Halo!

Rajawali Lembah Huai Chapter 05

Memuat...

Lauw In Hwesio tersenyum, akan tetapi pandang matanya tetap tajam dan berwibawa. “Engkau tahu, menjadi murid Siauw-lim-pai tidaklah mudah. Banyak orang datang untuk minta menjadi murid, dan entah berapa ratus atau ribu orang kami tolak karena mereka tidak berbakat, atau tidak bersemangat dan tidak tahan derita. Apa lagi murid yang menjadi calon hwesio. Engkau harus berani dan mampu menjauhi segala macam kesenangan duniawi, mencurahkan seluruh perhatianmu hanya kepada pembacaan kiab suci, berdoa, bermeditasi, melakukan pekerjaan berat, dan berlatih silat. Semua ini harus kaulakukan setiap hari tanpa mengeluh!”

“Teecu sanggup, suhu!”

“Omitohud, kita lihat saja nanti. Akan tetapi karena engkau datang seolah dituntun tangan Yang Mahakuasa, kami tidak akan menolakmu, apa lagi engkau sudah menjadi gundul dan mengenakan jubah hwesio. Kami menerimamu dan namamu tetap Siauw Cu. Akan tetapi, kalau engkau tidak taat kepada peraturan yang berlaku di sini, setiap saat engkau akan dikeluarkan dan tidak diperbolehkan lagi tinggal di sini.”

Siauw Cu menyanggupi sambil berlutut, hatinya girang bukan main karena dia mengharapkan untuk menerima pelajaran dari kuil Siauw-lim-si yang termashur itu.

Badan, pikiran, dan jiwa merupakan tiga kesatuan yang menghidupkan manusia di permukaan bumi ini dan ketiganya membutuhkan “makanan” agar dapat menjadi sempurna. Makanan bagi badan tentu saja kebutuhan hidup termasuk pangan, sandang, dan papan berikut segala keperluan dalam kehidupan jasmani. Makanan bagi hati akal pikiran adalah pelajaran segala macam ilmu agar kehidupan ini dapat terisi oleh pekerjaan dan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan dalam memenuhi segala kebutuhan. Adapun makanan bagi jiwa adalah kebaktian kepada Tuhan Sang Maha Pencipta.

Tiga kebutuhan pokok itu dapat diperoleh Siauw Cu dalam kuil Siauw-lim. Setiap hari dia disuruh bekerja keras, merawat taman, membersihkan kuil, menyapu pekarangan, memikul air, dan mencari kayu bakar. Pekerjaan yang amat berat namun baik sekali bagi badannya, karena selain pekerjaannya itu menghasilkan kebutuhan hidup para hwesio, juga sekaligus melatih badannya sehingga tubuhnya menjadi kuat. Bahkan cara-cara melakukan pekerjaan itu tidak sembarangan saja, melainkan teratur, dengan cara-cara tertentu sehingga pekerjaan itu sekaligus merupakan semacam latihan untuk memperoleh kekuatan dan juga keringanan tubuh.

Setelah sehari penuh bekerja keras, pada malam harinya dia digembleng oleh para hwesio untuk belajar membaca menulis, kemudian membaca kitab suci, berdoa dan bersamadhi. Dalam hal makanan, Siauw Cu tidak kekurangan. Dia dapat makan sekenyangnya, walaupun di kuil itu tidak pernah disuguhkan makanan yang berasal dari makhluk bernyawa, tidak pernah ada daging, hanya nasi dan sayur-sayuran belaka. Juga tidak ada minuman keras seperti arak atau anggur, yang ada hanya air putih jernih, atau air teh yang bening. Namun banyak buah-buahan mereka makan karena kuil itu memiliki ladang sayur dan kebun buah sendiri.

Keadaan itu cukup menyenangkan bagi Siauw Cu, untuk tahun-tahun pertama. Terutama sekali karena dia dapat belajar membaca dan menulis. Ternyata dalam ilmu ini diapun amat berbakat sehingga dalam waktu hampir dua tahun saja dia telah lancar membaca kitab-kitab yang berat, juga tulisannya bagus dan kuat. Dan pandai pula membaca sastra, pandai pula memecahkan arti dari sajak-sajak pasangan yang mengandung arti yang mendalam dan luas. Hwesio ahli sastra yang bertugas mengajar di kuil itu merasa sayang kepadanya karena belum pernah selama ini dia mendapatkan seorang murid sepandai Siauw Cu. Dan ketika di perpustakaan kuil itu Siauw Cu menemukan kitab-kitab sejarah yang bercerita tentang kepahlawanan dan perang, dia merasa amat tertarik dan hampir semua kitab tentang perang dibacanya sampai habis.

Kalau dalam hal pelajaran sastra Siauw Cu merasa gembira dan puas, sebaliknya dia kecewa sekali karena setelah bekerja keras selama dua tahun, belum juga dia diajar ilmu silat! Pada hal, dia tahu bahwa Siauw-lim-si merupakan pusat pendidikan ilmu silat yang tinggi. Sering kali dia termenung dan kalau dia melihat para murid yang sudah dilatih ilmu silat, dia mengintai dan ingin sekali ikut berlatih. Namun, peraturan di situ amat kera, pernah dia dihukum bekerja sampai jauh malam hanya karena dia berani mengintai para murid yang berlatih ilmu silat.

Kini usianya sudah empat belas tahun dan bentuk tubuhnya sudah seperti seorang laki-laki dewasa atau seperti yang sudah berusia delapan belas tahun. Wajahnya tampan dan pembawaannya gagah dan berwibawa. Semenjak dia berada di kuil itu, belasan orang murid calon hwesio yang sebaya dengan dia, semua tunduk kepadanya dan menganggap dia sebagai pemimpin! Memang Siauw Cu memiliki pembawaan seorang pemimpin. Dia suka memberi contoh, suka membantu dan bertanggung jawab sehingga para teman atau saudara seperguruannya segan dan suka kepadanya, mencontoh dan membenarkan semua sikapnya. Dan biarpun dia belum menerima pelajaran ilmu silat, namun tidak ada saudara seperguruan yang berani menentangnya, biarpun mereka ada yang sudah mulai dilatih ilmu silat. Hal ini adalah karena Siauw Cu memang memiliki bakat dan tubuh yang kokoh, tenaga yang besar dan sedikit gerakan silat yang pernah dipelajarinya dan dilatihnya dahulu telah mendarah daging pada tubuhnya. Pernah ada dua orang calon pendeta yang ingin merampas pengaruhnya, dan di luar kuil, hanya disaksikan para calon pendeta, Siauw Cu bertanding dikeroyok dua oleh mereka berdua dan akhirnya dua orang calon pendeta yang sudah setahun berlatih silat itu dapat dia robohkan, dan sejak saat itu, tidak ada lagi calon pendeta yang berani menentangnya. Dia disegani dan disuka karena dia tidak bersikap jagoan, melainkan bersikap sebagai pemimpin.

Pada suatu sore, setelah menyelesaikan tugas pekerjaannya yang paling berat di antara para rekannya, Siauw Cu memberanikan diri menghadap ketua kuil, yaitu Lauw In Hwesio. Dia menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio yang sedang duduk bersila dan membaca kitab itu.

“Eh, Siauw Cu, ada keperluan apakah engkau menghadap pinceng?” tanya Lauw In Hwesio dengan lembut.

“Maafkan teecu yang berani menghadap tanpa dipanggil, twa-suhu. Teecu hanya mohon penjelasan mengapa sampai sekarang teecu belum juga diberi pelajaran ilmu silat. Teecu ingin sekali berlatih silat, suhu.”

Mendengar ini, hwesio itu tertawa. “Omitohud, satu di antara penghalang bagi orang yang ingin menguasai ilmu dengan sebaiknya adalah ketidaksabaran, Siauw Cu. Apakah engkau sudah tidak sabar lagi?”

“Sama sekali tidak demikian, twa-suhu. Bukankah selama dua tahun ini teecu melaksanakan segala perintah dan tugas dengan sebaiknya tanpa mengeluh dan tanpa bertanya-tanya? Kalau sore ini teecu terpaksa bertanya bukan karena teecu tidak sabar lagi, melainkan karena teecu ingin tahu dan ingin memperoleh kepastian apakah teecu di sini akan mempelajari ilmu silat ataukah tidak.”

“Apa yang mendorongmu bertanya demikian?”

“Karena teecu melihat betapa para saudara lain yang sebaya dengan teecu, yang teecu lihat tidak berbakat dan lemah, malah sudah mulai diajar berlatih silat.”

Lauw In Hwesio mengangguk-angguk. “Baik, dengarkanlah. Siauw Cu karena engkau berhak mengetahui. Jangan dikira bahwa selama ini pinceng tidak memperhatikanmu. Justeru engkau yang kurang perhatian sehingga tidak melihat perkembangan pada dirimu. Engkau harus menyadari bahwa keadaan dirimu sekarang dibandingkan dua tahun lalu sudah seperti langit dengan bumi. Kiranya tidak ada penggemblengan ilmu silat di dunia ini yang dapat membuat dirimu seperti sekarang ini selama dua tahun. Engkau sejak datang ke sini telah digembleng dengan inti dan dasar dari semua ilmu silat!”

“Ehhh? Apa yang twa-suhu maksudkan? Teecu tidak mengerti...”

“Siauw Cu, di sini memang ada dua cara mengajarkan ilmu silat, dan ada dua macam murid yang mempelajari ilmu silat. Yang pertama adalah calon para hwesio dan hwesio yang memang berbakat untuk menjadi pendeta. Kepada mereka ini diajarkan ilmu silat yang khas untuk menjaga kesehatan mereka sebagai olah raga, agar jasmani mereka segar dan sehat, sesuai dengan rohani mereka yang digembleng melalui ajaran kerohanian. Kepada mereka ini, ilmu silat yang diajarkan hanya gerakan-gerakan yang bermanfaat bagi kesehatan mereka saja karena sebagai pendeta, mereka tidak diperbolehkan untuk menggunakan kekerasan. Adapun yang ke dua adalah para murid yang bukan calon pendeta. Kepada mereka ini diajarkan ilmu silat melalui penggemblengan jasmaniah, sejak dari awa; dan dari dasar. Karena itu pertama kali, sebelum mengajarkan ilmu silat, tubuh si murid harus digembleng sehingga tubuh itu menjadi kuat, seolah-olah kulitnya menjadi tembaga, ototnya menjadi kawat baja dan tulang- tulangnya menjadi besi. Murid seperti ini diharapkan kelak menjadi pendekar yang mempertahankan kebenaran, membela yang lemah tertindas, dan menentang yang kuat jahat. Mengertikah engkau?”

Kalau tadinya pemuda berusia empat belas tahun itu murung dan penasaran, begitu mendengar keterangan ini, wajahnya berubah cerah dan matanya bersinar-sinar.

“Suhu yang mulia, kalau begitu, teecu bukan seorang calon hwesio?”

Post a Comment