"NONA MANIS, hendak ke manakah?"
Pemuda yang menegur itu bertubuh tinggi kurus berwajah tampan dan dari pakaiannya mudah diketahui bahwa dia seorang pemuda yang beruang. Usianya ha mpir tiga puluh tahun dan dari pandang matanya dan senyumnya, dapat pula diduga bahwa dia tentu seorang pria yang sudah biasa berhadapan dengan wanita. Dua orang laki-laki la in, agaknya pengikut-pengikutnya, yang usianya sebaya, tersenyum lebar me lihat betapa orang itu berlagak dan menegur gadis itu. Gadis itu tidak menjawab, me lir ikpun tidak dan melanjutkan perjalanannya. Ia melangkah dengan cepat tanpa menoleh, me mbawa keranjangnya yang terisi seekor ayam dan sayur- sayuran yang baru saja dibelinya dari pasar.
"Adik cantik, siapakah na ma mu!"
Dara itu tetap berjalan tanpa meno leh. Ia seorang dara berusia lima belas dan enam belas tahun, bagaikan setangkai bunga sedang mulai merekah, belum me kar sepenuhnya, namun dalam keadaan seperti itu ia me miliki daya tarik tersendiri yang amat kuat. Tubuhnya sedang, ramping dan padat. Langkahnya nampak le mah ge mulai namun gesit dan bertenaga, lekuk lengkung tubuh mulai na mpak walaupun belum menonjol sekali. Dari kulit muka, leher dan tangannya dapat diketahui bahwa ia me miliki kulit yang putih kekuningan, halus mulus dan sehat kemerahan. Rambut kepalanya hita m, lebat dan panjang, dikuncir dua dan kuncir- kuncir itu bergantungan di kanan kiri. Anak rambut yang berjuntai halus di sekitar dahi dan tengkuknya melingkar hangat. Sepasang alisnya hitam sekali seperti dipulas, kecil panjang melengkung, me mbuat kulit pelupuk mata lebih putih nampaknya daripada kedua pipi yang segar kemerahan itu. Sepasang matanya bersinar lembut, jeli dan jernih, agak lebar dan biasanya agak tajam akan tetapi saat itu sinar matanya menunduk, diliputi rasa takut dan malu. Hidungnya kecil mancung, ujungnya agak berjungkit ke atas member i kesan lucu dan nakal. Akan tetapi mulutnya mungkin me miliki daya tarik paling kuat. Sepasang bibir merah tanpa gincu itu selalu nampak basah dan penuh, kulit bibirnya demikian tipis seolah- olah hanya terisi darah dan kalau tergigit sedikit saja tentu akan muncrat darahnya, mulut yang me mbayangkan kegairahan dan menjanjikan kenikmatan yang tak terbatas. Deretan gigi kecil dan putih berkilau kadang-kadang na mpak, dan dalam kegelisahannya, kadang-kadang na mpak di ujung lidah yang kecil merah mencuat menjilat bibir. Dagunya meruncing dan ada tahi la lat kecil ha mpir tak na mpa k di dagu itu. Seorang perempuan yang cantik jelita, molek dan manis, yang belum matang benar, na mun jelas mudah dilihat bahwa ia adalah seorang calon pere mpuan yang sebentar lagi akan me kar sepenuhnya dengan segala keindahan dan keharumannya.
"Nona man is, di ma nakah rumah mu?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari laki- laki bersama dua orang temannya yang terus mengikut inya itu tak pernah dijawabnya, bahkan sa ma sekali tidak diperdulikan. Mulutnya yang indah itu kini agak cemberut, akan tetapi tidak me ngurangi kemanisan wajahnya. Sepasang mata yang jeli itu, yang tadinya menunduk ma lu, kini mulai me lir ik tajam dan mengandung kemarahan.
"Adik man is, kau jalan sendirian, bolehkah kuantar pulang?"
Ketika dara itu tidak menjawab dan bahkan me mpercepat langkahnya, seorang di antara dua pengikut itu terkekeh. "Aih, kongcu, jangan-jangan dia tidak bisa bicara!"
Laki- laki yang disebut kongcu (tuan muda) itu juga terkekeh. "Heh-heh, masa? Sayang, ah, kalau seorang gadis yang begini cantik jelita seperti bidadari ternyata gagu. Tapi, biar gagu juga, aku tetap cinta, ha-ha!" Setelah berkata demikian, orang itu me ngeluarkan suara "ah-ah-uh-uh" dan me mbuat gerakan-gerakan seperti orang gagu kalau hendak bicara, diketawai oleh dua orang temannya. Karena orang itu kini berjalan sa mbil mundur di depan gadis itu, menghadang dan me mbuat gerakan-gerakan seperti orang gagu, gadis itu men gerutkan alisnya dan berhenti me langkah.
"Mau apakah engkau mengganggu orang di tengah jalan?" bentaknya dengan suara ketus.
Laki- laki itu tersenyum menyeringai dan me masang aksi yang dianggapnya paling menguntungkan, yaitu lagak yang biasa dipasang di depan wanita-wanita yang dirayunya. Dia menjura dengan sopan dibuat-buat, lalu berkata dengan senyum ramah. "Maaf, nona, bukan maksudku untuk mengganggu, melainkan me lihat nona, hatiku terpikat dan ingin sekali aku berkenalan. "
Pandang mata, senyum dan kata-kata meray u itu bukan menarik hati gadis re maja itu, bahkan mengejut kannya. "Tidak, aku tidak ingin berkenalan!" katanya dan iapun menyelinap hendak melewati orang yang menghadangnya itu. Akan tetapi, dua orang teman laki-laki itu sudah menghadang pula di depannya dan seorang di antaranya berkata dengan suara lantang, agaknya sengaja agar didengar oleh orang- orang lain yang tertarik oleh peristiwa ini dan berhenti menonton.
"Nona agaknya belum tahu dengan siapa nona berhadapan. Pemuda yang mengajak berkenalan ini adalah tuan muda Pui Ki Cong, putera dari kepala jaksa yang baru di Thian-cin. Beliau ingin berkenalan dengan nona, ini merupakan kehormatan besar bagi nona."
"Aku tidak perduli dia siapa dan anak siapa, aku tidak mau berkenalan!" kata dara itu dan iapun me langkah terus. Akan tetapi tiba-tiba yang diperkenalkan sebagai Pui Ki Cong putera kepala jaksa yang baru itu sudah berdiri di depannya sambil
tersenyum menyeringai seperti seekor kuda.
"He-he, nona man is, jangan berlagak jual mahal!" katanya dan tangannya dengan sikap kurang ajar sekali menco lek ke arah dagu yang bertahi lalat kecil itu.
"Dukk. plakkk!!"
Lengan kiri gadis itu menang kis tangan yang hendak mencolek
dagunya dan tangan kanannya sudah menyambar ke depan dan mena mpar pipi itu dengan keras sekali.
"Aduhhh.....!" Pui Ki Cong terhuyung ke belakang, tangan kirinya mengusap-usap pipi yang menjad i bengkak dan matang biru sedangkan dari ujung bibirnya menga lir darah karena sebuah giginya hampir copot dan mengeluarkan darah. Gerakan gadis re maja itu cepat bukan main dan tenaga tamparan tangannya juga kuat, sama sekali di luar dugaan karena tidak sesuai dengan tangannya yang berkulit halus dan terbentuk kecil itu.
"Eh, berani kau me mukul kongcu kami?" Dua orang te man putera jaksa itu marah sekali me lihat betapa majikan muda mereka dita mpar, dan mereka berdua lupa bahwa mereka berhadapan dengan seorang dara remaja. Mereka sudah langsung saja menyerang dan me mukul ke arah dada dan kepala gadis itu. Akan tetapi, akibatnya sungguh di luar dugaan dua orang itu. Dengan tenang gesit sekali dara itu berhasil menghindar kan diri dari serangan mereka dan ketika ia me mbalas dengan kecepatan kilat, tangan kirinya sudah mena mpar ke arah kepala dan kaki kirinya juga melayang dan menendang dada orang ke dua. Dua orang itu mengaduh dan terpelanting, yang seorang menjadi pening kepalanya dan menge luh kesakitan, sedangkan orang ke dua me megangi dada yang terasa nyeri dan sesak napasnya. Dara itu tidak me mandang lagi kepada mereka, cepat mengumpulkan sayur dan ayam yang tumpah dari dalam keranjang, kemudian me mbawa keranjangnya dan cepat pergi dari situ setengah berlari.
"Kejar dara itu! Tangkap..... pukul !"
Pui Ki Cong berteriak-teriak dengan marah kepada dua orang temannya. Akan tetapi dua orang itu masih kesakitan.
Banyak orang menonton peristiwa itu dan mereka mengenal siapa adanya pe muda tinggi kurus itu, seorang pemuda bangsawan, putera kepala jaksa yang baru tiba di Thian-cin dan biarpun masih baru tinggal di Thian-cin, namanya sudah terkenal sekali sebagai seorang pe muda yang amat nakal. Pui Ki Cong dikenal sebagai seorang pemuda yang suka berkeliaran, me mbawa tukang-tukang pukul, suka pelesir dan main pere mpuan sehingga terkenal sekali di semua komple ks pelacuran sebagai seorang kongcu hidung belang yang kantongnya padat dan royal. Akan tetapi dia juga terkenal sebagai seorang laki-laki yang suka mengganggu perempuan baik-baik, suka mengganggu gadis-gadis dan bahkan isteri-isteri orang. Karena itu, ketika banyak orang me lihat betapa kongcu itu ditampar dan dua orang tukang pukulnya dihajar oleh seorang gadis, dia m-dia m mereka merasa gembira sekali walaupun pada lahirnya, tak seorangpun berani me mper lihatkannya.
Akan tetapi, selalu saja di antara banyak orang terdapat penjilat-penjilat. Pui Ki Cong adalah putera kepala jaksa yang berkuasa-dan berpengaruh, juga kaya raya, maka tidak kurang jumlahnya orang-orang yang suka menjilat dan bermuka-muka kepada keluarganya. Oleh karena itu, di antara banyak orang yang berkerumun itu ada pula yang cepat mengha mpiri tiga orang itu dan me mbantu mereka bangkit, dan seorang laki-laki tua yang mendekati Pui Ki Cong berkata, "Kongcu, harap jangan dikejar. Gadis itu lihai dan juga saudara-saudara seperguruannya lihai."
Pui Ki Cong terkejut mendengar ini. Dia me mandang orang tua itu dan bertanya, "Siapakah gadis itu? Dan tinggal di mana? "
"Na manya Kim Cui Hong, kongcu. Ia puteri tunggal guru silat Kim Siok yang tinggal di dusun di selatan kota Thian-cin, yaitu dusun Ang-ke-bun. Kim-kauwsu (guru silat Kim) lihai dan me mpunyai banyak murid yang lihai. Maka, kalau kongcu mengejarnya ke sana, akan berbahaya bagi keselamatan kongcu."
Pui Ki Cong mendengus. "Hemm, guru silat kampungan. Lihat saja pembalasanku nanti. Hayo kita pulang!" bentaknya kepada dua orang teman nya dan mereka segera kembali ke Thian-cin.