Sementara itu, dengan jantung berdebar penuh rasa marah, ma lu dan tegang, gadis remaja itu berlari menuju ke dusun Ang-ke-bun yang sudah na mpak te mboknya. Wajahnya yang manis itu mas ih ce mberut dan marah sekali, bukan hanya merah karena panas tubuhnya dipakai berlari, me lainkan terutama sekali karena panas hatinya. Semenjak kecil, Kim Cui Hong ini hidup bersama ayahnya yang sudah menduda sejak ia berusia lima tahun, la dididik ilmu s ilat oleh ayahnya, bersama belasan orang murid ayahnya. Di antara murid ayahnya yang kesemuanya laki-laki, hanya ada seorang saja yang dididik sejak kecil bersa ma-sama ia, yaitu Can Lu San yang tiga empat tahun lebih tua darinya, dan menjadi satu-satunya suhengnya. Yang lain, biarpun banyak di antaranya yang usianya lebih tua, termasuk para sutenya (adik seperguruannya). Cui Hong belum pernah diganggu laki- laki seperti yang dialaminya tadi. Memang, sejak satu dua tahun yang lalu se menjak ia me njadi re maja dan menjelang dewasa, semenjak masa kanak-kanaknya mulai ditinggalkannya, pandang mata kaum pria terhadap dirinya dirasakan lain, aneh dan me mbuatnya kadang-kadang gugup dan bingung. Akan tetapi, belum pernah ada orang laki-laki berani mengganggunya dengan kata-kata atau sikap yang kurang ajar. Bagaimanapun juga, di dusun Ang-ke-bun nama ayahnya sebagai seorang guru silat sudah dikenal orang, maka siapakah berani kurang ajar kepada isterinya? Bahkan kota Thian-cin yang besarpun sudah mengenal na ma Kim- kauwsu. Akan tetapi, sungguh tak disangkanya sama sekali, ketika pada pagi hari itu ia pergi berbelanja ke kota Thian-cin, ia diganggu orang yang kurang ajar! Hatinya memang merasa puas bahwa ia sudah dapat menampar muka pe muda jangkung itu, dan menghajar dua orang te mannya, akan tetapi tetap saja hatinya masih panas oleh kemarahan.
Tidak biasanya Cui Hong marah-marah. Ia seorang gadis yang berwatak gembira, lincah, Jenaka dan jarang marah. Akan tetapi sekali ini, ada perasaan aneh yang mendatangkan bayangan mengerikan ketika ia diganggu tiga orang itu, yang me mbuatnya marah bukan main. Kalau saja ia tidak ingat akan pesan-pesan ayahnya bahwa ia tidak boleh me mperguna kan kepandaian silatnya untuk mence lakai orang, me lukai apalagi me mbunuh, agaknya ia tadi akan me mberi hajaran yang lebih keras kepada tiga orang itu! Terutama sekali kepada pemuda yang bernama Pui Ki Cong itu, yang katanya putera kepala jaksa! Ia tidak tahu benar apa arti kedudukan jaksa, yang diduganya hanyalah sebuah jabatan yang me mbuat orangnya menjad i kaya raya saja.
Perasaan yang mengancam hatinya itu me mbuat ia me masu ki dusun tanpa menengok ke kanan kir i, bahkan ketika ia me masuki pekarangan ruma h ayahnya, ia tidak tahu bahwa seorang pe muda yang sedang me mbetulkan pagar pekarangan itu yang rusak, memandangnya dengan sinar mata aneh.
"Heiii, sumoi, engkau seperti dikejar-kejar setan saja!" Pemuda itu bangkit, dan menegur, suaranya lantang dan sinar matanya berseri ketika dia me mandang wajah gadis yang segar kemerahan itu.
Baru Cui Hong menengo k dan melihat pe muda itu dan iapun berhenti ber lari. Dengan sehe lai saputangan, diusapnya peluh dari dahi dan lehernya. "Uhhh, panasnya...," ia menge luh untuk menentra mkan hatinya.
"Apakah terjadi sesuatu, sumo i?" tanya pula Can Lu San, pemuda Itu sa mbil me mandang dengan sinar mata me mbayangkan kekagu man. Senang hati Cui Hong melihat pandang mata itu. Sudah la ma ia melihat sinar kekagu man itu me mancar dari mata Lu San kalau suheng itu me mandangnya.
Ia tersenyum. "Tidak ada setan yang mengejarku, suheng. Hanya aku khawatir kesiangan dan ayam ini ribut saja sepanjang jalan."
Lu San tertawa. Sikap sumo inya yang selalu periang itu mendatangkan kegembiraan kepada hatinya yang pendiam, seperti sinar matahari pagi menyinar i sudut-sudut yang kosong dan gelap. "Akan tetapi engkau berlari- lari sa mpai bermand i peluh dan lihat, muka mu sampai kemerahan seperti..... seperti "
"Seperti apa, suheng?" "Seperti buah tomat masak!"
"Wah, celaka aku. Kalau mukaku seperti buah to mat, akan
lucu dan jelek sekali. Bulat dan gendut."
Mereka tertawa. "Sumo i, kenapa engkau sendiri yang berbelanja? Pagi tadi aku sudah mencar i suhu untuk menanyakan masakan apa yang dikehendaki agar dapat kubelanjakan ke Thian-cin. Eh, tahu-tahu engkau sudah mendahului aku."
"Me mang aku mendahuluimu, suheng. Tidak apakan sekali- kali aku yang pergi berbe lanja."
"Akan tetapi engkau kini sudah me njadi seorang gadis dewasa, sumoi. Dan kau tahu betapa tidak amannya sekarang ini bagi wanita dewasa untuk bepergian seorang diri."
Cui Hong me njebikan bibirnya yang merah basah itu ke arah suhengnya. "Huh, aku dapat menjaga diri, suheng."
"Aku tahu, akan tetapi kalau suhu mengetahui bahwa engkau sendiri yang pergi berbelanja, jangan-jangan aku disalahkan, disangkanya aku ma las dan menyuruh engkau."
"Tidak, suheng. Sekali ini me mang aku ingin pergi, bukan hanya untuk melihat kera maian Thian-cin yang sudah beberapa pekan la manya tidak pernah kukunjungi. juga karena aku hari ini ingin masa k enak untuk ayahku."
"Eh, ada keistime waan apakah hari ini?" "Hari ini adalah ulang tahun ayah." "Ahh! Kenapa suhu diam saja?"
"Sudah la ma ayah tidak pernah mau meng ingat lagi hari lahirnya, akan tetapi aku pernah bertanya kepadanya dan aku mencatat hari lahirnya. Selalu aku yang menyediakan masakan atau hidangan istimewa pada hari ulang tahunnya."
"Wah, engkau me mang seorang anak yang baik dan berbakti, sumo i."
"Aihh, tak perlu me muji. Di balik pujianmu itu terkandung rasa girang karena engkaupun akan kebagian masakanku yang istimewa hari ini!" Gadis ini lalu lar i me masu ki rumah, men inggalkan Lu San yang me mandang sambil tertawa dan sinar mata penuh kagum. Sumo inya me mang hebat! Sejak kecil dia bergaul dengan sumo inya, sejak sumo inya berusia lima tahun dan dia berusia se mbilan tahun. Dia seorang anak yatim piatu yang dia mbil murid oleh ayah Cui Hong dan dia berangkat besar bersama dengan Cui Hong. Kinipun di dalam rumah itu hanya tinggal mereka bertiga. Murid-murid lain tidak ada yang tinggal di situ. Dan dia merasa gembira sekali karena biarpun suhunya belum pernah mengatakannya, namun dari sikap suhunya, dari kata-katanya, dia dapat menangkap maksud hati suhunya untuk menjodohkan puteri tunggal itu dengan dia! Dan baginya, tidak ada kebahagiaan melebihi bayangan ini. Hidupnya akan lengkap sepenuhnya kalau saja dia dapat menggandeng Cui Hong sebagai isterinya, untuk selama hidupnya.
Pada masa itu, kekuasaan Kerajaan Beng sudah berada di ambang pintu kehancuran. Kaisar sendiri, yaitu Kaisar Cung Ceng, kaisar terakhir Dinasti Beng de mikian le mahnya dan berada dalam cengkeraman para Thai-kam (Pembesar Kebiri) yang menguasai istana. Kaisar menjad i boneka yang diper mainkan mereka. Menteri-menteri dan hulubalang tidak didengar nasehatnya dan kebanyakan dari mereka adalah koruptor-koruptor yang tidak peduli akan keadaan negara dan bangsa melainkan saling berlomba untuk menggendutkan perut sendiri. Pemberontakan terjadi di ma na- mana dan rakyat hidup sengsara, menderita dan tidak terjamin keamanannya karena setiap orang pembesar me mpergunakan kekuasaannya untuk bersimaharajalela, meng umbar nafsu menganda lkan kedudukan.
Kepala jaksa Pui yang baru saja beberapa bulan la manya ditugaskan di Thian-cin, tidak ma u ketinggalan dengan rekan- rekannya dalam hal bermumpung. Mumpung menduduki jabatan, mumpung me megang kekuasaan, dia pandai me mperguna kan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri. Karena pengaruh uang sogokan yang amat besar jumlahnya, yang benar bisa saja dituntut dan dibikin salah, sebaliknya yang bersalah menjad i benar dan dilindungi. Perlindungan hukum hanya dikenal oleh orang berpangkat dan berduit. Bagi rakyat jelata yang miskin, jangan harap me mperoleh perlindungan hukum.
Dengan seorang ayah seperti itu, tidaklah mengherankan kalau anak tunggalnya, Pui Ki Cong, bersikap sombong dan tinggi hati, suka mengganggu anak isteri orang mengandalkan kedudukan orang tuanya. Dia merupakan anak tunggal yang dimanja ayahnya. Setiap keinginannya pasti dipenuhi, dan hal ini tu mbuh menjadi penyakit yang berbahaya dalam batin Ki Cong. Sampai usianya hampir tiga puluh tahun, dia selalu berenang dalam kesenangan dan dia menuntut agar semua keinginannya terkabul. Karena suka berma in pere mpuan, berganti orang setiap ma la m, dia belum menikah dan hanya me mpunyai selir yang tak terhitung banyaknya. Di dalam gedungnya sudah penuh perempuan muda dan cam-yang menjad i selir. Kalau ada pelayan-pelayan baru yang masih gadis dan cantik, ha mpir tak pernah dia me mbiarkannya begitu saja dan dalam waktu beberapa hari saja, pelayan yang dipilihnya tentu naik pangkat menjadi selir. Belum lagi perempuan-pere mpuan yang dipilihnya di luar gedung, bahkan pelacur-pelacur tercantik di Thian-cin menjadi langganannya.
Dengan kehidupan seperti itu, tidaklah mengherankan bahwa hatinya dibakar oleh kemarahan dan rasa penasaran karena dirinya telah ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis dusun puteri guru silat kampungan! Bukan hanya ditolak, bahkan pipinya dita mpar sa mpai bengkaknya tiga hari baru kempis, dan dua orang pengikutnya juga dihajar oleh gadis ingusan itu!
"Awas kau, kalau sa mpai terjatuh ke tanganku. !-"
Berulang kali dia menganca m sa mbil mengepal tinju dan rebah gelisah di atas pe mbaringan nya, tidak dapat senang hatinya walaupun beberapa orang selir tercinta mencoba untuk menghiburnya. Karena tidak melihat munculnya puteranya selama dua hari, Jaksa Pui lalu mengunjungi puteranya di dalam kamarnya dan melihat betapa puteranya itu rebah dengan rambut kusut dan wajah mura m, dia merasa khawatir sekali.
"Ki Cong, engkau kenapakah? Sejak kemarin aku t idak me lihat mu."
Dengan sikap manja Ki Cong lalu berkata kepada ayahnya. "Ayah, aku merasa sangsi apakah benar dengan kedudukan ayah sebagai kepala jaksa di sini, orang-orang segan dan menghormat kepada keluarga kita."
Pembesar yang gendut perutnya itu bangkit berdiri lagi dan me mbe lalakkan matanya.
"Tentu saja! Siapa yang berani tidak menghormat kepada kita? Aku berkuasa di sini. Aku yang memegang huku m, siapapun dapat kuhukum dan kutuntut dengan kekuasaanku!"
"Hemm, kalau benar begitu, kenapa dua hari yang lalu ada seorang gadis dusun, anak guru silat kampungan, berani menghinaku dan mena mpar mukaku?"
"Apa? Kau dita mpar oleh seorang perempuan dusun? Siapa orang itu? Biar kusuruh pasukan menangkapnya dan akan kuhukum berat pere mpuan keparat itu!"
"Tapi..... aku bukan ber maksud menghukumnya, ayah.