"Tidak perlu mengatakan apa-apa. Seandainya kau ingin mengatakan bahwa kalian berjanji tidak akan mengatakan kepada siapa pun apa yang kalian lihat, kami tetap tidak percaya. Seandainya masih ada pesan yang hendak kalian sampaikan, cepat utarakan!"
Lie Cun Ju merasa ada serangkum hawa dingin menyelimuti perasaannya.
"Entah kalian ini sahabat dari mana?" tanyanya berusaha mengulur waktu.
"Seandainya kami mengatakan, kalian pun pasti tidak mengetahuinya. Seandainya kalian ingin kematian kalian diketahui oleh orang tua kalian, aku bisa menyampaikannya," kata laki-laki aneh bertubuh gemuk pendek itu.
Lie Cun Ju melirik Tao Ling sekilas. Dia melihat wajah gadis itu berubah hebat, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Diam-diam dia juga berpikir dalam hati, betapa tragis apabila mati tanpa sebab musabab yang pasti. Tapi bila mendengar ucapan orang yang sombong itu, tampaknya mereka juga tidak memandang sebelah mata terhadap orang tua mereka. Daripada mati penasaran, mengapa tidak mengadakan perlawanan?"
Watak Lie Cun Ju sehari-harinya sangat lem-but. Bahkan terkadang lebih lembut dari anak gadis. Tetapi dalam keadaan terdesak, dia bisa mengambil keputusan secara dewasa. Saat itu dia berdiri berdampingan dengan Tao Ling. Tiba-tiba dia mendorong tubuh gadis itu dan berteriak dengan suara keras, "Tao kouwnio, cepat lari!"
Tangannya mendorong Tao Ling, setelah itu dia mencabut pedang emasnya. Kemudian menggunakan jurus Tanah merekah melancarkan sebuah serangan kepada si laki-laki bertubuh gemuk pendek.
Sedangkan tangan Tao Ling sejak tadi sudah menggenggam senjata rahasia. Dia memang sudah bersiap diri melontarkannya. Dia melihat Lie Cun Ju sudah bertekad mengadu nyawa. Dalam keadaan genting Lie Cun Ju masih memikirkan keselamatan dirinya. Gadis itu malah tidak sanggup lari. Setelah tubuhnya terdorong oleh tangan Lie Cun Ju setengah langkah, jari tangannya langsung mengibas. Seluruh senjata rahasia yang ada padanya dilontarkan ke depan. Sasarannya ketiga orang yang duduk di atas kursi.
Kedua orang itu hampir serentak melancarkan serangan. Lie Cun Ju menghantamkan sebuah pukulan. Meskipun tenaganya tidak seberapa kuat, tapi kecepatannya boleh juga. Serangannya terlebih dahulu sampai daripada senjata rahasia yang dilontarkan Tao Ling. Orang bertubuh gemuk pendek itu masih duduk dengan tenang. Ketika serangan Lie Cun Ju sudah hampir mengenainya, dia baru menggeser tubuhnya sedikit. Kemudian menghantamkan sebuah pukulan pula ke depan. Lie Cun Ju merasa ada serangkum angin kencang yang menerpa dadanya. Tubuhnya limbung kemudian terpental ke belakang. Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan pandangan matanya berkunang-kunang. Dadanya terasa sakit. Dia membuka mulutnya lehar-lebar dan tanpa dapat ditahan lagi segumpal darah segar mengucur keluar dari tenggorokannya.
Tepat di saat tubuh Lie Cun Ju terpental, perempuan yang duduk di sisi kanan orang bertubuh gemuk pendek berdiri dari kursinya. Dia maju selangkah dan menjulurkan lengan bajunya. Seluruh senjata rahasia yang dilontarkan Tao Ling langsung menyusup ke dalam lengan baju yang longgar tanpa tersisa satu pun.
Tao Ling tertegun sesaat, lalu menatap Lie Cun Ju terkulai di atas lantai perahu. VVajah gadis itu pucat pasi. Dengan tergesa-gesa dia menghambur mendekatinya. Dia berjongkok di depan pemuda itu.
"Lie toako, bagaimana keadaanmu?" tanya Tao Ling gugup. "Tao kouwnio, mungkin kita harus mati di atas perahu ini!"
jawab Lie Cun Ju sambil menarik napas panjang.
Sembari berkata Lie Cun Ju mengulurkan tangannya dan menggenggam telapak tangan Tao Ling erat-erat. Tangan itu bergetar, sedangkan matanya menyorotkan sinar yang lembut kepada gadis itu. Sinar mata demikian bukan sinar mata yang seharusnya tidak disorotkan orang yang men-jelang kematian.
Tao Ling merasa jantungnya berdegup-degup. Keadaan mereka memang terlalu membahayakan. Tetapi kalau toh harus mati, Tao Ling merasa tidak perlu takut lagi. Seakan di dalani kabin perahu itu hanya terdapat mereka berdua. Gadis itu malah tersenyum manis. "Lie toako, di antara kedua keluarga kita terselip permusuhan yang demikian dalam. Tidak di-sangka kita malah bisa menemui kematian bersama," katanya.
Lie Cun Ju juga memaksakan seulas senyuman. Darah masih menetes di ujung bibirnya.
"Tao kouwnio . . . meski . . . pun ada . . . per . . . musuhan
... di an ... tara keluarga ki . . . ta, tapi hubungan . . . ki . . . ta baik . . . sekali, bukan?"
Tentu saja Tao Ling mengerti maksud yang terkandung di balik ucapan pemuda itu. Wajahnya merah padam.
"Benar!" Tao Ling menganggukkan kepala.
"Tao kouvvnio . . . suruhlah . . . mereka . . . turun . .
.tangan . . .sekarang juga."
Tao Ling menggunakan ujung lengan bajunya mengusap darah yang merembes dari sudut bibir pemuda itu.
"Baik," sahutnya lembut. Dia mendongakkan wajahnya. Dia ingin memuaskan hatinya memaki-maki ketiga orang itu sebelum kematian menjemput. Tiba-tiba dia melihat mimik wajah ketiga orang kapal menyiratkan kejanggalan. Kata-kata yang sudah tersedia di ujung lidah akhirnva ditelan kembali.
Tampak ketiga orang itu sudah berdiri dari kursi masing- masing dan saling berkerumun. Di atas telapak tangan perenipuan tadi ada benda yang berkilauan. Ternyata mutiara yang dipungut Tao Ling di tepi sungai tadi malum. Mimik wajah ketiga orang itu seakan tertegun memandangi mutiara. Tao Ling meniperhatikan sejenak kemudian membentak dengan suara keras.
"Sam moay, urusan sudah menjadi sedemikian rupa. Kita harus segera mengambil keputusan!" Suara lelaki gemuk pendek dengan nada keras. "Toako, aku rasa kita harus mempertimbangkannya kembali," sahut lelaki tinggi kurus yang tadi menolong Tao Ling dan Lie Cun Ju dengan nada bimbang.
"Kalau kita masih ragu-ragu, kemungkinan kita bertiga akan menemui kematian yang mengerikan."
Mendengar ucapan laki-laki bertubuh gemuk pendek itu, seakan urusan yang sedang mereka hadapi gawat sekali. Tetapi Tao Ling justru tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka jadi sedemikian panik.
"Apa yang dikatakan toako memang benar!" sahut perempuan bertopeng merah muda. Baru saja kata 'benar!' selesai diucapkan oleh perempuan itu. Tiba-tiba terdengar suara trak! trak! sebanyak dua kali. Dia sudah menghunus dua batang golok pendek dari selipan ikat pinggangnya. Tubuh perempuan itu berkelebat seperti gulungan asap hitam. Tahu- tahu dia sudah melesat ke depan pintu kabin.
Tao Ling melihat perempuan itu mencabut sepasang goloknya, hatinya menjadi tercekat. Tapi keadaan perempuan itu tidak seperti akan menghadapi dirinya. Hatinya dilanda kehingungan. Tampak belasan orang yang tadinya berdiri di kanan kiri ketiga buah kursi itu tiba-tiba mengeluarkan suara raungan. Suara itu seperti hendak mengadakan pertarungan. Tetapi tubuh perempuan tadi berkelebat seperti terbang. Dalam sekejap mata terdengar suara jeritan mengerikan. Tiga orang pun rubuh di atas lantai perahu dengan dada terkoyak. Setelah berkelojotan beberapa kali, orang-orang itu pun menghembuskan nafas terakhir.
Tao Ling tidak mengerti mengapa mereka malah menyerang orang-orangnya sendiri. Tao Ling hanya melihat sisa belasan orang itu kembali mengeluarkan suara raungan keras. Laki-laki ber-tubuh gemuk pendek tadi tampak menggenggam sepasang pedang. Sekali dikelebatkan kembali pedang itu dua orang sekaligus rubuh bermandikan darah. Meskipun orang-orang itu juga memberikan perlawanan dengan sengit, tapi apa daya karena kepandaian mereka terpaut jauh. Laki-laki bertubuh gemuk pendek itu kembali menggerakkan pedangnya. Dua orang pun tertebas dan mati seketika.
Tampak sepasang telapak tangan laki-laki bertubuh tinggi kurus seperti beterbangan ke mana-mana. Seluruh ruangan kabin dipenuhi bayangan pukulan dan angin yang menderu- deru. Setiap kali terdengar suara Plak! Pasti ada satu orang yang menjadi korban. Dalam sekejap mata saja belasan orang tadi sudah terkapar di lantai perahu menjadi mayat.
Ketiga orang itu menghentikan gerakan tangannya. Laki- laki bertubuh tinggi kurus dan perempuan tadi menghambur ke bagian geladak perahu. Tidak lama kemudian, mereka sudah kembali lagi.
"Toako, perahu sedang mendekati tepian sungai. Di tempat itu banyak tukang perahu, tetapi semuanya sudah dibunuh oleh kami."
"Untung saja kita turun tangan dengan cepat. Tidak ada seorang pun yang sempat lolos. Urusan ini hanya diketahui oleh langit dan bumi, tidak ada orang lain lagi yang tahu kecuali kita bertiga!" kata lelaki pendek gemuk dengan napas lega.
"Toako, bagaimana dengan kedua orang ini?" ujar perempuan itu seraya menunjuk ke arah Tao Ling dan Lie Cun Ju.
Mendengar pertanyaan perempuan itu, Tao Ling segera menyadari bahwa yang akan melanda dirinya dan Lie Cun Ju. Tetapi dia seperti diselimuti awan tebal. Tidak rnengerti sama sekali terhadap rentetan kejadian yang mereka lakukan.
Isi perut Lie Cun Ju tergetar karena pukulan si laki-laki bertubuh gemuk pendek tadi sehingga terluka cukup parah. Meskipun tubuhnya sulit digerakkan tapi dia melihat dengan jelas perbuatan ketiga orang yang membunuh rekan- rekannya. Dia merasa cara ketiga orang itu sungguh keji. Seandainya tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin dia masih tidak percaya di dunia ini ada orang sekejam itu.
Tapi mengapa ketiga orang itu tiba-tiba harus membunuh rekan-rekan atau mungkin anak buah mereka? Lie Cun Ju dan Tao Ling tidak mengerti. Tetapi diam-diam hati Tao Ling merasa perbuatan mereka ada hubungannya dengan mutiara yang dipungutnya lalu tanpa disengaja terlontar bersama senjata rahasia yang ada di saku pakaiannya.
"Tentu mereka tidak boleh dibiarkan hidup!" jawab laki-laki bertubuh gemuk pendek dengan nada tegas.
Pedang di tangannya digetarkan. Timbul bayangan bunga- bunga cahaya berkilauan. Hawa pedang dingin menusuk, terus diluncurkan ke bagian ubun-uhun kepala Lie Cun Ju.
Sejak perempuan tadi mengajukan pertanyaan kepada toakonya, Tao Ling sudah mengetahui bahwa mereka akan turun tangan. Seandainya gadis itu hanya seorang diri, dia pasti akan mengadakan perlawanan sekuat tenaga. Tetapi saat itu Lie Cun Ju sudah terluka parah. Tao Ling juga tidak berniat meninggalkannya begitu saja. Akhirnya dia pasrah terhadap nasib. Dia memejamkan matanya untuk menunggu kematian.
Serangkum angin dingin menerpa bagian atas kepala Tao Ling. Tiba-tiba telinganya mendengar suara yang aneh dari lantai perahu tempat kakinya berpijak. Seperti ada benda keras yang membentur.
Seiring dengan suara benturan tadi, laki-laki bertubuh tinggi kurus dan perempuan tadi segera berteriak, "Toako, tunggu dulu!"