Pedang di tangan si laki-laki gemuk pendek sudah hampir menyentuh kepaia Tao Ling. Gadis itu sendiri sudah merasa adanya hawa dingin di kepalanya. Namun ketika mendengar suara teriakan kedua orang itu, pedangnya langsung ditarik kembali.
"Toako, apakah kau mendengar suara benturan tadi?" tanya perempuan itu kembali.
"Mungkinkah . . .?" gumam orang yang gemuk pendek itu. "Mengapa kalian berdua tidak keluar untuk melihatnya?"
kata perempuan itu.
"Sam moay, mengapa bukan kau saja yang keluar melihat?" bentak si tinggi kurus dengan nada agak marah.
Ketiga orang itu akhirnya malah saling mendorong satu dan yang lainnya. Kemudian untuk sesaat mereka terdiam.
"Tidak usah ribut-ribut, rejeki atau bencana, kita bertiga harus menghadapi bersama. Rasanya juga tidak mungkin begitu cepat datangnya," ujar si gemuk pendek.
"Mudah-mudahan bukan bencana! Ayo kita lihat!" sahut perempuan itu.
Ketiga orang itu keluar bersama-sama. Tao Ling sadar mereka semua memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Untuk memhunuh rekan-rekannya sendiri ataupun membunuh dirinya dan Lie Cun Ju, orang-orang itu bisa melakukannya dengan kepala dingin. Tao Ling takut sekali. Ketika ketiga orang itu sudah keluar dari kabin perahu, Tao Ling cepat- cepat menyeret tubuh Lie Cun Ju ke arah jendela. Dia melongokkan kepalanya keluar. Tampak hari sudah mulai terang, berarti dini hari sudah menjelang. Permukaan sungai tampak disorot oleh cahaya keemasan.
Kesempatan yang baik bagi Tao Ling, Hanya itu satu- satunya cara untuk melarikan diri. Dia juga tidak ingin berpikir panjang lagi. Tubuhnya bergerak dan bersiap untuk meloncat keluar sambil menyeret Lie Cun Ju. "Tao kouwnio, se ... pa ... sang . . . pedang ... i... tu ..." Suara Lie Cun Ju tersendat-sendat.
Tao Ling menolehkan kepalanya. Dia melepaskan Lie Cun Ju kemudian membalikkan tubuhnya untuk memungut Kim Gin Kiam. Matanya melirik ke arah mutiara yang berkilauan tadi. Rupanya masih menggeletak di atas kursi. Sekalian diraihnya benda itu. Dalam hati Tao Ling tahu bahwa mutiara itu ikut terlontar bersama senjata rahasianya tadi. Sedangkan ketiga orang itu tampaknya terkesima memandang benda itu. Mungkin asal usul mutiara itu tidak sembarangan. Karena itu dia merasa sayang meninggalkannya. Pekerjaan itu menyita lagi waktu beberapa detik.
"Pasti di perahu sebelah ada yang melemparkan sauh, kita sendiri yang terlalu curiga," ujar si gemuk pendek berkumandang dari iuar kabin.
Tao Ling sadar, bahwa sebentar lagi mereka akan masuk ke dalam kabin. Dengan tergesa-gesa dia melesat ke arah jendela. Tetapi karena hatinya panik, tingkahnya jadi gugup. Tanpa sadar kakinya menendang topeng di wajah salah satu mayat yang menggeletak. Dalam keadaan seperti itu Tao Ling masih sernpat menolehkan kepalanya untuk melihat apa yang ditendangnya. Setelah melihat, hatinya tercekat. Hampir saja dia menghentikan langkah kakinya.
Beberapa detik kemudin, tampak tirai penyekat ruangan kabin muiai tersingkap. Tao Ling sadar apabila mereka dipergoki oleh ketiga orang itu pasti nyawa mereka tidak dapat dipertahankan lagi. Dia mengerti tidak boleh menunda waktu lagi. Cepat dia menghambur ke depan jendela dengan menyeret lengan Lie Cun Ju. Melalui jendela kabin itu, tubuhnya melesat keluar lalu Plung! Jatuh ke dalam sungai.
Baru saja tubuhnya masuk ke dalam air, teli-nganya mendengar suara pekikan aneh ketiga orang tadi. Dia cepat- cepat menekan hawa murni dari dalam perutnya. Dia berusaha memberatkan tubuhnya agar terus melorot ke dalam dasar sungai. Dia sendiri tidak tahu sudah berapa jauh dia tenggelam. Di sekelilingnya hanya air yang menggelembung- gelembung. Sejak tadi Tao Ling sudah menutup jalan pernafasannya. Hatinya mengkhawatirkan keadaan Lie Cun Ju yang dalam keadaan terluka parah. Apakah pemuda itu sanggup menahan nafas sekian lama? Seandainya Lie Cun Ju tidak kuat menahan nafasnya, berarti selamat dari pembantaian ketiga orang tadi, dia malah mati karena paru- paru dipenuhi air sungai.
Tapi biar bagaimana, Tao Ling tidak berani menyembulkan kepalanya di atas permukaan sungai. Rupanya ketika dia hampir tersandung jatuh di dalam kabin perahu tadi, kakinya menendang salah satu topeng penutup wajah mayat-mayat. Dia masih sempat melihat sekilas. Wajah orang itu kurus, di bagian jidatnya terdapat lima titik hijau seperti gambar bunga Bwe. Tao Ling pernah ber-temu dengan orang itu satu kali. Lagipula titik-titik hijau itu mudah diingat. Asal melihat satu kali, selamanya tidak akan terlupakan lagi. Orang itu berasal dari Shan Tung. Biasanya bergerak sendirian. Hatinya keji dan tangannya telengas. Senjatanya sebuah pecut panjang beruntai sembilan. Kepandaiannya tinggi dan jurusnya aneh- aneh. Tentu saja merupakan tokoh dari golongan sesat. Julukannya di dunia kang ouw Ceng Bwe atau bunga Bwe hijau. Nama aslinya Ciok Kun. Setiap kali mengungkit orang yang satu ini, tokoh-tokoh Bu lim di daerah Shan Tung dan sekitarnya kebanyakan menghindar karena takut timbul masalah.
Tokoh seperti Ciok Kun ternyata tidak sanggup memberikan perlawanan apa-apa dan mati begitu saja di tangan ketiga orang bertopeng tadi. Dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian yang mereka miliki.
Lagipula, belasan orang lainnya yang juga me-ngenakan topeng. Walaupun mungkin mereka bukan jago kelas satu di dunia kang ouw, tetapi setidaknya pasti tokoh-tokoh seperti Ciok Kun. Karena itu pula, meskipun Tao Ling tahu Lie Cun Ju tidak sanggup menahan nafas lama-lama dalam air, dia tetap tidak berani menyembulkan kepalanya. Sebab bila menelan air beberapa teguk saja masih ada kemungkinan tertolong. Akan tetapi apabila mereka menyembulkan kepalanya dan tertangkap oleh tiga orang bertopeng tadi, tidak usah diragukan lagi pasti akan mati seketika.
Tidak lama kemudian, Tao Ling merasa kakinya sudah menyentuh dasar sungai. Sembari menarik tubuhh Lie Con Ju, Tao Ling berpegangan pada batu-batu di sisi sungai, dengan demikian dia meramhat perlahan-laban. Til*a~(iba dia n'«>nde-ngar suara glek! dari tenggorokan Lie Cun Ju.
Tao Ling tahu Lie Cun Ju tidak sanggup menahan nafas lagi sehingga terpaksa menelan seteguk air sungai. Hatinya sangat panik. Tapi dirinya sedang berada di dalam air, dia tidak bisa berbicara. Pikirnya ingin menyembulkan kepala ke atas permukaan air. Dia ingin mengadakan perlawanan sengit dengan ketiga orang tadi. Tapi dia tidak berani menempuh bahaya sebesar itu. Ketika pikirannya sedang ruuwet dan tidak berhasil menemukan apa pun, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang lembut.. Ternyata tanaman liar yang biasa banyak terdapat di sungai yaitu Eceng Gondok.
Diam-diam hati Tao Ling melonjak girang. Karena adanya tanaman liar ini pertanda mereka sudah berada di tepian sungai. Tao Ling masih tidak berani menyembulkan kepalanya. Dia memutahkan setangkai tanaman itu kemudian mendesakkan hawa murninya untuk meniup. Bagian tengah tanaman itu langsung menyembur keluar dan jadilah sebatang pipa dari batang tanaman itu. Cepat-cepat dia memasukkan pipa itu ke dalam mulut Lie Cun ju. Bagian ujungnya menyembul sedikit di permukaan air, maka pemuda itu bisa mengganti hawa, Setelah itu dia membuat lagi sebatang pipa dari batang tanaman tadi. Dimasukkannya pipa itu ke mulut sendiri. Dengan bibir dikatupkan serta menyedot hawa dari alas, mereka dapat mempertahankan diri untuk beberapa saat lagi berada di dalam air.
Kurang lebih dua kentungan sudah berlalu. Perlahan-lahan Tao Ling menyembulkan kepalanya di atas pennukaan air. Ketika matanya sudah dapat melihat, hatinya tercekat bukan kepalang. Ternyata mereka berada di tengah gerombolan tanaman Eceng Gondok. Matahari sudah di atas kepala. Keadaan di sekitar tepian sungai itu sunyi senyap. Kecuali suara ikan-ikan yang sedang bercandu di atas permukaan air, tidak terdengar suara lainnya.
Ketika Tao Ling melihat ke depan, tampak beberapa perahu sedang bergerak. Akan tetapi karena geromholan tanaman liar itu sangat lebat, maka mereka dapat bersembunyi di tempat itu tanpa diketahui orang lain.
Tao Ling berpikir dalam hati, "Waktu sudah berlalu sekian lama. Tentunya kami sudah terlepas dari intaian ketiga iblis itu."
Tao Ling tidak berani menyembulkan diri ke atas permukaan air. Gadis itu hanya menarik leher Lie Cun Ju agar kepalanya tidak tenggelam.
Dalam waktu sekian lama, Tao Ling tidak mempunyai kesempatan memperhatikan Lie Cun Ju. Entah pemuda itu masih hidup atau sudah mati. Setelah dia mengangkat leher pemuda itu agar keluar dari dalam air, dia baru dapat melihatnya dengan jelas. Hatinya terkejut hukan main. Rupanya saat itu selembar wajah Lie Cun Ju sudah pucat pasi hahkan keabu-abuan seperti mayat hidup. Meskipun kepalanya sudah timbul di atas permukaan air, tetapi pipa tanaman liar masih dijepit bibirnya kuat-kuat. Dapat dipastikan hahwa pemuda itu sudah tidak sadarkan diri sejak tadi.
Tao Ling mengulurkan tangannya untuk merasakan dengus nafas pemuda itu. Ternyata Lie Cun Ju belum mati. Perasaan Tao Ling pun agak lega. Dia menyibakkan rambut yang menutupi jidat pemuda itu.
"Lie toako! Lie toako!" panggil Tao Ling dengan suara lirih.
Setelah memanggil sebanyak tujuh delapan kali, baru terdengar suara glek! glek! dari tenggorokan Lie Cun Ju. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Sinar matanya redup, tanpa sinar kehidupan sama sekali. Hati Tao Ling terasa pilu melihatnya.
"Lie toako, apa yang kau rasakan?" tanyanva lembut.
Lie Cun Ju mengedarkan pandangannya sejenak kemudian memaksakan diri mengembangkan seulas senyuman yang pahit.
"Tao . . . kouwnio . . . apakah . . . ki . . . ta ma . . . sih . . . hidup?"
"Kita sudah berada di tepian sungai, kita ber-hasil melarikan diri dari cengkeraman ketiga iblis itu.
"Lie toako, apakah kau tahu siapa ketiga iblis itu?" tanya Tao Ling.
"Aku juga tidak tahu." Lie Cun Ju menggeleng kepala.
"Aku mengenali salah satu dari belasan anak buah yang mereka bantai. Dia mempunyai julukan Ceng Bwe dan nama aslinya Ciok Kun, biasa malang melintang di daerah Shan Tung dan sekitar-nya!" kata Tao Ling.