Halo!

Rajawali Lembah Huai Chapter 03

Memuat...

Koa Hok dengan sikap takut-takut karena telah beberapa kali diapun seperti adiknya, gagal melakukan jurus tersebut, kini bersiap untuk mencoba lagi. Melihat itu, di luar kesadarannya sendiri Siauw Cu yang merasa penasaran itu menghentikan pekerjaannya dan diapun berdiri dan mengamati gerakan yang dilakukan Koa Hok. Kini Koa Hok mulai dengan jurus itu, mula-mula tubuhnya membuat kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, kedua lutut ditekuk dan kedua tangan dikepal di pinggang. Kemudian, kakinya menggeser, mengubah kuda-kuda miring, lalu melangkah dua kali ke depan, dan tiba-tiba tubuhnya membalik dan kaki kanannya membuat gerakan berputar dalam tendangan yang kuat. Akan tetapi, tubuhnya kehilangan keseimbangan seperti adiknya tadi dan biarpun dia dapat mengakhiri tendangan, namun tubuhnya terhuyung.

“Celaka! Tendangan seperti itu akan membuat kedudukanmu lemah. Sekali sapu saja lawan akan mampu merobohkanmu karena kaki kirimu lemah. Coba ulangi lagi!” kata sang guru kepada Koa Hok yang mukanya menjadi merah dan hampir menangis. Pada saat dia akan membuat gerakan tendangan itu untuk kedua kalinya, tiba-tiba terdengan seruan, “Twa-kongcu (tuan muda besar), kembangkan kedua lengan seperti burung rajawali untuk mengatur keseimbangan tubuhmu!”

Semua orang terkejut dan menengok. Kiranya yang bicara itu adalah Siauw Cu dan anak ini, dengan sapu di tangan, terkejut sendiri dan mukanya berubah merah. Dia telah bicara di luar kesadarannya, terdorong oleh rasa penasaran melihat kakak beradik itu tidak dapat melakukan gerakan jurus itu. Teng-kauwsu sendiri tercengang mendengar itu. Apa yang diucapkan kacung itu sungguh tepat. Dia sendiri tidak melihat kelemahan kedua orang muridnya dan baru sekarang dia melihat bahwa letak kesalahan yang membuat dua orang kakak beradik itu gagal adalah gerakan kedua lengan yang kurang berkembang! Dan kacung itu begitu melihat telah dapat menemukan kelemahan dan kesalahan mereka!

Koa Hok dan Koa Sek memandang marah. Mereka sebagai putera-putera lurah memang berwatak tinggi hati dan sombong, selalu memandang rendah kepada orang lain, apa lagi Siauw Cu yang menjadi penggembala dan kacung mereka.

“Siauw Cu, engkau sungguh lancang!” tegur Koa Hok.

“Siauw Cu, tutup mulutmu, engkau tahu apa sih?” tegur pula Koa Sek.

Akan tetapi guru silat itu menggapai ke arah Siauw Cu. Diapun tahu bahwa anak laki-laki jangkung ini adalah kacung dan penggembala kerbau milik keluarga lurah.

“Siauw Cu, ke sinilah!” katanya memerintah.

Siauw Cu, dengan sapu masih di tangan, melangkah menghampiri dengan sikap menyesal mengapa dia tadi lancang mulut. “Maafkan saya...” katanya dan siap menerima hukuman karena dia merasa bersalah.

“Siauw Cu, mulutmu yang lancang perlu dihajar!” teriak Koa Hok yang marah karena merasa malu di depan gurunya bahwa kacungnya berani memberi petunjuk kepadanya.

“Suhu, biar teecu (murid) yang menghajarnya!” kata pula Koa Sek marah dan dia sudah melangkah maju menghampiri Siauw Cu, siap untuk memukul dan Siauw Cu juga diam saja, siap pula menerima hukuman.

“Nanti dulu, jangan pukul!” kata Teng-kauwsu dan dia menghampiri Siauw Cu, lalu berkata. “Siauw Cu, engkau berani memberi petunjuk berarti engkau dapat melakukan gerakan jurus tendangan berputar tadi. Dapatkah engkau melakukannya?”

Siauw Cu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan mengangguk. Kakak beradik itu berseru marah. “Sombong! Tidak mungkin engkau bisa! Kami saja yang sudah berlatih selama sebulan belum dapat menguasainya, dan kau bilang dapat melakukannya?” bentak Koa Hok.

Dia hendak menampar, akan tetapi gurunya mencegah. “Siauw Cu, kalau engkau mampu melakukan gerakan jurus tendangan itu dua kali berturut-turut dengna benar dan baik, maka engkau akan kami ampuni. Kalau engkau tidak mampu, akan kubiarkan kedua orang muridku menghajar atas kelancangan mulutmu. Bagaimana, dapatkah engkau melakukannya?” Tentu saja Siauw Cu tidak ingin dihajar. Setelah mengangkat muka memandang wajah tiga orang itu bergantian, diapun mengangguk dan berkata tenang. “Akan saya coba melakukannya.”

Guru dan dua orang muridnya itu tentu saja merasa heran dan tertarik sekali. Siauw Cu melepaskan sapunya, lalu mengikatkan dua ujung bajunya di depan perut, melepaskan pula sepasang sepatunya yang butut karena kalau dipakai menendang kuat, jangan-jangan sepasang sepatu butut yang kebesaran itu akan terlepas dari kaki dan mengenai guru dan murid- muridnya itu. Setelah itu, diapun melakukan gerakan jurus tendangan itu, seperti yang seringkali dia latih di dalam kamarnya. Gerakannya tangkas dan kuat, dan ketika dia melakukan tendangan, kedua lengannya berkembang seperti sayap rajawali dan tendangan berputar itu kuat dan cepat, juga tegak dan dia melanjutkan dengan tendangan berikutnya, diulang bukan hanya dua kali seperti yang diminta Teng-kauwsu, melainkan lima kali berturut-turut dan diakhiri dengan kuda-kuda merendah dengan kedua tangan disilangkan depan dada, berjaga-jaga!

Teng-kauwsu terbelalak. Gerakan itu memang belum sempurna, masih kaku, akan tetapi sudah benar dan jauh lebih baik dibandingkan gerakan kedua orang muridnya!

“Siauw Cu, engkau pernah mempelajari ilmu silat di mana?” tanya Teng-kauwsu.

“Bagaimana saya dapat belajar ilmu silat? Saya tidak akan mampu membayar seorang guru. Saya hanya ikut-ikut belajar dan melihat teman-teman berlatih.”

“Hemm, kalau begitu, bagaimana engkau dapat melakukan gerakan jurus tendangan tadi?”

“Saya... saya hanya melihat kalau kedua kongcu berlatih, sambil menyapu kebun... maafkan saya...”

Diam-diam guru silat itu merasa heran dan kagum. “Sudah, pergilah dan mulai sekarang engkau tidak boleh mengintai lagi,” katanya kesal kepada dua orang muridnya yang bodoh. Setelah Siauw Cu pergi, dia mengomel kepada dua orang murid itu. “Apakah kalian tidak malu? Kalian yang kulatih, selama sebulan belum juga mampu melakukan gerakan jurus tendangan tadi, sedangkan penggembala kerbau itu, hanya dengan mengintai saja mampu melakukannya. Kalian kalah oleh kacung kalian!”

Omelan Teng-kauwsu ini membuat kakak beradik itu menjadi malu dan diam-diam mereka menjadi marah sekali kepada Siauw Cu. Setelah mereka berdua kembali ke dalam rumah, mereka kasak kusuk membicarakan Siauw Cu dan mengambil keputusan untuk menghajar kacung yang membuat mereka merasa malu itu.

Pada keesokan harinya, setelah matahari mulai condong ke barat, Cu Goan Ciang atau Siauw Cu (Cu kecil) menggiring kelompok kerbau yang digembalakannya menuruni lereng bukit yang ditumbuhi banyak rumput segar itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul kakak beradik Koa di tempat sunyi itu dan dari sikap mereka, jelas nampak bahwa mereka itu marah sekali.

“Berhenti dulu kau, jembel yang tak mengenal budi!” bentak Koa Hok. Tentu saja Siauw Cu merasa terkejut dan heran. “Twa-kongcu (tuan muda besar), ada apakah?”

“Anak setan, engkau masih pura-pura bertanya setelah kemarin menghina kami depan suhu?” kata pula Koa Sek.

Siauw Cu teringat dan menjadi semakin heran. Dia tidak merasa bersalah, kenapa kini dikatakan tidak mengenal budi bahkan menghina?

“Nanti dulu, twa-kongcu, siauw-kongcu, apa salahku maka kalian marah-marah kepadaku?”

“Keparat kau!” Koa Hok memaki. “Kalau bukan ayah yang menolongmu, apakah engkau tidak akan mati kelaparan?”

“Mayat ibumu tentu akan terlantar tidak dapat dikubur dan menjadi makanan anjing kalau tidak dibelikan peti mati dan diberi tanah oleh ayahku!” teriak pula Koa Sek.

Wajah Cu Goan Ciang berubah kemerahan dan matanya bersinar penuh kemarahan yang ditahan-tahan. “Jangan kalian membawa-bawa nama mendiang ibuku yang tidak tahu apa- apa. Kalau aku dianggap bersalah, akulah yang bertanggung jawab dan tidak ada sangkut- pautnya dengan mendiang ibuku!”

Mendengar suara yang meninggi dari kacung penggembala itu dan melihat dia mengangkat muka dan menegakkan badan, dua orang kakak beradik itu menjadi semakin marah dan merasa ditantang.

“Eh, eh, engkau hendak melawan kami?” bentak Koa Sek, dan diapun sudah menerjang ke depan dan menggunakan kepalan tangan kanan menjotos ke arah dada Siauw Cu.

“Dukk!!” Siauw Cu memiliki tubuh yang kuat dan biarpun pukulan itu tidak cukup keras untuk dapat merobohkannya, namun karena dia menerimanya begitu saja tanpa mengelak atau menangkis, diapun terhuyung ke belakang. Koa Hok tidak mau ketinggalan dan diapun menerjang maju dan menampar muka Siauw Cu, mengenai dagunya dan membuat Siauw Cu hampir terpelanting. Dan kedua orang kakak beradik itu lalu menghujankan pukulan dan tendangan, membuat pakaian Cu Goan Ciang robek-robek dan muka dan tubuhnya babak- belur.

Akan tetapi, karena dua orang kakak beradik Koa itu terus saja memukulinya, akhirnya dia merasa kesakitan juga. Mula-mula dia tidak melawan karena ingat bahwa dia berhadapan dengan dua orang putera majikannya, akan tetapi rasa nyeri membuat dia lupa akan hal itu. Nalurinya untuk mempertahankan diri dan menyelematkan nyawanya membuat Siauw Cu tiba-tiba melakukan perlawanan. Ketika dia menerima tendangan kaki Koa Sek ketika tubuhnya sudah terguling ke atas tanah, dia menangkap kaki itu dengan kedua tangannya, lalu sekuat tenaga dia menarik dan memutar kaki itu. Tak dapat dicegah lagi, tubuh Koa Sek terputar dan terbanting ke atas tanah. Siauw Cu menubruk dan menghantami muka anak itu dengan kedua kepalan tangannya sampai muka itu berdarah-darah, dan Koa Sek yang tadinya berteriak-teriak itu tidak lagi mengeluarkan suara.

Koa Hok yang melihat adiknya ditindih dan dipukuli, sejak tadi menghantami Siauw Cu, namun penggembala itu tidak memperdulikan. Ketika sebuah hantaman di belakang telinga kirinya datang dengan kerasnya, tubuh Siauw Cu terguling dan dia melepaskan tubuh Koa Sek yang tak bergerak lagi. Koa Hok marah bukan main melihat keadaan adiknya yang mukanya berlumuran darah dan agaknya pingsan itu maka diapun memperhebat serangannya memukuli Siauw Cu sampai jatuh bangun.

Post a Comment