bagimu untuk men ikah."
"Ahhh.....!" Wajah itu berubah merah sekali dan hampir Cui Hong lari saking malunya. Ayahnya bicara soal pernikahan begitu saja, apalagi di depan suhengnya. Akan tetapi, ia seorang gadis yang lincah dan tabah, maka ia menekan batinnya yang diliputi perasaan malu dan ia me mbantah sesuai dengan suara hatinya. "Akan tetapi, ayah. Usiaku baru hampir enam belas tahun! Aku..... aku belum ingin menikah, masih ingin me layani ayah. Dan dengan adanya ayah disa mpingku, ditambah lagi dengan kekuatanku sendiri, apa yang ayah khawatirkan? Aku ma mpu menjaga diri sendiri."
"Me mang tadinya akupun berpikir de mikian, tidak akan tergesa-gesa, setidaknya menanti sampai engkau berusia tujuh belas atau delapan belas tahun. Akan tetapi kedatangan tamu tadi mengubah pikiranku. "
"Ta mu siapakah, ayah? Orang yang tinggi kurus berkepala botak tadi? Siapakah dia dan apa hubungan kedatangannya dengan aku? Dengan. maksud ayah?"
"Dia adalah comblang Gu Mo Sim dari Thian-cin dan kedatangannya tadi adalah untuk meminangmu, Hong-ji."
"Ahh.....! Dan ayah..... ayah menerima pinangannya!" Gadis itu setengah berteriak saking kaget dan khawatirnya. Hati gadis itu lega karena ayahnya menggeleng kepalanya dengan cepat. "Dia datang sebagai utusan Kepala jaksa Pui Taijin, melamar engkau untuk puteranya yang bernama Pui Ki Cong. "
"Ahhh. " Cui Hong berseru kaget.
"Untuk menjadi.. selirnya. Aku menolaknya dengan keras." "Ahhh.....! Si keparat! Berani benar dia!" teriak Cui Hong
dan me mbuat ayahnya menjadi heran mendengar ini. Juga Lu San yang sejak tadi hanya duduk diam mendengarkan percakapan yang menegangkan hatinya ini, kini mengang kat muka me mandang wajah sumo inya.
"Kau sudah mengenal dia?"
"Tentu saja! Aku belum bercerita kepada ayah, juga kepada suheng aku tidak bicara apa-apa. Terjadinya pada hari ulang tahun ayah itu. Aku pergi ke pasar Thian-cin untuk berbelanja sayur dan ayam untuk me mbuatkan masakan istimewa untuk ayah. Ketika pulang dari pasar, seorang pemuda jangkung bersama dua orang kaki tangannya menghadang perjalananku dan bersikap kurang ajar kepadaku. Karena dia menggangguku, maka aku telah mena mpar mukanya. Dua orang kaki tangannya menyerangku dan kuhajar mere ka, lalu aku pulang dengan cepat. "
"Ah, ketika itu engkau na mpak marah- marah dan mukamu merah pada m, sumo i. Kiranya terjadi hal itu?" kata Lu San yang teringat akan keadaan sumoinya pada beberapa hari yang lalu itu.
"Benar, dan sekarang, dia berani menyuruh seorang untuk me minangku. Keparat benar orang itu! Kalau tahu begini, tentu aku akan menghajarnya lebih keras lagi!
"Hemm „ ada kejadian seperti itu?"
Guru silat Kim Siok mengerutkan alisnya dan berpikir keras. "Dia tertarik pada mu, mengganggumu dan kauta mpar dia. Akan tetapi dia malah menyuruh ayahnya meng irim utusan me la mar, dan melamar mu untuk menjadi selirnya. Sungguh terlalu!" Guru silat itu mengepal t inju. "Memang hatiku sudah merasa tidak enak sejak munculnya comblang keparat itu. Dan kini ceritamu lebih meyakinkan lagi hatiku. Engkau harus segera menikah, Hong-ji!"
"Tapi, ayah! Engkau sudah menolak la marannya, dan akupun tidak sudi "
"Jangan bodoh, Hong-ji. Tentu saja akupun tidak rela me mbiarkan engkau menjadi selir keparat itu. Tidak, engkau bukan menjad i selir anak jaksa itu, me lainkan menjadi isteri dari suhengmu ini, Can Lu San."
"Ahh.....!" Cui Hong berseru dan me nahan suaranya, menunduk dan tidak berani berkutik lagi saking malunya. Ingin ia lari akan tetapi meng ingat akan pentingnya persoalan yang dibicarakan, ia menahan diri dan hanya menunduk.
"Ahh....!" Can Lu San juga terkejut karena ucapan suhunya ini terlalu tiba-tiba datangnya, walaupun sudah sejak lama dia jatuh cinta kepada sumoinya dan sudah lama mengharapkan putusan suhunya ini. Diapun lalu menundukkan mukanya yang berwarna ke merahan.
Melihat sikap kedua orang muda yang menundukkan muka dengan malu-ma lu itu, Kim Siok tersenyum. "Kurasa kalian merasa setuju dan dapat menerima keputusanku agar kalian berjodoh dan menjad i suami isteri."
Dua orang muda itu tidak dapat menjawab dan kepala mereka se makin menunduk. Kim Siok mendapat akal. "Kalau ada di antara kalian merasa tidak setuju, harap menyatakan sekarang juga karena kalau diam saja sudah kuanggap kalian tidak meno lak dan sudah merasa setuju. Bagaimana? "
Can Lu San yang setuju seribu prosen itu tentu saja merasa lega dan diapun hanya menunduk, bahkan semakin rendah mukanya menunduk. Tiba-tiba Cui Hong mengang kat mukanya.
"Ayah. "
Hati ayah ini terperanjat. Apakah puterinya tidak setuju? Dengan was-was dia menatap wajah puterinya penuh selidik.
"Ayah, perlukah pernikahan dilakukan tergesa-gesa? Kalau hanya ancaman dari keparat itu saja. "
"Anakku, ketahuilah bahwa tadi aku terpaksa me mperguna kan alasan untuk meno lak pinangan dari Jaksa Pui, dan alasan yang kupergunakan adalah bahwa kau telah bertunangan dengan Lu San. Dan hatiku takkan merasa tenteram sebelum kalian benar-benar menjad i suami isteri sehingga tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi karena- engkau sudah bersuami. Aku merencanakan untuk meray akan pernikahan itu dalam bulan ke sepuluh depan ini."
"Bulan ke sepuluh? Kini sudah ke tujuh. Tinggal tiga bulan lagi,” pikir Cui Hong dengan jantung berdebar tegang.
"Bagaimana? Apakah kalian setuju? Ingat, kita sekeluarga hanya tiga orang, aku tidak dapat mengajak siapapun berunding kecuali kalian. Karena itu, keluarkan pendapat kalian. Apakah kalian setuju kalau pernikahan dilakukan dalam bulan ke sepuluh?"
Tanpa mengangkat mukanya, Cui Hong berkata lir ih, "Terserah kepada ayah. "
Mendengar sumoinya menjawab, Lu San me mberanikan diri berkata pula, "Teecu hanya mentaati segala perintah suhu."
"Nah, kalau begitu legalah hatiku."
Akan tetapi baru saja guru silat itu merasa terlepas daripada himpitan kekhawatiran, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda yang berhenti di depan rumah mereka. Kim Siok saling pandang dengan puteri dan muridnya, dan ketiganya lalu serentak meloncat bangun dan berlari keluar. Dan di pekarangan rumah mere ka itu telah berloncatan turun enam belas orang perajurit pengawal berpakaian seragam yang dikepalai dua orang perwira, dan yang dua orang lagi adalah Pui Ki Cong dan Gu Mo Sim! Melihat pe muda jangkung kurus itu, tentu saja Cui Hong sudah menjad i marah sekali dan tahu bahwa pemuda itu datang mencari gara-gara. Sedangkan Kim Siok sendiri begitu me lihat hadirnya Gu Mo Sim di situ, sudah dapat menduga apa artinya kedatangan rombongan perajurit ini. Tentu ber maksud kurang baik.
"Hati-hati....." bisiknya kepada puteri dan muridnya.
Akan tetapi Gu Mo Sim yang sudah me langkah maju dan orang ini me mperoleh keberanian karena mengandalkan pasukan itu, sudah menudingkan telunjuknya ke muka Kim Siok dan me ma ki, "Guru silat kampungan she Kim! Engkau sudah berani meno lak kehormatan dan ma ksud ba ik keluarga Pui yang mulia, bahkan berani pula mengusir aku yang menjad i utusannya. Agaknya engkau me mang sudah bosan hidup! Hayo cepat minta maaf kepada Pui-kongcu dan cepat menyerahkan nona Kim dengan baik-baik untuk menebus dosamu!"
Bukan main marahnya hati Kim Siok mendengar ucapan ini. Biarpun dia tahu dar i cerita puterinya bahwa putera jaksa Pui itupun bukan seorang yang baik-baik, akan tetapi sedikit banyak comblang Gu Mo Sim ini me mpengaruhinya.
"Mulut mu yang busuk itulah yang perlu dihajar!" katanya dan dia me langkah maju untuk mena mpar muka comblang itu. Melihat ini Gu Mo Sim lari bersembunyi di belakang Pui Kongcu.
"Kaupun bukan manus ia baik-baik. Mau apa datang ke sini? Mau minta dita mpar sampai muka mu hancur?" bentak Cui Hong dan iapun sudah melangkah maju untuk mengha mpiri Pui Ki Cong. Akan tetapi, Bhong Gun dan Teng Kui sudah cepat melangkah maju untuk menghadang ayah dan anak yang marah itu.
"Hemm, guru silat Kim Siok, berani engkau hendak me lawan yang berwajib? Hayo cepat kau berlutut dan menyerah!" bentak Bhong Gun dengan sikap gagah dan galak.
Kim Siok me mandang mereka berdua dan tersenyum mengejek. "Aha, bukankah kalian ini dua orang perwira keamanan di Thian-cin yang bertugas mengawal pembesar? Sebagai kepala pengawal, tugas kalian adalah menjaga keselamatan pe mbesar, bukan untuk berlagak menindas rakyat."
"Kurang ajar! Tangkap dia!" Pui Ki Cong yang sudah tidak sabar lagi me lihat Cui Hong di situ dan ingin cepat-cepat menang kap dan me mbawa pulang gadis itu, sudah me mberi aba-aba. Mendengar aba-aba ini, dua orang perwira pengawal itu lalu menerjang maju. Bhong Gun yang gemuk pendek menerjang Kim Siok, sedangkan Teng Kui yang tinggi besar itu maju menyerang Cui Hong. Akan tetapi dengan cepat Lu San yang berdiri di belakang gadis itu meloncat ke depan menya mbut terjangan Teng Kui mewakili tunangannya atau sumo inya. Seperti juga Kim Siok yang sudah mulai berkelahi me lawan Bhong Gun, Lu San segera bertanding melawan Teng Kui dengan serunya.