Halo!

Rajawali Lembah Huai Chapter 12

Memuat...

Inilah yang dikehendaki Cu Goan Ciang dan Shu Ta. Semua telah berkumpul di situ dan warga dusun juga telah berkumpul untuk menjadi penonton dan saksi. Cu Goan Ciang tersenyum, lalu berkata lantang. “Koa-taijin, lihatlah betapa semua anak buahmu tidak ada gunanya. Dalam waktu singkat, aku dan sute akan mengalahkan mereka!”

Setelah berkata demikian, Cu Goan Ciang dan Shu Ta bergerak ke depan. Para tukang pukul atau jagoan pengawal lurah itu menyambut dengan pengeroyokan. Mereka, dipimpin oleh Bong Kit, selain memandang rendah dua orang pemuda itu, juga tentu saja merasa malu kalau harus mengeroyok dua orang yang tidak bersenjata itu denggan menggunakan senjata tajam pada hal jumlah mereka sudah demikian banyaknya.

Para warga dusun yang berkumpul di situ dan menjadi penonton dari jarak yang cukup jauh, terbelalak dan merasa khawatir sekali. Bagaimana mungkin dua orang pemuda itu akan mampu melawan para tukang pukul yang sedemikian banyaknya? Mereka sudah mengenal benar keganasan dan kekejaman para tukang pukul itu. Tentu tak lama lagi kedua orang pemuda itu akan terkapar di atas tanah, berlumur darah, mungkin tewas.

Akan tetapi, mereka semakin terbelalak dan menahan napas ketika melihat betapa setiap kali dua orang pemuda itu bergerak, pasti ada pengeroyok yang terpelanting! Dalam beberapa gebrakan saja, dua orang pemuda itu telah membuat delapan orang pengeroyok terlempar dan terpelanting.

Bong Kit menjadi marah sekali kepada anak buahnya yang dianggapnya tidak becus. Sambil mengeluarkan suara gerengan seperti seekor beruang, dia sendiri terjun dan dengan tubuhnya yang tinggi besar dia menerjang ke arah Goan Ciang. Kedua lengan yang panjang itu, dengan kedua tangan terbuka, seperti hendak menerkam ke arah kedua pundak pemuda itu. Melihat serangan yang hanya mengandalkan tenaga seperti seekor binatang buas ini, Cu Goan Ciang mengelak ke samping dan pada saat tubuh lawan terjerumus ke depan, kakinya menyambar, ujung sepatunya mencium sambungan lutut kanan dan tak dapat dicegah lagi, Bong Kit jatuh berlutut. Sebelum dia mampu bangkit, sebuah tamparan hinggap di pundaknya dan Bong Kit merasa seperti disambar petir, tubuhnya terpelanting keras dan sejenak dia menjadi pening.

Kalau saja Bong Kit bukan orang yang selalu mengandalkan kekerasan dan memandang rendah orang lain, tentu dia akan menyadari bahwa dia berhadapan dengan lawan yang jauh lebih kuat dari padanya. Namun, dia biasanya selalu menang, selalu ditakuti orang, apa lagi mengandalkan banyak anak buahnya. Setelah mengguncang kepala dan mengusir kepeningan kepalanya, dia bangkit berdiri, mencabut pedangnya dan berteriak kepada anak buahnya untuk membunuh dua orang pengacau itu!

Sudah ada sepuluh orang yang terpelanting dalam gebrakan pertama itu, maka para pengeroyok itupun menjadi jerih dan begitu mendengar aba-aba Bong Kit yang telah mencabut pedang, mereka semuapun mencabut senjata mereka. Ada yang memegang golok, pedang, tombak, ruyung dan mereka kini mengepung dua orang pemuda itu dengan sikap bengis dan mengancam. Mereka yang tadi terpelanting juga sudah bangkit dan siap menerjang karena memang Goan Ciang dan Shu Ta tidak berniat melukai mereka.

Melihat betapa dua puluh lima orang itu sudah memegang senjata semua, Goan Ciang lalu berteriak ke arah kepala dusun yang masih berdiri didampingi dua orang puteranya. “Koa- taijin, lihatlah betapa tidak ada gunanya semua pengawal tai-jin, hanya mengandalkan kekerasan saja tanpa memiliki kepandaian yang berarti!”

Mendengar seruan ini, tentu saja Bong Kit menjadi marah. Dia menggerakkan pedangnya dan memberi isarat kepada para pengikutnya. Ributlah dua puluh lima orang itu mengepung dan mengeroyok Goan Ciang dan Shu Ta. Dua orang pemuda ini maklum bahwa dikeroyok demikian banyaknya orang yang memegang senjata tajam, mereka tidak boleh lengah.

Merekapun menggerakkan kaki tangan dan berkelebatan di antara para pengeroyok. Terdengar teriakan-teriakan dan senjata-senjata itu terlepas dari tangan pemegangnya, jatuh berkerontangan dan bagaikan serumpun alang-alang dibabat, dua puluh lima orang itu, termasuk Bong Kit, berpelantingan dan jatuh bangun! Mereka sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyerang lagi karena didahului oleh gerakan dua orang muda itu yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi.

Tentu saja Lurah Koa terbelalak dan terkejut bukan main. Apa lagi ketika dua bayangan itu setelah merobohkan semua pengeroyok, tiba-tiba berkelebat dan tahu-tahu telah berada di depannya.

“Maafkan ji-wi kong-cu (tuan muda berdua), kalian terpaksa menjadi tawanan kami!” kata Goan Ciang.

Dua orang pemuda itu marah sekali. Biapun mereka juga terkejut melihat betapa dua orang pemuda itu mampu merobohkan semua pengeroyok, namun mereka berdua bukan orang- orang lemah.

“Singgg...!” Keduanya sudah mencabut pedang masing-masing. Tadi mereka sudah mendengar dari ayah mereka bahwa dua orang pemuda itu melamar sebagai pengawal dan kini sedang diuji kemampuan mereka dengan dikeroyok dua puluh lima orang pengawal yang hendak mencegah mereka berdua menawan kedua orang putera lurah!

“Hemm, jangan kira mudah menawan kami berdua!” bentak Koa Hok dan diapun sudah menyerang Goan Ciang dengan tusukan pedangnya. Adiknya, Koa Sek, juga sudah memutar pedang dan menyerang Shu Ta.

Kesenangan adalah kekuasaan. Kekuasaan memungkinkan nafsu yang menguasai diri manusia untuk mencapai segala yang dikehendakinya, dan mencapai segala yang dikehendaki tentu saja mendatangkan kesenangan bagi diri pribadi. Kekuasaan juga membuat kira merasa bahwa diri kita penting, berarti, menonjol. Tanpa ada kekuasaan atas siapa saja, baik atas orang-orang yang berkedudukan lebih rendah dari pada kita, bawahan kita, keluarga kita, anak-anak kita, tanpa adanya perasaan bahwa kita berkuasa atas mereka, maka hidup ini akan terasa kosong, tidak ada artinya, sepi dan membosankan. Seperti juga milik atau kelebihan yang lain pada diri kita, kekuasaan juga memabokkan, dapat membuat kita lupa diri dan melakukan apapun demi untuk mempertahankan atau merampas kekuasaan itu. Kekuasaan, seperti kelebihan lain, mengikat dan membelenggu kita kuat-kuat sehingga orang yang memiliki kekuasaan tak dapat lagi melepaskan diri, bahkan tidak dapat lagi menikmati hidup tanpa kekuasaan. Ada yang begitu kehilangan kekuasaan, orang merasa demikian kosong, tidak berarti, duka dan sengsara. Ada pula yang mempertahankan kekuasaan dengan taruhan nyawa. Demikian lemahnya kita kalau sudah dicengkeram dan dikuasai nafsu sehingga segala yang sesungguhnya hanya menjadi pelengkap hidup, seperti kekayaan, kedudukan, kekuasaan dan sebagainya, kita jadikan yang terpenting, lebih penting dari pada nyawa!

Mendengar, bahwa mereka telah diterima sebagai pengawal, Cu Goan Ciang dan Shu Ta memberi hormat dan Cu Goan Ciang berkata, “Terima kasih atas kepercayaan Koa-taijin. Akan tetapi, kalau kami hanya diterima sebagai pengawal, lalu siapa yang akan menjadi kepala atau komandan kami, orang yang lebih pandai dari kami?”

Lurah itu saling pandang dengan kedua orang puteranya, lalu menoleh kepada Bong Kit yang hanya menunduk dengan muka merah karena dia sudah merasa kalah dan tidak lagi berani berlagak.

“Baik, kalian berdua kami angkat menjadi kepala pengawal, memimpin dua puluh lima orang pengawal kami yang sudah ada,” kata Lurah Koa.

Cu Goan Ciang mengangguk-angguk dan sesuai dengan rencana dia dan sutenya, dia lalu berkata, “Baik, taijin. Kami berdua menerima pengangkatan itu, dan demi keamanan dusun ini terutama keluarga taijin, kami berdua akan mengadakan peraturan baru. Untuk itu, kami mohon taijin dan ji-wi kong-cu untuk berunding dengan kami di rumah taijin, sedangkan kepada semua pengawal, kami perintahkan untuk berjaga di luar.”

Lurah Koa menyewa tukang pukul, dan hal ini dia lakukan karena pertama, hartawan Ji memiliki juga tukang-tukang pukul yang banyak dan kuat di samping puterinya yang lihai dan banyak membikin pusing karena gadis itu terkenal suka menentang tindakan para tukang pukulnya terhadap warga dusun. Dan kedua, hartawan itu telah menggunakan banyak uangnya untuk menjalin persahabatan dengan para pembesar yang berkuasa di kota, maka diapun tidak berani sembarangan bertindak takut akan turun tangannya para pejabat tinggi yang akan melindungi hartawan Ji. Akan tetapi sekarang, dengan adanya dua orang pemuda perkasa yang amat lihai ini, terbuka jalan baginya untuk memaksa hartawan Ji bertekuk lutut dan mengakui kekuasaannya di dusun itu.

Koa Hok dan Koa Sek duduk di kanan kira ayahnya. Dua orang pemuda inipun mengamati Cu Goan Ciang dan Shu Ta dengan penuh perhatian dengan hati yang kagum dan juga penasaran. Tadinya, mereka berdua menganggap bahwa mereka berdua merupakan orang- orang paling jagoan di dusun itu. Kini, tidak disangka sama sekali, kebanggaan hati mereka itu hancur lebur di tangan dua orang pemuda ini! Akan tetapi, untuk melampiaskan rasa penasaran, mereka tentu saja tidak berani. Semua anak buah mereka telah kalah, juga mereka berdua bukanlah lawan dua orang pemuda perkasa ini! Seperti juga jalan pikiran ayah mereka, karena merasa tidak mungkin memaksakan kehendak mereka kepada dua orang pemuda ini, mereka berniat untuk menarik mereka menjadi kawan yang setia dan yang menurut permintaan mereka, dan seperti Lurah Koa, dua orang pemuda yang selalu dimanja itupun memikirkan apa yang akan dapat mereka capai dengan bantuan dua orang pengawal baru ini.

“Nah, Cu Goan Ciang dan Shu Ta, setelah kalian kini menjadi pimpinan pasukan, berarti menjadi tangan kanan kami, lalu apa yang akan kalian lakukan, peraturan apa yang akan kalian adakan untuk menjamin keselamatan keluarga kami? Sebagai balas jasa, kalian akan kami beri rumah tinggal yang indah, pakaian baru dan banyak, juga segala kebutuhan kalian akan kami penuhi!” kata sang lurah dengan wajah berseri. “Koa-taijin, sebelum kami membuat peraturan baru, kami ingin mengingatkan taijin akna keadaan taijin di sini. Taijin menjadi kepala dusun, menjadi lurah di sini karena adanya rakyat atau warga dusun Cang-cin, bukan? Andai kata dusun ini kosong tidak ada penduduknya, hanya keluarga taijin sendiri, apakah taijin akan tetap menjadi lurah?”

Pertanyaan yang diajukan Shu Ta ini membuat sang lurah dan dua orang puteranya terbelalak. Pertanyaan yang amat aneh, belum pernah selamanya pertanyaan seperti itu terpikir oleh mereka.

“Tentu saja tidak!” akhirnya lurah itu berkata sambil mengerutkan alisnya. “Seorang kaisar sekalipun tentu tidak akan menjadi kaisar kalau tidak ada rakyatnya. Kenapa engkau mengajukan pertanyaan seaneh itu? Apa maksudmu?”

Shu Ta tersenyum. “Tepat sekali, taijin. Bahkan seorang kaisarpun tidak akan menjadi kaisar tanpa adanya rakyat. Berarti yang mengangkat kaisar, juga lurah, adalah rakyat. Tanpa ada rakyat, takkan ada lurah, sebaliknya tanpa adanya lurah sekalipun, rakyat akan tetap hidup. Bukankah begitu?”

Lurah itu semakin kecut hatinya, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat membantah. “Tentu saja, andai kata aku tidak menjadi lurah, akupun menjadi rakyat biasa. Tapi apa maksudmu?”

Post a Comment