Penjajahan seperti tercatat di dalam sejarah negara manapun di permukaan bumi ini, tidak pernah mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat bangsa yang dijajah.
Biarpun sudah menjajah Cina hampir seabad lamanya (1280-1368), kerajaan Goan-tiauw, yaitu bangsa Mongol, tidak pernah membahagiakan sebagian besar rakyat Cina. Yang makmur hanyalah orang-orang yang memperoleh kedudukan di pemerintahan, baik dia bangsa Mongol sendiri maupun bangsa pribumi yang setelah mendapatkan kedudukan lalu melupakan bangsanya sendiri, bahkan menjadi pemeras bangsanya sendiri demi kesenangan diri pribadi. Para pejabat itu, dari pusat sampai ke daerah, mabok kesenangan dan untuk membiayai kesenangan ini, mereka tidak segan-segan menindas rakyat dengan pemungutan pajak yang besar, dengan pengerahan tenaga rakyat tanpa bayar dan sebagainya.
Rakyat, terutama rakyat kecil di pedesaan menderita hebat. Kalau hasil panen mereka baik panen hasil tanaman di sawah ladang, maupun panen hasil penangkapan ikan di perairan, sebagian dari hasil mereka masuk ke dalam gudang pejabat daerah, dan mereka masih untung mendapatkan sisa hasil itu untuk dimakan sekeluarga mereka. Akan tetapi, celakalah kalau alam tidak membantu mereka, kalau terjadi banjir atau musim kering yang lama. Dari sawah ladang atau dari perairan mereka tidak memperoleh hasil, dan dari para pejabat mereka tidak menerima bantuan, bahkan kesempatan itu dipergunakan oleh para tuan tanah dan para pejabat untuk mengulurkan hutang kepada mereka dengan bunga yang akan mencekik leher mereka di kala alam lebih ramah dan panen berhasil baik. Dalam keadaan seperti ini, banyak rakyat kecil terpaksa mengorbankan puteri-puteri mereka yang berkulit bersih berwajah cantik sebagai pembayaran hutang mereka kepada para tuan tanah dan pembesar, untuk dijadikan selir mereka. Juga banyak anak laki-laki yang bertubuh sehat dan kuat dikorbankan menjadi hamba sahaya, seperti budak belian. Dalam keadaan seperti itu pula, banyak terjadi hal-hal yang mengerikan. Ada keluarga yang terpaksa membunuh anak-anak sendiri, terutama yang perempuan, karena tidak sampai hati melihat mereka itu mati kelaparan, dan untuk meringankan keluarga! Ada pula yang menjual anak-anak mereka untuk menjadi budak, dalam hal ini tentu saja kalau anak mereka itu sehat dan mungil.
Penjajah tetap penjajah. Mereka adalah bangsa lain yang menjajah demi kepentingan bangsa lain. Kalaupun sekali waktu ada penjajah menunjukkan perhatian terhadap rakyat bangsa yang dijajah, hal itu dilakukan hanya untuk mengelabui rakyat agar tunduk terhadap segala peraturan dan perintah mereka. Pada hakekatnya mereka menguras seluruh kekayaan bangsa yang mereka jajah, hasil tanah dan airnya, tenaganya, demi kemakmuran bangsa yang menjajah itu sendiri.
Pemerintah kerajaan Mongol, seperti para penjajah lain di manapun juga, tidak pernah berhasil mendapatkan dukungan rakyat. Makin banyak saja rakyat yang melakukan perlawanan. Di mana-mana timbul pemberontakan. Banyak bermunculan perkumpulan- perkumpulan yang selalu mengganggu keamanan, merampok dan menentang semua peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Pada permulaan abad ke empat belas, pemerintah kerajaan Goan itu semakin lemah dengan adanya pemberontakan-pemberontakan, terutama di bagian selatan. Banyak daerah dikuasai para pemberontak.
Ketika musim kering yang berkepanjangan datang melanda Cina, banyak sekali rakyat kecil yang meninggal dunia karena kelaparan. Ditambah lagi gerombolan-gerombolan perampok dan pemberontak yang membutuhkan ransum, tidak segan-segan merampoki rakyat sendiri, membuat penderitaan rakyat semakin hebat. Bencana kelaparan itu melanda pula sepanjang Lembah Sungai Huai. Setiap hari terdengar ratap tangis keluarga yang ditinggalkan anggota keluarga yang mati kelaparan atau juga mati oleh penyakit yang berjangkit di antara mereka. Dan nampak setiap hari usungan mayat yang akan diperabukan atau dimakamkan.
Bencana hebat melanda keluarga Cu di sebuah dusun kecil di Lembah Sungai Huai. Pada suatu malam, terdengar tangis sedih seorang anak laki-laki di sebuah rumah reyot mirip gubuk. Yang menangis itu adalah Cu Goan Ciang, seorang anak laki-laki yang usianya sekitar dua belas tahun, dan dia menangisi mayat ibunya yang baru saja meninggal dunia karena kelaparan dan penyakit pula. Ayahnya sudah lebih dulu meninggal beberapa pekan yang lalu. Seluruh keluarganya tewas, dan dua orang kakaknya, seorang adiknya, ayahnya, dan kini ibunya. Seorang demi seorang mati karena kelaparan atau penyakit.
Anak laki-laki yang kurus kering itu, tinggal kulit membungkus tulang, yang mungkin juga akan menyusul seluruh keluarganya, entah beberapa hari lagi, kini menangis meratap-ratap dan memanggil ibunya. Tidak ada air mata keluar dari sepasang matanya yang cekung karena dia sudah kehabisan air mata. Tubuhnya yang kurus itu sudah tidak dapat diperas mengeluarkan keringat atau air mata lagi sudah seperti sebatang pohon kering kerontang.
Beberapa orang tetangga datang menjenguk. Akan tetapi yang dapat mereka lakukan hanyalah menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Apa lagi yang dapat mereka lakukan?
Keadaan mereka tidak lebih baik dari pada keadaan keluarga Cu itu. Para tetangga prianya hanya dapat bergeleng-geleng dan menghela napas, dan tetangga wanita hanya dapat ikut menangis. Seseorang menganjurkan Cu Goan Ciang untuk minta bantuan hartawan Ji di dusun itu, atau kepala dusun Koa. Hanya dua orang itulah yang hidup makmur dan kaya raya di dusun itu. Hartawan Ji adalah seorang tuan tanah yang memiliki tanah yang luas sekali, sedangkan kepala dusun Koa juga terkenal kaya raya dan memiliki banyak ternak.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cu Goan Ciang sudah berlutut di depan pintu rumah gedung hartawan Ji. Para pelayan yang mendengar ratapannya bahwa dia datang untuk mohon bantuan hartawan Ji karena ibunya, satu-satunya keluarga yang masih ada, meninggal dunia semalam dan dia membutuhkan peti mati, ada yang menaruh iba dan melaporkan kepada Ji wan-gwe (Hartawan Ji). Akan tetapi hartawan itu yang merasa jengkel karena merasa diganggu di pagi yang cerah itu, mengerutkan alisnya setelah dia melihat anak itu. “Huh, kalau kami meminjamkan sebuah peti mati, lalu kapan dia akan dapat membayarnya? Dia sendiri sudah kurus kering, dan mungkin beberapa hari lagi dia akan menyusul ibunya. Tidak, aku tidak dapat membantu anak yang sudah mau mati ini.” Setelah berkata demikian, dia masuk lagi ke dalam.
Cu Goan Ciang hanya dapat menangis tanpa air mata dan diapun tertatih-tatih pergi ke rumah kepala dusun Koa, Koa-cung-cu (kepala dusun Koa) adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang tinggi kurus dan wataknya angkuh. Dia keluar ketika dilapori penjaga bahwa anak laki-laki Cu datang menghadap sambil menangis untuk melaporkan kematian ibunya.
“Hemm, ibumu mati kenapa engkau menangis di sini?” tanya Koa cung-cu dengan sikap acuh dan angkuh.
Cu Goan Ciang atau yang biasa disebut Siauw Cu (Cu Kecil) segera berlutut dan membentur- benturkan dahinya di atas tanah. “Taijin (orang besar), saya Siauw Cu mohon dikasihani, tai- jin adalah kepala dusun kami, kepada siapa lagi saya dapat memohon pertolongan? Mohon taijin memberi sebuah peti mati untuk jenazah ibu saya, dan saya akan suka bekerja melakukan apa saja untuk membalas budi tai-jin...”
Pada saat itu, banyak orang yang sedang lewat, berhenti karena tertarik melihat peristiwa itu. Melihat adanya banyak orang, Lurah Koa tersenyum dan memasang aksi sebagai seorang dermawan besar, apa lagi karena di antara para penduduk dusun yang nonton itu terdapat beberapa orang wanita muda. Lurah Koa memang terkenal mata keranjang dan suka berlagak kalau dekat dengan wanita-wanita muda.
“Siauw Cu, engkau benar sekali datang kepadaku untuk minta bantuan. Baiklah, aku akan memberi peti mati dan memperbolehkan engkau menggunakan tanah kuburan untuk memakamkan jenazah ibumu. Selanjutnya, engkau kuberi pekerjaan menggembala kerbau. Bagaimana, maukah engkau?”
Tentu saja Siauw Cu menjadi girang bukan main. Dia bukan hanya menerima pertolongan untuk pemakaman ibunya, bahkan diberi pekerjaan sebagai penggembala kerbau. Cepat di membentur-benturkan dahinya di tanah, menghaturkan terima kasih dan Lurah Koa tersenyum-senyum sambil melirik ke sana sini dengan lagak seorang dewa penolong!
Kebaikan tidak mungkin dilatih. Tidak mungkin mengajar seseorang untuk menjadi baik. Kebaikan yang dilatih, dipelajari dan disengaja, jelas bukanlah kebaikan lagi namanya.
Kebaikan yang dilakukan karena perhitungan hati akal pikiran hanyalah pekerjaan nafsu yang menjadikan perbuatan baik itu sebagai sarana, sebagai cara untuk memperoleh sesuatu. Hasil dari kebaikan yang disengaja itu mungkin balas jasa, atau nama baik, atau bahkan imbalan di alam baka kelak. Dan kebaikan seperti ini adalah palsu, hanya dilakukan orang yang munafik seperti Lurah Koa. Dia melakukan kebaikan terhadap Siauw Cu karena ingin memamerkan “kebaikannya”, ingin dipuji.
Kebaikan adalah suatu sifat dari seseorang, seperti harum setangkai bunga, seperti kicau seekor burung, sifat dari seseorang yang tidak dikuasai nafsu pada saat melakukannya. Kalau hati terisi kasih sayang, maka akan muncul kebaikan dalam semua perbuatannya terhadap orang yang dikasihi. Andai kata Lurah Koa merasa iba kepada Siauw Cu atau kepada siapa saja tanpa perhitungan, maka dorongan atau landasan iba kasih ini dengan sendirinya menjadikan perbuatannya terhadap Siauw Cu baik, tanpa dibuat menjadi baik, tanpa disengaja dan tanpa disadari bahwa dia melakukan sesuatu yang baik.
Demikianlah, setelah selesai memakamkan ibunya, Siauw Cu meninggalkan gubuk kosong yang berdiri reyot hampir roboh di tanah orang lain itu, dan mulailah dia bekerja sebagai penggembala kerbau milik Lurah Koa.