Ang- ke-bun. Harap
sam-wi mencarinya sampai dapat kalau mereka telah me larikan diri," kata sang pembesar.