Aku. aku cinta padanya."
Tiba-tiba wajah yang bengis itu berubah dan tertawalah Jaksa Pui. "Ha-ha-ha! Begitukah kiranya? Ha-ha-ha, perempuan panas seperti itu me mang menarik sekali. Nah, apa sukarnya kalau kautarik ia dan jadikan selir mu? Ataukah engkau sudah ingin beristeri?"
"Tidak, ayah. Akan tetapi aku ingin mendapatkannya. Hanya..... aku khawatir kalau ditolaknya, ma ka kuharap ayah "
"Ha-ha-ha, sungguh me ma lukan! Biasa nya dengan menggapai saja -setiap wanita katanya akan bertekuk lutut dan merangka k mengha mpir imu. Baru sekarang kau minta bantuanku. Seperti apa sih perempuan ini?"
"Na manya Kim Cui Hong, puteri tunggal guru silat Kim Siok di dusun Nag ke-bun."
"Baik, sekarang juga akan kukirim utusan untuk me minangnya menjadi selir mu. Jangan khawatir, pinanganku pasti diterimanya. Apalagi dia kan hanya guru silat, tentu dengan bangga dia akan menyerahkan puterinya kepadamu." Setelah berkata demikian, dengan mulut tersenyum dan hati penuh kepercayaan diri sendiri, pembesar itu meninggalkan kamar puteranya yang juga menjadi ge mbira dan penuh harapan.
"Dapat kau sekarang.....!" Dia mengepal tinju, me mbayangkan betapa dia akan me mpermainkan dan men ikmati pere mpuan yang berani mena mparnya itu sepuas hatinya.
Sudah dapat dipastikan bahwa orang yang menganda lkan kekuasaannya, dalam bentuk apapun juga kekuasaan itu, tentu berwatak sombong dan tinggi hati, suka me mandang rendah orang lain dan men ganggap bahwa dirinya sendiri yang paling berharga, paling penting dan paling tinggi kedudukannya di dunia ini. Orang seperti ini, kalau bertemu dengan orang lain yang lebih tinggi kedudukannya, yang tak dapat dibantah lagi kenyataan itu, misalnya bertemu dengan atasannya, maka tentu wataknya akan berubah lagi, menjadi seorang penjilat yang sudah tidak ketulungan lagi. Menjilat ke atas menginjak ke bawah, dua watak ini serangkai dan tak terpisahkan lagi.
Dengan penuh kepercayaan, pembesar gendut Pui lalu meng irim utusan ke ru mah guru s ilat Kim Siok di dusun Ang- ke-bun, untuk melamar puterinya yang bernama Kim Cui Hong menjad i selir putera tunggalnya. Dan dengan penuh kepercayaan akan hasil tugasnya dan membayangkan hadiah yang besar dari kanan kiri, comblang itupun berangkat dengan wajah gembira.
Cui Hong bukan hanya tidak bercerita kepada suhengnya tentang peristiwa gangguan yang dilakukan Pui Ki Cong kepadanya, bahkan kepada ayahnyapun ia tidak menceritakan. Oleh karena itu, hati guru silat Kim Siok tidak menduga sesuatu ketika pada pagi hari itu dia kedatangan seorang tamu yang dikenalnya sebagai seorang comblang kenamaan di kota Thian-cin. Co mblang itu adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus dan berkepala botak, berkumis kecil panjang turun berjuntai ke bawah me lalui tepi mulutnya dan bersambung dengan jenggotnya yang jarang. Matanya sipit dan tajam, mulutnya mudah senyum. Comblang ini berna ma Gu Mo Sim dan terkenal sebagai perantara perjodohan yang pandai bicara sehingga banyak orang suka mengutusnya untuk me minang atau me mbicarakan tentang urusan perjodohan.
Begitu disa mbut oleh tuan rumah, Gu Mo Sim segera me mber i hormat dengan tergopoh-gopoh dan mukanya dira maikan senyum gembira, sepasang mata yang sipit itu bersinar-sinar.
"Kim-kauwsu, kionghi..... kionghi.....! Belum tahu apakah semalam kauwsu ber mimpi kejatuhan bulan? Heh-heh, sekali lagi kionghi (sela mat)!"
Kim Siok adalah seorang guru silat dan semenjak kecil dia berkecimpung dengan seni olah raga bela diri. Wataknya tidak suka akan hal yang bertele-tele. Dia menyukai sikap yang singkat padat, tegas dan jujur. Maka, sikap dan pe mbawaan comblang ini me mbuat ia muak, akan tetapi sebagai tuan rumah yang bijaksana, diapun menya mbut dengan senyum dan me mbalas penghormatan ta mu itu.
"Saudara Gu, tiada hujan tiada angin mengapa kau me mber i sela mat kepadaku? Aku tidak mengerti dan tidak dapat menerimanya." "Ha-ha-ha, sebentar lagi kau akan mengerti, Kim- kauwsu. - Aku yang sudah tahu lebih dulu, saking gembiraku maka aku me mber i sela mat. Biarkan a ku duduk me lepas lelah, dan aku akan menceritakan mengapa aku me mberi sela mat. Tentu kauwsu semalam ber mimpi indah sekali."
Kim Siok tidak mau menanggapi lagi ocehan ta munya. Dengan singkat dia me mpers ilakan ta munya duduk lalu bertanya, "Sebetulnya, keperluan apakah yang membawa saudara datang berkunjung?"
Comblang itu menar ik napas panjang. "Aihhh. apakah
engkau tidak kasihan kepadaku, kauwsu? Tulang-tulangku yang sudah tua ini tidak sekuat tulang-tulang mu yang terlatih. Berilah aku minum dulu sebelum aku menceritakan berita yang tentu akan amat mengejutkan dan juga a mat mengge mbirakan hatimu. Tuhan akan selalu me mberkahi orang yang baik hati, dan tentu engkau suka berbaik hati kepada seorang tamu yang kelelahan dan kehausan."
Gemas sekali rasa hati Kim-kauwsu. mau rasanya dia menang kap leher baju orang ini dan melemparnya keluar lagi. Akan tetapi dia menahan kemarahannya, lalu menga mbil sendiri sebotol arak dan cawannya, menyuguhkannya kepada tamu yang cerewet itu. Tanpa sungkan-sungkan lagi, Gu Mo Sim la lu menuangkan arak ke dalam cawannya dan minum sampai tiga cawan arak.
"Hemmm..... segar rasanya. Arakmu enak sekali, kauwsu. Nah, sekarang barulah aku dapat bicara dengan leluasa. Kalau engkau tahu keperluan apa yang kubawa, tentu engkau akan menya mbutku dengan hidangan dua belas maca m! Ketahuilah, aku datang ini sebagai utusan kepala jaksa Thian- cin, yaitu Pui Taijin."
Dia m-dia m guru silat itu merasa terkejut dan juga heran sekali, akan tetapi dia menghibur hatinya bahwa tentu keperluan itu sa ma dengan keperluan para bangsawan dan hartawan di Thian-cin yang pernah menghubunginya. Tentu jaksa inipun ingin dia me latih silat kepada puteranya. Hal ini banyak diminta para pembesar darinya dan tentu saja dia tidak dapat meno laknya walaupun dengan hati t idak begitu suka. Akan tetapi, dia sengaja member i latihan berat sehingga baru satu dua bulan saja anak-anak bangsawan itu sudah mundur dengan sendirinya, tidak tahan gemblengan keras dan sukar.
"Keperluannya?" tanyanya dengan singkat, dengan wajah yang tidak beruban.
Comblang itu mengangkat telunjuk kanannya sambil tersenyum. "Ha-ha, sampai bagaimanapun engkau takkan pernah dapat menerkanya, kauwsu. Engkau tentu bermimpi kejatuhan bulan sema la m."
"Saudara Gu, harap segera katakan apa keperluan itu dan tidak me mutar- mutar pe mbicaraan!" tegurnya.
"Aha, kiranya Kim-kauwsu seorang yang tidak sabaran menanti berita baik. Baiklah. Engkau me mpunyai seorang cian-kim siocia (anak gadis terhormat), bukan? Berapa usianya sekarang, kauwsu?"
Tiba-tiba saja Kim Siok merasa jantungnya berdebar kencang. Baru dia men duga ke arah mana perkacapan itu dan mengapa pula yang diutus seorang pe mbesar adalah seorang comblang. Kiranya mena ksir puterinya!
"Apa hubungannya usia puteriku dengan tugas mu, saudara Gu?"
"Hubungannya erat sekali. Ketahuilah bahwa aku diutus oleh Kepala Jaksa Pui untuk me minang puterimu untuk dijodohkan dengan putera tunggalnya, tuan muda Pui Ki Cong yang tampan, yang kaya raya, yang pandai dan terpelajar, yang bangsawan itu. Ha-ha, engkau terkejut, bukan? Aku sendiri terkejut ketika me nerima tugas. Tak kusangka engkau me miliki nasib yang begini baik, saudaraku! Kionghi, kionghi!" "Nanti dulu, saudara Gu! Maksudmu, anakku dila mar untuk menjad i isteri"
"Bukan..... eh, menjadi selir tuan muda Pui Ki Cong. "
Berubah wajah Kim Siok, menjadi merah karena dia marah sekali. "Selir? Bahkan isteripun bukan? Anakku dila mar untuk dijadikan selir. "
Melihat perubahan muka itu, comblang Gu Mo Sim me njadi terkejut dan gugup. Dia lalu cepat berkata, "Ah, isteri juga...
hanya isteri muda, begitulah istilahnya "
Kim Siok menahan kemarahannya. Puterinya, anak tunggalnya, dilamar menjadi selir dan comblang ini na mpak demikian ge mbira, seolah-olah yakin bahwa la maran itu tentu akan diterimanya. Kalau menurutkan keinginannya, la maran yang dianggapnya sebagai penghinaan itu akan langsung ditolaknya dan utusan itu akan dihajarnya. Akan tetapi guru silat ini bukan seorang bodoh yang se mbrono. Dia menahan dirinya, lalu bangkit dan memberi hor mat kepada ta mu itu.
"Saudara Gu Mo Sim, harap sampaikan jawabanku kepada Pui Taijin, bahwa menyesal sekali aku terpaksa menolak pinangan ini. Aku merasa terhormat sekali, akan tetapi pinangan ini tidak mungkin dapat kuterima."
Suara kekeh itu terhenti dan sepasang mata yang sipit itu mencoba untuk melebar, na mun tak berhasil sehingga na mpak lucu. Hampir Gu Mo Sim tidak me mpercayai telinganya sendiri. "Apa....? Mimpi burukkah aku atau.... kau yang sedang bermimpi buruk atau berubah ingatan? Kau tadi bilang bahwa kau..... kau meno lak pinangan Pui Taijin yang berkuasa dan kaya raya?"
"Tidak salah. Aku terpaksa menolak pinangan itu."
"Tapi..... tapi, bagaimana ini? Kenapa ....? Aku tidak me lihat suatu alasan me ngapa kau sampai berani meno lak. " Kim Siok maklum bahwa penolakannya tentu mengejutkan dan tanpa alasan yang kuat bahkan mungkin akan men imbulkan kemarahan di pihak pelamar. Maka dia-pun sejak tadi sudah menga mbil keputusan untuk mengajukan alasan yang memang sudah la ma menjadi keinginan hatinya. "Harap saudara Gu sampaikan ucapan terima kasih kami kepada Pui Taijin atas kehormatan yang dilimpahkan kepada keluarga kami. Akan tetapi terpaksa pinangan itu kami tolak karena anakku itu sudah terikat dalam pertunangan dengan Can Lu San, seorang muridku sendiri. Anakku tidak bebas lagi, me lainkan sudah me mpunyai seorang calon suami."