Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat Chapter 14

Memuat...

Lie Cun Ju terkejut sekali mendengar kete-rangan Tao Ling.

"Dia? Orang itu bukan saja ahli dalam ilmu pecut beruntai sembilannya, bahkan dengar-dengar dia mempelajari semacam ilmu kebal yang tidak mempan senjata tajam."

"Mungkin pedang yang dipakai si gemuk pen-dek itu pedang pusaka." Tao Ling melihat Lie Cun Ju berusaha berbicara dengannya. Hatinya men-jadi iba. "Lie toako, lebih baik jangan banyak bicara dulu!"

Dengan sorot mata penuh terima kasih, Lie Cun Ju memandangnya sekilas. Kemudian berkata dengan perlahan, "Tao kouwnio, kebaikanmu ini, untuk selamanya tidak akan kulupakan!"

"Untuk apa bicara seperti ini dalam keadaan seperti sekarang?" sahut Tao Ling.

Keduanya berdiam diri. Sampai menjelang sore, Tao Ling baru membimbing tubuh Lie Cun Ju dan diajaknya naik ke atas tepi sungai. Tampak di kejauhan ada asap mengepul-ngepul, namun jaraknya paling tidak tiga li dari tempat mereka.

Tao Ling melirik Lie Cun Ju. Tampak pemuda itu berdiri di sampingnya dengan tubuh terhuyung-huyung. Kemungkinan bisa jatuh setiap saat. Cepat-cepat Tao Ling memapahnya.

"Tao kouwnio, lu . . . ka ini terlalu ... pa ... rah, mungkin tidak . . . bisa . . . disembuhkan lagi," ujar Lie Cun Ju.

Selama dua hari dua malam, Tao Ling dan Lie Cun Ju mengalami berbagai penderitaan bersama. Dalam hati timbul rasa iba kepada pemuda itu. Hatinya bagai diiris sembilu.

"Jangan bicara dengan nada putus asa. Di kejauhan terlihat asap mengepul. Pasti ada sebuah kota kecil di depan sana.

Ayo, kita kesana sekarang

"Ketiga orang itu membunuh rekan-rekannya sendiri agar mereka membungkam untuk selamanya. Tentu mereka juga tidak akan melepas-kan kita begitu saja. Seandainya kita bergegas pergi, begitu masuk kota mungkin langsung menemui kesulitan. Biar bagaimana sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari cengkeraman mereka."

"Apa yang dikatakan Lie Cun Ju memang ada benarnya," pikirnya dalam hati. "Kalau begitu ter-paksa kita menginap satu malam di tepi sungai ini," katanya kemudian. "Di depan sana ada sebuah hutan kecil, kita bermalam di sana saja," sahut Lie Cun Ju.

Tao Ling memapah Lie Cun Ju berjalan sejauh tiga puluhan depa. Sesampainya di dalam hutan kecil itu, mereka mencari tempat yang rerumputannya agak tebal. Mereka langsung merebahkan diri. Tao Ling tidak perduli Iagi batas antara laki- laki dan perempuan. Dia menyandarkan dirinya di samping Lie Cun Ju. Meskipun keadaan mereka masih dikejar-kejar bahaya, namun dengan ber-dampingan seperti saat itu, mereka tidak merasa takut Iagi.

Waktu terus berlalu, malam semakin merayap, mana mungkin kedua orang itu bisa tertidur pulas . . .? Angin malam berhembus, pakaian mereka masih belum kering. Hal itu merupakan siksaan yang berat. Dengan susah payah mereka menunggu matahari terbit, dengan pakaian mereka masih tetap basah. Sampai siang harinya, barulah pakaian mereka kering. Tao Ling membantu Lie Cun Ju mengikat rambutnya kembali. Dia sendiri juga merapikan rambutnya kemudian baru memapah pemuda itu berjalan keluar dari hutan.

Tidak beberapa lama, Tao Ling dan Lie Cun Ju sudah berada di sebuah jalan raya yang langsung menuju kota kecil. Kedua orang itu berdiam sejenak di tepi jalan raya. Mereka melihat banyak kereta yang berlalu lalang. Kedua remaja itu sudah mendapat pengalaman pahit selama beberapa hari ini. Maka mereka tidak berani sembarangan meng-hentikan kereta yang lewat.

Tao Ling dan Lie Cun Ju duduk di warung arak. Kedai itu hanya menyuguhkan teh dan arak. Tidak lama kemudian tampak belasan kereta dorong berdatangan dari depan. Di bagian depan ada seorang laki-laki yang mengeluarkan suara teriakan. Teriakan itu seakan membangkitkan semangat pada anak buahnya untuk niendorong kereta lebih kuat. Kereta yang paling depan me-ni'ibarkan sebuah bendera. Tao Ling membaca tulisan pada bendera itu, Ling Wei Piau ki. Tao Ling belum pernah mendengar nama perusahaan itu. Rupanya laki- laki berusia lima puluhan tahun dengan jenggot menjuntai di bawah dagunya itu adalah pimpinannya.

"Kau tunggu di sini sebentar!" kata Tao Ling kepada Lie Cun Ju.

Kakinya melangkah dengan cepat, dalam sekejap mata Tao Ling sudah sampai di samping piau tau itu.

"Sahabat, aku mempunyai sedikit keperluan, entah apakah sahabat bersedia mengabulkannya atau tidak?" sapa Tao Ling.

Laki-laki setengah baya yang menunggang seekor kuda tampak terkejut sekali begitu ada seorang gadis yang tiba-tiba berhenti di sam-pingnya. Dia meraba gagang pedang di pinggangnya dan melihat Tao Ling dengan tatapan curiga. Belasan kereta di belakangnya pun tampak berhenti.

"Siapa nona ini?" sapa Piau tau tadi.

"Ayah bergelar Pat Sian Kiam, bermarga Tao."

Tadinya wajah Piau tau itu menyiratkan kecurigaan. Dia curiga jangan-jangan gadis ini pura-pura menanyakan sesuatu padahal tujuannya ingin merampok. Tetapi setelah mendengar Tao Ling putri Pat Sian Kiam Tao Cu Hun, wajahnya langsung berseri-seri.

"Rupanya Tao kouwnio!" ucap lelaki itu setelah turun dari kudanya.

"Anda kenal dengan ayah?" sahut Tao Ling dengan rasa gembira.

"Hanya mendengar nama besarnya, belum mempunyai jodoh untuk bertemu langsung," sahut Piau tau itu.

Mendengar ucapan Piau tau yang sopan itu, Tao Ling segera mengetahui bahwa orang ini jujur dan berjiwa besar. "Entah siapa panggilan tuan yang mulia?" tanyanya kembali.

"Aku she Liu bernama Hou, orang-orang kang ouw memberi julukan Tan To Pik Tian (Sebatang golok menentang langit)."

Di dalam dunia bu Hm, entah berapa banyak jago kelas tanggung seperti Tan To Pik Tian ini. Ayah ibu Tao Ling termasuk jago kelas satu di dunia kang ouw. Tentu tidak mengenal orang seperti Piau tau ini. Karena itu, Tao Ling juga belum pernah mendengar nama itu.

"Entah ada keperluan apa Tao kouwnio meng-hentikan kami?" tanya Liu Hou.

"Aku dan . . ." Berbicara sampai di sini, Tao Ling menjadi ragu. Dia seorang gadis remaja, tentu tidak enak apabila orang mengetahui dia berjalan dengan seorang pemuda yang tidak ada hubungan saudara. Karena itu dia menyebut nama 'Lie' dengan Hrih sekali sehingga tidak terdengar oleh yang lainnya. Kemudian melanjutkan, "Toako dikejar oleh musuh, tubuhnya terluka cukup parah. Kami ingin meminta bantuan Liu piau tau untuk mengan-tarkan kami ke dalam kota."

Liu Hou menganggukkan kepala. Dengan kereta mereka menuju kota yang jaraknya tidak jauh dari tempat itu. Dalam sekejap mata mereka sudah sampai. Tao Ling menanyakan kepada Liu piau tau, dan ternyata kota ini bernama Sin Tang ceng. Dari tempat tinggal Kuan Hong Siau hanya seratus li lebih, masih termasuk wilayah Hu Pak.

***

Tidak sampai setengah kentungan, serom-bongan orang itu sudah sampai di kota Sin Tang ceng. Kota itu merupakan salah satu kota yang cukup besar di sebelah timur Pa Tung. Jalanannya lebar dan bersih. Kotanya ramai, berbagai toko memenuhi sepanjang jalan. Liu Hou mengajak Tao Ling dan Lie Cun Ju ke depan sebuah gedung yang besar. "Inilah markas 'Ling Wei piau ki' kami. Cong piau tau (pemimpin perusahaan pengawalan) berjuluk Harimau Bersayap Emas, namanya Tan Liang. Baik Iwe kang maupun gwa kangnya tinggi sekali," kata Liu Hou menjelaskan.

Orang yang mempunyai julukan Harimau Bersayap Emas Tan Liang, Tao Ling pernah mendengarnya. Dia juga seorang tokoh di sungai telaga yang sudah mempunyai nama. Dia yakin orang itu pasti bersedia menampung mereka dan luka Lie Cun Ju bisa mendapatkan perawatan yang baik.

Tao Ling memapah Lie Cun Ju berjalan memasuki 'Ling Wei piau ki'. Si Harimau Bersayap Emas Tan Liang tidak ada di tempat. Akan tetapi gedung itu besar sekali dan mempunyai banyak kamar. Liu Hou membawa mereka memasuki sebuah kamar. Ketika Lie Cun Ju direbahkan di atas tempat tidur, mulutnya langsung menge-luarkan suara rintihan. Rupanya sejak tadi dia memang sudah menahan rasa sakitnya. Liu Hou sendiri masih ada urusan lainnya. Maka terpaksa dia meninggalkan kedua orang itu. Sedangkan Tao Ling baru merasa kepalanya berdenyut-denyut setelah Lie Cun Ju dapat berbaring dengan tenang. Matanya bahkan berkunang- kunang.

Selama dua hari itu tidak ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam perut Tao Ling. Hanya karena ingin menjaga Lie Cun Ju, dia terpaksa mempertahankan diri. Sekarang untuk sementara dia tidak perlu menjaga Lie Cun Ju, dia merasakan seluruh tubuhnya letih dan tulang helulangnya seperti terlepas dari persendian. Dia duduk di atas sebuah kursi tanpa bergerak sedikit pun.

Setelah beristirahat sejenak, Tao Ling meminta agar pelayan di Piau kiok itu mengantarkan sedikit makanan untuk mereka. Seielah hidangan diantar ke kamar, tampak gadis itu makan seperti orang rakus. Ketika dia nienoleh kepada Lie Cun Ju, peinuda itu juga baru disuapi oleh salah seorang pelayan pedung itu. Keadaannya tampak sudah lebih segar, walaupun masih lemah sekali.

"Lie toako, apakah kau merasa lukamu dapat disembuhkan?" tanya Tao Ling hati-hati.

Lie Cun Ju mencoba mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya. Dia merasa hawa murninya tidak dapat dihimpun malah mengalir secara tidak beraturan. Lie Cun Jw menarik nafas panjang. "Kalau mengandalkan tenaga dalamku sendiri, mungkin dalam tiga bulan juga tidak bisa sembuh."

"Tidak perlu khawatir. Menurut Liu Hou, pemilik gedung ini, si Harimau Bersayap Emas Tan Liang adalah seorang yang berbudi luhur. Biar kita tinggal di gedungnya setengah tahun, dia juga tidak akan menolak."

Lie Cun Ju merasa ada serangkum kehangatan yang melanda hatinya. Dia memandang Tao Ling. Kebetulan gadis itu juga sedang memandang ke arahnya. Tao Ling langsung menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu.

Post a Comment