Siauw Cu bekerja dengan rajin karena di tempat Lurah Koa itu setidaknya dia mendapatkan makan kenyang dua kali sehari. Biarpun yang diberikan kepadanya hanya makanan sederhana, namun cukup mengenyangkan sehingga dalam waktu beberapa bulan saja, kesehatannya telah pulih, tubuhnya berisi daging dan otot dan karena pada dasarnya dia memang tinggi tegap maka anak berusia dua belas tahun ini kelihatan seperti sudah berusia lima belas tahun saja. Dia mendapatkan pula pakaian, walaupun dari kain kasar, namun dapat berganti pakaian setiap hari. Bagi Siauw Cu, untuk sementara waktu semua itu cukuplah.
Pada hal, sejak kecil anak yang terlahir dari keluarga miskin ini mempunyai cita-cita yang amat besar. Dia melihat kehidupan sengsara dan miskin di keluarganya, juga di keluarga para petani lainnya, dan hal ini menimbulkan tekad di hatinya bahwa kelak dia harus dapat mengubah keadaan hidup yang sengsara seperti ini.
Kerajaan Mongol yang dibangun di atas genangan darah dan mayat rakyat Cina, selalu memerintah dengan tangan besi. Sudah menjadi watak bangsa nomad ini untuk bersikap keras dan tegas, watak yang dibentuk nenek moyang mereka karena keadaan hidup yang serba sulit dan keras di utara. Oleh karena itu, rakyat yang tertindas selalu terhimpit dan banyak di antara rakyat yang memberontak. Namun selalu pemberontakan itu dapat dihancurkan pasukan Mongol yang memang amat kuat dan pandai dalam perang itu.
Bagaimanapun juga, pemberontakan-pemberontakan itu memusingkan Kaisar Togan Timur (1333-1368), kaisar terakhir dinasti Goan. Sikap pemerintahan keras yang dilakukan oleh perdana menterinya, yaitu Menteri Bayan, tidak menolong keadaan bahkan membangkitkan kemarahan dan kebencian rakyat yang bernyala-nyala sehingga setiap ada gerakan pemberontakan di mana-mana mendapat sambutan dan dukungan rakyat jelata.
Menteri Bayan memang kejam dan keras, disamping kelicikan dan kecerdikannya. Dia memerintah dengan tangan besi. Menteri Bayan inilah yang mengeluarkan peraturan yang disetujui oleh Kaisar Togan Timur, yaitu larangan bagi rakyat pribumi untuk menggunakan warna kuning emas pada pakaian mereka, melarang rakyat menggunakan bahasa Mongol, bahkan melarang penggunaan kata atau huruf yang bermakna “kebahagiaan” dan “usia panjang”. Bahkan kemudian, setelah mencatat nama keluarga para pemimpin pemberontakan yang selama ini dapat dihancurkan, Menteri Bayan mengeluarkan usulnya yang amat kejam, yaitu agar Kaisar memerintahkan pasukan di seluruh negeri untuk mencari dan membunuh semua pribumi yang mempunyai nama keluarga Chang, Wang, Liu, Li dan Chao! Pada hal, lima nama keluarga ini merupakan keluarga terbanyak di seluruh daratan Cina, sehingga andai kata perintah itu dikeluarkan, usul Menteri Bayan itu diterima oleh kaisar, tentu akan ada jutaan manusia dibantai dan lebih dari setengan jumlah rakyat akan habis binasa! Namun, Kaisar Togan Timur tidak menerima usul ini.
Keadaan di seluruh daerah menjadi semakin kacau, kehidupan rakyat jelata semakin sengsara. Kekacauan muncul di mana-mana sebagai akibat kurang berwibawanya pemerintah yang tidak disuka oleh rakyat. Golongan-golongan sesat bermunculan, membentuk perkumpulan- perkumpulan yang bersaing, bukan saja untuk menentang kekuasaan pemerintah Mongol, namun celaka bagi rakyat, mereka bersaing untuk memperebutkan kekuasaan dan wilayah di mana mereka menindas rakyat. Memang demikian watak golongan sesat. Mereka menentang pemerintah penjajah bukan karena panggilan darah patriot, bukan untuk membela rakyat, bukan untuk membebaskan bangsa dan tanah air dari cengkeraman penjajah, melainkan untuk kepentingan diri sendiri, untuk mencari kekuasaan dan kemuliaan. Maka, terjadilah bentrok dan persaingan di antara mereka sendiri. Dan Menteri Bayan yang cerdik itu mempergunakan keadaan ini untuk keuntungan pemerintahnya, yaitu sengaja dia mengirim orang-orang untuk menyusup ke dalam perkumpulan-perkumpulan itu mengadu domba dan menyelewengkan gerakan perjuangan menjadi gerakan persaingan antara gerombolan yang berebutan kekuasaan!
Dalam keadaan tertindas seperti itu, mulailah rakyat giat mempelajari ilmu silat. Kalau pemerintah menindas dan tidak ada lagi yang dapat diharapkan rakyat untuk melindungi mereka, maka jalan satu-satunya adalah memperkuat diri untuk mempertahankan hidup. Dan mereka harus kuat, maka di mana-mana orang gemar dan giat sekali mempelajari ilmu silat.
Di perkampungan sepanjang Lembah Sungai Huai, rakyatpun keranjingan belajar silat. Dan guru-guru palsupun bermunculan. Mereka yang hanya tahu sedikit ilmu silat, lalu membuka perguruan, membohongi penduduk dusun yang bodoh sehingga mereka mau membayar untuk dapat berguru kepada guru-guru silat seperti itu. Dan kalau perlu rakyat makin memperkuat ikatan pinggang mereka demi mampu membayar guru-guru itu untuk belajar silat.
Siauw Cu atau Cu Goan Ciang juga terkena demam silat. Dia memang seorang remaja, yang bertubuh tinggi tegap dan memiliki pembawaan tubuh yang kuat, dengan daya tahan ulet karena sejak kecil dia hidup dalam keadaan yang sukar, dan selain tenaganya besar dan pemberani, dia juga cerdik dan berbakat. Mulailah dia ikut-ikut mempelajari ilmu silat yang sedang mewabah di dusunnya. Dia berbakat besar dan memiliki daya ingat yang kuat sehingga beberapa kali melihat saja seseorang melakukan gerakan silat, dia dapat menirunya dengan baik.
Karena belajar ilmu silat merupakan mode yang sedang melanda di seluruh negeri, dan anak- anak sampai para pemuda akan merasa ketinggalan jaman kalau tidak ikut mempelajarinya, maka dua orang anak laki-laki dari Lurah Koa yang berusia dua belas dan empat belas tahun juga tidak mau ketinggalan. Bahkan Lurah Koa yang ingin membanggakan para puteranya, sengaja mengundang seorang guru silat untuk mengajarkan ilmu silat kepada mereka. Teng- kauwsu (guru silat Teng) adalah seorang guru silat yang kabarnya datang dari kota raja dan pandai, dan dia menuntut bayaran tinggi kalau ada orang ingin menjadi muridnya karena sudah pasti tidak akan mampu membayar upahnya. Akan tetapi, Lurah Koa membayarnya dengan royal, bahkan memberi tempat tinggal kepada Teng-kauwsu. Karena keroyalan sang lurah, maka guru silat Teng ini dengan penuh semangat mengajarkan ilmu silat kepada Koa Hok dan Koa Sek, dua orang putera Lurah Koa itu.
Setiap sore, kalau Siauw Cu selesai menggiring puluhan ekor kerbau ke dalam kandangnya, dia selalu menyapu pekarangan depan dan belakang. Dalam kesempatan inilah dia diam-diam mengintai kedua orang putera lurah itu berlatih silat di kebun belakang, dipimpin oleh Teng- kauwsu. Dia merasa tertarik sekali, dan setiap kali dia melihat gerakan-gerakan silat itu dan mendengarkan penjelasan Teng-kauwsu kepada dua orang muridnya yang agaknya bebal dan sukar menguasai setiap jurus gerakan silat, maka pada malam harinya, di kamarnya dekat kandang, Siauw Cu melatih diri dan mencoba untuk memainkan jurus-jurus yang dilihatnya sore tadi. Hal ini berlangsung sampai berbulan lamanya tanpa kecurigaan Teng-kauwsu maupun kedua orang pemuda remaja putera lurah yang menganggap bahwa seorang anak penggembala kerbau seperti Siauw Cu, mana mungkin ikut belajar silat? Apa lagi Siauw Cu berada di situ untuk menyapu dan membersihkan pekarangan dan kebun.
Pada suatu sore yang cerah, seperti biasa Siauw Cu mengandangkan ternak yang digembalanya, kemudian menyapu pekarangan dan kebun. Ketika dia menyapu kebun, diapun mengintai ke arah dua orang putera lurah yang sedang berlatih silat dan agaknya sekali ini guru silat Teng nampak kesal dan marah-marah.
“Bagaimana sih kalian ini? Sudah sebulan berlatih belum juga dapat menguasai sebuah jurus tendangan saja?” katanya dengan nada tidak sabar lagi. Mendengar ini, Siauw Cu menghampiri mereka sambil tetap menyapu, mengumpulkan daun kering yang banyak rontok berhamburan di sekitar tempat itu. Dan diapun melihat betapa dengan susah payah, kakak beradik Koa itu mencoba untuk melakukan jurus tendangan yang bagi mereka amat sukar itu. Dan Siauw Cu meras heran. Jurus tendangan itu sudah dilatih sebulan lebih, bahkan dia sudah beberapa kali mengintai dan mempraktekkannya di kamar tidurnya. Dia sudah dapat melakukan jurus tendangan itu. Memang sukar, karena tendangan itu dilakukan dengan tubuh berputar pada tumit kiri, sedangkan kaki kanan yang menendang membuat gerakan memutar, menendang ke arah muka lawan dengan belakang kaki. Agaknya kedua orang kakak beradik itu tidak dapat menguasai keseimbangan tubuh mereka, pikir Siauw Cu. Kedua tangan harus dipentang dan ini merupakan pengatur keseimbangan tubuh.
“Coba kau, Koa Sek, kau ulangi lagi jurus itu. Ingat, sasaran tendangan berputar itu adalah muka lawan dan kena atau tidak muka lawan oleh tendanganmu, kakimu harus berputar dan berakhir dengan tubuh membuat kuda-kuda rendah untuk menjaga serangan balasan lawan,” kata guru silat itu dengan suara mengandung kekecewaan dan kemarahan.
Koa Sek yang berusia dua belas tahun itu mencoba lagi. Dia mengerahkan seluruh tenaga dan perhatian kepada kakinya sehingga lupa mengatur keseimbangan tubuhnya dan ketika dia sudah melakukan tendangan berputar, hampir dia terpelanting dan ketika mengakhiri tendangan berputar, tubuhnya sampai berjongkok. Sang guru membanting kakinya.
“Salah! Keliru lagi, sungguh bodoh! Coba kau, Koa Hok!” katanya kepada putera lurah Koa yang berusia empat belas tahun.