Halo!

Rajawali Lembah Huai Chapter 06

Memuat...

Lauw In Hwesio menggeleng kepalanya dan tersenyum. “Engkau tidak berbakat menjadi pendeta, Siauw Cu. Engkau lebih berbakat menjadi pendekar atau pemimpin rakyat yang menentang penindasan karena itulah, sejak semula engkau digembleng dengan pekerjaan berat yang hasilnya akan membuat tubuhmu menjadi kuat.”

“Terima kasih, suhu! Mulai saat ini, teecu akan melakukan pekerjaan apa saja yang diberikan kepada teecu dengan senang hati!”

Dan memang kenyataannya demikian. Kalau tadinya, pekerjaan berat itu dilakukan oleh Siauw Cu walaupun secara baik namun dengan hati yang gundah dan kecewa, kini dia melakukan pekerjaan itu dengan semangat yang meluap dan dengan wajah cerah gembira. Kemajuannyapun pesat sekali sehingga akhirnya, mulailah dia dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Lauw In Hwesio sendiri. Ketua kuil yang sakti ini maklum bahwa Siauw Cu memiliki bakat besar dan tulang yang baik sekali, maka dia sendiri yang menangani penggemblengan terhadap Siauw Cu. Seperti juga cara menggembleng tubuhnya agar kuat, ilmu silat yang diajarkanpun akan terasa amat berat bagi orang yang tidak memiliki semangat membaja dan tekad yang kokoh kuat. Baru pelajaran bhesi (kuda-kuda) saja amat melelahkan kalau tidak dapat dibilang menjemukan. Kuda-kuda itu harus kokoh kuat dan selalu diuji oleh Lauw In Hwesio. Kalau dalam keadaan memasang kuda-kuda itu, tubuh Siauw Cu didorong dari arah manapun secara tiba-tiba kedua kakiknya masih melangkah, satu di antara telapak kakinya masih meninggalkan tanah, maka kuda-kuda itu dianggap masih belum kuat dan dia harus berlatih terus. Latihannya, kadang Siauw Cu harus selalu dalam keadaan memasang kuda- kuda yang kokoh kalau dia memasak air, mengipasi api sampai air itu mendidih. Ada kalanya dia diharuskan dalam keadaan memasang kuda-kuda kalau dia membelahi kayu membuat kayu bakar yang dapat berlangsung sampai berjam-jam! Pada mulanya, setelah latihan seberat itu, berjongkokpun dia tidak mampu karena urat-urat di kakinya seperti telah berubah menjadi kawat yang kaku dan keras!

Namun, akhirnya dia dapat menguasai kuda-kuda yang kokoh kuat sehingga kalau tiba-tiba dia didorong dari manapun, kedua kakinya itu hanya bergeser tanpa ada yang terangkat dari tanah.

Penggemblengan seperti itu dilakukan oleh Lauw In Hwesio selama bertahun-tahun sampai pemuda itu berusia dua puluh tahun. Biarpun di kuil itu terdapat pula beberapa orang murid bukan calon hwesio, namun tak seorangpun mampu menandingi Siauw Cu, baik dalam hal ilmu silat maupun kekuatan. Bahkan makin nampaklah bakatnya untuk menjadi pemimpin karena dalam segala peristiwa yang terjadi di kuil itu, kalau membutuhkan bantuan tenaga para murid, Siauw Cu selalu diangkat menjadi pemimpin karena dia memang pandai mengatur, penuh semangat, dan penuh prakarsa dan daya cipta.

Pada suatu malam terang bulan, ketika Siauw Cu sedang berlatih silat di taman bunga belakang kuil yang dirawatnya, seorang diri dan tenggelam dalam latihannya, tiba-tiba sesosok tubuh manusia berkelebat dan terjun ke dalam lingkaran latihan silat menyerang Siauw Cu. Pemuda ini segera mengenal suhunya, maka giranglah hatinya. Kemajuan besar selalu didapatkannya kalau gurunya ini mau mengajaknya berlatih silat seperti itu. Diapun, seperti selalu dianjurkan Lauw In Hwesio kalau berlatih, tidak bersikap sungkan lagi dan dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, mengerahkan seluruh tenaga karena maklum bahwa gurunyapun akan bersungguh-sungguh untuk mengalahkannya! Jurus demi jurus mereka keluarkan, saling serang dan saling desak. Diam-diam Lauw In Hwesio kagum sekali kepada muridnya ini. Dia sendiri sudah tidak mampu mengalahkan muridnya karena semua jurus dapat dilayani dengan baiknya oleh Siauw Cu, juga dalam hal tenaga, dia hampir tidak dapat menandingi karena dia sudah tua sedangkan Siauw Cu sedang kuat-kuatnya! Mulailah hwesio tua ini merasa lelah sekali dan dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, dia yang akan kalah.

Tiba-tiba hwesio tua itu mengeluarkan pekik nyaring dan gerakannya berubah sama sekali. Kini tubuhnya melayang dan berloncatan tinggi ke atas, lalu menyambar turun dengan serangan yang amat dahsyat dan asing bagi Siauw Cu! Pemuda ini berusaha untuk mempertahankan diri, namun dia hanya mampu bertahan selama sepuluh jurus saja menghadapi ilmu silat aneh itu dan akhirnya dadanya dapat diterjang Lauw In Hwesio sampai dia jadi terjengkang!

“Suhu, ilmu apakah yang suhu mainkan ini?” Tanpa memperdulikan dadanya yang agak nyeri dan pinggulnya yang tadi menghantam tanah, Siauw Cu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya dan mengajukan pertanyaan itu. Gurunya berdiri terengah-engah, tersenyum girang sekali.

“Omitohud... kalau pinceng (aku) tidak mempunyai ilmu simpanan tadi, tentu sudah kalah olehmu, Siauw Cu.”

“Suhu! Selama ini teecu selalu mentaati karena teecu yakin bahwa suhu adalah seorang yang berhati mulia, tidak pernah berbohong. Akan tetapi, suhu mengatakan bahwa semua ilmu silat Siauw-lim-pai yang pernah suhu pelajari, telah suhu ajarkan kepada teecu semua. Akan tetapi kenapa sekarang suhu mempunyai ilmu silat yang tidak teecu kenal?”

“Omitohud, berdosalah pinceng membohongimu, Siauw Cu. Pinceng tidak pernah berbohong dan tidak akan berbohong. Memang sesungguhnyalah bahwa semua ilmu silat Siauw-lim-pai yang pinceng kuasai, telah pinceng ajarkan kepadamu, tidak ada satupun yang tertinggal.

Kalau tadi pinceng mengeluarkan ilmu silat yang tidak kaukenal itu, adalah karena terpaksa. Kalau tidak mengeluarkan ilmu simpanan itu, bagaimana mungkin pinceng dapat mengatasimu? Akan tetapi, ilmu silat itu bukanlah ilmu silat aliran Siauw-lim-pai, karena itulah maka tidak pinceng ajarkan kepadamu.”

“Ah, begitukah, suhu? Kalau begitu mohon suhu mengampuni teecu yang menyangka suhu berbohong tadi. Ilmu apakah itu tadi, suhu dan kenapa pula suhu menguasai ilmu silat yang bukan Siauw-lim-pai, dan mengapa tidak diajarkan kepada teecu?”

“Ilmu silat itu memang bukan ilmu silat Siauw-lim-pai dan pinceng mendapatkannya secara kebetulan saja.” Hwesio tua itu lalu bercerita. Belasan tahun yang lalu, ketika dia dan seorang suhengnya berjalan-jalan di puncak pegunungan mereka berdua melihat seekor burung rajawali yang besar sedang berkelahi dengan seekor harimau memperebutkan bangkai seekor kijang. Perkelahian itu seru bukan main. Lauw In Hwesio dan Bouw In Hwesio mengintai dan menonton. Sebagai ahli-ahli silat Siauw-lim-pai, mereka berdua sudah mempelajari semua ilmu silat Siauw-lim-pai dan mereka telah memiliki kepandaian yang matang dan tinggi. Di Siauw-lim-pai terdapat bermacam ilmu silat, bahkan ada ilmu silat Bangau Putih, akan tetapi ketika mereka berdua melihat perkelahian itu,mereka tertegun. Mereka juga menguasai ilmu silat Houw-kun (Silat Harimau) yang gerakannya meniru gerakan harimau, akan tetapi kini harimau itu tidak berdaya menghadapi burung rajawali yang menyambar-nyambar dari atas dengan ganas dan dahsyatnya. Sebagai ahli-ahli silat tingkat tinggi, keduanya mencurahkan perhatian dan mengingat semua gerakan rajawali ketika bertanding melawan harimau.

Akhirnya, harimau itu melarikan diri dengan tubuh luka-luka, dan rajawali itu menyambar bangkai kijang, dibawa terbang untuk diberikan kepada anak-anaknya di sarangnya, entah di mana.

Setelah melihat perkelahian hebat itu, Lauw In Hwesio dan suhengnya, Bouw In Hwesio, berdua mulai merangkai ilmu silat berdasarkan gerakan rajawali ketika berkelahi melawan harimau tadi. Dan akhirnya, setelah bersusah payah selama satu tahun, mereka berdua berhasil merangkai sebuah ilmu silat baru, yaitu ilmu silat Rajawali Sakti. Karena ilmu itu bukan ilmu keturunan dari Siauw-lim-pai, keduanya berjanji untuk menyimpan ilmu itu untuk mereka berdua saja, dan bahkan merahasiakannya dari para murid Siauw-lim-pai yang lain. Di Siauw- lim-pai memang ada peraturan keras bahwa seorang murid tidak boleh mencampurkan ilmu silat Siauw-lim-pai yang asli dengan ilmu lain, bahkan seorang murid Siauw-lim-pai tidak boleh memainkan ilmu silat yang bukan Siauw-lim-pai. Peraturan kuno yang keras ini mungkin diadakan demi menjaga kemurnian ilmu silat aliran itu.

“Demikianlah, Siauw Cu. Hanya kami berdua yang menguasai ilmu silat itu dan tadi terpaksa pinceng mainkan untuk mengatasimu. Bagaimanapun juga, bagaimana mungkin pinceng sebagai gurumu tidak mampu mengalahkanmu?”

Mendengar ini, Siauw Cu segera memberi hormat sambil berlutut. “Suhu, teecu mohon agar suhu sudi mengajarkan ilmu silat Rajawali sakti itu kepada teecu.”

Lauw In Hwesio adalah seorang hwesio tua yang bukan saja pandai ilmu silat dan ilmu keagamaan, akan tetapi diapun mempelajari ilmu perbintangan dan dia dapat meramalkan bahwa muridnya ini berbeda dengan orang lain dan kelak akan dapat memperoleh kedudukan tinggi sebagai seorang pemimpin.

“Siauw Cu, ilmu ini hanya dikenal oleh pinceng dan suheng Bouw In Hwesio yang sekarang entah merantau ke mana. Pinceng dapat mengajarkan kepadamu, akan tetapi hanya dengan dua syarat.”

“Apakah syarat itu, suhu?”

“Pertama, ilmu ini tidak boleh kaupergunakan untuk membantu pemerintah kerajaan penjajah Mongol. Ke dua, dalam mempergunakan ilmu Rajawali Sakti ini, engkau tidak boleh mengaku sebagai murid Siauw-lim-pai.”

Siauw Cu yang memang tidak ingin menjadi hwesio, juga sama sekali tidak ingin mengabdi kepada pemerintah penjajah yang telah menyengsarakan kehidupan rakyat jelata termasuk mendiang kedua orang tuanya, tentu saja dapat menerima syarat itu dengan gembira.

“Baik, suhu. Teecu bersumpah untuk memenuhi kedua syarat itu!” katanya tegas dan gembira.

Demikianlah, selama berbulan-bulan Siauw Cu mempelajari dan melatih Sin-tiauw ciang-hoat (Ilmu Silat Rajawali Sakti) itu dari gurunya dan setelah dia berhasil menguasainya dengan baik, Lauw In Hwesio memanggilnya menghadap.

“Siauw Cu, kini tiba saatnya bagimu untuk terjun ke dunia ramai, mempergunakan semua kepandaian yang selama ini dengan tekun kau pelajari di sini agar semua jerih payahmu tidak sia-sia belaka. Akan tetapi ingat, engkau adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang selain mempelajari ilmu silat, juga memperoleh gemblengan dasar watak yang baik sebagai seorang gagah dan budiman. Ingatlah selain bahwa Siauw-lim-pai menentang segala bentuk kejahatan, dan bahwa engkau sebagai murid Siauw-lim-pai kalau sampai menyeleweng dan menjadi jahat, kelak engkau akan hancur oleh para murid Siauw-lim-pai sendiri.”

Post a Comment