Halo!

Rajawali Lembah Huai Chapter 13

Memuat...

“Begini, taijin. Pengertian ini jelas menunjukkan bahwa yang terpenting adalah rakyat. Lurah diadakan untuk kepentingan rakyat, untuk mengatur keperluan rakyat, bukan sebaliknya, bukan rakyat diadakan demi kepentingan lurah. Bukankah begitu?”

Kembali terpaksa Lurah Koa mengangguk-angguk. “Lalu?”

“Contohnya dusun Cang-cin ini. Kalau taijin sebagai lurah ingin hidup aman, harus rakyatnya dulu dibikin aman hidup mereka, kalau lurahnya ingin makmur, harus rakyatnya dibikin makmur dulu, kalau ingin senang, harus rakyatnya lebih dulu dibikin senang. Bagaimana mungkin lurahnya hidup aman kalau kehidupan rakyatnya tidak aman?”

“Hemm, orang muda, apa sesungguhnya maksudmu? Bukankah dusun inipun dalam keadaan aman? Rakyat di dusun ini tidak pernah diganggu penjahat. Mana ada penjahat berani masuk ke sini? Akan kami hancurkan!”

Kini Cu Goan Ciang yang bicara. “Memang tidak ada penjahat dari luar masuk, taijin. Akan tetapi di dalam dusun sendiri penuh dengan orang jahat!”

Mendengar ucapan Cu Goan Ciang itu, ayah dan dua orang anaknya itu saling pandang, kemudian mereka terbelalak memandang kepada Goan Ciang dan hampir berbareng mereka berseru, “Tidak mungkin! Mana ada orang jahat di sini?”

Goan Ciang tersenyum. “Mungkin bagi sam-wi (anda bertiga) mereka tidak jahat, akan tetapi tanyalah kepada warga dusun. Dua puluh lima orang anggota pasukan keamanan itu melakukan pemerasan, penindasan, penyiksaan, pemukulan bahkan tidak segan membunuh, tidak segan mengganggu anak isteri warga dusun. Kalau perbuatan seperti itu bukan perbuatan penjahat, lalu apakah harus dikatakan perbuatan baik?”

“Tapi mereka itu menjaga keamanan dan menghukum warga dusun yang melanggar peraturan, tidak kami suruh melakukan kejahatan!” teriak sang lurah.

Goan Ciang tersenyum. “Mungkin taijin tidak menyuruh mereka, akan tetapi karena merasa berkuasa, mereka bertindak sewenang-wenang. Orang-orang seperti mereka itu bagaikan anjing-anjing liar, kalau majikannya tidak memuaskan hati, mereka akan membalik dan menggerogoti majikan sendiri.”

“Ahhh...!” Wajah lurah itu berubah. Tak pernah terpikirkan olehnya akan kemungkinan para tukang pukulnya itu membalik dan mengganggu dia dan keluarganya. “Lalu... lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Kita tadi telah sependapat bahwa yang terpenting adalah kehidupan rakyat, yaitu warga dusun ini, taijin. Taijin harus memakmurkan mereka, barulah kehidupan taijin sekeluarga akan makmur. Karena itu, pertama-tama yang akan kami berdua lakukan adalah menyingkirkan orang-orang yang menindas rakyat, yaitu dua puluh lima orang pengawal itu. Sekarang juga, kita harus memecat mereka dan mengusir mereka dari dusun ini.”

Tiga orang itu terbelalak. “Tapi... tapi... tanpa mereka... siapa yang akan menjaga keamanan?” teriak sang lurah.

“Hemm, lupakah taijin akan peristiwa tadi? Dua puluh lima orang itu hanya bisa sewenang- wenang mengganggu rakyat atau warga dusun yang lemah dan tidak berdosa, akan tetapi sekali menghadapi gangguan dari luar, baru kami berdua saja yang muncul, mereka sudah tidak ada artinya! Orang-orang macam itu yang taijin andalkan untuk menjaga keselamatan taijin sekeluarga?”

Lurah itu terpaksa mengangguk-angguk. “Tapi... tapi bagaimana kalau mereka menolok dan mereka membalas dendam karena dipecat, lalu mengganggu dusun ini...?”

Shu Ta tertawa. “Ha-ha-ha, mana mereka berani, taijin! Biar mereka itu ditambah seratus orang lagi, kalau mereka berani membikin kacau, akan kami hadapi berdua dan akan kami tumpas sampai habis!”

“Nah, taijin tinggal memilih. Tetap menggunakan mereka dan kami akan pergi dari sini, atau memecat mereka dan kami berdua membantu taijin?” tanya Goan Ciang.

“Terserah... terserah... silahkan, akan tetapi kalian yang memecat mereka, bukan kami...”

“Mari kita keluar dan melaksanakan keputusan pertama ini sekarang juga, taijin,” kata Cu Goan Ciang. Terpaksa lurah itu bersama dua orang puteranya ikut keluar dan mereka berlima berdiri di beranda depan. Cu Goan Ciang memberi isarat kepada dua puluh lima orang petugas keamanan itu untuk berkumpul dan mendekat. Mereka datang berbondong dan berkumpul di bawah anak tangga beranda, dipimpin oleh Bong Kit. Mereka siap menerima perintah dari pimpinan baru itu. Kini mereka tidak merasa penasaran lagi, bahkan berbesar hati karena merasa mempunyai dua orang pimpinan yang boleh diandalkan sehingga mereka tentu akan lebih berani dalam sepak terjang mereka, lebih buas dari pada yang sudah-sudah.

“Kalian semua dengarlah baik-baik. Kami telah mengambil keputusan bahwa karena kami tidak lagi membutuhkan tenaga kalian dua puluh lima orang, maka mulai detik ini kalian dipecat. Kalian boleh membawa seluruh milik kalian dan hari ini juga kalian harus meninggalkan dusun Cang-cin dan tidak boleh lagi memasuki dusun ini. Siapa berani masuk akan berhadapan dengan kami dan akan dihukum berat. Nah, laksanakan!”

Tentu saja semua orang itu terbelalak dan terheran-heran, bagaikan disambar petir di siang hari terang. Sama sekali tidak pernah mereka sangka bahwa akan terjadi perubahan yang begini mendadak. Setelah terhenyak sejenak saking terkejut, mulailah mereka itu berisik dan bicara sendiri riuh rendah, semua menyatakan sikap yang tidak mau menerima dan penasaran.

Melihat ini, Cu Goan Ciang mengeluarkan bentakan yang disertai tenaga khikang sehingga terdengar lantang dan nyaring sekali, membuat lurah itu sendiri hampir terjengkang sehingga cepat dirangkul kedua orang puteranya. “Diaaaamm!! Kalian tidak perlu merasa penasaran. Sepantasnya kalian diusir dengan hajaran keras karena selama ini kalian tiada ubahnya sekelompok perampok jahat yang mengganggu keamanan dusun ini! Koa-taijin masih berlaku murah hati dan hanya memecat dan mengusir kalian. Kalau ada yang masih penasaran, boleh maju dan menghadapi kami!”

Ditantang seperti itu, tentu saja tidak ada yang berani maju. Biarpun mereka merasa marah, penasaran dan sakit hati, namun mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi dua orang pemuda itu.

Shu Ta menyusulkan ancamannya. “Kalau di antara kalian ada yang merasa sakit hati dan mendendam, lalu datang mengganggu dusun ini, kami tidak akan memberi ampun lagi dan akan membunuh kalian!”

Para penghuni dusun itu hanya terbelalak dan terheran-heran melihat dua puluh kima orang, dipimpin oleh Bong Kit, berbondong-bondong meninggalkan dusun Cang-cin sambil membawa buntalan besar di punggung mereka dan di belakang mereka berjalan pula isteri dan anak-anak mereka. Tidak kurang dari seratus orang, yaitu dua puluh lima orang tukang pukul berikut keluarga mereka, meninggalkan dusun itu! Tentu saja di dasar hati mereka merasa girang seperti melihat sekumpulan iblis meninggalkan dusun itu, akan tetapi juga terdapat perasaan khawatir seperti yang dirasakan Lurah Koa kalau-kalau gerombolan tukang pukul itu akan membalas dendam. Mereka adalah orang-orang yang biasa mempergunakan kekerasan, berhati kejam sekali. Hanya hartawan Ji yang diam-diam merasa gembira. Kalau Lurah Koa ditinggalkan semua tukang pukulnya, maka dialah yang berkuasa di dusun itu!

Mendengar betapa dua orang pemuda yang ia jumpai di kuburan itu kini menjadi pengawal Lurah Koa dan mengalahkan dua puluh lima orang tukang pukul sang lurah, bahkan kemudian memecat dan mengusir semua tukang pukul bersama keluarga mereka meninggalkan dusun, diam-diam Ji Kui Hwa merasa kagum. Akan tetapi, teringat akan peristiwa di kuburan, hatinya merasa tidak enak. Ia tahu bahwa ayahnya, sebagai hartawan di situ yang mempunyai banyak sekali sawah ladang, juga mempunyai sedikitnya dua puluh orang tukang pukul yang biasa bertindak kejam terhadap para petani. Ia sendiri sudah seringkali menentang tukang-tukang pukul ayahnya sendiri, dan sudah sering membujuk ayahnya agar jangan menyuruh tukang-tukang pukul itu bersikap keras kepada para petani, namun selalu bujukannya tidak berhasil. Dan kini ia mulai merasa khawatir.

Ketika Kui Hwa menghadap ayahnya, dia melihat ayahnya sedang mengadakan pertemuan dengan Ban Su Ti, kepala para tukang pukul ayahnya dan lima orang anak buahnya. Ban Su Ti adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh pendek dan berperut gendut, nampak kokoh kuat, dan dialah orang kepercayaan hartawan Ji yang mengepalai kurang lebih dua puluh orang tukang pukul. Melihat wajah mereka yang nampak tegang, Kui Hwa menduga bahwa mereka tentu sedang membicarakan peristiwa yang terjadi pada Lurah Koa itu, dan mungkin juga karena laporan dua orang tukang pukul ayahnya yang tadi dihajar oleh dua orang pemuda asing itu.

“Ayah, apakah ayah sudah mendengar tentang Lurah Koa...”

“Kami sedang membicarakan urusan itu. Kebetulan engkau datang, Kui Hwa. Duduk di sini, aku ingin mendengar pendapatmu pula. Juga ingin bertanya kepadamu tentang peristiwa yang terjadi di tanah kuburan tadi.”

Kui Hwa duduk di dekat ayahnya dan cemberut. “Dua orang pembantu ayah tadi keterlaluan. Kakek Coa tidak bekerja di sawah hari ini karena dia berkabung di makam isterinya. Dua orang itu hendak memaksanya bekerja bahkan lalu memukulinya. Ini sudah keterlaluan, ayah! Andai kata tidak ada dua orang pemuda asing itu muncul, aku sendiri kalau melihatnya tentu akan menghajar orang-orang kita sendiri.”

“Kui Hwa! Omongan apa yang kaukeluarkan itu? Kakek Coa dihajar karena dia memang membandel dan sudah sepantasnya dia bekerja di sawah! Dia telah menerima banyak pertolongan dariku. Bahkan ketika isterinya meninggal, siapa yang memberinya uang sehingga dia dapat mengubur mayat isterinya dan membayar semua keperluan sembahyang? Aku! Ketika terjadi musim kering, siapa yang memberi pinjaman kepadanya untuk makan setiap hari dan untuk membeli benih padi? Aku! Tidakkah sudah sepatutnya kalau dia kini bekerja untukku? Dia membandel, membangkang, sudah sepantasnya kalau dia dihajar!”

Post a Comment