Halo!

Rajawali Lembah Huai Chapter 09

Memuat...

“Suheng, serahkan si hidung besar ini kepadaku!” kata Shu Ta dan diapun menyambut serangan si hidung besar. Terpaksa Cu Goan Ciang mundur dan diapun kini menghadapi si kumis panjang yang masih marah-marah dan menerjang membabi buta.

Cu Goan Ciang hanya ingin memberi pelajaran karena dua orang ini hanyalah kaki tangan hartawan Ji. Yang kikir, kejam dan penindas rakyat adalah hartawan itu, sedangkan kaki tangan ini hanyalah orang-orang yang berwatak rendah, demi mendapatkan upah mereka ini tidak segan-segan melaksanakan perintah majikan mereka untuk bersikap keras dan kejam terhadap penduduk dusun yang miskin. Maka, melihat si kumis panjang sudah kehilangan kumisnya dan atas bibirnya berdarah, diapun mengakhiri perkelahian itu dengan sebuah tendangan yang mengenai dada si kumis panjang. “Desss...!” Tubuh si kumis panjang terjengkang dan terbanting keras ke atas tanah.

Pada saat yang hampir berbareng, Shu Ta sudah berhasil menonjok hidung besar lawannya seperti yang dikatakannya tadi.

“Prottt!” Bukit hidung itu pecah dan berdarah, sedangkan tubuh si hidung besar terhuyung ke belakang.

Terdengar orang bertepuk tangan. Kiranya gadis manis tadi yang bertepuk tangan memuji. Dua orang tukang pukul itu menjadi marah bukan main. Mereka telah dihina orang di depan nona mereka lagi, dan yang membuat mereka menjadi semakin mendongkol adalah karena justeru nona majikan mereka itu memuji dan bersorak berpihak kepada dua orang pemuda asing yang telah menghina mereka. Mereka segera mencabut golok yang tadi mereka lempar ke tanah dan memutar golok itu di atas kepala, siap menyerang dua orang pemuda yang nampak tenang-tenang saja.

“Bocah setan, mampus kau sekarang!” bentak bekas si kumis panjang itu karena sekarang dia tidak berkumis lagi sambil memutar goloknya, sedangkan si hidung besar hanya mengeluarkan suara tidak karuan karena suaranya menjadi bindeng seperti orang bicara dengan hidung dijepit.

Akan tetapi sebelum dua orang pemuda itu menyambut, nampak bayangan berkelebat didahului sinar terang dan terdengar suara berkerontangan. Dua orang jagoan itu berteriak kaget dan terhuyung ke belakang dengan mata terbelalak karena golok di tangan mereka telah buntung. Kiranya gadis manis itu yang tadi menyambut mereka dengan pedang di tangan, sekali tangkis ia telah membikin buntung dua batang golok itu!

“Sudah kukatakan kalian tidak boleh menggunakan senjata golok, dan kalian masih berani membangkang!” bentak gadis itu galak.

Dua orang jagoan tinggi besar itu menundukkan mukanya dan nampak ketakutan.

“Maafkan kami, nona,” kata yang kehilangan kumis panjang, sedangkan si hidung besar yang remuk hanya menggumam saja.

“Sudahlah, pergi kalian dari sini. Menjemukan saja!” nona itu berseru galak dan bagaikan dua ekor anjing yang ketakutan, dua orang itu segera membalikkan tubuh dan pergi dari situ sambil menunduk.

Cu Goan Ciang dan Shu Ta kagum sekali, terutama Shu Ta yang berwatak gembira. “Wah, hebat sekali, nona. Sungguh tidak kusangka, di dusun yang sunyi ini terdapat seorang pendekar wanita ahli pedang seperti nona!” katanya sambil memberi hormat. Siauw Cu diam saja, hanya memandang dan tersenyum melihat sikap sutenya yang dianggapnya agak mencari muka dengan pujiannya.

Sementara itu, kakek Coa memberi hormat kepada gadis itu dan berkata dengan suara khawatir, “Siocia, terima kasih atas pertolonganmu, akan tetapi harap siocia sampaikan kepada Ji wan-gwe bahwa bukan sekali-kali saya bermaksud untuk membangkang dan tidak mau bekerja. Akan tetapi saya ingin berkabung di kuburan isteri saya sampai besok. Lusa pagi saya pasti akan bekerja seperti biasa di ladang ayahmu, siocia (nona).” “Sudahlah, jangan khawatir, paman,” kata gadis itu dengan sikap acuh.

Mendengar ucapan kakek itu, Siauw Cu mengerutkan alisnya dan sinar matanya mencorong ketika menyambar ke wajah gadis itu. “Jadi engkau ini puteri Hartawan Ji Sun?” tanyanya.

Mendengar pertanyaan yang diajukan dengan suara yang kaku ini, gadis itu mengerutkan alisnya dan balas memandang dengan kaku pula. “Benar, namaku Ji Kui Hwa, puteri Hartawan Ji Sun. Habis mengapa?”

Siauw Cu tidak menjawab, melainkan menarik tangan Shu Ta dan tanpa memperdulikan lagi kepada gadis itu, dia berkata, “Sute, mari kita pergi!” Diapun mengajak sutenya pergi ke kuburan ayah dan ibunya yang berada di sudut kiri tanah kuburan itu. Gadis itu terbelalak, kemudian alisnya berkerut karena ia mendongkol bukan main melihat sikap dua orang pemuda itu, apa lagi sikap pemuda tinggi tegap yang memandang kepadanya dengan sinar mata merendahkan. Tadinya, ia tertarik melihat dua orang pemuda yang mampu menghajar dua orang tukang pukul ayahnya, dan ingin berkenalan. Akan tetapi melihat sikap pemuda tinggi tegap itu, tentu saja ia merasa malu kalau harus mengejar mereka. Iapun membanting kaki kirinya untuk melampiaskan kejengkelan hatinya, lalu meninggalkan tempat itu dengan bersungut-sungut.

Setelah tiba di depan kuburan ayah ibunya, Siauw Cu menjatuhkan diri berlutut dan sampai beberapa lamanya dia termenung dan terpekur. Hatinya diliputi keharuan melihat kuburan ayah ibunya tidak terawat, penuh dengan rumput alang-alang menjadi seperti semak belukar. Setelah menghormati kuburan orang tuanya sambil berlutut, dia lalu membersihkan kuburan itu, mencabut rumput dan tumbuh-tumbuhan. Tanpa diminta, Shu Ta yang tadi ikut pula berlutut memberi hormat, kini ikut pula membantu suhengnya membersihkan makam itu.

Kakek Coa yang tadi, datang terbungkuk-bungkuk menghampiri mereka. Dia memandang kepada dua orang pemuda itu, lalu kepada kuburan yang kini sudah dibersihkan. “Siapa... siapakah kalian? Ada hubungan apakah dengan keluarga Cu yang dimakamkan di sini?”

Cu Goan Ciang melangkah maju menghampiri kakek itu. Tentu saja sejak tadi, setelah mendengar disebutnya nama keluarga kakek itu, dia teringat. Kakek ini dahulu merupakan tetangga dan sahabat baik mendiang ayahnya. “Paman Coa, apakah paman lupa kepadaku? Ini adalah kuburan ayah dan ibuku.”

Sepasang mata yang sayu itu terbelalak dan kakek itu mengamati Siauw Cu dari kepala sampai kaki. “Ayah ibumu...? Kalau begitu... kau... kau adalah... Siauw Cu yang dulu itu?”

Shu Ta tertawa. “Paman yang baik, suheng bukan lagi Siauw Cu (Cu Kecil), melainkan seorang pemuda dewasa, namanya Cu Goan Ciang.”

“Ah...ahhh... kami semua mengenalmu sebagai Siauw Cu. Bukankah engkau dahulu bekerja kepada Lurah Koa, kemudian... kemudian engkau menjadi buruan yang dikejar-kejar? Siauw Cu, kenapa engkau berani datang ke sini? Kalau sampai Lurah Koa mengetahui berbahaya sekali bagimu. Sebaiknya engkau cepat pergi dari dusun ini!”

“Paman Coa, tenanglah dan mari kita duduk dan bicara. Aku bahkan ingin sekali mendengar segala tentang dusun kita ini darimu. Paman, kita berdua tadi ketika memasuki dusun, melihat para warga dusun, bekerja di sawah ladang yang subur. Agaknya keadaan di dusun ini sudah berbeda dari dahulu, paman. Tentu warga dusun kini tidak begitu menderita lagi, dengan memiliki sawah ladang yang subur itu...”

“Siapa memiliki sawah ladang subur? Tidak ada seorangpun di antara kami warga dusun yang memiliki sebidang tanah lagi. Semua telah menjadi milik Hartawan Ji!” kata kakek Coa dengan sikap marah.

“Ehhh? Bukankah di dusun ini terdapat kepala dusun? Apakah warga dusun tidak lapor kepada lurahnya?” Shu Ta membantah penasaran.

“Lurah? Hemm, Koa cung-cu (Lurah Koa) yang kaumaksudkan, orang muda? Tidak ada bedanya! Kalau hartawan Ji itu serigala, Lurah Koa adalah harimaunya. Kami semua warga dusun diperas, diharuskan membayar pajak dan segala sumbangan lain oleh Lurah Koa.

Kemudian, kalau kami membutuhkan biaya, hartawan Ji yang mengulurkan tangan memberi pinjaman yang bunganya mencekik leher. Akhirnya, setelah beberapa tahun lamanya, seluruh milik kami jatuh ke dalam tangan hartawan Ji atau Lurah Koa.”

Cu Goan Ciang mengepal tinju. “Hemm, kalau begitu, sejak delapan tahun yang lalu, keadaan di dusun ini masih sama saja dan tidak ada perubahan, paman?” tanyanya.

“Perubahannya ada, yaitu keadaan kami menjadi semakin buruk. Dusun ini menjadi milik mereka berdua, dan kami semua hanya menjadi semacam budak belian mereka belaka, kami menjadi tenaga kerja yang paling murah. Kemiskinan saja bagi kami sudah terbiasa, yang lebih menyiksa adalah ulah para jagoan mereka yang suka mengganggu anak bini orang.”

Shu Ta menjadi marah. “Suheng, keadaan macam ini tidak boleh kita diamkan saja! Kita harus turun tangan!”

Cu Goan Ciang juga marah, namun dia dapat menguasai dirinya dan bersikap tenang. “Bersabarlah dulu, sute. Kita harus mencari jalan terbaik untuk meluruskan yang bengkok, menertibkan keadaan dan menolong mereka yang tertindas. Kalau hanya menuruti nafsu amarah tidak akan mengobati penyakitnya. Paman Coa, kalau kaukatakan bahwa hartawan Ji itu kikir dan kejam, hal itupun sejak dulu aku sudah mengetahui. Akan tetapi kulihat puterinya tadi tidaklah nampak jahat.”

“Ah, memang Ji-siocia itu amat baik. Semua orang mengetahu itu dan mereka semua menghormatinya. Bahkan Ji-siocia banyak membantu kami, walaupun hal itu dilakukan diluar tahu ayahnya yang kikir dan kejam. Kalau tidak ada Ji-siocia, tentu keadaan kami akan lebih parah lagi karena selain para jagoan yang suka mengganggu anak isteri orang, juga putera tertua dari Lurah Koa seorang mata keranjang yang suka mengganggu wanita mana saja.

Akan tetapi, Ji-siocia selalu menentangnya sehingga mereka semua itu tidaklah terlalu berani.”

“Putera Lurah Koa yang tertua, maksudmu Koa Hok, paman?”

Post a Comment