“Ayah, aku tahu semua itu. Aku tahu pula kakek Coa telah membayar dan melunasi semua hutangnya kepadamu berikut bunganya yang berlipat kali lebih besar dari pada jumlah pinjaman. Sawah ladangnya telah dibayarkan kepadamu, semuanya telah habis berpindah tangan kepadamu. Ayah, sudah sepatutnya kalau sebagai seorang hartawan ayah menolong penghuni dusun yang miskin, kenapa ayah ingin memperbesar kekayaan dengan jalan memeras rakyat?”
“Apa kau bilang? Memeras rakyat? Kau tahu, yang kaumakan sejak engkau lahir, pakaiannmu itu, perhiasan, semua isi rumah ini, semua itu adalah hasil usahaku! Itu yang kaukatakan hasil pemerasan?”
Kui Hwa menarik napas panjang. Percuma saja mengingatkan ayahnya yang selalu merasa benar sendiri. “Sudahlah. Ayah. Sekarang muncul dua orang pendekar muda itu di dusun kita. Mereka telah menguasai Lurah Koa, mengusir semua tukang pukulnya. Nah, apa yang harus ayah lakukan? Aku yakin bahwa mereka berdua pasti akan menentang semua sikap anak buah ayah yang kadang terlalu keras terhadap penghuni dusun.”
“Justeru kami sedang membicarakan urusan itu. Kui Hwa, kiranya tidak percuma saja aku mengeluarkan banyak sekali uang untuk mengundang guru-guru silat dari kota yang jauh dan mendidikmu. Engkau harus menggunakan kepandaiannmu untuk membantu ayahmu.”
“Bantuan apa yang dapat kuberikan, ayah? Apa yang ayah rencanakan?” tanya Kui Hwa. “Dengar, Kui Hwa. Peristiwa yang terjadi pada Lurah Koa itu justeru amat baik dan menguntungkan kita. Kitalah yang terkuat di dusun ini sekarang, setelah Lurah Koa tidak mempunyai anak buah lagi.”
“Tapi, ayah di sana ada dua orang pemuda itu...”
“Ji-siocia (nona Ji), urusan dua orang bocah itu, saya yang akan membereskan kalau mereka berani banyak ulah di dusun ini,” kata Ban Su Ti si gendut dengan sikap sombong.
Kui Hwa memandang dengan alis berkerut dan mata marah. “Huh, siapa percaya bualanmu? Dua orang suhengku (kakak seperguruanku), yaitu kakak beradik Koa saja tidak mampu menandingi mereka. Apa lagi engkau! Melawan akupun engkau tak mampu menang!” bentaknya.
“Tidak salah, siocia, kalau saya maju sendiri. Akan tetapi kalau anak buah saya lima puluh orang, pasti kita akan dapat menghancurkan dua orang itu!” bantah Ban Su Ti.
“Lima puluh orang? Anak buahmu hanya dua puluh orang, dan aku sangsi apakah kalain dapat mengalahkan mereka. Ingat, dua puluh lima orang anak buah Lurah Koa juga tidak mampu mengalahkan mereka. Sudahlah, aku tidak percaya bualanmu. Ayah, bagaimana rencana ayah? Kalau rencana itu baik, tentu aku akan membantumu.”
“Begini, Kui Hwa. Kesempatan baik ini tidak dapat kulewatkan begitu saja. Kita harus memperkuat diri dan memperbesar kekuasaan sehingga kelak, akulah yang menggantikan Lurah Koa menjadi orang yang paling berkuasa di sini.”
“Ayah...!!”
“Dengar dulu! Ban Su Ti akan segera menghubungi Bong Kit dan kawan-kawannya yang telah diusir oleh Lurah Koa. Kita tarik mereka sehingga mereka akan memperkuat pasukan pengawal kita. Kemudian, kita tundukkan dua orang pengawal baru dari Lurah Koa itu dan dengan kekuasaan kita, mudah saja menggulingkan Lurah Koa yang kita anggap tidak mampu lagi, dan aku menggantikan kedudukannya sebagai lurah di sini.”
“Ayah, untuk apa harus begitu? Apakah ayah ingin aku membantu ayah sehingga aku harus bermusuhan dengan kedua orang suhengku sendiri?”
“Tidak bermusuhan, anakku. Kita bahkan membantu Lurah Koa untuk menyingkirkan dua orang pemuda yang menekannya! Nah, setelah dua orang pemuda itu berhasil ditundukkan atau diusir pergi, semua penghuni akan melihat betapa lemah dan tidak mampunya Lurah Koa menjadi penguasa di sini, dan akulah yang lebih pantas. Aku yang akan menggantikannyaa menjadi orang yang paling berkuasa dan paling kaya di dusun ini. Lurah Koa akan menjadi pembantuku, dan seorang di antara kedua puteranya, kalau memang kau suka, dapat saja menjadi mantuku.”
“Ihh, ayah!” Kui Hwa mengerutkan alisnya dan kedua pipinya menjadi merah. “Aku hanya melihat mereka sebagai kakak seperguruan karena kebetulan saja Lurah Koa dan yang mendatangkan seorang guru dari selatan untuk mengajar kami. Kalau ayah hendak mengandalkan puluhan orang mengeroyok dua orang pemuda itu, aku tidak dapat membantumu, ayah. Suhu pernah memesan agar aku yang sudah mempelajari ilmu silat darinya, bersikap gagah dan tidak melakukan kecurangan. Mengeroyok dua orang dengan lima puluh anak buah? Huh, memalukan!”
Selagi hartawan Ji hendak membantah dan memarahi puterinya, tiba-tiba masuk seorang anak buah dan segera memberi hormat kepada hartawan Ji, lalu berkata, “Saya mohon maaf kalau mengganggu, akan tetapi saya hendak menyampaikan berita yang penting.”
“Cepat bicara!” hartawan Ji berkata.
“Seorang di antara kedua pemuda yang berada di rumah Lurah Koa, dia bernama Cu Goan Ciang dan dia dahulu adalah anak dari dusun ini, dikenal dengan nama panggilan Siauw Cu, bekas penggembala hewan milik Lurah Koa.”
“Ahhh!” hartawan Ji berseru dengan kaget dan heran, “Sekarang aku ingat. Siauw Cu, anak yang kematian ayah ibunya, kemudian karena ditolong Lurah Koa lalu menjadi kacung yang bekerja di sana!”
“Siapakah itu Siauw Cu, ayah?” Kui Hwa tertarik mendengar bahwa seorang di antara dua pemuda yang lihai itu adalah anak yang berasal dari dusun ini.
“Dia dahulu, beberapa tahun yang lalu, adalah pemuda yatim piatu dari dusun ini. Miskin dan tak berkeluarga. Dia bekerja pada Lurah Koa, akan tetapi pada suatu hari, dia berkelahi dengan kedua orang putera Lurah Koa dan melarikan diri, dikejar-kejar anak buah Lurah Koa karena dia memukuli dua orang anak lurah itu sampai pingsan. Namun, pengejaran itu tidak ada hasilnya. Dan sekarang, dia muncul lagi dan mengacau di rumah keluarga Koa. Nah, kaulihat, Kui Hwa. Dia anak yang jahat sekali. Ketika kecil ditolong Lurah Koa, bahkan penguburan jenazah orang tuanya dibiayai oleh Lurah Koa, kemudian dia diambil sebagai kacung, diberi pekerjaan sehingga dapat makan kenyang dan pakaian utuh. Akan tetapi apa balasannya? Dia berkelahi dengan kakak beradik Koa, memukuli mereka sampai pingsan lalu minggat. Sekarang, setelah dewasa, datang lagi dan membikin kacau keluarga Koa yang pernah menolongnya!”
Terbakar juga hati Kui Hwa mendengar ini. Pemuda itu, seorang di antara dua pemuda itu, sungguh tidak mengenal budi. “Yang manakah dia yang bernama Cu Goan Ciang atau Siauw Cu itu? Yang brewokan atau yang tinggi?” Ia memandang kepada pelapor tadi.
“Yang tinggi tegap, nona.”
“Hemm, suatu waktu aku sendiri akan menghajarnya!” kata Kui Hwa.
“Kau bantu saja kami, Kui Hwa. Kelak kita serbu dan tangkap mereka, dan engkau boleh menghajarnya sampai mati!”
“Tidak, ayah! Aku tidak mau menggunakan banyak orang melakukan pengeroyokan. Aku tidak mau bertindak curang!” Setelah berkata demikian, dengan bersungut gadis itu meninggalkan ayahnya.
Setelah semua tukang pukul berikut keluarga mereka pergi meninggalkan dusun Cang-cin, Cu Goan Ciang dan sutenya mengajak Lurah Koa dan kedua orang puteranya masuk dan bercakap-cakap di ruangan dalam. Setelah mereka berlima duduk mengelilingi meja besar dan air teh, Goan Ciang memandang kepada ayah dan dua orang anak itu dengan sinar mata tajam, kemudian dia bertanya.
“Nah, sekarang Koa-cungcu (Lurah Koa) dan ji-wi kong-cu (kedua tuan muda), pandanglah aku baik-baik dan coba ingat, apakah kalian bertiga tidak lagi mengenal aku?”
Ayah dan kedua orang anaknya itu terkejut dan terheran mendengar ucapan Cu Goan Ciang yang mengubah sikapnya itu. Namun, mereka tetap tidak dapat mengingat siapa pemuda ini sesungguhnya, sementara itu, Shu Ta hanya tersenyum dan minum tehnya, hanya menjadi penonton saja.
Goan Ciang memandang kepada kakak beradik Koa yang kini telah menjadi dua orang pemuda yang gagah itu. “Koa Hok dan Koa Sek, lupakah kalian ketika kalian mengeroyok aku di luar dusun dahulu itu, ketika aku sedang menggembala ternak milik ayah kalian?”
Dua orang pemuda itu mengamati wajah Goan Ciang, kemudian mereka saling pandang dan kejutan pada pandang mata mereka menandakan bahwa mereka mulai dapat mengingat dan mengenal siapa pemuda tinggi tegap yang duduk di depan mereka itu.
“Kau... Siauw... Siauw Cu...?” kata mereka hampir berbareng.
Goan Ciang mengangguk sambil tersenyum, dan Lurah Koa yang tadinya tidak percaya mendengar seruan dua orang puteranya, kini baru tahu bahwa memang benar pemuda ini adalah Siauw Cu.
“Siauw Cu...! Kau... kau berani...” akan tetapi dia menghentikan kemarahannya ketika bertemu pandang dengan mata Goan Ciang.
“Lurah Koa, sepatutnya aku harus menghukum engkau dan dua orang puteramu, akan tetapi mengingat bahwa engkau pernah pula berbuat baik kepadaku dan kepada orang-orang di sini, maka aku mengambil keputusan untuk memaafkanmu asal kalian dapat mengubah cara hidup yang sesat ini. Engkau sebagai lurah dusun ini terlalu mabok akan kekuasaan dan kesenangan sendiri, tidak perduli akan kesengsaraan rakyat penghuni dusun. Mereka sudah diperas dengan pinjaman berbunga oleh hartawan Ji, dirampas sawah ladang mereka sebagai pembayaran hutang, akan tetapi bukan saja engkau tidak perduli, bahkan engkau membebani mereka dengan pajak paksaan yang besar, demi memperbesar kekayaanmu. Engkau dan hartawan Ji berdua telah memeras dan menghisap darah penghuni dusun, seperti dua ekor lintah gemuk, seperti dua ekor serigala buas.”
“Tapi... tapi... Siauw Cu. Bukankah aku yang menolongmu ketika ibumu meninggal dunia, memberimu peti mati dan memberimu pekerjaan dan...”
“Engkau memberi peti mati hanya karena ingin kubalas dengan tenagaku yang bekerja menggembala ternakmu. Mengapa tidak kautolong ketika keluarga ayahku dilanda kebinasaan karena kelaparan? Engkau sebagai kepala dusun tidak bertanggung jawab! Dan tahukah engkau kenapa kedua orang puteramu ini menggeletak pingsan di luar dusun itu?”
“Kata mereka... karena kaupukuli...”
“Bagus! Mereka sejak kecil belajar silat dan aku tidak boleh dekat, bagaimana mungkin aku berani memukuli mereka? Ketahuilah, karena aku lebih cepat dapat menguasai ilmu silat, mereka membenciku dan ketika aku menggembala, mereka menghadangku dan merekalah yang memukuli aku. Aku melawan dan mereka roboh pingsan. Dan engkau mengirim tukang- tukang pukulmu untuk mencari aku, dan andai kata aku dapat ditemukan dan ditangkap, tentu engkau akan menyuruh tukang-tukang pukulmu untuk menyiksa dan membunuhku.”