Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita Chapter 04

Memuat...

Gu Mo Sim melongo. Hal ini sungguh sa ma sekali tak pernah disangkanya. Pui Taijin tidak pernah me ngatakan bahwa gadis yang dipinangnya itu sudah bertunangan dengan seorang pria lain. Tentu saja penolakan itu wajar dan dia tidak dapat membantah lagi. Bagaimanapun juga, dia seorang comblang yang terkenal dan bukan hanya dia akan kehilangan muka kalau sa mpa i pinangannya gagal, juga akan kehilangan hadiah besar. Dalam keadaan putus asa itu, diapun mencoba untuk me mbujuk.

"Pertunangan itu masih belum terlambat untuk diputuskan, kan belum menikah? Apa artinya seorang murid dibandingkan putera Pui Taijin? Pula, hanya seorang murid, bukankah murid itu seperti anak sendiri dan diputuskanpun tidak menjadi halangan. "

"Cukup, saudara Gu Mo Sim!" Hampir habis kesabaran di dalam hati guru silat Kim itu. "Engkau hanya seorang utusan dan urusan pertunangan anakku tidak ada sangkut-pautnya denganmu! Engkau sudah menyampa ikan tugas mu dan aku sudah men jawab. Sampaikan saja jawaban ini kepada orang yang mengutus mu. Aku tidak banyak waktu untuk bercakap- cakap dengan mu!" Guru silat itu lalu bangkit dan dari suaranya jelas bahwa dia mengusir ta munya itu. Dengan muka berubah merah Gu Mo Sim lalu bangkit, setelah me mandang beberapa jam la manya, diapun menjura dan me mba likkan tubuhnya, pergi men inggalkan rumah guru silat Kim Siok dengan hati mendongkol dan kecewa bukan ma in.

Sekali saja menjad i utusan Kepala jaksa Pui yang de mikian kaya dan berkuasa, dan ternyata dia gagal melaksanakan tugasnya dengan hasil baik.

Karena hatinya kecewa, dia merasa sakit hati terhadap Kim Siok yang dianggapnya bersikap tidak baik dan merugikannya, maka begitu menghadap Pui Taijin, dia melapor sa mbil menje lek-jelekkan diri Kim-kauwsu. "Taijin, guru s ilat she Kim itu sungguh seorang manus ia yang tak tahu diri sekali. Dia berani menolak pinangan taijin terhadap puterinya!"

"Aihhh....!" Pembesar Pui yang gendut itu berseru marah dan alis matanya diangkat naik. "Keparat sombong! Berani dia meno lak? Apa alasannya?"

"Anak pere mpuan itu sudah ditunangkan dengan muridnya yang bernama Can Lu San."

"Aihhh....?" Kemarahan pe mbesar itu menurun. Bagaimanapun juga, dia mengerti pula aturan dan penolakan itu menjad i wajar. Bagaimana seorang gadis yang sudah me mpunyai calon suami dapat menerima pinangan orang lain? "Wah, kenapa Ki Cong tidak me mberi tahu? Celaka, kita menjad i ma lu, melamar gadis yang sudah mempunyai calon suami!"

"Kalau Pui-kongcu menghendaki selir, biar selusin dan lebih cantik daripada anak guru silat kampungan itu, saya masih sanggup mencar ikan, Taijin. Harap hal itu jangan khawatir. Akan tetapi, guru silat itu harus dihajar. Adalah haknya untuk meno lak karena anaknya sudah bertunangan, akan tetapi dia tidak perlu marah- marah dan mengusir saya. Apakah dia tidak tahu bahwa ketika berhadapan dengan saya, maka saya mewakili Pui Taijin dan kalau menghina saya, hal itu sama artinya dengan meng hina Pui Taijin?"

Akan tetapi Pui Taijin termenung. Kini dia mengerti mengapa puteranya dita mpar oleh gadis anak guru silat itu. Kiranya dia sudah bertunangan dan tentu Ki Cong menggodanya ma ka gadis itu marah dan mena mparnya. "Sudahlah, kalau dia marah tentu engkau tidak pandai me mbawa diri. Hal itu tidak perlu r ibut. Yang lebih penting, coba kau hibur Ki Cong dan tawarkan gadis-gadismu itu, agar dia tidak me mikirkan lagi anak tukang silat itu."

Melihat hasutannya tidak berhasil, Gu Mo Sim tidak berani mendesak. Dia me mperoleh kese mpatan la in yang lebih baik untuk me la mpias kan rasa penasaran dan kecewa hatinya. Bergegas diapun pergi mene mui Pui Ki Cong dan di depan pemuda inilah dia me nghasut dengan kata-kata beracun.

"Guru silat itu dan anak gadisnya a mat menghina mu, kongcu. Mereka bukan hanya menolak pinangan, bahkan berani me mburuk-burukkan kongcu, mengatakan kongcu tidak tahu aturan berani meminang seorang gadis yang sudah bertunangan dengan orang lain. Siapa yang tidak panas perutnya mendengar guru silat itu berkata bahwa biarpun kongcu putera jaksa atau putera raja sekalipun mereka tidak takut menolak! Pendeknya, gadis itu dan ayahnya dan tunangannya, bersikap menantang dan menghina sekali. Sayapun sebagai utusan Pui Taijin dihinanya dan diusirnya!"

Wajah Pui Ki Cong sebentar merah' sebentar pucat. Perasaan di hatinya ber macam- maca m, akan tetapi yang paling kuat adalah kekecewaan dan kemarahan. Kecewa karena gadis yang me mbuatnya tergila-gila itu tidak jadi jatuh ke dalam pelukannya dan marah karena selain ditolak la marannya, juga keluarga gadis itu berani menghinanya. Apalagi me lihat sikap pemuda bangsawan itu, Gu Mo Sim masih mena mbah kan minyak pada api yang berkobar itu. "Mereka itu harus dihajar, kongcu. Kalau tidak tentu na ma besar kongcu dan Pui Taijin akan menjadi ce mar. Mari, kongcu, bawa sepuluh orang tukang pukul dan saya yang akan menjadi saksi. Kita serbu Ang-ke-bun dan kita hajar ayah dan anak dan calon mantunya itu, agar puas hati kita walaupun la maran dito lak!"

Kebetulan ketika Gu Mo Sim meng hadap, di situ terdapat dua orang kepala pengawal jagoan yang biasa membantu Pui- kongcu. Karena mereka berdua itu ditakuti orang, dan mereka me mang boleh diandalkan, Pui Ki Cong lalu menarik dua orang kepala pengawal yang menjadi komandan pasukan pengawal ayahnya itu dan menjadi pe mbantu-pembantu pribadinya, me lakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak ada sangkut- pautnya dengan tugas mereka berdua sebagai kepala pengawal. Ketika dua orang kepala pengawal ini mendengar laporan yang disampaikan Gu Mo Sim, mereka juga ikut menjad i marah.

"Guru silat kampungan itu berani menolak pinangan kongcu, bahkan menghinanya? Keparat!" bentak komandan yang bernama Bhong Gun,, yang bertubuh pendek gemuk dan matanya bundar, mukanya licin seperti muka anak kecil.

"Kita harus menghajarnya! Kongcu tak usah khawatir, kami berdua cukup untuk me nghajar guru silat itu!" bentak pula komandan ke dua, yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok menyeramkan. Orang ini berna ma Teng Ki dan terkenal me miliki tenaga besar, sedangkan kawannya yang bernama Bhong Gun tadi terkenal pula dengan gerakannya yang lincah dan cepat walaupun tubuhnya bundar.

“Nah dengan adanya dua orang ciang- kun ini, tentu guru silat kampungan she Kim itu dapat dihajar sampai bertobat!" Gu Mo Sim mena mbah. "Akan tetapi harus diingat bahwa mereka itu dan murid, ayah dan anak semuanya adalah ahli- ahli silat." "Ji-wi ciangkun (perwira berdua) harap me mbawa pasukan belasan orang. Kita berangkat sekarang juga!" Tiba-tiba Pui Ki Cong yang sudah menjadi panas perutnya itu mengajak dua orang pembantunya.

"Eh, kongcu mau ikut juga?" tanya Gu Mo Sim. "Kalau begitu, sayapun ikut. Ingin saya melihat guru silat kampungan itu dihajar babak belur, ha-ha!"

Demikianlah, dengan kemarahan meluap-luap, Pui Ki Cong tanpa setahu ayahnya, membawa dua belas orang pengawal termasuk Bhong Gun dan Teng Kui, tiga belas bersama Gu Mo Sim yang sudah berge mbira ingin nonton kera maian untuk me la mpiaskan rasa kecewa dan marahnya terhadap keluarga guru silat Kim Siok. Dua orang pengawal itu tentu saja pernah mendengar na ma guru silat Kim Siok, akan tetapi mereka tidak merasa gentar karena selain mereka berduapun ahli silat, juga mereka berdua adalah komandan pengawal dan kini mereka me mbawa sepuluh orang anak buah. Takut apa? 3uga kedudukan mereka sebagai kepala pengawal jaksa Pui merupakan andalan yang cukup kuat. Bagaikan pasukan yang hendak maju perang, empat belas orang itu menunggang kuda dan keluar dari kota Thian-cin menuju ke selatan, ke dusun Ang-ke-bun.

** d*w**

Cui Hong meng hadap ayahnya dengan alis berkerut dan hati diliputi ketegangan. Ia tadi tahu bahwa ayahnya kedatangan seorang tamu yang tidak dikenalnya. Akan tetapi ketika ta mu itu pulang, ayahnya nampak seperti orang marah dan me manggil dia bersama Lu San untuk menghadap. Kini ia duduk di atas bangku di depan ayahnya. Lu San juga datang dan murid ini menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi Kim Siok minta kepada murid ini untuk bangkit dan duduk di atas bangku dekat Cui Hong, Kini mereka berdua duduk di atas bangku menghadapi orang tua yang wajahnya nampak mura m itu.

"Ayah, ada urusan apakah maka ayah kelihatan tidak gembira seperti biasanya, bahkan me manggil aku yang sedang sibuk me mbuat masakan istime wa untuk ayah?" Gadis ini mas ih gembira kalau meng ingat beberapa hari yang la lu, kembali ia mengejutkan dan men gge mbirakan hati ayahnya dengan masakan istime wa untuk meray akan hari ulang tahun ayahnya. Dan pagi ini iapun ingin me mbuat masakan istimewa untuk ayahnya, karena suheng-nya kemarin telah mendapatkan ja mur-ja mur kuning yang enak dimakan dan yang mula i bertu mbuh di dalam hutan karena hujan sudah mulai turun.

Akan tetapi, kegembiraan Cui Hong na mpaknya tidak dapat mene mbus awan kelabu yang menggelapkan wajah guru silat itu. Dia bahkan menarik napas panjang, lalu bertanya kepada puterinya sambil me natap tajam wajah yang manis itu, "Cui Hong, berapakah usia mu tahun ini?"

"Eh.? Aih, bagaimana sih ayah ini? Apakah ayah sudah lupa berapa usia anaknya sendiri, anak tunggal lagi?"

"Aku tidak lupa, Hong-ji, hanya ingin mengingatkan. Berapa usia mu sekarang?"

"Beberapa bulan lagi enam belas tahun, ayah."

Ayahnya mengangguk-ang guk. "Sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Sungguh bukan anak-anak lagi, Hong-ji."

"Ayah, apa maksudmu...?" Cui Hong me mandang ayahnya, kini dengan serius dan sinar mata penuh selidik karena ia merasa benar akan perbedaan dalam sikap dan kata-kata ayahnya.

"Maksudku, Hong-ji, bahwa seorang wanita yang sudah dewasa, akan kemana lagi kalau bukan me masu ki hidup baru, menjad i seorang isteri dan ratu rumah tangga" "Ayah, jangan bicara seperti teka-teki. Apa ma ksudmu?" "Hong-ji, keadaan negara sedang tidak aman. Kini bangsa

Mancu sudah mulai menekan dari utara, sedangkan di mana- mana terjadi pemberontakan. Keadaan sebentar lagi akan kacau dan tidak aman oleh akibat perang. Karena itu, akan lebih tenanglah hatiku me lihat engkau sudah terikat dan sudah ada yang melindungi "

"Ayah, sekali lagi, apa ma ksudmu terhadap diriku?" "Engkau sudah dewasa, Hong-ji, sudah tiba waktunya

Post a Comment