Sementara itu, melihat betapa ayahnya dan suhengnya sudah berkelahi, Cui Hong yang sudah marah sekali terhadap Pui Ki Cong, sudah menerjang ke depan untuk menyerang pemuda yang menjad i biang keladi se mua keributan ini. Akan tetapi, beberapa orang perajurit pengawal menyambutnya dengan senjata mereka dan sebentar saja Cui Hong sudah dikeroyok oleh belasan orang perajurit itu! yang sebagian me mbantu Bhong Gun yang nampaknya kewalahan menghadap i guru silat Kim Siok.
Bhong Gun yang ge muk pendek itu, biarpun me miliki gerakan yang lincah dan cepat, ternyata bukan lawan seimbang dari guru silat Kim. Mula- mula dia me mang menyerang dengan ganas, menggunakan kaki tangannya yang serba pendek namun cepat dan kuat itu, hendak mendesak lawan. Namun, Kim Siok adalah se orang ahli silat murid Siauw-lim-pai yang sudah me miliki ilmu silat yang matang. Ilmu itu sudah mendarah daging dalam gerakannya dan sebagai guru silat, tentu saja ia seringkali mengajar murid- muridnya dan hal ini sa ma saja dengan berlatih diri, maka gerakannya cekatan dan tepat. Mula-mula dia hanya me mbela diri, akan tetapi agaknya pihak lawan tidak tahu diri, tidak mau tahu bahwa dia banyak mengalah. Maka setelah lawan terus mendesaknya sampai dua puluh jurus lebih, Kim Siok mulai me mbalas dan baru beberapa jurus saja dia me mbalas, sebuah kakinya berhasil mendarat dengan tendangan kilat ke arah perut Bhong Gun yang bundar dan gendut.
"Bukkkk!" Bagaikan sebuah bola yang ditendang, tubuh Bhong Gun terlempar dan terbanting roboh sampai terguling- guling. Akan tetapi ternyata dia cukup lihai karena begitu terlempar, dia sengaja menggulingkan dirinya sehingga dia ma mpu cepat me lo mpat bangkit lagi. Kini dia mencabut keluar goloknya dan menyerang lagi, dibantu oleh e mpat orang perajurit yang melihat betapa komandan ini kewalahan menghadap i guru silat Kim. Karena Bhong Gun dan e mpat orang perajurit itu me mpergunakan senjata, Kim Siok juga segera melolos ikat pinggangnya yang merupakan senjata yang ampuh. Ikat pinggang ini terbuat daripada kain yang ulet, akan tetapi dikedua ujungnya diikatkan mata pisau bercabang tiga yang kecil namun cukup berat. Segera terjadi pengeroyokan yang lebih seru lagi.
Perkelahian antara Lu San dan Teng Kui a mat ramai. Walaupun Teng Kui juga me mpergunakan goloknya dan Lu San hanya bertangan kosong, namun komandan pengawal itu tidak ma mpu mengimbangi kecepatan gerakan Lu San dan sudah beberapa kali dia terkena pukulan dan tendangan. Kalau saja tidak ada dua orang anak buahnya yang cepat me mbantunya tentu dia sudah roboh dalam waktu kurang dari dua puluh jurus saja Dikeroyok tiga, Lu San yang gagah perkasa itu masih menga muk dan sama sekali tidak terdesak walaupun tiga orang pengeroyoknya memperguna kan senjata golok.
Sisa enam orang anak buah pasukan pengawal itu mengeroyok Cui Hong. Namun, mereka yang bertangan kosong dan tidak berani me mpergunakan senjata karena Pui Ki Cong melarang mereka me lukai gadis itu, sa ma sekali bukan lawan tangguh bagi Cui Hong. Dara re maja ini berloncatan dengan lincah seperti seekor burung walet menghindarkan diri dari tangan-tangan yang hendak menang kapnya, dan me mbagi-bag i ta mparan dan tendangan yang cukup keras sehingga enam orang itu jatuh bangun dan tiap kali terkena tamparan atau tendangan tentu terpelanting dan mengaduh. Dara itu sungguh lincah dan kecepatan gerakannya sama sekali t idak dapat diimbangi oleh enam orang pengeroyok yang hanya memiliki tenaga otot yang besar dan keberanian karena mengeroyok itu.
Perkelahian itu, walaupun t idak seimbang dalam jumlah, namun ternyata keadaannya sama sekali berlawanan dengan jumlahnya karena keluarga guru silat yang hanya terdiri dari tiga orang itu ternyata ma mpu mendesak para pengeroyok yang jumlahnya empat belas orang! bahkan di antara para pengeroyok, terutama yang mengeroyok guru silat Kim, banyak yang sudah roboh dan tidak ma mpu melanjutkan pengeroyokan lagi. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya ini, Gu Mo Sim menjad i ketakutan.
"Kongcu.....! Kongcu.....! Mari kita pergi. Cepat-cepat. !"
Comblang yang berwatak pengecut ini dengan ketakutan lalu lari mengha mpiri kudanya dan berusaha meloncat ke atas punggung kuda. Akan tetapi karena dia me mang bukan ahli menunggang kuda dan berada dalam keadaan panik, loncatannya tidak mencapai sasaran dan kakinya yang meng injak sanggurdi terpeleset sehingga diapun terjatuh. Ketika dia hendak bangun dia terkejut setengah mati melihat bahwa Kim Siok telah berdiri di dekatnya. "Celaka !"
serunya.
"Manusia busuk!" Kim-kauwsu me ma ki dan sekali tangannya mena mpar, terdengar suara "krekk!" dan tulang pundak comblang itupun patah-patah. Manusia itu menjer it- jerit, lebih karena takut dan ngeri daripada karena nyeri dan belum apa-apa diapun sudah terkulai le mas dan pingsan.
Sementara itu, ketika mendengar teriakan Gu Mo Sim, Pui Ki Cong juga tahu akan bahaya. Tak disangkanya bahwa keluarga guru silat itu sedemikian lihainya. Maka diapun berpikir bahwa me larikan diri lebih aman dan diapun cepat lari dan me loncat ke atas punggung kudanya. Akan tetapi, baru saja tubuhnya tiba di atas sela di punggung kudanya,
tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan Cui Hong sudah berada di sampingnya.
"Turun kau, pengacau busuk!" Dara re maja itu mendorongkan kedua tangannya dan tanpa dapat dihindarkan lagi, tubuh pemuda bangsawan itu terpelanting dari atas punggung kuda dan terbanting ke atas tanah sa mpai menge luarkan suara berdebuk. Pe muda bangsawan itu mengaduh, akan tetapi dia ketakutan dan memandang dengan muka pucat kepada dara re maja yang sudah melangkah mengha mpirinya dengan sikap menganca m. Saking takutnya, Pui Ki Cong sampai tidak ma mpu bangun dan celananya menjad i basah tanpa disadarinya!
"Hong-ji, jangan.....!" Tiba-tiba Kim Siok berseru keras dan puterinya yang sudah siap me mberi hajaran keras kepada Pui Ci Kong mengurungkan niatnya dan meninggalkan pemuda yang masih rebah di atas tanah itu.
Ternyata perkelahian itu sudah selesai. Bhong Gun sudah roboh, demikian pula Teng Kui. Dari dua belas orang pengawal, yang delapan orang luka-luka dan kini yang e mpat orang tidak berani lagi me lawan.
"Kalian pergilah dan jangan meng ganggu kami lagi!" kata guru silat Kim Siok. Dengan susah payah, dan saling bantu, enam belas orang itu lalu men inggalkan dusun Ang-ke-bun, menunggangi kuda mere ka perlahan-lahan karena sebagian besar dari mereka luka- luka.
Setelah mereka pergi, Kim Siok berkata kepada puterinya dan muridnya, "Kalian berkemas. Kita harus pergi sekarang juga!"
"Ke mana, ayah?" Cui Hong bertanya heran. "Ke selatan, makin jauh makin baik."
"Ah, perlu apa kita melarikan diri. ayah? Maksud ayah, kita harus melarikan diri, bukan?"
Guru silat itu menatap wajah puterinya dan juga wajah Lu San yang agaknya juga merasa penasaran mendengar bahwa mereka diharuskan melarikan diri dari dusun tempat tinggal mereka.
0dw0 ooo
“AGAKNYA kalian belum dapat me mbayangkan akan bahaya besar yang mengancam kita. Apakah kalian tidak menyadari bahwa Pui Ki Cong itu adalah putera kepala jaksa di Thian-cin? Lihat saja sepak-terjangnya. Ditolak lamarannya, dia malah me mbawa pasukan pengawal untuk menghukum kita. Untung bagi kita bahwa perhitungannya keliru. Kalau dia datang bersama pasukan besar yang jumlahnya puluhan atau ratusan orang, tentu kita tadi tidak akan mampu menyelamatkan diri dan entah bagaimana nasib kita. Oleh karena itu, sekarang juga kita harus pergi dari sini sebelum pasukan yang lebih besar datang untuk menangkap atau me mbunuh kita."
"Aku tidak takut!" Cui Hong berteriak. "Mereka itu jahat dan aku akan melawan mere ka, akan kuhajar mere ka!"
"Cui Hong, jangan bicara seperti anak kecil," ayahnya menegur. "Keberanian tanpa perhitungan bukan merupakan kegagahan, melainkan suatu kebodohan. Hanya menganda lkan keberanian me lawan pasukan besar pemerintah dengan nekat, hal itu berarti bunuh diri. Ucapanmu itu menimbulkan keraguan apakah engkau ini me mang gagah atau bodoh."
Cui Hong dapat melihat kebodohannya dan iapun tidak me mbantah lagi hanya mengepa l tinju karena marah sekali kepada Pui Ki Cong yang menjad i biang keladi semua ini.
"Akan tetapi, suhu. Sudah jelas bahwa sumoi tidak bersalah, kita tadi hanyalah membela diri. Kalau kita tidak bersalah, kenapa kita harus pergi? Bukankah melarikan diri seperti juga menga ku bersalah? Kita tidak bersalah, dan pemerintah tentu dapat menilainya. " Lu San juga me mbantah karena diapun merasa penasaran mengapa mere ka yang diganggu, malah kini mereka yang harus me larikan diri. Gurunya menarik napas panjang. "Memang mendatangkan rasa penasaran sekali, Lu San. Akan tetapi engkau harus menyadari bahwa dalam keadaan pemerintah le mah seperti ini, kaisar tidak berwibawa sa ma sekali sehingga kita sendiri bingung siapa sebenarnya yang berkuasa. Oknum-o knum yang me megang jabatan itu ataukah hukum pe merintah. Dalam keadaan seperti sekarang ini, bisa saja kita dituduh sebagai pemberontak dan dihadapkan kepada pasukan keamanan pe mer intah. Karena itu, satu-satunya jalan adalah menghindarkan bentrokan lebih lanjut dan melarikan diri sejauh mungkin dari sini."
Dengan hati penuh duka dan penasaran, terpaksa Cui Hong mentaati ayahnya dan mereka bertiga lalu berkemas. Kepada, beberapa orang murid yang rumahnya berdekatan dan sudah berdatangan mendengar keributan yang terjadi di rumah guru mereka, Kim Siok meninggalkan pesan agar mereka tidak menca mpuri urusan itu dan sebaiknya menjauhkan diri jangan sampai terlibat kalau pihak pe mbesar she Pui itu mencari gara-gara di antara murid-muridnya. Mereka bertiga hanya dapat me mbawa barang-barang kecil dan berangkatlah mereka meninggalkan Ang-ke-bun pada hari itu juga.
Apa yang dikhawatirkan guru silat Kim Siok me mang tidak berselisih jauh dengan kenyataannya. Jaksa Pui menjadi marah bukan main ketika dia melihat puteranya babak belur dan kepalanya tumbuh benjolan besar ketika terjatuh dari atas kuda. Ada dua hal yang me mbuat pe mbesar itu marah. Pertama karena kelancangan puteranya yang membawa pasukan untuk bertindak sendiri. Ke dua karena puteranya telah dipukul dan dihina orang.
"Ayah, kita akan kirim pasukan besar untuk menangkap dan menghukum mereka!" kata Pui Ki Cong yang merasa malu dan marah sekali.
"Bodoh! Kau hendak menar ik perhatian orang seluruh Thian-cin? Memukul anjing tidak perlu menggunakan tongkat terlalu besar. Akan memalukan saja kalau kita harus menggunakan pasukan. Apalagi, urusan ini adalah urusan pribadi, bukan urusan pemer intah."
"Akan tetapi, apa sukarnya mengalihkannya menjadi urusan pemerintah, ayah? Bukankah mereka telah melabrak pasukan pengawal dan berarti mereka itu telah me mberontak? Anggap saja mereka pemberontak-pe mberontak dan ayah berhak untuk me mbas minya dengan pasukan, bukankah begitu?"
"Bodoh! Mana ada pe mberontak hanya tiga orang dan alangkah me ma lukan kalau harus menundukkan tiga orang saja me mperguna kan pasukan besar. Tidak, suruh orang panggil ke sini Thian-cin Bu tek Sa m-eng!"
Pui Ki Cong terbelalak. "Bu-tek Sa m-eng? Tapi mana
mereka mau me mbantu kita dan..... mereka bukan pembunuh-pembunuh bayaran."
"Hemm, kau tahu apa? Mereka itu haus akan kedudukan dan kini aku akan me mberi kesempatan kepada mereka untuk meraih kedudukan. Kalau aku menjanjikan kedudukan dan me mper kenalkan mere ka ke kota raja, tentu mereka mau me mbe kuk tiga orang itu."