Halo!

Rajawali Lembah Huai Chapter 11

Memuat...

“Ha-ha-ha, kalian ini dua orang bocah sungguh tekebur. Keamananku sudah terjamin dan tidak akan ada orang yang berani mengacau di dusun kami ini! Kami tidak membutuhkan pengawal baru, karena kami sudah mempunyai dua losing orang pengawal yang amat kuat dipimpin oleh Bong Kit ini, selain itu, juga dua orang putera kami adalah pendekar-pendekar yang tak terkalahkan.”

Cu Goan Ciang kembali saling pandang dengan Shu Ta dan mereka tersenyum geli mendengar kesombongan itu keluar dari mulut sang lurah. Memang sudah mereka perhitungkan kemungkinan sambutan seperti itu, maka sesuai dengan rencana mereka, kini Shu Ta yang menjawab. “Akan tetapi, Koa-taijin, bagaimana mungkin taijin mempercayakan keselamatan taijin sekeluarga kepada dua losing orang pengawal yang dipimpin oleh seorang macan ompong seperti itu? Ya, macan ompong. Memang kelihatannya saja dua losin orang pengawal taijin itu ganas dan kuat, namun mereka itu hanyalah sekelompok macan ompong yang tidak bertaring tidak berkuku lagi.”

“Bocah sombong! Berani engkau menghina pengawalku yang dua losin itu?” Lurah Koa berseru marah sedangkan Bong Kit mengepal tinjunya yang besar sambil melotot kepada Shu Ta.

“Koa-taijin,” kata Cu Goan Ciang. “Sute sama sekali tidak menyombongkan diri, tidak membual atau menghina para pengawal taijin. Kalau muncul gangguan orang jahat di dusun ini, pasti pengawal-pengawal taijin tidak akan berdaya dan keselamatan taijin sekeluarga akan terancam. Untuk meyakinkan hati taijin, bagaimana kalau kami berdua mengadakan percobaan untuk menguji penjagaan keamanan terhadap keluarga taijin?”

Lurah Koa berkerut dan matanya memandang tajam penuh selidik. “Percobaan apa yang kaumaksudkan? Jagalah kata-kata kalian, atau aku akan menyuruh pengawal unutk menangkap kalian dan menghajar kalian!”

“Sekali lagi, kami tidak bermaksud menghina, melainkan bicara sebenarnya, taijin. Percobaan yang saya maksudkan adalah begini. Biarlah kami berdua berperan sebagai dua orang penjahat yang datang untuk menangkap dan menculik dua orang putera taijin. Dua losin orang pengawal itu boleh mencoba menghalangi, juga dua orang putera taijin boleh melawan. Kami akan mengalahkan mereka dan menangkap dua orang putera taijin dan membawa mereka menghadap taijin. Bagaimana?” kata Cu Goan Ciang.

Lurah Koa terbelalak, lalu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, apakah kalian ini dua orang bocah yang sudah gila? Kalian berdua akan menangkap dua orang putera kami dan mengalahkan semua pengawalku dan dua orang puteraku. Kalian gila!”

“Kami gila atau tidak, kita sama lihat saja dalam percobaan ini, taijin,” kata Shu Ta. “Akan tetapi, kalian dapat dihajar sampai mampus oleh para pengawal kami sebelum dapat

bertemu dua orang puteraku! Andai kata kalian dapat melampaui para pengawal, kalianpun akan dihajar oleh dua orang puteraku yang lihai.” “Koa-taijin, kami datang untuk minta pekerjaan, bukan untuk membuat ribut. Kami hanya ingin membuktikan kemampuan kami dan membuktikan betapa lemahnya penjagaan para pengawal taijin. Oleh karena itu, kami tidak akan mencelakai siapapun, dan kami juga tidak akan melukai dua orang putera taijin.”

“Tapi ini berbahaya bagi kalian. Kalian dapat dihajar mampus oleh pasukan pengawal kami!” “Kalau terjadi demikian, kami tidak akan penasaran, taijin,” kata pula Cu Goan Ciang.

“Taijin, serahkan saja dua bocah gila ini kepadaku untuk kuhancurkan mulut mereka yang lancang sekarang juga!” kata Bong Kit yang sejak tadi hanya menahan kemarahannya. Kalau saja dia tidak berada di depan majikannya, kalau dua orang bocah sombong itu bicara seperti itu di luar tadi, tentu sejak tadi dia sudah turun tangan menghajar mereka.

“Koa-taijin,” kata pula Cu Goan Ciang dengan cepat. “Kami kira tidak ada yang merugikan taijin dalam percobaan ini. Kalau kami gagal dan tidak mampu, sampai terbunuh oleh para pengawal taijin, taijin tidak rugi dan kamipun tidak akan penasaran. Sebaliknya, kalau kami yang menang, taijin mendapatkan kami sebagai pengawal yang dapat diandalkan, bukankah taijin pula yang untung?”

Mendengar ucapan masuk di akal ini, Lurah Koa mengangguk-angguk. “Baiklah, kami menerima usul percobaan ini! Bagaimana dan kapan dimulainya?”

Tentu saja Cu Goan Ciang dan Shu Ta yang mengatur siasat agar mereka dapat menaklukkan lurah ini dengan halus, girang melihat siasat mereka berjalan dengan baik. “Sekarang juga, taijin. Kami berdua akan keluar dari dusun, kemudian kami memasuki dusun melalui pintu gerbang dan mulai saat itu, semua pengawal taijin boleh menghalangi kami. Kami akan terus masuk dan mencoba untuk menangkap kedua orang putera taijin. Tentu saja merekapun boleh bersiap siaga melawan kami. Bagaimana?”

Lurah Koa tertawa, juga kini Bong Kit tertawa, karena mereka menganggap dua orang pemuda ini gila atau setidaknya juga terlalu sombong dan tidak tahu diri.

“Baik, baik, kita mulai sekarang juga. Nah, keluarlah kalian dari dusun ini agar kami dapat membuat persiapan,” kata sang lurah.

Cu Goan Ciang dan Shu Ta lalu keluar dari gedung itu, terus berjalan cepat keluar dari dalam dusun Cang-cin. Bong Kit mengumpulkan semua anak buahnya yang dua losing banyaknya dan menceritakan bahwa ada dua orang pemuda gila yang melamar menjadi pengawal dan kini menyombongkan diri untuk diuji, yaitu mereka mencoba untuk menculik dua orang putera lurah dan akan menghadapi mereka semua sebagai lawan! Mendengar ini, dua losing pengawal itu tertawa geli, akan tetapi juga marah karena mereka menganggap dua orang pemuda itu sombong dan memandang rendah mereka. “Kalau kita mengeroyok mereka, kita hajar mereka habis-habisan, bahkan kalau mereka mampuspun, Lurah Koa tidak akan marah kepada kita,” kata Bong Kit kepada mereka.

Sementara itu, Cu Goan Ciang dan Shu Ta, seperti yang mereka rencanakan, keluar dusun dan menemui warga dusun yang masih sibuk bekerja di sawah ladang. Kepada semua warga dusun, mereka menyatakan bahwa mereka berdua akan menandingi pasukan pengawal Lurah Koa, dan mereka berdua akan menaklukkan sang lurah agar kesewenang-wenangan dan penindasan terhadap warga dusun itu dapat dihentikan. Dua orang pemuda itu menganjurkan agar seluruh penduduk menjadi penonton dan menyaksikan bagaimana mereka berdua akan mengalahkan semua pengawal, dan menangkap dua orang pemuda putera sang lurah.

Mendengar ini, tentu saja semua warga dusun menjadi terkejut bukan main. Apa lagi ketika kakek Coa muncul dan dengan lantang berteriak memberitahu bahwa pemuda yang tinggi tegap dan gagah itu adalah Siauw Cu, yang delapan tahu lalu kematian orang tuanya kemudian menjadi penggembala ternak milik Lurah Koa dan kemudian melarikan diri karena memukuli dua orang putera lurah itu dan menjadi buronan yang tak pernah dapat ditemukan para kaki tangan sang lurah. Warga dusun kini mengenal Cu Goan Ciang sebagai Siauw Cu dan merekapun semakin geger. Ada yang menjadi gembira dan penuh semangat mendukung usaha Siauw Cu untuk membebaskan mereka dari penindasan, ada pula yang ketakutan, takut kalau terbawa-bawa dan mereka akan menerima hukuman dari para pengawal yang galak dan ganas. Akan tetapi, akhirnya sebagian besar warga dusun itu kembali ke dusun dan mengikuti dua orang pemuda itu dari belakang untuk melihat apa yang akan terjadi.

Ketika dua orang pemuda murid Siauw-lim-pai itu memasuki pintu gerbang, seperti yang sudah mereka duga, mereka dihadang oleh sekelompok penjaga keamanan yang jumlahnya lima orang. Melihat kedua orang muda itum seorang di antara para penjaga memukul kentungan dan berlari-larianlah para pengawal yang lain ke pintu gerbang itu. Kiranya, Bong Kit telah membagi-bagi pasukannya untuk melakukan penjagaan di empat penjuru untuk menghadang. Kiranya, dua orang pemuda itu memegang janji, masuk melalui pintu gerbang dan tidak menggunakan akal menyelunduo seperti yang mereka khawatirkan. Karena bunyi kentongan itu, maka sebentar saja Cu Goan Ciang dan Shu Ta yang sudah memasuki pintu gerbang, terkepung oleh dua losin petugas keamanan yang dipimpin oleh Bong Kit yang berdiri dengan garang, dengan senyum sinis karena dia yakin bahwa dua orang ini tidak mungkin akan dapat menandingi anak buahnya yang dua losin orang banyaknya, apa lagi hendak menculik dua orang kongcu yang memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi dari pada dia sendiri.

“Ha-ha-ha-ha, bocah-bocah sombong. Hendak kulihat, apa yang dapat kaulakukan terhadap kami dua puluh lima orang?” Dia melihat pula betapa semua warga desa berdatangan memasuki pintu gapura dengan sikap takut-takut akan tetapi juga ingin tahu. Melihat ini, Bong Kit tidak marah, bahkan dengan gembira dia berteriak kepada mereka, “Haiii, kalian semua, kebetulan kalian pulang dan dapat melihat keramaian. Dua orang bocah lancang ini ingin menjadi pengawal dan mengalahkan kami, ha-ha-ha. Kalian lihatlah betapa kami akan menghajar mereka. Kalian boleh nonton dan nanti segera kembali ke sawah untuk bekerja!”

Melihat lagak Bong Kit, Shu Ta sudah hendak turun tangan, akan tetapi suhengnya berbisik, “Tunggu dulu. Lihat siapa yang datang, biar mereka menyaksikan agar mereka menyadari kekuatan kita.”

Shu Ta mengangkat muka memandang dan dia melihat betapa Lurah Koa datang bersama dua orang pemuda yang berpakaian mewah dan berwajah tampan karena mereka itu pesolek.

Mudah diduga siapa dua orang pemuda itu. Tentulah dua orang putera Lurah Koa. Di pinggang mereka berdua tergantung sebatang pedang dan langkah mereka dibuat-buat seperti langkah seorang pendekar asli, mirip langkah harimau.

Lurah Koa telah tiba di situ dan melihat dua orang pemuda itu sudah dikepung semua anak buahnya, diapun tersenyum mengejek. “Kalian sudah dikepung, dan di sini dua orang anakku telah siap siaga. Bagaimana kalian hendak menculik mereka? Ingin sekali aku melihatnya!”

Post a Comment