“Teecu akan selalu ingat semua petunjuk, nasihat dan perintah suhu.”
Berangkatlah Siauw Cu meninggalkan kuil itu. Ketika menuruni lereng itu, beberapa kali dia menengok ke arah bangunan kuno yang dikelilingi pagar tembok yang kehijauan karena lumut itu, dan hatinya terharu. Delapan tahun yang lalu, dalam usia dua belas tahun, dia melarikan diri dari kejaran anak buah Lurah Koa dalam keadaan luka-luka ke dalam kuil dan diterima, dilindungi oleh para hwesio di situ, bahkan diterima menjadi murid oleh Lauw In Hwesio. Andai kata tidak ada kuil itu dan para penghuninya, tentu dia tertangkap oleh anak buah Lurah Koa dan mungkin saja dia akan dihajar sampai mati karena dia telah berkelahi melawan dua orang putera lurah itu sampai mereka berdua roboh pingsan.
Dia tidak mendendam kepada mereka. Selama delapan tahun di kuil itu, dia sudah menerima gemblengan lahir batin oleh Lauw In Hwesio sehingga dia merasakan benar, bukan hanya mengerti, betapa dendam merupakan racun yang merusak diri sendiri. Dendam dapat menghambat kemajuan lahir batin, dendam dapat mengeruhkan pikiran, bahkan mendorong orang melakukan kekejaman dan kejahatan demi pelampiasan dendam. Dendam merupakan satu di antara usaha setan untuk melumpuhkan manusia, untuk membuat manusia bertekuk lutut kepada daya-daya rendah yang menguasai hati akal pikiran.
Tidak, dia tidak menaruh dendam kepada siapapun juga. Semua yang terjadi adalah sesuai dengan garis. Tidak perlu mendendam, karena dendam itu sendiri akan merupakan awal dari mata rantai karma yang tiada berkeputusan. Pengertian saja tidak akan ada gunanya tanpa pelaksanaan, bagaikan bunga yang rontok sebelum menjadi buah. Yang terpenting adalah pelaksanaannya, dan pelaksanaan inilah yang amat sukar karena bertentangan sengan kekuasaan nafsu. Semua orang tahu belaka apa yang disebut perbuatan jahat, namun mereka tidak mampu menahan nafsu yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan itu. Setiap orang pencuri tahu belaka, mengerti bahwa mencuri itu tidak baik dan tidak sepantasnya dilakukan, namun dorongan nafsu tak dapat mereka lawan dan merekapun mencuri, berlawanan dengan pengetahuannya tadi. Demikian pula dengan pelaku perbuatan sesat apapun. Pengetahuan saja tidak akan mampu melawan kekuasaan nafsu.
Tidak, aku tidak mendendam, demikian Siauw Cu yang menjenguk isi hatinya berkata penuh keyakinan dalam hatinya. Dia memang hendak menuju ke kampung halamannya, tanah tumpah darahnya, yaitu tempat di mana darah ibunya tertumpah ketika melahirkan dia. Dia ingin menjenguk dan bersembahyang di kuburan ayah ibunya. Selain itu, yang terpenting, dia hendak melihat keadaan para warga dusun itu. Sudah adakah perubahan yang membaik selama delapan tahun ini? Dia ingin melakukan sesuatu demi kesejahteraan hidup para warga dusun yang dia tahu selama ini hidup dalam keadaan yang menyedihkan sekali, jauh di bawah garis kemiskinan!
Apa yang dapat dia lakukan untuk mereka? Dia sendiri tidak tahu. Dia sendiri adalah seorang pemuda miskin. Dia meninggalkan kuil tanpa bekal apapun, kecuali beberapa stel pakaian sederhana yang terbuat dari kain kasar sederhana pula, seperti pakaian para pendeta di kuil.
Kepalanya tidak dicukur gundul seperti para murid yang menjadi calon pendeta, namun tetap saja, ketika dia tinggal di kuil, pakaiannya sederhana sekali, disesuaikan dengan kehidupan kuil. Tentu saja dia tidak dapat memberikan bantuan berupa benda kepada warga dusun. Dia sendiri tidak tahu apa yang dapat dia lakukan, dan hal itu akan dilihatnya saja nanti perkembangannya kalau dia sudah tiba di dusunnya.
“Suheng (kakak seperguruan)...! Perlahan dulu...!”
Seruan ini mengejutkan hati Siauw Cu. Cepat dia menahan langkahnya dan membalik. Sesosok tubuh seorang pemuda berlari-lari dari belakang mengejarnya dan setelah dekat diapun mengenal pemuda itu dan dia tersenyum.
“Heii, Shu-sute (adik seperguruan Shu)! Mau ke mana kau?” tanya Siauw Cu gembira. Pemuda yang datang itu adalah Shu Ta, seorang di antara para murid di kuil itu yang bukan calon pendeta, seperti juga dia. Bahkan Shu Ta ini tadinya seorang kacung kuil sudah bekerja di kuil sebelum dia datang, akan tetapi Shu Ta yang sebaya dengannya, baru belajar silat sesudah dia, maka Shu Ta menyebutnya suheng (kakak seperguruan) dan dia menyebutnya sute (adik seperguruan). Dan biarpun dalam hal ilmu silat, sutenya itu biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol, namun dalam hal kecerdikan, Siauw Cu sering kali dibuat kagum. Sutenya ini mempunyai banyak sekali akal untuk mengatasi kesukaran dan sudah sering kali sutenya meringankan beban pekerjaan mereka ketika berada di kuil menggunakan akalnya yang banyak. Sutenya ini benar-benar amat cerdik dan kinipun dia tidak terlalu heran melihat sutenya dapat keluar dari kuil, entah dengan cara bagaimana,
“Aku memang mengejarmu, suheng. Akupun meninggalkan kuil!” kata pemuda itu gembira.
Siauw Cu mengerutkan alisnya dan menatap wajah sutenya penuh perhatian dan teguran. “Shu-sute, kau... minggat dari kuil?”
Pemuda itu tertawa dan walaupun usianya juga sekitar dua puluh tahun, namun dia nampak seperti kanak-kanak ketika tertawa. “Ha-ha-ha, Cu-suheng, kaukira aku ini orang macam apa? Aku sudah menerima budi yang berlimpah dari suhu dan para saudara di kuil Siauw-lim-si.
Untuk membalas budi itupun aku belum mampu, bagaimana mungkin aku berani minggat? Tidak, suheng. Setelah mendengar suheng meninggalkan kuil, aku segera menghadap suhu dan mohon perkenan suhu untuk turun gunung pula. Dan suhu sudah memberi ijin. Aku turun gunung, keluar dari kuil dengan resmi, tidak minggat.” “Begitu mudahnya? Akal apa yang kaupergunakan maka suhu dapat memberi ijin sedemikian mudahnya kepadamu, sute?”
Shu Ta tertawa. “Aih, suheng. Terhadap suhu, mana aku berani main akal-akalan? Aku hanya menceritakan kepada suhu tentang kesengsaraan rakyat jelata di bawah penindasan pemerintah penjajah Mongol seperti yang banyak kita dengar dari rakyat di sekitar daerah ini, dan aku menceritakan keinginanku untuk membantu rakyat, berjuan untuk menentang pemerintah penjajah. Nah, suhu memberi restu dan mengijinkan aku keluar dari kuil.”
Siauw Cu mengangguk-angguk. Dia sudah tahu bahwa sutenya ini selalu bicara tentang perjuangan melawan pemerintah penjajah Mongol. Diam-diam dia sendiripun menyetujui sikap itu. Dia sendiripun membenci penjajah yang jelas menyengsarakan rakyat.
“Sute, cita-citamu memang baik sekali. Akan tetapi, hanya dengan tenagamu, atau katakanlah tenaga kita berdua, bagaimana mungkin kita akan mampu menentang pemerintah yang memiliki pasukan ratusan ribu orang banyaknya. Untuk menentang pemerintah penjajah, kita harus menghimpun tenaga rakyat sebanyak mungkin dan untuk pekerjaan seperti itu, bukanlah hal yang mudah. Setidaknya kita harus memiliki biaya yang besar, sedangkan kita memiliki apa?”
“Memang benar pendapatmu, suheng. Akan tetapi, kalau memang kita memiliki kemauan besar, memiliki semangat, kiranya pekerjaan itu tidaklah terlalu sukar, atau setidaknya bukan hal yang mustahil. Mari kita bekerja sama untuk maksud itu, suheng.”
Siauw Cu menggeleng kepala. “Sebaiknya, kalau kita berpencar dan mencari pengalaman lebih dahulu di dunia persilatan, sute. Kita melakukan penjajagan dan hubungan dengan orang-orang kang-ouw, melihat bagaimana sikap mereka dan melihat kemungkinan untuk menghimpun tenaga. Kelak, kalau tiba waktunya, kita dapat bergabung dan bekerja sama.”
Shu Ta mengangguk-angguk. “Pendapatmu baik dan tepat, suheng. Baiklah, mari kita berlumba untuk menghimpun tenaga. Akan tetapi, sekarang suheng hendak ke manakah?”
“Aku hendak kembali dulu ke kampung halamanku, dusun Cang-cin untuk bersembahyang di makam ayah ibuku.”
“Aih, dusunmu yang penuh kesengsaraan itu?” Shu Ta sudah pernah mendengar cerita Siauw Cu tentang dusunnya, dan tentang keadaan suhengnya itu. “Kalau begitu, akupun ingin ikut denganmu dan melihatnya, suheng.”
“Baik, sute. Mari kita pergi. Dusunku tidak terlalu jauh dari sini, hanya di balik bukit depan sana itu.” Mereka lalu berjalan berdampingan menuruni bukit!
Para penghuni dusun Cang-cin sedang bekerja di sawah ladang, di luar dusun. Matahari telah naik tinggi dan mereka semua memandang heran kepada dua orang pemuda yang berjalan menuju ke dusun itu. Dusun di Lembah Sungai Huai itu merupakan dusun kecil yang tidak pernah dikunjungi orang luar, maka kedatangan setiap orang asing tentu akan menarik perhatian mereka. Itulah sebabnya, ketika dua orang pemuda itu melangkah perlahan memasuki dusun, mereka semua memandang penuh perhatian dan keheranan. Pemuda pertama berusia dua puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap, wajahnya sederhana namun sikapnya tegak anggun berwibawa. Langkahnya tegap, wajahnya tidak dapat dibilang tampan, namun jantan dengan dagu yang membayangkan kekerasan hati, sepasang mata yang mencorong tajam penuh semangat dan wibawa. Langkahnya bagaikan langkah harimau. Dia menggendong sebuah buntalan kain kuning yang tidak seberapa lebar, buntalan yang terisi beberapa stel pakaiannya. Pakaian yang menutupi tubuhnya amat sederhana, seperti pakaian pendeta, hanya potongannya lebih ringkas.
Pemuda kedua sebaya, akan tetapi wajahnya tampan dan tubuhnya kekar. Pada wajahnya mulai nampak rambut halus dan dapat dilihat bahwa kelak akan menjadi seorang laki-laki tampan gagah berewok. Pandang matanya tidak terlalu tajam seperti pemuda pertama, akan tetapi mata itu bergerak-gerak dengan lincah dan nampaknya dia cerdik sekali. Di punggungnya juga terdapat buntalan pakaian, akan tetapi di pinggangnya tergantung sebatang pedang dengan sarung pedang sederhana.
Mereka adalah Siauw Cu dan Shu Ta. Siauw Cu juga memandang ke arah para petani yang bekerja di sawah ladang dan wajahnya cerah, sikapnya ramah terhadap mereka karena dia maklum bahwa mereka adalah warga dusunnya. Akan tetapi, karena delapan tahun telah lewat, tidak ada seorangpun di antara mereka yang dikenalnya atau mengenalnya. Ketika dia meninggalkan dusun itu, usianya baru dua belas tahun, masih kanak-kanak, sekarang dia kembali dalam usia dua puluh tahun lebih, sudah menjadi seorang pemuda dewasa.
Yang membuat hati Siauw Cu gembira adalah melihat betapa sawah ladang itu penuh dengan padi dan gandum yang subur. Agaknya kini keadaan dusun itu sudah makmur, pikirnya.
Mereka memiliki sawah ladang yang demikian subur, berarti mereka tidak akan menderita kelaparan seperti ketika dia masih tinggal di dusun itu. Melihat para penghuni dusun bekerja di sawah ladang yang subur, mendatangkan perasaan gembira di hati Siauw Cu dan diapun mengajak sutenya untuk pergi ke tanah kuburan yang berada di pinggir dusun sebelah barat.
Tanah kuburan itu penuh dengan kuburan, lama dan baru. Ketika mereka tiba di tanah kuburan, keduanya berhenti dan melihat dua orang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar membentak-bentak seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun yang tubuhnya kurus dan agak bungkuk.
“Siang begini engkau sudah meninggalkan sawah, tua bangka tak tahu diri!” bentak seorang di antara dua laki-laki tinggi besar itu.