“Kakek Coa, kalau engkau tidak cepat kembali ke sawah dan melanjutkan pekerjaanmu, terpaksa kami akan menghajar dan menyeretmu biarpun engkau sudah tua dan berpenyakitan!” kata orang ke dua.
“Apakah engkau ingin menyusul isterimu yang baru tiga hari mati?” bentak orang pertama.
Kakek itu tidak memperdulikan ancaman mereka, bahkan dia lalu menjatuhkan diri berlutut, bertiarap di atas gundukan tanah kuburan yang baru itu dan menangis.
“Aku tidak sudi kembali ke sawah. Aku masih berkabung, aku ingin menemani isteriku... bunuhlah aku kalian kehendaki!” Dua orang tinggi besar itu saling pandang. Yang pertama yang kumisnya panjang masih mencoba untuk membujuk kakek itu. “Kakek Coa, ingatlah, engkau tidak akan dapat mengubur mayat isterimu tiga hari yang lalu, tidak akan mendapatkan peti mati dan tanah kuburan ini kalau tidak atas pertolongan dan kedermawanan Ji wan-gwe (hartawan Ji). Juga setiap hari, nasi siapa yang kaumakan? Untuk semua itu, Ji wan-gwe hanya minta engkau bekerja di sawahnya, bukankah itu sudah adil?”
Tiba-tiba kakek itu bangkit dan biarpun tubuhnya kurus bungkuk, kini dia kelihatan penuh semangat dan keberanian. “Pertolongan? Kedermawanan? Huh, kini aku tidak perduli lagi, aku sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, semua telah dirampas oleh Ji wan-gwe dengan alasan membayar hutang berikut bunganya yang berlipat ganda. Semua milikku sudah diambilnya, dan sekarang masih juga hendak memeras tenagaku yang sudah tua? Dia bukan penolong, bukan dermawan, melainkan lintah darat, penjahat kejam yang bersembunyi di balik kekayaannya!”
“Kakek Coa tua bangka yang bosan hidup! Berani kau memaki-maki Ji wan-gwe? Kalau tidak ada beliau, kau sudah mati kelaparan!” teriak dua orang itu marah.
“Siapa bilang? Justeru karena ada dia, kami semua warga dusun terancam kelaparan. Sawah ladang kami telah dirampasnya, tenaga kami diperas! Jahanam, setan busuk!”
Dua orang itu marah-marah dan sekali pukul, tubuh kakek itu terpelanting keras, namun kakek itu masih memaki-maki dengan marahnya. Dua orang tukang pukul itu hendak menghujankan pukulan lagi, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan sekali orang itu menggerakkan tangan mendorong, dua orang tukang pukul terpental dan terjengkang seperti dilanda badai. Mereka terkejut dan ketika memandangm mereka melihat seorang pemuda tinggi tegap telah berdiri di depan mereka dengan mata mencorong. Pemuda lain yang juga tegap sedang membantu kakek Coa bangun.
“Bocah setan, siapa kau berani mencampuri urusan kami? Apakah engkau minta dihajar pula?” bentak tukang pukul yang kumisnya panjang.
Biarpun marah menyaksikan kekejaman dua orang tukang pukul itu dan mendengar pertengkaran tadi, Cu Goan Ciang masih bersikap tenang. Dia hanya menghadapi kaki tangan hartawan Ji, dua orang yang hanya melaksanakan tugas karena memang itu pekerjaannya, walaupun pekerjaan itu jahat.
“Siap aku tidaklah penting. Kalian ini kaki tangan hartawan penghisap darah rakyat yang patut dihajar! Pergilah dan jangan lagi mengganggu paman ini!”
Dua orang tukang pukul itu tentu saja tidak takut. Mereka mencabut golok dari pinggang. Sudah terlalu sering golok itu mereka cabut untuk menakuti-nakuti orang, untuk mengancam dan kalau perlu melukai atau membunuh. Karena golok itu merupakan modal mereka bekerja dan dipercaya Ji wan-gwe, maka mereka selalu mengasah senjata itu sehingga nampak berkilauan tajam.
“Orang muda, engkau dan kawanmu itu agaknya bukan penduduk dusun ini. Jangan mencampuri urusan kami dan cepat pergi keluar dari dusun sebelum terlambat. Kami masih mau memaafkan kalian karena sebagai orang luar, kalian tidak tahu akan keadaan di dusun kami,” kata si kumis panjang.
Pada saat itu terdengar bentakan halus namun nyaring, suara orang wanita, “Apa lagi yang terjadi di sini? Tanah kuburan adalah tempat yang suci, kenapa kalian begini tidak tahu sopan dan aturan, ribut-ribut di tempat suci?”
Cu Goan Ciang dan Shu Ta menoleh, demikian pula kakek itu dan dua orang tukang pukul. Ternyata yang menegur itu adalah seorang gadis yang berusia sekitar tujuh belas tahun. Shu Ta terbelalak dan seperti terpesona melihat gadis yang wajah dan bentuk tubuhnya aduhai itu! Wajah itu cantik manis dan bentuk tubuhnya menggairahkan, dengan, lekuk lengkung yang sedang berkembang. Pakaiannya tidak terlalu mewah, namun jelas tidak sama dengan pakaian para gadis petani. Pakaiannya juga putih mulus dan halus, tidak ada bekas pekerjaan berat.
Ketika dua orang tukang pukul yang galak itu melihat siapa yang menegur mereka, sungguh aneh sekali, mereka kelihatan ketakutan dan sikap yang galak itu terbang entah ke mana, berubah menjadi sikap menunduk dan menjilat. Mereka segera membungkuk-bungkuk memberi hormat kepada gadis muda itu.
“Nona, maafkan kami. Bukan maksud kami membuat ribut di tanah kuburan, akan tetapi kakek Coa ini yang keterlaluan. Begitu banyak dia berhutang budi kepada wan-gwe, akan tetapi dia meninggalkan pekerjaannya dan berada di sini. Agaknya dia sudah lupa bahwa tiga hari yang lalu, kalau tidak ada wan-gwe, dia tidak akan mampu mengubur mayat isterinya dengan baik,” kata si kumis panjang.
Gadis itu mengerutkan alisnya, pandang matanya berkilat marah. “Huh, kiranya kalian adalah tukang-tukang pukul menjemukan itu! Siapa bisa percaya omongan kalian? Kakek Coa, ceritakan apa yang telah terjadi? Aku lebih percaya keteranganmu dari pada kata-kata mereka ini.” Ketika menghadapi kakek Coa, suara nona muda itu terdengar lembut.
“Siocia, saya tidak menyangkal bahwa saya telah banyak memperoleh pinjaman uang dari Ji wan-gwe. Akan tetapi semua pinjaman itu telah saya bayar dengan berlipat ganda sehingga semua sawah ladang saya kini menjadi miliknya. Namun semua itu masih belum cukup dan saya diharuskan bekerja di sawah ladang yang tadinya milik saya turun temurun. Karena saya masih berkabung dan saya ingin menunggui kuburan isteri saya, maka saya hari ini belum dapat bekerja di ladang. Akan tetapi dua orang ini datang dan hendak memaksa saya, bahkan akan memukuli saya. Kemudian datang kedua pemuda ini yang menolong saya.”
Sepasang mata yang indah itu kini menyapu wajah Cu Goan Ciang dan Shu Ta. Melihat Cu Goan Ciang yang berada di depan menghadapi dua orang tukang pukul, gadis itu bertanya, “Sobat, apakah kalian hendak membela kakek Coa ini?”
“Kami selalu siap membela siapa saja yang ditindas kekuasaan jahat,” jawab Cu Goan Ciang dengan sikap tenang.
Gadis itu tersenyum dan matanya bersinar-sinar. “Hemm, agaknya kalian berdua bukan orang sini. Beranikah kalian melawan dua orang jagoan ini? Mereka itu kuat dan lihai!”
“Kenapa tidak berani?” Shu Ta yang kini menjawab sambil tersenyum mengejek ketika dia melirik ke arah dua orang jagoan itu. “Jangankan hanya mereka berdua saja, biar ditambah sepuluh orang lagi kami berani melawan mereka! Akan kutonjok hidungnya sampai berdarah dan kucabut kumis panjang itu!” Shu Ta memang berwatak lincah dan nakal, maka dia sengaja mengejek si hidung besar yang akan ditonjok hidungnya dan si kumis panjang akan dicabut kumisnya.
“Bagus!” Gadis yang lincah itu berseru gembira, “Kalau begitu, kenapa kalian tidak bertanding saja? Dua lawan dua, sudah adil. Heii, kalian lepaskan golok kalian dan lawan dua orang pemuda ini dengan tangan kosong saja. Baru sekarang aku melihat ada orang berani melawan kalian, hendak kulihat sampai di mana keberanian dan kehebatan mereka ini!”
Sungguh aneh. Dua orang jagoan itu agaknya seperti mati kutu berhadapan dengan gadis itu dan mereka mentaati perintahnya. Mereka melemparkan golok mereka ke atas tanah, kemudiang keduanya menghampiri Shu Ta dan Cu Goan Ciang. Si kumis panjang menghadapi Shu Ta sedangkan si hidung besar menghadapi Cu Goan Ciang. Gadis itu sendiri lalu mendekati kakek Coa, seperti melindungi. Kakek Coa nampak khawatir. Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan khawatir terhadap dua orang pemuda yang mencoba untuk membelanya itu. Dia tidak ingin melihat mereka dihajar oleh dua orang tukang pukul yang dia tahu amat kejam. Karena gelisah, wajahnya pucat dan kakinya gemetar, lalu duduk di dekat kuburan isterinya.
Shu Ta maju menghadapi si kumis panjang yang matanya sipit dan agak juling itu. Dia menggapai dengan tangan kirinya dan berkata, “Majulah, dan berikan kumismu kepadaku untuk kucabuti!” Ejekan ini membuat si kumis panjang marah sekali.
“Bocah sombong, kuhancurkan kepalamu!” bentak si kumis panjang dan dia sudah menerjang maju sambil mengirim pukulan bertubi-tubi. Akan tetapi gerakan orang kasar itu tentu saja tidak ada artinya bagi pendekar muda murid Siauw-lim-pai itu. Dengan mudah Shu Ta mengelak ke kanan kiri, kemudian ketika mendapat kesempatan baik, kakinya bergerak dan ujung sepatunya mengenai perut si kumis panjang.
“Ngekkk!” Biarpun tendangan itu tidak dilakukan dengan terlalu kuat, cukup membuat si kumis membungkuk memegangi perutnya dan saat dia membungkuk itulad dipergunakan oleh Shu Ta untuk menyambarkan tangan ke depan dan... sekali renggut, kumis panjang itupun jebol dan di atas bibir itu menjadi merah karena berdarah!
“Aduh... aduh...!!” Si kumis panjang menggereng, akan tetapi Shu Ta sudah melompat ke dekat suhengnya yang masih terus menangkis dan mengelak dari serangan bertubi yang dilakukan si gendut besar.