Siauw Cu maklum bahwa putera majikannya yang dua tahun lebih tua darinya ini pasti tidak akan mau mengampuninya dan mungkin akan membunuhnya. Diapun mempertahankan diri, menggigit bibir menahan sakit dan bangkit berdiri. Ketika sebuah tendangan menyambar perutnya, diapun teringat akan gerakan-gerakan silat yang pernah dipelajarinya dan dia menangkis dengan lengannya. Kemudian, dia mulai melawan, mengelak, menangkis dan balas menyerang. Namun, ilmu silatnya adalah ilmu silat yang dipelajarinya secara liar tanpa pengawasan maupun bimbingan guru, maka tentu saja tidak teratur dan diapun beberapa kali harus menerima hantaman tangan Koa Hok yang lebih mahir bersilat. Ketika kepalanya mulai terasa pening oleh pukulan-pukulan dan tendangan dan seluruh tubuhnya terasa nyeri, teringatlah Siauw Cu akan jurus tendangan yang tidak dapat dilakukan dengan baik oleh kedua orang kakak beradik itu. Dan tiba-tiba, setelah melihat kesempatan, tubuhnya lalu membuat gerakan jurus tendangan itu. Kakinya berputar dan melayang menjadi tendangan berputar yang kuat.
“Dess!!” Tendangan itu tepat mengenai muka Koa Hok dan sedemikian kerasnya sehingga tubuh Koa Hok terjengkang ke belakang, terbanting keras dan tidak mampu bangkit lagi karena kepalanya terbanting ke atas tanah keras sehingga diapun pingsan seperti adiknya.
Siauw Cu berdiri terbelalak memandang tubuh kakak beradik itu. Timbul perasaan takut dan ngeri karena dia mengira bahwa dia telah membunuh Koa Hok dan Koa Sek, dan dia membayangkan hukuman yang akan diterimanya sebagai pembunuh! Dia membunuh dua orang putera lurah! Tentu dia akan disiksa, akan dihukum mati. Bayangan yang mengerikan menghantuinya, dan perasaan takut mendatangkan tenaga baru dalam dirinya. Tanpa banyak berpikir lagi, diapun segera lagi tunggang langgang seperti dikejar setan, meninggalkan dua orang saudara yang masih menggeletak pingsan dan semua kerbaunya, lari menuju puncak bukit, ke arah yang berlawanan dengan dusun tempat tinggalnya.
Malam tiba dan Siauw Cu berlari terus melewati puncak bukit. Malam itu di langit banyak bintang dan muncul bulan sepotong sehingga biarpun dia belum pernah melintasi bukit, dia dapat terus berjalan menuruni puncak bukit di sebelah sana. Tidak nampak atau terdengar adanya orang-orang yang mengejarnya sehingga hatinya merasa lega dan setelah bulan menghilang di langit barat dan cuaca menjadi gelap, diapun terpaksa berhenti dan tertidur di bawah sebatang pohon besar di kaki bukit berikutnya.
Pada waktu fajar menyingsing, dia terbangun mendengar derap kaki kuda lapat-lapat seperti menggugahnya. Dia teringat akan keadaannya, cepat bangkit dan ketika dia memandang ke arah bukit yang semalam dia turuni, dia terkejut melihat bayangan beberapa orang penunggang kuda menuruni lereng bukit itu. Tentu orang-orang yang mengejarnya, orang- orangnya Lurah Koa yang tentu marah sekali dan hendak menangkap dan menghukumnya! Ketika terbangun tadi, dia merasa betapa tubuhnya nyeri semua, bahkan untuk bangunpun terasa kaku dan nyeri. Akan tetapi begitu melihat para penunggang kuda itu, lupalah dia akan semua rasa nyeri dan diapun sudah melompat dan lari mendaki bukit ke dua yang berada di depannya. Dia berlari sambil menyusup-nyusup di balik semak-semak agar tidak nampak dari jauh, tidak perduli betapa kulit tubuhnya yang sudah hampir tidak tertutup pakaian yang robek-robek kini menjadi babak belur oleh semak belukar. Akan tetapi tentu saja larinya seorang anak berusia dua belas tahun, apa lagi yang sudah luka- luka dan kelelahan, tidak mampu melawan cepatnya larinya kuda. Para pengejar itu semakin dekat saja, membuat Siauw Cu menjadi semakin panik. Sepatunya telah terlepas dan terpental entah ke mana, telapak kedua kakinya sudah melepuh, dia terpincang-pincang dan mukanya pucat, tubuhnya gemetar saking lelahnya dan terasa nyeri di mana-mana. Oleh karena itu, ketika di lereng bukit itu dia melihat sebuah bangunan kuil di depan, tanpa ragu lagi dia berlari ke kuil itu. Melihat pintu depan pekarangan kuil itu terbuka, diapun berlari masuk, mengejutkan beberapa orang hwesio yang sedang bekerja membersihkan pekarangan di pagi hari itu.
“Heiii, siapa kau dan mau apa...” Akan tetapi pertanyaan itu dihentikan ketika hwesio itu melihat Siauw Cu terguling roboh dan pingsan.
Ketika dia siuman, Siauw Cu mendapatkan dirinya telah berada di dalam sebuah kamar di kuil itu, dan dia melihat seorang hwesio berusia lima puluhan tahun duduk di atas kursi sambil memandangnya penuh perhatian. Dia mengeluh, bangkit duduk dan cepat dia turun dari pembaringan dan berlutut di depan hwesio itu.
“Losuhu, saya mohon pertolongan suhu...”
“Omitohud... anak baik, siapakah engkau dan mengapa engkau berlari-lari dan luka-luka?” suara hwesio itu lembut dan sikapnya ramah dan halus.
“Saya Cu Goan Ciang atau Siauw Cu, dari dusun Lembah Sungai Huai...” ia lalu menceritakan tentang dirinya dan betapa dia berkelahi melawan dua orang putera majikannya sehingga mereka roboh pingsan. Dia menceritakan sebab perkelahian dan hwesio itu mendengarkan sambil mengangguk-angguk.
“Kalau saya tidak dihajar dan hampir dibunuh, tentu saya tidak berani melawan mereka, suhu. Sekarang, saya dikejar-kejar dan tentu saya akan ditangkap dan dihukum, mungkin dibunuh. Tolonglah saya, suhu...”
Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan terdengar suara banyak orang di depan kuil. “Ah, mereka telah tiba di depan kuil, suhu, tolonglah saya.” Siauw Cu meratap.
“Omitohud... jangan khawatir, Siauw Cu.” Hwesio itu mencabut sebatang pisau tajam dan menghampiri Siauw Cu yang memandang terbelalak dengan wajah pucat.
“Engkau mau menjadi calon hwesio? Rambutmu harus dicukur habis.”
Sambil berlutut Siauw Cu mengangguk-angguk. “Saya mau... saya mau asal suhu menyelamatkan saya...”
“Diamlah, pinceng (aku) akan mencukur rambutmu.” Dan diapun menggerakkan pisau yang tajam itu. Luar biasa sekali, hwesio itu membabat rambut dari kepala Siauw Cu seperti membabat rumput saja, dengan amat cepat dan rambut itupun sudah bersih, gundul dan sedikitpun kulit kepala tidak terluka. “Nah, kau cepat pakai jubah ini,” katanya sambil melemparkan pakaian yang diambilnya dari kotak besar. Siauw Cu cepat mengenakan pakaian yang longgar itu, jubah hwesio, kemudian dia digandeng dan diajak memasuki sebuah ruangan di mana sudah duduk bersila belasan orang anak yang sebaya dengan dia. Mereka sedang tekun menghafal kitab dengan suara lirih.
“Nak, kau duduklah di sini dan contoh mereka,” kata hwesio itu sambil menyerahkan sebuah kitab, lalu keluar dari ruangan itu.
“Kami datang untuk bertanya apakah ada seorang anak laki-laki masuk dan bersembunyi dalam kuil ini!” terdengar seruan seseorang di luar kuil. Hwesio itu, Lauw In Hwesio yang menjadi kepala kuil, cepat keluar dan dialah yang menjawab karena para hwesio yang berada di depan tidak berani menjawab.
“Omitohud, apakah yang terjadi? Cu-wi (anda sekalian) mencari siapakah? Di sini tidak ada penjahat, tidak ada orang bersembunyi.”
“Kami mencari seorang anak laki-laki yang jahat sekali, losuhu. Dia telah melukai dua orang putera kepala dusun kami. Dia jahat dan berbahaya, oleh karena itu, kalau dia berada di sini, harap suhu suke menyerahkannya kepada kami.”
“Omitohud, di sini tidak ada anak laki-laki jahat, yang ada hanyalah para murid yang tekun mempelajari kitab suci. Tidak ada orang jahat...” kata hwesio itu dengan suara tegas. Di dalam hatinya, dia tidak merasa berbohong karena kini anak yang mengaku bernama Siauw Cu itu telah menjadi muridnya, telah menjadi calon hwesio dan tentu saja bukan anak jahat! Jadi keterangannya itu sama sekali tidak berbohong.
“Cari ke dalam kuil! Dia pasti bersembunyi di sini tanpa diketahui para hwesio!” terdengar teriakan seorang di antara mereka.
“Losuhu, terpaksa kami akan melakukan penggeledahan ke dalam kuil. Siapa tahu anak itu menyelundup masuk tanpa ada yang mengetahui,” kata pemimpin rombongan.
“Omitohud, sudah kami katakan tidak ada. Kalau hendak menggeledah, silahkan, akan tetapi jangan mengganggu tempat-tempat sembahyang dan tidak mengganggu para murid yang sedang berdoa, belajar ataupun bersamadhi.”
Orang-orang utusan Lurah Koa tidak berani bersikap sembarangan terhadap para hwesio. Mereka tahu bahwa para hwesio itu selain dihormati penduduk, juga banyak orang-orang pandai di antara mereka. Maka, mereka lalu mengadakan pencarian di dalam kuil. Ketika melongok ke dalam ruangan di mana terdapat belasan orang anak berpakaian dan berjubah pendeta, berkepala gundul, sedang tekun membaca kitab, mereka hanya melongok dan mengamati sebentar saja. Semua anak di situ berkepala gundul, jelas tidak ada anak yang mereka cari. Akhirnya, setelah yakin bahwa buronan mereka tidak berada di dalam kuil, rombongan itu lalu meninggalkan kuil untuk mencari di tempat lain.
Setelah para pencari itu pergi, Siauw Cu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Lauw In Hwesio, menghaturkan terima kasih dan mohon agar dia diperkenankan menjadi murid di kuil itu. “Omitohud, kedatanganmu seperti dituntun oleh Yang Mahakuasa saja, Siauw Cu. Ceritakan riwayatmu dengan singkat agar kami dapat mempertimbangkan apakah engkau dapat diterima sebagai murid ataukah tidak.”
Siauw Cu lalu menceritakan keadaan dirinya, betapa keluarganya habis binasa oleh wabah penyakit, dan betapa dia hidup sebatang kara di dunia ini, kemudian bekerja pada Lurah Koa dan terjadi peristiwa perkelahian dengan kedua putera lurah itu.
“Sungguh, losuhu. Bagaimana mungkin teecu (murid) berani melawan kedua orang putera lurah majikan teecu itu kalau saja teecu tidak terancam bahaya maut. Mereka memukuli dan menendangi teecu dan sekiranya teecu tidak akan membela diri dan melawan, tentu mereka akan membunuh teecu,” demikian dia mengakhiri ceritanya.
Lauw In Hwesio mengangguk-angguk. “Keadaanmu memang memungkinkan engkau kami terima sebagai murid kuil ini. Akan tetapi, Siauw Cu, tahukan engkau kuil apa tempat tinggal kita ini?”
“Teecu tidak tahu, suhu, mohon petunjuk.” “Ini adalah sebuah kuil Siauw-lim!”
Siauw Cu terbelalak. Dia sudah banyak mendengar tentang Siauw-lim-si (kuil Siauw-lim) yang menjadi pusat orang-orang yang berilmu tinggi. Banyak pendekar silat yang terkenal merupakn murid-murid dari Siauw-lim-pai! Maka diapun segera memberi hormat.
“Ahh, harap maafkan, karena teecu tidak tahu. Akan tetapi teecu merasa amat berbahagia kalau dapat menjadi murid Siauw-lim...”